KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Kesedihan Azzahra


__ADS_3

Azzahra langsung berlari ke dalam rumah saat turun dari mobil Yoga, tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Dia bahkan melewati abi juga uminya.


" Eh, eh, eh ... Aya naon iyeu teh?"( Ada apa ini, tuh) Umi Rara langsung terheran saat melihat anaknya berlari sambil berurai air mata dan tanpa mengucapkan salam saat memasuki rumahnya.


Azzahra menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Rasa sakit, marah dan kecewa kini campur jadi satu di hatinya.


" Ra, kamu kenapa?" Umi Rara langsung menghampiri Rara yang sedang terisak di balik bantalnya.


" Umi ..." Rara langsung bangkit memeluk uminya dan terisak hingga tersedu di pelukan uminya.


" Kenapa ini, Ra? Ada apa? Kenapa pulang-pulang kamu nangis begini? Seharusnya kamu senang bisa ketemu Yoga, kan?" Umi Rara mengelus punggung Azzahra karena putrinya itu tak juga berhenti menangis.


" Kang Yoga, Umi ...."


" Yoga kenapa? Tadi Yoga pamitan nggak bilang apa-apa." Umi Rara semakin bingung.


" Kang Yoga sudah menikah, Umi. Hiks ... hiks ...."


" Yoga menikah??" suara Umi Rara memekakkan telinga sambil mengurai pelukannya. " Maksud kamu gimana, Ra?"


" Kang Yoga sudah menikah, Umi. Tadi Rara dikenalkan dengan istri Kang Yoga." Azzahra masih terus terisak.


" Bagaimana mungkin, Ra? Kapan Yoga menikah? Dengan siapa? Bukankah kamu ini calon istrinya Yoga? Bagaimana bisa Yoga menikah dengan wanita lain?" Umi Azzahra seakan tak percaya dengan fakta yang diungkap oleh Azzahra.


" Seharusnya Rara menyadari sikap Kang Yoga yang selama ini tak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Rara. Mestinya Rara tidak pernah berharap kepada Kang Yoga."


" Umi mesti bicara dengan Ceu Lena." Umi Rara ingin bergegas keluar kamar Azzahra dan menghubungi Mamih Ellena tapi Azzahra melarangnya.


" Jangan, Umi!" Azzahra mencengkram lengan uminya.


" Kenapa, Ra? Umi mesti minta penjelasan kepada mamihnya Yoga. Apa maksudnya semua ini?" Umi Rara terlihat geram.

__ADS_1


" Jangan Umi, jangan permalukan Rara, Umi."


" Mempermalukan kamu gimana, Ra? Bukankah Ceu Lena sendiri yang menginginkan kamu menjadi calon menantunya? Tidak bisa begitu saja membiarkan Yoga menikah dengan wanita lain. Lalu kamu gimana, Ra? Umi sudah bilang ke banyak orang kalau kamu itu calonnya Yoga. Umi mesti gimana menghadapi orang-orang jika mereka tahu ternyata Yoga itu sudah menikah?"


Azzahra semakin terisak mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan oleh uminya. Sejujurnya, keluarganya juga salah karena terlalu berharap. Mereka terbuai dengan keinginan Mama Yoga. Meskipun Mama Yoga sering mengenalkan dirinya sebagai calon dari Yoga, tapi pada kenyataannya memang dirinya tidak pernah diikat dalam satu ikatan secara resmi, walaupun itu berupa pertunangan.


***


Hari terus berlalu, hingga keluarga besar Yoga akan mengadakan acara resepsi pernikahan Lily, saudara sepupu dari Yoga seminggu setelah pertemuan Azzahra dengan Yoga dan istrinya.


" Umi, kalau Rara nggak ikut hadir di pesta Teh Lily boleh nggak?" Azzahra malas untuk datang, karena pasti di sana dia akan bertemu dengan Yoga dan istrinya.


" Jangan atuh, Ra. Nggak enak sama Uwa Ridwan kalau kamu nggak datang. Teh Lily juga pasti cari kamu, Ra." Umi Rara mencoba membujuk Azzahra agar tetap datang di acara resepsi pernikahan sepupu Yoga yang akan digelar di sebuah hotel di Bogor.


" Rara pasti akan ketemu Kang Yoga dengan istrinya di sana, Umi," lirih Azzahra.


" Ya sudah, kamu sabar saja, Ra. Umi sudah bicara dengan Ceu Lena. Ceu Lena bilang, wanita itu istri sementara Yoga, jadi kamu tenang saja, ya."


" Astaghfirullahal adzim, Umi kenapa bicara seperti itu?" protes Azzahra, merasa tidak senang dengan ucapan uminya tadi.


" Umi, Kang Yoga itu sudah menikah, dia sudah bahagia dengan istrinya, kenapa Umi mengharapkan mereka berpisah?"


" Lho, yang mengharapkan Yoga dan istrinya berpisah itu mamihnya Yoga sendiri, kok. Umi cuma meng_aamiin_kan saja." Umi Rara mengelak.


" Apa bedanya Umi? Mengharapkan orang lain bercerai itu nggak baik." Azzahra menggelengkan kepala menanggapi sikap uminya yang terkesan mendukung sikap Mamih Ellena.


" Lagipula Umi mau, Rara dianggap sebagai perebut suami orang, jika Mamih Ellena memaksa Yoga menikah dengan Rara nantinya?"


" Iiihh ... bukan kamu yang merebut Yoga, tapi wanita itu yang rebut Yoga dari kamu, Ra." Umi Azzahra memprotes.


" Bagaimana pun juga dia sudah resmi istri Kang Yoga, Umi."

__ADS_1


" Tapi dia itu istri siri, Ra. Yoga itu terpaksa menikah dengan wanita itu. Kamu tahu 'kan, jika pernikahan karena suatu paksaan itu tidak akan berjalan dengan baik. Yoga pasti akan sangat tertekan dengan pernikahannya itu. Dia pasti tidak bahagia dengan pernikahannya."


Azzahra menggelengkan kepalanya menolak asumsi yang uminya sebutkan tadi.


" Tidak Umi, Umi tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kang Yoga sangat bahagia dengan pernikahannya itu. Kang Yoga sangat mencintai istrinya. Rara bisa merasakan itu, Umi. Rara bisa melihat Kang Yoga sangat mencintai istrinya," lirih Azzahra seraya menyeka lelehan air mata yang mulai membasahi pipinya. Masih lekat di ingatannya, bagaimana Yoga memperlakukan istrinya dengan sangat mesra. Belum lagi pernyataan Yoga yang mengatakan bahwa pria itu ingin membahagiakan istrinya.


***


Suasana wedding party Lily dan Budi berjalan sangat meriah, semua orang terlihat sangat bahagia dan bersuka cita atas pernikahan kedua mempelai, termasuk dua orang insan yang sedang dimabuk asmara. Pasangan suami istri yang baru sekitar kurang lebih sebulan mengarungi mahligai rumah tangga.


Prayoga dan Natasha, dua insan yang sedang kasmaran dan dimabuk asmara. Mereka dengan riangnya saling bercanda, bercumbu mesra seolah tidak memperdulikan kehadiran orang lain di sekitar mereka, seolah pesta pernikahan ini adalah milik mereka berdua. Membuat orang yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala. Ada yang memaklumi, ada juga yang terheran, karena sebagian tamu sangat mengenal sikap Yoga yang terkenal sangat tenang dan kalem. Berbeda dengan sikap Yoga yang terlihat malam ini, terlihat sangat agresif.


Tingkah sepasang suami istri itu terekam jelas oleh sepasang mata indah wanita berhijab yang mengenakan gamis brokat berwarna peach. Azzahra pemilik mata indah itu memperhatikan pasangan itu tanpa berkedip. Sakit yang dirasakannya. Bagaimana tidak merasa sakit? Jika sosok pria yang sedang asyik mencumbu mesra istrinya itu adalah sosok pria yang dia cintai selama ini.


Seketika dadanya terasa sangat sesak, dia terasa kesulitan mendapatkan oksigen di dalam ruangan ini. Azzahra akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan untuk meraih udara segar. Dengan air mata yang mulai menetes di pipinya, Azzahra melangkahkan kaki sambil menundukkan wajahnya berniat meninggalkan ballroom.


" Rara, kamu mau ke mana?" Umi Rara yang sedari tadi memperhatikan anaknya bersedih menghentikan langkah Azzahra.


" R-Rara mau cari udara segar di luar, Umi." Azzahra memberi alasan.


" Ya sudah jangan jauh-jauh, Umi takut kamu nyasar, kamu 'kan nggak tahu tempat ini." Umi Azzahra mengerti apa yang sedang anaknya rasakan.


Setelah pamit pada uminya, Azzahra kembali melanjutkan langkahnya masih dengan wajah tertunduk dan setengah berlari. Rasanya dia tak tahan ingin segera terisak dan meluapkan kekecewaannya dengan menangis tersedu. Dia sampai tidak memperhatikan yang ada di depannya, hingga tiba-tiba ...


Buugghh ...


" Ah, shit ...."


" Oh, maaf ...."


Azzahra menabrak seseorang, Azzahra mencoba menaikkan wajahnya dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati seseorang pria sedang memperhatikan blazernya yang terkena noda merah hampir di setengah dadanya. Dengan tangan memegang gelas yang telah tandas isinya, karena semua cairannya sudah tumpah ke baju yang dikenakan pria itu.

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading❤️


__ADS_2