KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Semua Manusia Sama


__ADS_3

" Siapa, Bi?" tanya Azzahra kepada Bi Cas saat ART nya itu masuk ke dalam kamarnya setelah dia mendengar bel pintu apartemen berbunyi.


" Ada Non Tata sama Den Yoga, Neng." Bi Cas memberitakukan jika Natasha dan Yoga lah yang berkunjung ke apartemennya sore ini.


" Teh Tata sama Kang Yoga?" Azzahra terkejut saat mengetahui Natasha yang sedang hamil besar dan sudah mulai masuk ke minggu-minggu akan melahirkan masih saja berkeliaran. Azzahra pun akhirnya bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Natasha dan Yoga.


" Teh Tata?" Azzahra menyapa Natasha saat melihat Natasha sudah duduk di sofa.


" Hai, Ra. Assalamualaikum ..." Natasha memberikan salam.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra menyahuti.


" Teh Tata sama Kang Yoga habis dari mana ini, teh? Masih aktif jalan-jalan saja, Teh? Nggak takut tiba-tiba mengalami kontraksi waktu jalan-jalan?" tanya Azzahra terkekeh.


" Iya seperti itulah adik sepupu suamimu ini, Ra." Yoga yang menyahuti pertanyaan Azzahra.


" Memang Kang Yoga sama Teh Tata ini habis dari mana?" tanya Azzahra kemudian.


" Kami habis kontrol ke dokter kandungan, Ra. Terus kami mau pulang tapi dia minta mampir ke sini dulu." Yoga menjelaskan tujuan mereka keluar dari rumah.


" Iya, aku ingin mampir ke sini, mumpung keluar rumah, Ra. Kau tahu sendiri, kan? Sejak kejadian menghebohkan beberapa bulan lalu kita dilarang keluar-keluar rumah, senam hamil saja harus ditunggu sama supir." keluh Natasha melirik ke arah suaminya.


" Itu karena kamu melanggar aturan 'kan, Yank?! Coba kalau kamu menurut apa kata suami, pasti nggak akan ada hukuman seperti itu." Yoga merasa hukuman yang diberikan itu kepada istrinya itu sesuai dengan kesalahan yang Natasha perbuat.


" Tapi kamu curang, Mas. Bonusnya diterima, akunya tetap dihukum." Natasha mencebikkan bibirnya karena jurus merayu sampai harus melayani suami sepuasnya itu tak menggugurkan hukuman yang mesti diterimanya.


" Namanya juga bonus, Yank. Anggap saja itu rezeki suami sholeh." Yoga terkekeh seraya memainkan alisnya.


Interaksi kedua orang di hadapan Azzahra membuat Azzahra ikut terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


" Silahkan diminum, Non, Den." ART di apartemen Gavin menyediakan minuman dan makanan untuk Natasha dan Yoga.


" Terima kasih, Bi." Yoga mengucapkan kalimat terima kasih kepada ART Gavin dan Azzahra.


" Oh ya, Alden nggak diajak, Teh?" tanya Azzahra karena tidak melihat anak pertama Yoga dan Natasha ikut serta.


" Tadi mau diajak, tapi pas mau berangkat dia malah tidur, jadi nggak dibawa," sahut Natasha.


" Tapi Alden pintar ya, Teh. Ditinggal sama Teh Tata nggak nangis." ucap Azzahra.


" Iya, Ra. Alhamdulillah ... Alden nggak mesti sama aku, dia mudah akrab dengan siapa saja. Sebenarnya enak tuh buat Mamanya kalau mau jalan-jalan." Natasha menyeringai sambil melirik ke arah Yoga yang langsung melotot membuat Azzahra tertawa kecil.


" Assalamualaikum ..." Suara Gavin tiba-tiba terdengar saat pintu apartemen dibuka.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra, Natasha dan Yoga menyahuti bersamaan.


" Lho, ada kalian ..." Gavin nampak kaget dengan kehadiran Natasha dan Yoga di ruang tamunya.


" Hai, Kak Gavin. Baru pulang, ya?" sapa Natasha keoada Gavin.


" Iya, Alexa. Kalian habis dari mana? Perut kamu sudah sebesar ini masih saja berkeliaran." Gavin nampak khawatir dengan sikap adik sepupunya yang masih berpergian jelang waktu melahirkan.


" Kami habis dari dokter kandungan, habis kontrol, karena ini 'kan sudah masuk minggu-minggu jelang melahirkan, Kak." Natasha menjelaskan alasannya masih berpergian keluar rumah kepada kakak sepupunya.


" Kata dokter kapan, Teh?" tanya Azzahra.


" Awal Minggu depan dokter bilang, sih," jawab Natasha.

__ADS_1


" Mau normal lagi atau caesar, Teh?"


" Insya Allah normal lagi saja. Tadi juga aku sudah konsultasi sama dokternya dan sudah booking tempat juga untuk melahirkan nanti." Natasha menerangkan.


" Enak mana, Teh? Normal atau Caesar?" tanya Azzahra, karena ini adalah kehamilan yang pertama untuknya, tentu saja dia harus banyak bertanya-tanya.


" Aku belum pernah caesar jadi nggak bisa aku compare, Ra. Tapi normal atau caesar, sama-sama berat karena itu adalah perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya. Tapi kalau ditanya enak yang mana? Yang enak ya yang jadi suami, tinggal tanam benih diberi pupuk, istri yang berjuang melahirkan. Iya nggak, Ra?" sindir Natasha kembali menoleh ke arah suaminya.


" Ah, iya benar ya, Teh." Azzahra setuju dengan kata-kata Natasha.


" Hei, kalian para istri juga 'kan sama-sama merasakan enaknya, kadang sampai minta nambah, benar kan, Honey?" Gavin menepis anggapan Natasha yang dianggapnya salah.


" Siapa yang minta nambah, Kak? Aku nggak pernah minta nambah" tepis Azzahra berbisik ke telinga suaminya karena merasa suaminya itu mengada-ada dengan mengatakan dirinya itu minta menambah durasi dalam urusan bercinta.


" Kamu mau menyangkal kalau kamu itu suka minta tambah durasi dan menolak kalau dilepas?"


Ucapan Gavin sontak membuat Azzahra tersentak karena tidak menyangka suaminya itu akan menceritakan aktivitas percintaan mereka di hadapan Natasha dan Yoga hingga membuat wajahnya memerah menahan rasa malu.


***


Azzahra baru saja selesai melaksanakan sholat shubuh saat dia membuka pesan masuk di ponselnya yang ternyata berasal dari Natasha. Azzahra kemudian membuka pesan masuk itu.


" Assalamualikum, Auntie Rara. Salam kenal dari Baby Azkia."


Azzahra membulatkan matanya saat melihat foto bayi imut dan cantik yang dikirimkan oleh Natasha.


" Masya Allah ... Kak, Kak Gavin!!" Azzahra langsung terteriak memanggil suaminya yang sudah lebih dahulu ke luar dari kamar.


" Alhamdullillah, Masya Allah, cantik sekali dedek bayinya. Kapan melahirkannya, Teh?" Sambil menunggu suaminya kembali ke kamar, Azzahra membalas pesan masuk yang dikirimkan Natasha kepadanya.


" Honey, apa baby sudah mau keluar? Baby sudah nggak sabar mau lihat wajah Daddy yang tampan ini, ya?" Gavin kemudian memegangi perut Azzahra.


" Bukan bayi aku yang keluar, Kak. Tapi ini ...," Azzahra menyodorkan layar ponselnya ke arah suaminya itu.


" Baby siapa ini?" Gavin kemudian mengambil ponsel isrinya itu. " Alexa sudah melahirkan?" Gavin terkesiap mengetahui saat adik sepupunya itu ternyata sudah melahirkan bayi perempuan cantik, karena kemarin sore adiknya itu baru saja berkunjung ke apartemennya setelah kontrol ke dokter kandungan.


" Iya, Kak. Teh Tata sudah melahirkan. Dedek bayinya cantik ya, Kak?" Azzahra mengambil kembali ponselnya yang tadi dia sodorkan ke arah suaminya. Rasanya dia tak puas memandangi bayi lucu berjenis kelamin perempuan itu.


" Kak, kita nengok dedek bayinya sekarang yuk, Kak." Azzahra buru-buru bangkit namun tangan Gavin mencekal lengan istrinya itu agar tidak berdiri.


" Honey, ini masih pagi. Lagipula hari ini kita ada acara di rumah Daddy. Besok saja kita menengok Alexa dan baby-nya," ucap Gavin.


" Oh ya, kita juga belum beli kado, Kak. Nanti kalau pulang dari rumah Papa kita ke baby shop ya, Kak. Aku mau beli kado buat Baby Azkia. Hmmm ... enaknya kasih kado apa ya, Kak?" tanya Azzahra meminta pendapat kepada suaminya.


" Apa ya enaknya? Motor? Mobil? Atau apartemen?" Pilihan yang diberikan Gavin membuat Azzahra membulatkan matanya karena terperanjat.


" Yang benar saja, Kak! Masa anak kecil dikasih hadiah seperti itu." Azzahra menggelengkan kepalanya menanggapi sikap suaminya, walaupun dia memang tidak meragukan kekayaan suaminya itu.


" Memangnya kenapa, Honey? Waktu Alden lahir, Dad David dan aku memberikan apartemen untuk Alexa," ucap Gavin santai.


" Iya aku mengerti, untuk Kak Gavin dan Papa David membeli apartemen atau mobil nggak harus pikir sampai dua kali. Tapi aku ingin yang lebih merakyat saja, Kak. Seperti orang pada umumnya. Tapi kalau Kak Gavin mau kasih kado itu terserah Kak Gavin saja. Aku juga ingin kasih Baby Azkia kado dari uang aku sendiri." Azzahra ingin merasakan menjalani suatu hal yang wajar, karena sejak menikah dengan Gavin yang notabene seorang pengusaha muda dan anak dari salah satu konglomerat, dia merasa dipaksa mengikuti standar yang ditetapkan oleh suaminya itu.


" Memangnya kamu ingin memberi kado apa?" Gavin kemudian merangkul pundak istrinya saat dilihat istrinya itu memberengut.


" Ya yang wajar saja, Kak. Baby stroller atau box baby, gitu." Azzahra memberikan beberapa usulan.


" Ah iya aku setuju, kita kasih box baby saja."

__ADS_1


" Kak Gavin setuju kita kasih box baby?" Azzahra senang karena suaminya itu setuju dengan usulnya itu.


" Iya, nanti aku pesankan box baby berlapis emas "


" Hah??" Azzahra tercengang mendengar ucapan selanjutnya dari suaminya itu.


***


Hari ini di rumah Dad David nampak begitu ramai dari biasanya. Karena hari ini salah satu adik perempuan Gavin dari Tante Linda yang bernama Nella akan dilamar oleh kekasihnya yang sama-sama tinggal di luar negeri.


" Kak Rara bagaimana kabarnya?" sapa Ryani, adik bungsu Gavin yang juga ikut pulang ke Indonesia. Ryani dan Nella sama-sama kuliah di London.


" Alhamdulillah Kakak baik, Yan." Azzahra dengan ramah menjawab pertanyaan adik iparnya itu.


" Kapan prediksi melahirkannya, Kak?" tanya Ryani lagi.


" Insya Allah satu bulan ke depan, Yan." Azzahra menyahuti.


" Aku senang Kak Gavin akhirnya mendapatkan istri yang pantas untuk Kak Gavin. Sejak menikah dengan Kak Rara, hubungan Kak Gavin dengan Papa semakin membaik. Karena sebelumnya hubungan mereka sangatlah buruk." Ryani menceritakan bagaimana hubungan suami dan papa mertuanya itu walaupun dia sendiri sudah pernah mendengar cerita itu.


" Apalagi waktu Papa tahu Kak Gavin menikah dengan wanita yang seumuran dengan Mama. Papa marah sekali waktu tahu latar belakang pernikahan itu karena paksaan mantan istri Papa dulu. Tapi syukurlah Kak Gavin akhirnya bercerai dengan Tante-tante itu. Aku juga dengar dari Mama katanya anaknya si Tante itu hampir mencelakakan Kak Gavin dan Kak Rara. Dasar nggak tahu diri sekali itu Tante-tante kecentilan." Ryani sepertinya merasa kesal juga terhadap Agatha.


" Iya, tapi sekarang Nyonya Agatha sudah menyadari kesalahannya. Anaknya juga sekarang ini sudah menjalani hukuman dengan menjadi pekerja sukarela di salah satu panti jompo." Azzahra menjelaskan tentang bagaimana keadaan Agatha dan Grace sekarang ini.


" Aku kecewa, kenapa Papa sama Kak Gavin membebaskan mereka, coba? Mestinya mereka dibiarkan merasakan dikurung di penjara biar jera." Ryani menyayangkan sikap Dad David dan Gavin yang melepaskan Grace dari jeratan hukum.


" Itu karena Papa David dan Kak Gavin orang yang sangat baik jadi bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan sangat bijaksana. Kakak juga setuju dengan Papa dan Kak Gavin. Kami takut kebencian Grace semakin menguat kalau dia dihukum. Karena itu Papa dan Kak David merangkul Grace dengan cara lain." Azzahra menyampaikan pendapatnya karena dia juga berperan dengan keputusan Dad David dan Gavin yang membebaskan Grace.


" Pantas Kak Gavin jatuh cinta sama Kak Rara, ternyata Kak Rara ternyata baik hati juga. Aku senang punya kakak ipar seperti Kak Rara. Awalnya aku takut kalau punya saudara ipar perempuan, kadang suka nggak sejalan."


" Kakak juga senang punya adik ipar seperti kamu dan Nella. Kakak juga awalnya takut karena Kakak ini 'kan orang dari desa, hanya orang kampung." Azzahra memang awalnya sempat tidak percaya diri saat dikenalkan kepada kedua adik perempuan Gavin, karena dia takut tidak diterima oleh kedua adik Gavin itu. Namun Azzahra bersyukur ketakutannya itu tidak sampai terjadi.


" Hahaha, iiihh ... Kak Rara terlalu sering nonton sinetron atau novel deh sepertinya, yang selalu menganggap horor adik ipar apalagi kalau sampai ada perbedaan status sosial. Papa sama Mama nggak pernah mengajarkan kita untuk membeda-bedakan orang hanya karena status sosial. Karena Papa bilang, semua manusia di mata Allah SWT itu sama, yang membedakan itu hanya ketakwaan dan amal ibadah kita di dunia ini." Kata-kata yang diucapkan Ryani yang berusia dua tahun lebih muda darinya membuat Azzahra mengerjapkan mata. Azzahra benar-benar merasa kagum kepada keluarga dari mertuanya. Karena kebaikan yang dimiliki oleh Dad David ditularkan kepada istri dan anak-anaknya. Namun dia merasa heran kenapa Mommy Amanda sampai melepas pria sebaik Dad David, bahkan sampai mempengaruhi anaknya itu untuk membenci ayah kandungnya sendiri.


" Ini kenapa kalian malah merumpi di sini? Di luar tamu-tamu sudah pada datang, kalian masih asyik-asyikan berbincang di sini?" Suara Tante Linda dari arah pintu kamar Gavin membuat Azzahra dan Ryani menolehkan kepalanya ke arah suara Tante Linda berasal.


" Eh, Mama ..." Azzahra langsung tersipu malu.


" Aku sama Kak Rara 'kan jarang bertemu, Ma. Jadi aku ngobrol-ngobrol sedikit sama Kak Rara, Ma." Ryani mengatakan alasannya dia berbincang dengan Azzahra.


" Ya sudah, sekarang kamu ke depan ikut bantu menyambut tamu. Ngobrolnya nanti saja kalau acaranya sudah selesai," pinta Mama Linda.


" Iya Ma." Ryani kemudian berjalan keluar kamar Gavin yang juga disusul oleh Azzahra di belakangnya.


" Kamu di sini saja, Ra. Tunggu Gavin dulu, jangan ikut bantu-bantu. Perut kamu sudah besar seperti itu, bawa perut sendiri saja sudah repot. Nanti duduk saja, jangan sampai kamu terlalu capek, ya!" Tante Linda melarang Azzahra yang ingin ikut membantu.


" Iya, Ma." Azzahra tersenyum menanggapi perhatian yang diberikan ibu mertuanya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2