
Azzahra menatap pil kontrasepsi di tangannya kemudian menoleh ke arah pintu di mana tubuh Gavin sudah menghilang dari sana. Azzahra lalu mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur seraya menghela nafas yang serasa tercekat.
" Ya Allah, aku mesti bilang apa ke dia soal pil ini? Kak Gavin pasti marah sekali karena tahu aku meminum ini." Azzahra tertunduk sedih sementara bola matanya sudah mulai dipenuhi cairan bening yang siap untuk ditumpahkan.
Namun tak lama dia terkesiap saat terdengar sayup suara RBT dari ponselnya. Azzahra mencari di mana suara itu berasal dan ternyata suara itu terdengar pelan dari koper miliknya.
Azzahra dengan cepat membuka koper miliknya itu dan memang dia dapati ponselnya di dalam sana. Azzahra melihat Umi nya yang meneleponnya.
" Assalamualaikum, Umi ..." sapa Azzahra.
" Waalaikumsalam, Ra. Suami kamu sudah pulang?" tanya Umi Rara.
" Sudah, memangnya kenapa, Umi?"
" Apa dia marah-marah sama kamu, Ra?"
Azzahra langsung mengeryitkan keningnya mendapat pertanyaan dari Uminya itu.
" Nggak kok, Umi. Kak Gavin nggak marah-marah." Azzahra mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
" Ah, syukurlah kalau dia tidak marah-marah. Soalnya Umi takut dia marah-marah sama kamu gara-gara Umi keceplosan tanya soal pil KB."
Bola mata Azzahra membulat sempurna saat mendengar Umi nya bicara soal pil KB.
" U-Umi t-tahu dari mana tentang pil KB?" tanya Azzahra terkesiap.
" Kemarin waktu Rusmi beres-beres kamar kamu dia menemukan pil itu terjatuh di kamar kamu, Ra. Makanya Umi itu cepat-cepat telepon kamu, ternyata HP kamu ketinggalan di mobil suami kamu. Tadinya Umi pikir kalian itu sudah sepakat sampai kamu minum pil KB, ternyata suami kamu nggak tahu."
Azzahra memejamkan mata seraya menghela nafas dalam-dalam. Jadi dari uminya lah Gavin tahu soal pil KB.
" Tapi syukurlah kalau suami kamu itu nggak jadi marah sama kamu, Ra."
" Iya, Umi." Azzahra menjawab lemas.
" Umi nggak tahu saja justru saat ini aku sedang diungsikan karena Kak Gavin sedang marah." Azzahra membatin.
" Ya sudah atuh kalau gitu Umi tutup teleponnya ya, Ra. Assalamualaikum ... " Umi menutup panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam." Azzahra membalas.
Azzahra ingin meletakkan ponselnya namun Umi nya kembali menghubungi.
" Assalamualaikum, ada apa lagi, Umi?" tanya Azzahra.
__ADS_1
" Waalaikumsalam. Ra, Umi teh mau tanya, memangnya kenapa atuh kamu pakai minum pil KB segala?" Umi Rara menanyakan apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan dari awal.
Azzahra terdiam sesaat. " Rara, Rara sebenarnya takut, Umi."
" Takut apa, geulis?"
" Rara masih belum yakin sama pernikahan Rara. Rara takut kalau Rara hamil, Kak Gavin nanti meninggalkan Rara. Rara takut akan diceraikan saat Rara hamil karena dia bertemu wanita lain." Azzahra lalu bercerita tentang kedatangan mantan istri Gavin dan juga kejadian saat dia melihat seorang istri yang sedang hamil ditinggalkan oleh suaminya saat dia sholat di masjid beberapa waktu lalu.
" Kamu jangan kecil hati seperti itu, Ra. Kamu harus percaya diri. Kamu itu cantik dan masih muda. Kamu bilang mantan istri suami kamu seumuran sama Umi, jelas saja Gavin meninggalkan dia." Umi Rara mencoba menyemangati putrinya itu.
***
Gavin terbangun tengah malam. Dia merasakan perutnya yang terasa lapar. Gavin pun langsung berjalan menuju dapur mencari makanan yang bisa dia makan. Matanya menemukan dua piring nasi goreng di atas meja yang tidak ditutupi tudung saji. Seketika keningnya berkerut.
" Apa dia tidak makan malam tadi?" gumamnya, kemudian dia menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana. Dia lalu menyendok nasi berniat menyantap nasi goreng buatan istrinya tadi namun kemudian dia mengurungkan niatnya itu.
" Kalau aku makan, nanti dia pikir aku tidak serius marah sama dia." Gavin kemudian menjauhkan makanan itu darinya. Dia memilih mengambil roti tawar dan mengoleskan margarin dan selai bluberry lalu menyantapnya.
Setelahnya Gavin berjalan ke depan kamar yang ditempati Azzahra malam ini. Tangannya hendak menyentuh handle pintu kamar tamu itu, tapi dia kembali mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kamarnya.
Gavin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tangan melipat di bawah kepala. Matanya menatap langit-langit kamarnya.
" Apa dia tidak ingin mempunyai anak dariku? Apa dia tidak sudi mengandung darah dagingku?" batin Gavin.
Gavin mengusap kasar wajahnya, dia merasakan kekecewaan dan rasanya sukar mengikuti saran dari Daddy nya untuk bersikap lebih bijak menghadapi kesalahan yang dilakukan istrinya itu.
***
Selepas Shubuh Azzahra memilih menyiapkan makanan untuk Gavin. Walaupun suaminya itu sedang marah namun Azzahra tetap berusaha melakukan kewajiban terhadap suaminya dengan menyiapkan segala sesuatu untuk suaminya termasuk membuat sarapan pagi.
Azzahra melihat suaminya masuk ke dalam ruang makan saat dia sedang menata makanan di meja makan.
" Kak, sarapan dulu. Aku sudah buatkan sup iga sama perkedel," ucap Azzahra kepada Gavin. Namun Gavin sama sekali tidak menyentuh masakan yang telah dibuat Azzahra. Dia malah mengambil dua lembar roti tawar.
" Kak Gavin ingin sarapan roti, ya? Sini aku yang buatkan, Kak." Azzahra ingin mengambil roti dari dari tangan Gavin tapi Gavin menepis tangan Azzahra.
" Nggak usah pegang-pegang! Nanti kamu bisa hamil kalau sentuh tanganku," ketus Gavin membuat Azzahra membulatkan bola matanya.
Setelah membuat setangkap roti sandwich dan menyeduh secangkir kopi, Gavin berjalan ke arah ruang tamu. Dia memilih menikmati sarapan paginya di sana.
Azzahra pun kemudian mendekat ke arah suaminya dan duduk di kursi terpisah dari suaminya itu.
" Kak, aku minta maaf soal pil itu," lirih Azzahra menatap suaminya yang seolah tidak memperdulikan kehadirannya di sana.
__ADS_1
" Kenapa kamu lakukan itu? Apa kamu merasa tidak sudi mengandung benihku di rahim kamu?" tanya Gavin ketus.
" Bukan, Kak. Bu-bukan itu maksud aku, Kak." Azzahra menepis tudingan Gavin.
" Lalu apa maksudnya?" selidik Gavin
Azzahra bingung harus menjelaskan apa yang dia khawatirkan tentang pernikahannya juga ketakutannya.
" A-aku belum siap, Kak." Azzahra kembali berkata lirih seraya menggigit bibirnya.
" Belum siap?" Gavin tertawa sumbang. " Kenapa kamu tidak berkata jujur ke aku? Kenapa justru sembunyi-sembunyi mengambil keputusan minum pil itu?!" cecar Gavin seraya memakai kaos kaki.
" Seharusnya kamu mengatakan hal ini ke aku. Mestinya kamu bilang ke aku kalau kamu tidak siap mempunyai anak dariku, jadi aku bisa cari wanita lain yang siap mengandung anakku."
Azzahra seketika terkesiap mendengar ucapan Gavin yang mengatakan akan mencari wanita lain yang bersedia hamil anak Gavin.
" Kak Gavin kenapa bicara seperti itu?"
" Ya habis mau gimana lagi? Istri sendiri tidak mau mengandung anakku." Gavin kemudian memakai sepatu dan mengambil tas kerjanya yang sudah dia siapkan sebelumnya.
" Aku berangkat, Assalamualaikum ..." pamit Gavin melangkah keluar apartemen meninggalkan Azzahra yang tercenung mendengar niat suaminya yang akan mencari wanita lain. Tiba-tiba saja bola matanya mengembun.
" Assalamualaikum, kalau ada yang memberi salam itu harus dijawab!" suara Gavin kemudian kembali terdengar karena ternyata pria itu menyembulkan kepalanya di balik pintu.
Air mata Azzahra seketika terjatuh di pipinya melihat Gavin kembali.
" Malah nangis, kalau ada yang mengucap salam itu harus dijawab bukan ditangisi," sindir Gavin.
" Assalamualaikum ..." Gavin mengulang salamnya.
" Waalaikumsalam ..." sahut Azzahra pelan.
" Nah, seperti itu ... baru benar." Gavin kemudian menutup pintu dan berlalu dari hadapan Azzahra membuat hati dan pikiran Azzahra tak tenang karena niat Gavin tentang wanita lain.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1