
Azzahra memperhatikan setiap sudut bangunan villa yang akan dihuninya selama tiga hari ke depan Semuanya nampak rapih dan bersih walaupun villa itu dibangun puluhan tahun lalu.
" Jadi villa ini milik Mama Manda ya, kak?" tanya Azzahra kembali setelah tadi dia sempat mendengar suaminya mengatakan itu.
" Benar, Honey. Dad bilang jika ini adalah hadiah yang diberikan Dad David ke Mommy Manda saat mereka menikah dulu." Gavin kembali menerangkan.
" Pasti banyak kenangan bagi Papa dan Mama Kak Gavin di rumah ini ya, Kak?" Azzahra menoleh ke arah suaminya.
" Ya, tentu saja. Dan mungkin saja di tempat ini juga aku diprodusi oleh Dad and Mommy ku," seloroh Gavin menyeringai.
Azzahra membulatkan matanya mendengar suaminya berkelakar. Namun tak lama Azzahra mendengar dengusan nafas suaminya itu yang terasa berat.
" Kak Gavin pasti sedih ya mengingat Mama Manda?" Azzahra mengusap lengan suaminya tu karena dia bisa menatap wajah sendu sang suami saat menceritakan tentang Mommy nya.
" Aku akan selalu melow kalau teringat tentang Mommy, Honey." Suara Gavin terdengar agak berat.
Azzahra kini merangkul tangannya ke punggung lebar suaminya. Dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Gavin.
" Aku masih nggak habis pikir kenapa Mommy bisa begitu membenci Dad David, sampai aku pun terpengaruh ikut membencinya."
" Sampai tempat pemberian Daddy pun tidak mau diterimanya setelah mereka berpisah," lanjut Gavin.
" Papa David orang yang sangat baik dan bijaksana, Kak."
" Itu dia, aku sungguh-sungguh sangat menyesal sepanjang hidupku membencinya tanpa sempat mengenal lebih dahulu Dad David."
" Tapi yang penting sekarang ini 'kan hubungan Kak Gavin dan Papa David sudah berangsur membaik, Kak." Azzahra berusaha menyemangati suaminya.
" Iya aku bersyukur untuk itu. Selama ini aku benar-benar tersesat," sesal Gavin.
" Tapi bagaimanapun Mommy dulu, aku tetap menyanyanginya. Sekeras apapun perlakuan Mommy dulu, dia tetaplah orang yang sangat berjasa hingga aku hidup sebesar ini." Gavin terkekeh sumbang.
" Aku benar-benar merindukannya." Gavin menyeka cairan bening di sudut matanya.
" Kalau Kak Gavin merindukan Mama Manda, Kak Gavin bisa kirim doa untuk Mama Manda selepas sholat." Azzahra mencoba memberikan saran.
" Iya, kau benar, Honey. Aku juga sudah lama tidak mengunjungi makamnya."
" Memangnya makam Mama Manda di mana, Kak?" tanya Azzahra, karena dia memang belum pernah tahu dan Gavin pun tidak pernah menyinggung tentang itu.
" Di pemakaman terkenal di daerah Karawang." Gavin menyebutkan nama pemakaman itu.
" Tempat pemakaman orang-orang kaya itu ya, Kak." Azzahra sepintas pernah mendengar tentang kawasan pemakaman itu.
" Ya mungkin orang akan berpikir seperti itu." Gavin menyahuti. " Aku hanya ingin memberikan tempat yang layak untuk peristirahatan terakhir Mommy."
" Di mana pun tempatnya, yang layak untuk orang yang sudah meninggal itu bagaimana amal dan perbuatan semasa hidupnya. Dan kita sebagai anggota keluarga hanya bisa membantu berdoa agar Almarhumah diampuni segala dosanya dan diterima amal kebaikannya," ucap Azzahra bijak.
" Kau benar, Honey. Aku memberikan tempat peristirahatan yang layak namun aku jarang mendoakan Mommy," sesal Gavin.
" Sepulang dari sini kita mampir ke makam Mama Manda ya, Kak. Aku ingin memperkenalkan diri sebagai istri Kak Gavin." Azzahra berseloroh. " Mestinya saat akan menikah kita ke sana," lanjutnya.
" Baiklah nanti kita ke sana." Gavin membelai kepala Azzahra yang berbalut hijab.
" Kalau Mommy masih ada, Mommy pasti akan senang mempunyai menantu sebaik dirimu, Honey." Gavin lalu mengecupkan bibirnya di pelipis Azzahra.
" Kalau Mama Manda masih hidup, saat ini Kak Gavin mungkin masih menjadi suaminya Nyonya Agatha," sindir Azzahra.
Gavin tergelak mendengar perkataan istrinya itu.
" Kadang aku tak habis pikir, kenapa aku mau saja disuruh menikah dengan Agatha. Kenapa aku tidak punya kemampuan menentang keinginan Mommy dulu untuk menikahi Agatha," sesal Gavin kembali.
" Kalau Kak Gavin nggak menuruti permintaan Mama Manda, pasti saat ini Kak Gavin sudah menikah dengan Kak Jovanka, dong! Dan bukannya menikah sama aku. Berarti Kak Gavin menyesal ya menikah denganku?" Azzahra mencebikkan bibirnya.
" Tidak, Honey. Bukan begitu maksudku." Gavin menyangkal apa yang dituduhkan Azzahra kepadanya.
__ADS_1
" Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu, Honey. Percayalah ... aku justru bahagia bisa menikahimu, walaupun awal aku mengenalmu selalu bersikap konyol ...."
" Dan menyebalkan," potong Azzahra cepat.
Gavin tertawa kencang mengingat bagaimana awal pertemuan mereka.
" Masih ingat saat kamu pingsan dulu, Honey? Apa yang ada di dalam pikiranmu saat itu?" sindir Gavin.
" Aku takut, Kak. Aku benar-benar takut diper*kosa saat itu." Azzahra menutup wajahnya menahan malu.
" Seburuk itukah aku di pikiranmu, Honey?" tanya Gavin.
" Entahlah, Kak. Cuma saat Kak Gavin bawa aku menuju kamar hotel, aku takut akan ditarik paksa masuk dan disuruh melayani Kak Gavin."
" Siapa sangka justru sekarang kita berada dalam ikatan pernikahan seperti sekarang ini."
" Dan saling menyayangi ..." sahut Azzahra.
" Saling cinta juga meskipun pakai drama kabur saat ingin dinikahkan dulu." Gavin terkekeh.
" Untung saat itu aku ketemu Teh Tata, jadi kita bisa bertemu lagi ya, Kak." Azzahra tersenyum.
" Iya, adikku itu walau pun kadang tingkahnya menyebalkan namun hatinya baik." Gavin pun ikut tersenyum.
" Karena itu Kak Gavin sempat suka sama Teh Tata, kan?" Azzahra melirik suaminya.
Gavin mengulum senyuman seraya mengedikkan bahunya.
" Awal aku bertemu Alexa, aku merasa dia itu sangat istimewa. Hati aku tiba-tiba saja tergerak ingin dekat dengannya, ingin melindunginya, ingin menyayanginya. Ternyata dorongan itu karena kontak batin karena kami bersaudara, dia adik sepupuku yang dulu sangat aku sayangi." Gavin mencoba mengingat kembali bagaimana dulu dia nekat mendekati Natasha walaupun saat itu dia masih berstatus menikah dengan Agatha.
" Teh Tata beruntung punya kakak laki-laki seperti Kak Gavin."
Gavin kini menoleh ke arah Azzahra.
" Aku senang hubunganmu dengan Alexa sudah semakin membaik."
" Siapa orang yang beruntung mendapatkan tempat istimewa di hatimu itu?" Gavin pura-pura tak mengerti.
" Ya Kak Gavin lah, siapa lagi memangnya?"
Gavin mengulum senyuman seraya menatap lekat Azzahra.
" Kenapa kau mencintaiku, Honey?" tanya Gavin penasaran.
Azzahra mengedikkan bahunya.
" Mungkin karena kita sering bersama dan kita sering berdebat, saling benci. Kata orang benci dan cinta itu beda tipis. Dan aku membuktikan itu sekarang." Azzahra terkekeh.
" Kak Gavin sendiri, kenapa bisa mencintaiku?" Azzahra kini membalik pertanyaan Gavin.
" Karena kamu cantik." Jawaban singkat Gavin tentu saja tidak membuat Azzahra puas.
" Cuma cantik saja?" Azzahra berharap suaminya itu lebih panjang lebar mengatakan alasan kenapa mencintainya.
" Iya karena memang kamu cantik, kan? Cantik di sini." Gavin menyentuh wajah Azzahra. " Terutama di sini." Kini Gavin menunjuk di bagian dada istrinya.
" Walaupun awalnya galak namun kecantikan hati kamu yang akhirnya sanggup meluluhlantakkan hatiku. Apalagi saat kamu dengan berlapang dada bisa memaafkan dan menerima masa laluku."
" Aku merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan wanita sepertimu, Honey." Gavin meraih tangan Azzahra dan mengecupi punggung jari ramping istrinya itu.
" Permisi, Den, Neng. Makan malam sudah Bibi siapkan. Barangkali mau makan sekarang, mumpung masih hangat." Suara ART yang merawat villa ini tiba-tiba terdengar di telinga Gavin dan Azzahra.
" Oh, terima kasih ya, Bu." Gavin menyahuti.
" Nuhun, Bu." Azzahra pun mengucapkan terima kasih kepada ART itu.
__ADS_1
" Sami-sami, Neng." ART itu tak lama berlalu dari hadapan Gavin dan Azzahra.
" Kita makan sekarang?" tanya Gavin.
" Iya, Kak."
Gavin pun merangkulkan tangannya di pundak Azzahra membawa istrinya itu menuju meja makan.
" Masak apa, Bu?" tanya Gavin sesampainya di meja makan.
" Pepes ikan, sayur labu siam, tempe dan tahu goreng, sama krupuk udang, Den." Ibu ART menyahuti.
" Terima kasih, Bu." Gavin menarik kursi dan mempersilahkan Azzahra duduk.
" Ini dulu masakan kesukaan Mamihnya Den Gavin." Ibu ART itu memberitahukan.
" Oh ya? Aku nggak pernah tahu kalau Mommy suka makanan ini," sahut Gavin.
" Itu karena Kak Gavin tinggal di luar negeri. Di sana mungkin nggak ada menu makanan seperti ini." Azzahra mengomentari.
" Ah, benar juga, Honey. Siapa yang bisa masak seperti ini di sana?" Gavin pun terkekeh.
" Ya sudah kita makan sekarang. Ibu ikut makan saja di sini bersama kami," ajak Gavin kepada ibu ART itu.
" Nggak usah, Den. Bibi makan di belakang sama yang lain nanti." Ibu ART menolak halus ajakan Gavin.
" Oh gitu, ya sudah kalau begitu kami duluan, ya!" ucap Gavin.
" Silahkan, Den. Permisi." Ibu ART berpamitan dan meninggalkan mereka berdua yang akan menyantap menu makan malam.
***
" Honey, mumpung kita ada di Bandung, bagaimana kalau kita main ke rumah Tante Nabilla?" tanya Gavin selepas mereka menyantap makan malam dan kembali ke kamar.
" Tante Nabilla?" Azzahra mengeryitkan keningnya. " Tante-tabte penggemar Kak Gavin?" sindir Azzahra membuat Gavin tertawa kencang mendengarnya hingga pria itu memegangi perutnya.
" Ya ampun, Honey. Apa yang ada di pikiranmu ini jika aku menyebut nama Tante itu adalah wanita-wanita penggemarku?" Gavin tak henti tertawa.
" Karena Kak Gavin 'kan idolanya Tante-tante." Azzahra mencibir.
" Memang kamu nggak ingat Tante Nabilla itu siapa?" Gavin masih terkekeh.
" Untuk apa aku ingat?" Azzahra seakan tak perduli.
" Honey, Tante Nabilla itu Tanteku, adiknya Mommy Manda. Mamanya Alexa." Gavin mencoba mengingatkan kembali Azzahra.
" Astaghfirullahal adzim!" pekik Azzahra beristighfar seraya menutup mulutnya membuat Gavin kembali tertawa kencang.
" Ya Allah aku nggak ingat nama Mamanya Teh Tata, Kak. Maaf ..." sesal Gavin.
" Kau jangan minta maaf padaku. Minta maaf kepada Alexa karena sudah mengatai Mamanya.' Gavin lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
" Bagaimana reaksi Alexa jika tahu kamu menuduh Mamanya itu Tante-tante yang suka sama daun muda, ya?" Gavin mulai menakuti istrinya.
Azzahra membelalakkan matanya.
" Kak, jangan kasih tahu Teh Tata, nanti Teh Tata marah ..." Azzahra memohon agar suaminya itu tidak mengatakan kepada Natasha tentang dugaannya.
" Hallo, Assalamualaikum ..." Terdengar suara wanita dari seberang saat panggilan telepon Gavin tersambung dan Gavin sengaja menyalakan loudspeaker pada ponselnya itu membuat wajah Azzahra seketika menegang.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️