KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Tidak Ada Yang Perlu Dikhawatirkan


__ADS_3

Azzahra berdampingan dengan Tante Linda berjalan menyusuri koridor apartemen milik Jovanka yang merupakan pemberian Dad David.


" Ini apartemennya, Tan." Rizal menunjuk satu pintu apartemen di hadapannya kepada Tante Linda dan Azzahra. Rizal memang ditugasi Dad David mengantar istri dan menantunya ke tempat tinggal Jovanka sekarang.


" Oh, terima kasih, Zal." Tante Linda menyahuti.


" Sama-sama, Tante. Saya tunggu di lobby saja ya, Tan. Permisi, Tante, Nyonya ..." Rizal berpamitan pada Tante Linda dan Azzahra.


" Oke, Zal." Tante Linda mempersilahkan Rizal turun ke bawah.


Tante Linda kemudian menekan bel di dekat pintu apartemen itu. Tak lama berselang pintu apartemen itupun terbuka dan nampaklah seorang wanita cantik berambut pendek.


" Jovanka?" Tante Linda menyapa Jovanka terlebih dahulu.


" Hmmm, Tante Linda?" Jovanka pun merespon sapaan Tante Linda, karena sebelumnya Gavin memang mengabari jika Mama tirinya itu akan menemani Azzahra menemuinya.


" Iya, benar." Tante Linda menyahuti.


Kini pandangan mata Jovanka bertumpu pada wanita cantik berbalut pakaian muslim longgar berwarna olive yang juga sedang mengarahkan pandangan ke arahnya. Sesaat mereka saling pandang tanpa satu kata terucap.


" Hmmm, ini Azzahra ... istri Gavin." Tante Linda yang mendapati situasi nampak cannggung antara Azzahra dan Jovanka dengan cepat memperkenalkan Azzahra kepada Jovanka.


" Oh, hai ... aku Jovanka." Jovanka mengulurkan tangannya terlebih dahulu kepada Azzahra yang kemudian disambut dengan ramah oleh Azzahra.


" Azzahra." Azzahra memperkenalkan dirinya.


" Mari silahkan masuk." Jovanka membuka pintu apartemen lebar-lebar mempersilahkan Tante Linda dan Azzahra masuk ke dalam apartemennya yang nampak luas.


" Silahkan duduk!" Jovanka kembali mempersilahkan duduk Tante Linda dan Azzahra.


" Sejak kapan pindah kemari?" Tante Linda mengedar pandangan ke setiap sudut apartemen.


" Seminggu yang lalu, Tante."


" Apa William suka pindah ke sini?" tanya Tante Linda kembali.


" Iya, dia sangat senang. Di sini lebih luas dan lebih lengkap fasilitasnya."


" Suami saya memang ingin memberikan yang terbaik untuk William."


" Hmmm, maaf kalau saya jadi merepotkan Om dan Tante." Jovanka merasa tak enak hati menerima apartemen berharga mahal itu dari Dad David.


" Ah, jangan merasa seperti itu. Tante rasa apa yang diberikan suami Tante tidak sebanding dengan kesalahan yang Gavin perbuatan dulu."


Saat Tante Linda menyinggung soal kesalahan Gavin, pandangan mata Jovanka langsung mengarah pada Azzahra yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan interaksi dari ibu mertuanya dengan mantan kekasih suaminya itu.


Entah kenapa Azzahra seolah kehilangan kata-kata saat bertatap muka dengan Jovanka. Pendapatnya sepintas tentang sosok Jovanka itu adalah wanita yang cantik, baik, bertutur kata sopan dan mandiri. Azzahra bahkan sempat berpikir kenapa suaminya itu sampai melepaskan wanita seperti Jovanka.


" Oh ya, William di mana?" tanya Tante Linda kembali.


" Willy kebetulan sedang ikut Peter, calon suami saya. Dia mengajak menemui orang tuanya karena kebetulan.orang tua Peter sangat dekat dengan Willy." Jovanka menjelaskan.


" Oh begitu ...."


Dari arah samping ruang tamu nampak seorang wanita paruh baya membawa nampan di tangannya berisi dua gelas teh untuk Tante Linda dan Azzahra.

__ADS_1


" Silahkan diminum, Nyonya." Wanita yang tak lain adalah Mama Maya mempersilahkan.


" Terima kasih, Nyonya. Tidak usah repot-repot." Tante Linda membalas.


" Oh ya, ini Mama saya, Tante. Ma, ini Tante Linda, istrinya Om David dan ini Azzahra, istrinya Gavin." Jovanka memperkenalkan Mamanya kepada Tante Linda juga Azzahra.


" Saya Maya, Mamanya Jovanka."


" Linda."


" Azzahra.


Baik Azzahra maupun Tante Linda bergantian menyalami Mama Maya.


" Saya sebagai Mamanya Jovanka dan Neneknya William mengucapkan terima kasih kepada Nyonya dan keluarga karena mau mengakui keberadaan William." Mama Maya mengucapkan rasa syukurnya karena memang perhatian yang diberikan Gavin dan keluarganya sangat besar terhadap William.


" Sama-sama, Nyonya. Saya rasa suami saya dan juga Gavin pasti akan melakukan yang terbaik untuk cucu Nyonya Maya," sambut Tante Linda.


" Oh ya, barangkali Azzahra ingin berbincang empat mata dengan kamu Jo, bawa ke balkon saja, biar lebih privacy." Mama Maya memberikan saran.


" Oh iya, Ma. Mari Azzahra kita berbincang di balkon!" Jovanka pun kemudian membawa Azzahra menuju arah balkon.


***


" Maaf jika keberadaan saya membuat kamu merasa tidak nyaman," ucap Jovanka saat mereka berdua duduk di kursi teras balkon apartemen di lantai sepuluh itu.


" Ah, tidak kok, Kak. Saya sama sekali tidak berpikir ke arah sana!" Azzahra menanpik anggapan Jovanka.


" Oh ya, berapa usia kamu?" tanya Jovanka kemudian.


" Oh, kita beda setahun, ya!" Jovanka menyahuti.


" Kak Jovanka berapa?" tanya Azzahra mencoba bersikap serileks mungkin.


" Aku dua lima nya tahun ini bulan Juli lalu," sahut Jovanka.


" Sudah lama kenal Gavin?" tanya Jovanka kemudian.


" Beberapa Minggu sebelum nenikah saja, Kak." Azzahra menyahuti.


Jovanka menghela nafas panjang.


" Gavin itu orang baik, tapi sayang terlalu lemah jika menyangkut masalah Mommy nya."


" Kak Gavin sudah cerita ke aku soal Kakak. Kak Jovanka pasti sangat kecewa dengan sikap Kak Gavin dulu, ya?"


Jovanka tersenyum samar menanggapi ucapan Azzahra.


" Tidak ada yang perlu disesalkan untuk semua yang sudah terjadi. Lagipula aku cukup bahagia memiliki William saat ini," ucapnya kemudian.


" William pasti sangat lucu ya, Kak? Sayang tidak bisa bertemu saat ini," sesal Azzahra.


" Iya, Willy sangat menggemaskan dan selalu membuatku tersenyum. Kamu dan Gavin datanglah nanti di pernikahanku pasti akan bisa bertemu Willy."


" Insya Allah, Kak." Azzahra menyahuti.

__ADS_1


" Oh ya, kenapa Kak Jovanka tidak meminta pertanggungjawaban Kak Gavin saat itu?" tanya Azzahra penasaran.


" Aku tidak ingin mengusik rumah tangga dia. Walaupun dia tidak mencintainya tapi wanita itu adalah istri sah nya dan aku tidak ingin membuat masalah dengan wanita itu."


" Nyonya Agatha maksud Kak Jovanka?"


" Kau kenal dia?"


" Pernah bertemu beberapa kali secara tak sengaja. Dia tidak suka Kak Gavin menikah denganku dan sempat membuat masalah di sekitar tempat tinggal orang tuaku dengan mengatakan kalau aku merebut Kak Gavin darinya." Azzahra sedikit membuka bagaimana kelakuan Agatha yang dia rasakan sangat mengganggu ketenangannya.


" Itulah yang membuat aku malas berurusan dengan dia dan memilih merahasiakan kehamilan aku dari Gavin."


" Apa Kak Jovanka merasa dendam dengan Kak Gavin?" tanya Azzahra hati-hati.


" Apa untungnya menyimpan rasa dendam? Hanya akan merugikan diri sendiri. Aku berpikiran positif saja. Aku sudah memiliki William, dia adalah kebahagian yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata."


" Pantas saja Kak Gavin sangat mencintai Kak Jovanka. Kak Jovanka ternyata wanita yang sangat baik." Azzahra berani mengakui jika dia kagum dengan prinsip Jovanka.


" Kalau Gavin mencintaiku, tidak mungkin dia akan meninggalkanku." Jovanka menepis anggapan Azzahra.


" Itu karena permintaan Mama Amanda, kan?"


Jovanka menatap Azzahra.


" Kamu beruntung bertemu dengan Gavin setelah Mommy nya tidak ada. Hmmm, maaf ... bukan bermaksud mensyukuri kepergian Tante Manda." Jovanka mencoba mengklarifikasi ucapannya.


" Iya aku mengerti, Kak."


" Aku tidak menyangka dan sedikit kaget saat tahu Gavin menikah dengan wanita sepertimu." ungkap Jovanka kemudian.


" Karena aku berhijab ya, Kak?"


Jovanka mengangguk.


" Tapi aku senang dia memiliki pasangan hidup sepertimu yang akhirnya bisa merubah sifat buruk dia yang dulu."


Azzahra tersipu saat Jovanka mengatakan hal itu.


" Kamulah wanita yang sesungguhnya dicintai Gavin. Kamu wanita yang baik yang bisa menerima dan memaafkan masa lalu Gavin. Tidak heran jika Gavin pernah bilang kepadaku kalau dia jatuh hati kepadamu, Azzahra."


" Ah, Kak Jovanka terlalu berlebihan memuji saya." Wajah Azzahra langsung bersemu.


" Azzahra, aku memahami kekhawatiran kamu. Tapi percayalah, apa yang terjadi antara aku dan Gavin dulu hanyalah masa lalu. Walaupun ada William di antara kami tapi itu tidak menjadi alasan untuk aku mengusik kehidupan Gavin saat ini. Lagipula aku juga sebentar lagi akan menikah dengan pria yang aku cintai. Aku dan Gavin sudah bahagia mempunyai kehidupan masing-masing. Aku rasa kamu tidak usah cemaskan lagi masa lalu aku dan Gavin." Jovanka menggenggam tangan Azzahra. Sepertinya Jovanka paham akan maksud kedatangan Azzahra menemuinya.


Bagi Azzahra sendiri tentu saja bisa bicara dari hati ke hati dengan wanita yang menjadi ibu dari anak di luar nikah suaminya sedikit bisa membuat hati Azzahra tenang. Setidaknya dia mengetahui jika Jovanka benar-benar wanita yang baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Jovanka.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2