KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Seperti Dokter


__ADS_3

" Selamat malam, Tuan Gavin."


Gavin mendapati Rizal yang sudah berdiri di depan pintu kamar rawat Azzahra. Sebelumnya Rizal memang sudah mengabari Gavin jika akan menemuinya.


" Malam, Pak Rizal, Tunggu sebentar!" Gavin kemudian menemui Azzahra yang sedang bersandar sambil menonton acara televisi ditemani Umi Rara.


" Honey, aku mau bicara sebentar dengan Pak Rizal di cafe rumah sakit ini. Aku tinggal dulu, ya. Kamu ditemani Umi dulu." Gavin meminta ijin istrinya itu untuk berbincang dengan Rizal di cafe yang ada di rumah sakit. Karena yang akan dibicarakan adalah hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Rizal dan Vito tentang peristiwa penyerangan Gavin semalam. Gavin tak ingin Azzahra apalagi Umi Rara tahu apa yang akan dibicarakan antara mereka bertiga.


" Kenapa nggak bicara di sini saja, Kak?" Azzahra langsung menahan lengan suaminya agar tidak pergi meninggalkannya.


" Honey, kalau aku bicara di sini dengan mereka nanti Umi tahu kalau motif penyerangan itu memang terencana untuk menyerangku. Kau tidak ingin Umi cemas, kan?" bisik Gavin dengan tangan membelai wajah Azzahra.


" Tapi aku nggak mau jauh dari Kak Gavin." ucap Azzahra bergelayut manja di lengan suaminya itu.


" Honey, aku hanya sebentar saja, kok. Nggak akan lama." Gavin mencoba membujuk dan meminta pengertian istrinya itu.


" Ya sudah tapi jangan lama-lama ..." Azzahra mengajukan syarat dengan wajah memberengut.


" Iya, aku nggak akan lama, kok." Gavin tersenyum melihat istrinya yang terlihat tidak ingin berada jauh darinya.


" Lima menit saja nggak boleh lebih!" Azzahra memperingatkan suaminya agar mengingat waktu yang di berikan untuk berbincang dengan Rizal dan Vito hanya lima menit.


Gavin terkekeh mendengar waktu yang ditetapkan sebagai syarat oleh Azzahra. Dia tak menginyakan permintaan istrinya namun hanya mengecup kening sang istri.


" Aku ke cafe dulu ..." ujar Gavin. " Umi, saya titip Rara, ada yang mesti saya bicarakan sebentar dengan Pak Rizal." Gavin berpamitan kepada Umi Rara.


" Iya, tenang saja, Rara aman sama Umi." Umi Rara mengacungkan ibu jarinya.


" Terima kasih, Umi." Gavin kemudian berjalan ke arah pintu kamar. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia mendengar Azzahra memanggil namanya.


" Kak Gavin ...."


Gavin dengan cepat menoleh ke arah istrinya.


" Lima menit jangan lebih." Azzahra memperlihatkan lima jari tangan kanannya ke Gavin membuat pria itu kembali tersenyum seraya menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya menghilang dari padangan Azzahra.


***


" Saya sudah dapat sedikit info dari Dad David tentang siapa yang melakukan penyerangan terhadap saya dan saya tidak pernah menyangka jika dialah yang melakukannya." Gavin masih merasa tak percaya saat mendengar info dari Dad David tentang pelaku penyerangan.


" Apa Tuan Gavin tidak pernah bertemu dengan Nona Grace sebelumnya?" tanya Rizal penasaran.


" Saya sudah lama tidak bertemu dengannya, sekitar empat tahun lalu, itu pun hanya sepintas dan saat itu dia masih berusia lima belas tahun." Gavin menjelaskan.


Rizal mengusap rahangnya sambil menganggukkan kepalanya pelan.


" Pantas Tuan Gavin tidak mengenali wanita itu." Rizal akhirnya mengerti.


" Ya, wanita yang menyerang saya perawakannya tinggi dengan postur tubuh sangat ideal. Sulit dipercaya jika itu adalah Grace." Gavin mencoba mengingat kembali.


" Om David meminta saya untuk melanjutkan penyelidikkan ini hingga ke jalur hukum, Tuan Gavin."


Gavin menghela nafas panjang, dia mulai paham karakter Dad David, walaupun pria paruh baya itu terkenal bijaksana namun juga sangat tegas dalam berprinsip, apalagi yang menyangkut tentang martabat keluarganya.


" Jalankan saja apa yang sudah diperintahkan Dad David," tegas Gavin. Dia pun tidak bisa memaafkan siapapun juga yang hampir mencelakai dirinya, istrinya dan calon bayinya.


" Baik, Tuan. Kalau begitu kami ijin pamit, maaf mengganggu istirahat Anda, permisi." Rizal akhirnya berpamitan kepada Gavin.


Sementara itu di sebuah apartemen mewah di tengah kota Jakarta.


" Tante Agatha?" Joe terkesiap saat mendapati Agatha sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Grace.

__ADS_1


Agatha memandang Joe yang hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada membuat Agatha menatap sinis ke arah Joe


" Mana Grace?!" Agatha menerobos masuk ke dalam ke dalam apartemen milik anaknya.


" Apa kabar, Tan? Senang bisa bertemu lagi." Joe menatap Agatha dari ujung rambut sampai ujung kaki. Agatha memang masih tetap nampak cantik meskipun usianya sudah hampir mendekati setengah abad.


" Mana Grace?!" Agatha kembali mengulang pertanyaannya seraya melangkah memasuki kamar Grace. Dan dia menjumpai anaknya itu sedang terbaring di atas tidur.


" Grace, bangun!!" Agatha menyibak selimut yang menutupi tubuh anaknya itu, namun dia terbelalak lebar saat mendapati tubuh Grace tak mengenakan sehelai benang pun yang menempel di tubuh anaknya itu.


" Astaga, Grace!!" pekik Agatha sambil memukuli anaknya itu dengan selimut yang tadi menutupi tubuh Grace.


" Apa yang sudah kalian lakukan di kamar ini?" Agatha nampak syok mengetahui jika anaknya sepertinya telah melakukan aktivitas bercinta layaknya sepasang suami istri dengan Joe.


" Joe ...!! Kemari, kau!!" geram Agatha berteriak memanggil nama Joe.


" Mam, kenapa teriak-teriak, sih?!" Grace yang merasa tidurnya terganggu langsung bangkit dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


" Kau, kau sering melakukan ini dengan dia?!" Dada Agatha turun naik karena emosi. Dia benar-benar tidak menyangka anaknya sampai sebebas ini kehidupannya.


" Memangnya kenapa, Mam? Ini 'kan hal yang wajar di luar negeri." Grace menanggapi santai.


" Wajar? Kau ini orang timur bukan orang barat, Grace!" sergah Agatha.


" Memangnya kenapa kalau orang timur, Mam? Banyak juga orang timur yang berprinsip seperti aku ini."


Agatha mendengus kesal, dan dengan langkah lebar dia keluar dari kamar Grace mencari Joe


" Joe!! Dasar breng*sek, kau!! Kau sudah meracuni anakku!" Agatha langsung menyerang Joe.


Plaakk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Joe.


" Mam, apa yang Mam lakukan?!" Grace langsung berlari memeluk Joe.


" Menyingkirlah, Grace!! Kau tak pantas membela pria breng*sek seperti dia!!" geram Agatha menunjuk ke arah muka Joe.


" Yang pantas disebut pria brensek itu si gembel peliharaan Mama dulu! Dia meninggalkan dan mencampakkan Mama seenaknya!!" Tentu saja Grace menganggap Gavin lebih breng*sek dari Joe.


" Kau, ikut dengan Mama sekarang juga!" Agatha menarik tangan anaknya, dia ingin membawa Agatha keluar dari apartemen itu.


" Aku nggak mau, Mam!" Grace bertahan tak ingin mengikuti Mamanya.


" Kau harus ikut Mama, Grace! Mama tidak ingin kamu semakin liar dan tak terkendali." Agatha memang sangat mengakhawatirkan kondisi Grace.


" Aku nggak mau ikut Mama!" tolak Grace.


" Kau lihat apa yang sudah kau lakukan pada anakku, hah?!" bentak Agatha kepada Joe yang hanya menatap dingin tak menjawab pertanyaan Agatha.


" Joe tidak mempengaruhi aku, Mam! Dia mencintaiku!" tegas Grace.


" Astaga Grace, kau sudah dibutakan karena pria breng*sek ini! Melakukan sek*s bebas, berbuat onar bahkan hampir membunuh orang. Mama hampir tidak mengenalimu. Mana gadis kecil Mama yang dulu?" Agatha nampak kecewa karena gadis kecil yang penurut padanya kini telah hilang, sama sekali tidak dia jumpai pada sosok Grace saat ini.


***


" Kak ...."


" Hmmm ...."


" Bagaimana tadi obrolan dengan Pak Rizal? Apa sudah ketemu siapa pelakunya?" Azzahra penasaran bertanya saat mereka berdua berbaring dalam satu brankar dengan posisi kepala Azzahra diletakan di lengan Gavin sebagai bantal sementara tangannya mengusap dada bidang suaminya.

__ADS_1


" Besok saja kita bicara ini, Honey. Sekarang sudah larut, kau tidurlah." Gavin sebenarnya hanya tidak ingin membuat Azzahra khawatir sehingga dia tidak memberitahukan istrinya tentang pelaku sebenarnya yang telah nekat ingin mencelakainya.


" Aku penasaran, Kak!" Azzahra merengek meminta suaminya itu segera memberitahukannya sementara tangannya asyik memainkan rambut-rambut halus yang tumbuh di dada sang suami.


" Kalau aku bilang sekarang bahaya, Honey. Makanya kau cepat tidur demi keselamatan kamu," ucap Gavin beralasan.


Azzahra mendonggakkan kepalanya menatap sang suami.


" Memangnya kenapa? Duh, aku 'kan jadi semakin penasaran, Kak. Memangnya siapa, sih? Sampai Kak Gavin bilang bahaya kalau aku nggak cepat-cepat tidur? Mantan pacar Kak Gavin selain Kak Jovanka, ya?!" tebak Azzahra asal.


" Hush, sembarangan saja bicaranya!" tepis Gavin.


" Ya makanya kasih tahu siapa, Kak?" desak Azzahra.


" Honey, kalau kita tidak cepat tidur aku takut aku lupa tempat dan akan menyerangmu karena sedari tadi kau sedang menggodaku." Gavin yang sedari tadi menahan diri saat Azzahra memainkan jari jemari lentiknya di dadanya harus benar-benar bisa menahan hasratnya karena posisi mereka berdua sedang berada rumah sakit. Tidak mungkin dia melakukan hal gila itu dalam kondisi Azzahra sedang terbaring di atas brankar seperti ini.


" Kak Gavin mau, ya?" tanya Azzahra, kini tangannya menangkup rahang tegas suaminya. Dia paham ke arah mana maksud dari kalimat suaminya itu


" Banget, Honey." Kini justru Gavin yang menciumi wajah Azzahra penuh hasrat.


" Tapi ini rumah sakit, Kak."


" Karena itu cepatlah kau tidur daripada aku nanti khilaf menyerangmu." Gavin meminta agar istrinya itu cepat terlelap dan tidak lagi banyak bicara.


" Di sini ada CCTV nya ya, Kak?" tanya Azzahra mengedar pandangan ke setiap sudut ruangan rawat inapnya.


" Honey, sudahlah tidur! Jangan mikir macam-macam!" Gavin menutupi mata Azzahra dengan telapak tangannya membuat wanita itu terkikik.


" Hush, jangan ketawa seperti itu! Ini rumah sakit dan malam hari." Gavin mencoba menakuti Azzahra.


" Memangnya kenapa? Kak Gavin jangan menakut-nakutiku!" Azzahra kini menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.


" Ya makannya kamu cepat tidur, Honey. Kalau kau tidak cepat tidur aku takut yang suka ketawa seperti itu datang kemari untuk cari kamu."


" Kak ...!" Azzahra mencubit pinggang suaminya hingga membuat Gavin meringis.


" Astaghfirullahal adzim, jangan bicara sembarangan! Naudzubillahi min dzalik, aku sedang hamil ini! Jangan suka menakuti seperti itu!" Azzahra mencebikkan bibirnya.


" Hehe ... maaf, Honey. Makanya kamu tidur saja agar aku tidak kumat," ucap Gavin.


" Besok kita sudah boleh pulang belum, Kak?" tanya Azzahra kemudian.


" Besok aku tanyakan lagi ke dokternya.. Kamu ada keluhan lain? Atau merasakan sakit akibat jatuh kemarin?"


" Nggak ada, Kak. Mungkin hanya lutut saja yang sedikit lecet. Selebihnya nggak ada." Azzahra menjelaskan apa-apa saja yang masih dia keluhkan.


" Ya sudah sekarang istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran biar cepat pulih dan jangan stres biar pertumbuhan baby di perut kamu ini tidak terganggu, jadi besok bisa diijinkan pulang."


" Kak Gavin sudah seperti dokter saja deh, bicaranya."


" Aku juga dokter, lho! Buktinya aku bisa suntik kamu sampai membuat perut kamu seperti ini." Gavin menyeringai seraya menyentuh perut Azzahra.


" Mau aku suntik sekarang?" Gavin kemudian memainkan kedua alisnya turun naik.


" Kak ....!" Azzahra kembali mencubit pinggang Gavin hingga pria itu tertawa senang karena berhasil membuat wajah istrinya merona.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2