
" Honey, kau sudah siap?" tanya Gavin kepada Azzahra yang sedang memasang hijab syar'i untuk menutupi kepalanya.
" Sebentar, Kak. Aku pakai kerudung dulu." Azzahra merapihkan hijab yang dipakainya.
" Kak, wajah aku semakin berisi, ya?" tanya Azzahra meminta pendapat suaminya tentang perubahan bentuk wajahnya yang semakin membulat.
" Semakin berisi semakin cantik, cup ..." Gavin memberikan kecupan di pipi Azzahra hingga istrinya itu tersenyum.
" Semoga dengan perubahan tubuh dan wajah ku yang semakin berisi tidak membuat Kak Gavin melirik wanita lain yang lebih seksi ya, Kak?" ucap Azzahra penuh harap.
" Aku tidak mungkin seperti itu, Honey! Aku tidak mungkin mencari yang lain, karena istri aku yang satu ini sudah memenuhi empat sehat lima sempurna." Gavin memeluk Azzahra dari belakang sambil menghujani kecupan di pipinya.
" Kak, kerudung aku kusut lagi ini!" protes Azzahra karena suami itu memeluknya erat.
" Kalau kusut kamu tinggal ganti yang baru, Honey. Nanti aku peluk lagi, kusut lagi, ganti kerudung lagi, begitu seterusnya ..." Gavin tertawa kecil.
" Dan kita nggak berangkat-berangkat menengok Baby Azkia dong, Kak!" Azzahra memberengut.
" Habis aku gemas lihat kamu, Honey." Gavin memberi kecupan terakhir sebelum dia mengurai pelukannya dari tubuh istrinya itu.
" Ya sudah kita berangkat yuk, Kak. Aku sudah nggak sabar ingin lihat Baby Azkia." Azzahra lalu menyampirkan Sling bag nya ke pundaknya dan mengandeng lengan suaminya itu untuk berjalan keluar dari kamar mereka .
***
Gavin memarkirkan mobil berwarna Maroccan Blue di depan rumah kediaman Natasha dan Yoga. Dan kemudian turun lebih dahulu untuk membukakan pintu dan menuntun istrinya untuk turun.
" Hati-hati, Honey." ujar Gavin menggandeng tangan istrinya itu menuju teras rumah Natasha. Dan dia menekan bel rumah itu.
" Assalamualaikum, Tante ..." sapa Gavin dan Azzahra saat pintu terbuka dan menampakkan sosok Mama Nabilla, Mama dari Natasha yang sedang menggendong Alden.
" Waalaikumsalam, Gavin, Rara ... ayo masuk." Mama Nabilla mempersilahkan Gavin dan Azzahra masuk ke dalam rumah menantunya.
" Tante apa kabar?" Gavin menyalami punggung tangan adik dari mamanya itu yang diikuti oleh Azzahra.
" Alhamdulillah Tante baik dan sehat, Gavin." Mama Nabilla menyahuti.
" Syukurlah kalau begitu, Tan. Ini ponakan Uncle Gavin, apa kabar?" Gavin langsung merentangkan tangannya yang disambut oleh Alden hingga bayi berusia empat belas bulan itu kini berpindah duduk dilengan kekar Gavin.
" Alden semalam ketinggalan di rumah sendirian, Uncle." Mama Nabilla terkekeh mengatakan hal itu.
" Ketinggalan? Maksudnya, Tan?" Gavin tidak paham dengan kalimat yang diucapkan Tantenya itu.
" Iya, jadi semalam itu pas Tata kontraksi, keadaan 'kan seketika panik. Yoga, Bu Ratna sama Pak Hasan pada senewen lihat Tata mau melahirkan. Jadi mereka buru-buru ke rumah sakit melupakan Alden yang sedang tertidur lelap. Untung belum terlalu jauh jadi mereka bisa balik lagi ke rumah dan akhirnya Tata melahirkan di bidan depan komplek perumahan ini." Mama Nabilla menerangkan apa yang terjadi beberapa hari lalu saat Natasha hendak melahirkan Azkia.
" Ya Allah, kasihan sekali Alden." Azzahra mengusap kepala Alden yang saat ini sedang berada dalam pangkuan suaminya.
" Kasihan keponakan Uncle Gavin, ditinggal Mama sama Papa ya, Sayang?" Gavin mencium pucuk kepala dan pipi bayi itu.
" Ada-ada saja ya, Tante." Azzahra menggelengkan kepala tak percaya hal itu bisa terjadi pada Alden.
" Iya, Ra. Kalau keadaan panik kadang bikin lupa hal-hal penting, untung Alden masih tidur dan tidak terbangun malam itu," ucap Mama Nabilla.
" Iya benar, Tante. Kasihan kalau malam itu Alden bangun dan menangis mencari Mama sama Papanya." Azzahra membayangkan kalau Alden akan menangis kencang karena tidak ada yang menemani.
" Kamu sendiri sudah berapa bulan, Ra?" Mama Nabilla menanyakan kabar seputar kehamilan Azzahra.
" Delapan bulan, Tante." sahut Azzahra.
" Sebentar lagi, ya? Calon bayinya sudah ketahuan?" tanya Mama Nabilla lagi.
" Kami sengaja tidak memeriksakan jenis kelamin baby nya Tante, biar jadi kejutan." Gavin kali ini yang menjelaskan.
" Oh gitu ...."
" Teh Tata nya sudah pulang 'kan, Tante?"
" Sudah, dia sedang memandikan Azkia di kamar. Ayo masuk saja ke kamar." Mama Nabilla ingin mengantar Azzahra dan Gavin ke kamar Natasha.
" Ayo, Kak ..." Azzahra mengajak suaminya itu untuk ikut dengannya.
" Kau duluan saja, Honey. Nanti aku menyusul." Gavin terlihat asyik bercanda dengan Alden.
Akhirnya Azzahra terlebih dahulu menemui Natasha di kamarnya.
" Ta, ada Gavin dan Rara, nih. Mau tengok Azkia." Mama Nabilla memberitahu Natasha tentang kedatangan Gavin dan Azzahra sesampainya di kamar Natasha.
" Suruh masuk saja, Mah." Natasha menyahuti.
" Assalamualaikum, Teh Tata." Azzahra menyapa Natasha.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, masuk, Ra," jawab Natasha.
" Teh, selamat ya, dedek bayinya sudah keluar." Azzahra lalu memeluk Natasha.
" Terima kasih, Ra." Natasha mengurai pelukannya dan mengelus perut buncit Azzahra. " Tinggal kamu, ya? Semoga nanti dilancarkan persalinannya, selamat dan sehat Ibu dan bayinya."
" Aamiin, Teh. Aku juga nggak sabar ingin cepat-cepat melahirkan biar plong," ujar Azzahra.
" Hai, Alexa," sapa Gavin yang baru masuk ke dalam kamar Natasha, Setelah tadi bermain-main dengan Alden.
" Hai, Kak ..." jawab Natasha.
" Selamat ya, atas kelahiran putri kamu, Alexa." Gavin memeluk Natasha.
" Makasih, Kak. Tinggal Kak Gavin, nih. Yang sebentar lagi jadi Daddy ..." sahut Natasha.
" Doakan lancar, ya, Alexa,"
" Selalu aku doakan kok, Kak." balas Natasha.
" Siapa nama adiknya Alden ini, Alexa?" tanya Gavin.
" Almayra Azkia Atmajaya, Uncle Gavin." Natasha mengangkat baby Kia dan digendong dalam pangkuannya.
" Namanya cantik, secantik wajahnya," puji Azzahra.
" Secantik Mamanya juga, dong." kelakar Natasha.
" Pasti dong, Teh. Kalau Teh Tata nggak cantik, nggak mungkin Kak Gavin dulu tergila-gila sama Teteh." sindir Azzahra melirik ke arah suaminya yang kini menatap dengan memicingkan matanya membuat Natasha tergelak.
" Jangan mengingatkan ke hal itu dong, Honey." Gavin nampak jengah diingatkan kembali pada masa lalunya.
" Kenapa? Kan memang dulu Kak Gavin begitu memuja Teh Tata, sampai bikin Nyonya Agatha marah." Azzahra selalu senang jika meledek suaminya tentang kisah masa lalu suaminya itu..
" Waktu mau melahirkan sakit banget ya, Teh?" tanya Azzahra mengalihkan topik pembicaraan.
Natasha tersenyum, dia paham bagaimana perasaan istri dari kakak sepupunya itu. Untuk seorang ibu hamil, saat melahirkan adalah hal yang ditunggu-tunggu dan sangat membuat cemas.
" Nikmat luar biasa. Tapi itu nggak sebanding dengan kebahagian yang tiada tara, saat kamu mendengar tangisan bayi kamu saat dia lahir nanti." Natasha menyemangati Azzahra.
" Tapi aku takut, Teh." Azzahra seketika cemas.
" Aku takut, Kak. Aku takut aku nggak sanggup untuk melahirkan anak kita."
" Sssttt, jangan bicara seperti itu. Kamu 'kan sangat taat dalam agama. Kamu berdoa selalu kepada Allah SWT, minta diberi keselamatan, kesehatan dan kelancaran saat persalinan nanti." Gavin membungkukkan tubuhnya kemudian merangkum wajah sang istri. " Kamu tidak perlu cemas, Honey. Aku akan ada di samping kamu saat kamu melahirkan nanti." Gavin kemudian mengecup lembut bibir Azzahra.
" Hadeuh ... kalau mau mesra-mesraan jangan depan umum, deh!" sindir Natasha.
" Kamu pikir cuma kamu dan suamimu saja yang bisa bermesraan di depan orang lain, Alexa? Masih bagus kita bermesraan di rumah keluarga sendiri. Tidak seperti kalian. Bermesraan depan publik dilihat banyak orang, sampai bikin seorang gadis menangis karena patah hati." Gavin kini melirik istrinya yang sudah memberengut dengan wajah merona.
" Dan sampai bikin Kak Gavin harus berurusan dengan gadis itu juga orang tuanya, kan?" Natasha tergelak mengingat kejadian lucu tersebut.
" Sayang waktu itu kamu telat datangnya, Alexa. Jadi kamu nggak sempat lihat waktu gadis itu tersadar langsung bilang 'Umi, Rara takut. Rara mau diper*kosa', ya ampun, padahal kepikiran ke arah situ juga nggak." Gavin dan Natasha kini tertawa bersamaan membuat Azzahra malu.
" Kak, iihh ... sudah, deh. Jangan bahas itu lagi. Aku malu." Azzahra menghujani cubitan di pinggang Gavin.
" Jadinya 'kan imbang, Honey. Satu-satu." Gavin terkekeh seraya merengkuh tubuh Azzahra yang kini menenggelamkan wajah di dadanya.
" Cut cut cut ... sudah deh, kalau mau melakukan hal me*sum nya jangan depan bayi polos tak berdosa," sindir Natasha kembali.
" Oh ya Teh, kenapa Alden bisa sampai tertinggal di rumah waktu Teh Tata mau melahirkan?" Azzahra kembali mengalihkan pembicaraan.
" Hahaha ... itu karena orang-orang pada senewen aku mendadak kontraksi." Natasha tertawa mengingat hal konyol dan keteledoran yang dilakukan oleh suaminya saat dia hendak melahirkan Azkia.
" Katanya prediksi melahirkannya seminggu lagi kenapa ini sudah melahirkan, Teh?" tanya Azzahra penasaran.
" Iya, HPL itu bisa maju bisa juga mundur dari jadwal yang diprediksikan, Ra. Tapi sepertinya kemarin itu karena aku dan Mas Yoga terlalu bersemangat, deh." Natasha menarik satu sudutnya ke atas.
" Bersemangat apa maksudnya, Teh?" tanya Azzahra dengan kening berkerut karena tak paham.
" Bersemangat melakukan hubungan suami istri dong, apalagi memangnya?" Natasha terkekeh.
" Kalian habis make love memangnya?" tanya Gavin penasaran yang dijawab anggukan kepala Natasha.
" Memang boleh, Teh?"
" Boleh, disarankan malah sama dokternya. Buat kasih jalan keluar bayinya biar lancar." Natasha menyeringai.
" Serius, Alexa?" Gavin yang kini lebih bersemangat bertanya.
__ADS_1
" Seriuslah, Kak. Kalau Kak Gavin nggak percaya nanti tanya saja sama dokternya kalau periksa lagi."
" Honey, kalau begitu harus kita praktekan." Gavin langsung berkata kepada Azzahra membuat Azzahra mengeryitkan keningnya.
" Sebelum aku puasa empat puluh hari, nanti sebelum melahirkan aku puas-puasin dulu hiya-hiya nya ya, Honey." ucapan Gavin sontak membuat Azzahra tercengang dengan mata dan mulut terbuka lebar
***
" Kenapa melamun saja, Honey?" tanya Gavin saat melihat istri hanya termenung sepulang menjenguk Natasha dan Baby Azkia.
" Aku sedang memikirkan kejadian soal Alden. Aku membayangkan kalau aku juga seperti itu, gimana, ya? Aku mengalami kontraksi saat Kak Gavin sedang bekerja, aku pasti akan senewen banget, Kak." Azzahra menanpakkan kecemasannya.
" Kau tidak usah khawatir, Honey. Jelang kau melahirkan, aku akan bekerja dari rumah, jadi kau tidak perlu merasa cemas aku tidak ada di sampingmu." Gavin mencoba menenangkan istrinya yang dilanda kecemasan.
" Nggak enak atuh, Kak. Masa harus bekerja dari rumah."
" Nggak enak kenapa? Hotel itu punya Daddy ku, Grandpa dari baby kita. Lagipula Dad David juga sudah mengijinkan aku bekerja dari rumah jelang melahirkan nanti." Gavin menjelaskan.
Azzahra kini menoleh ke arah suaminya itu.
" Masya Allah, aku beruntung sekali punya suami dan keluarga mertua seperti keluarga Kak Gavin. Semuanya seperti mimpi rasanya, Kak. Kehidupan aku rasanya seperti Cinderella ...."
" Dan aku pangeran tampannya." Gavin menimpali.
" Pangeran yang ditimpuk sepatu. Kak Gavin ingat tidak?" Azzahra tertawa mengingat kejadian waktu dia pernah melempar sepatu ke arah kepala Gavin ketika awal-awal mereka bertemu dulu. Saat dia mengira jika Gavin adalah sosok pria breng*sek yang ingin memanfaatkan kepolosannya.
" Hahaha ... tentu saja aku ingat, Honey. Karena peristiwa lempar sepatu itulah akhirnya aku terkena hukuman menjadi supir pribadi keluargamu sementara waktu menggantikan Mang Ucup." Gavin pun menggelengkan kepalanya mengingat kejadian dulu.
" Dan dari situlah dimulai kisah kita, Kak."
" Benar, Honey. Siapa sangka akhirnya kita sekarang hidup bahagia dan sebentar lagi akan punya baby."
" Benar, Kak. Aku juga tidak menyangka jika akhirnya akan melabuhkan hati aku kepada Kak Gavin."
" Itulah yang namanya Rahasia Illahi, Honey. Siapa yang akan menjadi jodoh kita hanya Allah SWT yang tahu. Kita tidak bisa menolak orang jika itu memang sudah ditakdirkan menjadi jodoh kita. Begitu juga sebaliknya, kita tidak bisa memaksakan orang untuk menjadi milik kita kalau itu bukanlah jodoh kita."
" Tapi kita dipaksa menikah 'kan, Kak? Tapi kita memang berjodoh." Azzahra terkekeh.
" Iya benar, Honey. Dan aku beryukur akhirnya kita menikah walaupun karena terpaksa. Coba kalau waktu itu aku meneruskan kabur dan tidak perduli ancaman Dad David untuk mencarimu, hidupku pasti masih kacau. Kau memang bidadari surgaku, Honey."
" Sshhh ...."
Gavin menoleh saat mendengar istrinya itu merintih.
" Kenapa, Honey? Kau ingin melahirkan?" tanya Gavin kemudian.
" Lapar, Kak." ucap Azzahra menyeringai.
" Lapar? Bukannya tadi di rumah Alexa kita sudah makan, Honey?"
" Tadi itu yang makan aku, sekarang ini yang lapar dan ingin makan itu dedek bayinya, Kak."
" Oke, oke ... baby mau makan apa, Sayang?" tanya Gavin mengusap perut istrinya itu.
" Mau makan nasi Padang, Pa. Mau makan rendang sama sambel ijo nya." Azzahra menyebutkan menu apa yang ingin dimakannya membuat Gavin langsung mendelik ke arahnya.
" Honey, mana ada baby makan sambal!" protes Gabjn kemudian.
" Yang makan 'kan Mamanya, Kak. Atas perintah dedek bayi." Azzahra berucap manja.
" No, Honey! Tidak ada makan sambal!" Gavin menolak permintaan Azzahra. " Lagipula baby belum bisa bicara, mana ada kasih perintah-perintah seperti itu!"
" Tapi itu memang kemauan dedek bayi, Kak." Azzahra memaksa suaminya itu untuk memenuhi keinginannya.
" No! Sekali tidak tetap tidak!" tegas Gavin tak ingin dibantah.
Azzahra memberengut menanggapi keputusan suaminya yang tak mengijinkan makan menu yang diinginkannya.
" Honey, Papamu itu kaya raya, anak dari konglomerat, punya banyak uang, kasih kado ke orang saja yang berlapis emas. Giliran istri sendiri minta makan lauk yang harganya di bawah lima puluh ribu saja ditolak. Sungguh terlalu Papamu itu, Dek." keluh Azzahra seolah meratapi nasib membuat bola mata Gavin langsung melebar..
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1