KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Blue Sapphire


__ADS_3

Azzahra memperhatikan Uminya yang sudah berpakaian rapih. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya Uminya itu ingin pergi keluar rumah.


" Umi mau ke mana? Kok sudah berdandan rapih seperti ini? Acara tasyakurannya 'kan habis Dzuhur, Umi." Azzahra penasaran ingin tahu kenapa Uminya itu sudah berdandan rapih, padahal waktu masih menunjukkan pukul sepuluh kurang.


" Umi mau ada perlu sebentar, Ra. Nggak akan lama, kok. Sebelum dzuhur juga pasti sudah kembali ke sini lagi." Umi Rara menyahuti.


" Memang Umi mau ke mana, sih? Sepertinya mendadak sekali, Umi. Kemarin nggak bilang mau pergi-pergian sama Rara." Azzahra menatap curiga terhadap Uminya itu.


" Mau ada perlu sebentar, Geulis." Umi Rara sampai mencubit pipi Azzahra gemas.


" Rus, nanti kalau ada orang dari pihak catering antar pesanan makanan diterima saja dulu. Tadi sih janjinya mau antar jam sebelas. Semuanya sudah dibayar lunas." Umi Rara kemudian mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan menyerahkan kepada Rusmi.


" Buat Rusmi, Umi?" tanya Rusmi menerima uang senilai dua ratus ribu rupiah itu.


" Buat kasih uang tip yang antar makanan lah, Rus!" Umi Rara memutar bola matanya.


" Oh, kirain buat Rusmi, Umi." Rusmi terkikik.


" Kita berangkat sekarang, Umi?"


Azzahra memutar tubuhnya saat dia mendengar suara suaminya itu berkata kepada Uminya.


" Umi mau pergi sama Kak Gavin?" tanya Azzahra sedikit berbisik ke arah Uminya. Karena dia masih merasa kesal dengan sikap suaminya itu hingga membuat dia memilih untuk diam tak ingin berbicara dengan Gavin.


" Iya, suami kamu yang akan antar Umi pergi," jawab Umi Rara.


" Ayo, Umi. Kita berangkat." Gavin melangkah keluar terlebih dahulu meninggalkan Azzahra, Umi Rara dan Rusmi tanpa berpamitan terhadap istrinya dulu.


" Umi sebenarnya mau pada ke mana, sih?" Azzahra sampai mencekal lengan Uminya saat Uminya itu berniat menyusul Gavin.


" Rahasia atuh, Neng." Umi Rara menjawab seraya menaikan ke dua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


" Sudah ya, Umi pergi dulu. Nanti kalau ditunda-tunda takut telat pulang nya. Assalamualaikum ..." pamit Umi Rara bergegas menyusul Gavin.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra dan Rusmi menyahuti salam yang diucapkan Umi Rara. Walaupun Azzahra sendiri masih merasa penasaran ke mana Umi Rara dan Gavin akan pergi.


" Umi teh mau ke mana ya, Bi Rusmi? Kok mendadak gini? Apa Umi cerita sebelumnya ke Bi Rusmi?" tanya Azzahra yang masih diselimuti rasa penasaran.

__ADS_1


" Nggak tahu, Neng. Umi nggak cerita apa-apa ke Bi Rusmi. Tadi pagi juga nggak bilang mau pergi. Terus Bi Rusmi 'kan tadi temani Neng Rara jalan-jalan pagi " Rusmi yang sama-sama tidak mengetahui ke mana Umi Rara dan Gavin pergi pun menjawab pertanyaan Azzahra.


" Eh, tapi ... tadi 'kan Aa Gavin bantu-bantu Umi di dapur, Neng. Kali saja Umi minta dibelikan peralatan masak sama Gavin." Rusmi terkekeh. " Atau belanja bahan kue untuk bikin cake." Rusmi berseloroh.


Azzahra mendesah, dia sama sekali tak menanggapi candaan yang dilontarkan oleh Bi Rusmi. Rasa kesal yang dirasakan terhadap suaminya kini semakin bertambah karena suaminya itu malah seolah mengacuhkannya, dengan Gavin tidak mengatakan akan pergi ke mana bersama Uminya itu.


***


Beberapa jam kemudian ...


Azzahra sedang dirias oleh Azizah, istri dari Asraf, kakaknya.


" Kamu sudah USG, Neng? Jenis kelaminnya apa?" tanya Azizah, saat memasangkan bros di hijab yang dikenakan oleh Azzahra.


" Kalau masalah jenis kelamin, Rara sama Kak Gavin memilih untuk tidak cari tahu dulu perempuan atau laki-laki nya, biar surprise, Teh. Yang penting janin yang di dalam kandungan Rara ini sehat ..." Azzahra menerangkan kalau dia dan Gavin sepakat untuk tidak mengecek jenis kelamin calon bayinya.


" Tapi kalau Teteh lihat kamu semakin cantik, auranya terpancar. Teteh rasa anak kamu sepertinya perempuan deh, Ra." Azizah menebak-nebak.


" Teteh juga setuju sama Teh Zizah, Ra. Sepertinya keponakan Teteh ini perempuan dan pasti secantik Mamanya." Fatimah, istri Aydan ikut menimpali.


" Perempuan atau laki-laki yang penting sehat, Teh." Azzahra menyahuti.


" Neng, ayo ke depan. Tamu sudah pada datang," seru Umi Rara dari arah pintu.


" Fatimah, Zizah, tolong temani tamu-tamu dulu di luar." Umi Rara menyuruh dua menantunya itu untuk segera menemui para ibu-ibu yang ingin mengikuti tasyakuran.


" Baik, Umi." Fatimah dan Azizah pun keluar dari kamar Azzahra.


" Eleuh-eleuh meni geulis pisan, Neng." Umi Rara memuji kecantikan anak perempuan satu-satunya itu.


" Ah, Umi ..." Azzahra langsung bersemu merah mendengar pujian dari Uminya itu.


" Hayuh atuh keluar. Sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." Umi Rara mengulurkan tangannya ingin mengandeng Azzahra.


Namun pandangan mata Azzahra langsung terfokus pada sesuatu yang berkilau di jari dan tangan Uminya itu.


" Umi punya perhiasan baru?" tanya Azzahra meraih tangan Uminya. Karena dia merasa asing dengan perhiasan yang Uminya pakai.

__ADS_1


" Iya, cantik 'kan, Neng?" Umi Rara memperlihatkan gelang dan cincin blue sapphire.


" Rara nggak pernah lihat Umi pakai perhiasan ini sebelumnya." Azzahra mengamati perhiasan itu.


" Iya, ini 'kan baru beli tadi," sahut Umi Rara enteng.


" Baru beli tadi?" Azzahra membelalakkan matanya.


" Jangan-jangan, Umi tadi pergi sama Kak Gavin karena beli ini?" selidik Azzahra kemudian.


" Iya, Gavin itu jadi menantu meni bageur pisan kasih Umi perhiasan ini." Umi dengan bangga memuji Gavin.


" Umi minta perhiasan ini ke Kak Gavin?" tanya Azzahra tak percaya.


" Nggak, Neng. Gavin sendiri yang kasih Umi sampai paksa Umi supaya terima. Kan nggak enak Umi tolak-tolak terus. Neng." Umi Rara menyahuti santai.


" Itu pasti mahal 'kan, Umi?!" Azzahra kembali memperhatikan perhiasan yang dipakai Uminya.


" Iyalah, Neng. Coba kamu hitung, cincin ini harga lima puluh tiga jutaan, gelangnya enam puluh sembilan juta. Kalung sama anting juga ada, tapi nggak Umi pakai. Kalungnya harga sembilan puluh empat juta, antingnya dua puluh lima juta." Umi menyebutkan masing-masing harga perhiasan yang dibelikan Gavin untuknya.


Azzahra terperanjat mendengar berapa harga perhiasan pemberian suaminya itu.


" Astaghfirullahal adzim, Umi. Itu mahal sekali." Azzahra menggelengkan kepala masih tidak menyangka jika suaminya itu dengan mudah membelikan perhiasan seharga satu buah mobil atau satu unit rumah.


" Kenapa Kak Gavin berikan Umi semua ini?" tanya Azzahra masih bertanya-tanya.


" Karena suami kamu itu menolak disuruh mengupas kulit jengkol. Dia memilih memberikan Umi perhiasan ini daripada disuruh mengupas jengkol." Umi Rara terkekeh geli membayangkan tadi menantunya itu ketakutan melihat jengkol.


" Seandainya saja Umi punya sepuluh menantu seperti Gavin... " Umi Rara berandai-andai.


" Astaghfirullahal adzim, Umi! Kenapa Umi jadi matre seperti ini?! Lagipula anak perempuan Umi cuma Rara saja, bagaimana Umi mau dapat menantu sepuluh seperti Kak Gavin?!" Azzahra memutar bola matanya kemudian meninggalkan Uminya itu sendiri di dalam kamarnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2