
" Umi, orang itu kenapa masuk-masuk ke dalam rumah? Rara malu sekali tadi dia melihat Rara tanpa busana muslim. Dia sudah melihat au*rat Rara, Umi ..." keluh Azzahra pada uminya saat uminya kini berada di kamar Azzahra.
" Memangnya tadi Rara mau ke mana?" tanya Umi Rara.
" Rara tadi mau ambil obat, nggak tahunya pas buka pintu berpapasan sama dia. Rara kaget, karena nggak biasanya dia masuk-masuk ke dalam rumah," keluh Azzahra.
" Iya tadi dia berpamitan mau ke Jakarta, katanya besok dia mau menghadiri sidang putusan perceraiannya." Penjelasan Umi Rara membuat mata indah Azzahra membulat.
" Apa?? Sidang putusan perceraian?" Azzahra terkesiap. Jika sidang putusan perceraian Gavin selesai itu artinya dia akan segera dinikahkan Gavin. Mengingat hal itu sontak Azzahra langsung mengedikkan bahunya.
" Iya, Ra." Umi Rara menyahuti.
" Umi, apa Umi sudah bisa meyakinkan Abi untuk membatalkan pertunangan Rara sama dia?" tanya Azzahra tentang permintaannya agar uminya itu bisa merubah keputusan Abinya.
" Hmm, Umi masih belum ketemu waktu yang pas buat bicara sama abi kamu, Ra." Umi Rara tidak mengatakan hal sebenarnya jika suaminya itu menolak permintaan Azzahra.
" Lalu Umi akan bicara pada abi kapan? Sedangkan orang itu besok resmi bercerai. Kalau Umi masih belum bicara sama abi, jangan salahkan Rara kalau Rara kabur dari rumah." Azzahra memperingatkan Umi Rara akan ancamannya.
" Astaghfirullahal adzim, kamu istighfar atuh, Ra. Kamu mau kabur, mau kabur ke mana? Kamu itu 'kan nggak pernah pergi jauh-jauh dari umi dan abi." Umi Rara menasehati.
" Umi, kalau orang nekat itu berbuat apa saja, seperti Rara yang akan nekat kabur dari rumah." Azzahra berucap dengan nada serius.
" Memang kamu mau kabur ke mana?"
" Kalau Rara kasih tahu Umi namanya bukan kabur, Umi." Azzahra memberengut.
" Kalau kamu nggak kasih tahu Umi, gimana Umi nanti menyusul kamu untuk pulang kembali ke sini?" tanya Umi Rara.
" Aaahh ... Umiiii ...! Umi sudah deh keluar saja, Rara pusing mau istirahat saja dari pada ngobrol sama Umi malah bikin kepala Rara rasanya mau meledak." Azzahra memegang kedua pundak uminya lalu mendorong halus uminya ke arah pintu kamar.
" Eh, Ra ... bilang dulu sama Umi kamu kaburnya ke mana? Ke Arsaf atau Aydan?" Umi Rara bersikukuh ingin tahu tujuan Azzahra akan kabur.
" Nanti Rara kasih tahu kalau Umi berhasil membuat Abi membatalkan rencananya." Azzahra lalu dengan tergesa menutup pintu kamarnya. Tak perdulikan teriakan uminya yang berteriak memanggilnya sambil menggedor pintu kamarnya.
***
" Finally home ..."
Gavin menghempaskan tubuhnya di atas spring bed king size di apartemennya.
__ADS_1
" Akhirnya ketemu juga alasan untuk pergi dari lingkaran setan itu. Semoga tidak berurusan lagi dengan keluarga mereka selamanya." Gavin bermonolog seraya memejamkan matanya. Namun entah mengapa saat matanya tertutup tiba-tiba bayangan wajah Azzahra muncul di hadapannya.
" Astaga ...!" Gavin tersentak, dan dengan cepat dia kembali membuka matanya.
" Shit!! Kenapa wajah wanita aneh itu malah muncul?" Gavin mengangkat kembali tubuhnya dan mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Tak berapa lama senyuman mengembang di sudut bibirnya mengingat kejadian sore tadi di mana dia melihat Azzahra tidak memakai pakaian muslimah hingga memperlihatkan tubuh wanita itu yang ternyata mempunyai kulit putih mulus.
" Aku yakin aku adalah pria pertama yang melihat tubuhnya tanpa pakaian muslimah selain keluarganya. Aku yakin dia pasti sangat malu sekali dengan kejadian tadi. Rasakan, itu adalah balasan dari Tuhan atas sikap buruknya terhadapku selama ini. Menuduh aku ingin memperkosa, melempar aku dengan sepatu. Mengatakan aku buaya buntung, menendang kakiku. Dan sebentar lagi akan muncul gosip jika berita tentang aku adalah calon tunangan dia adalah hoax belaka. Apa nggak malu, dia?Karmamu dibayar tunai, Azzahra." Gavin tergelak dan merasa sangat puas atas apa yang akan terjadi dengan Azzahra.
Sementara di waktu yang sama di kamarnya Azzahra sedang berusaha menghubungi seseorang.
" Assalamualaikum, Fah ... apa kabar?" sapa Azzahra saat sambungan teleponnya terhubung.
" Waalaikumsalam, Rara?? Alhamdulilah aku sehat kok, Ra. Kamu sendiri gimana?" sahut Afifah, sahabatnya saat SMA dulu.
" Aku kurang bagus, Fah." Azzahra menjawab lirih.
" Lho, memang kenapa, Ra? Kamu sakit atau sedang ada masalah." tanya Afifah khawatir.
" Nanti aku cerita deh, sama kamu." Azzahra rasanya tidak enak jika harus bercerita soalnya masalahnya lewat telepon. " Fah, aku mau main ke rumah kamu di Jakarta. Aku minta alamatnya boleh?"
" Boleh, dong. Kapan kamu mau ke sini?" tanya Afifah antusias.
" Oh ya sudah, nanti kamu aku kirim alamatnya ya." Afifah membalas.
" Tapi mengganggu nggak kalau aku main ke sana, Fah?" tanya Azzahra lagi.
" Nggak kok, Ra. Aku malah senang bisa ketemu kamu lagi."
" Makasih ya, Fah."
" Oh ya, kamu nanti ke sini sama siapa? Diantar kakak kamu?"
" Oh, nggak kok, Fah. Aku nanti perginya sendiri saja."
" Sendiri? Kamu berani pergi jauh sendirian, Ra?" Afifah tahu karena Azzahra tidak pernah pergi jauh tanpa didampingi oleh anggota keluarganya.
" Aku ini 'kan sekarang sudah dewasa, Fah. Bukan anak kecil lagi yang harus selalu ditemani," sahut Azzahra menepis keragu-raguan Afifah.
" Lalu kamu ke sini mau naik apa? Bus? Nanti aku jemput di terminal kalau kamu naik bus." tanya Afifah kembali.
__ADS_1
" Hmmm, aku naik travel."
" Oh ya sudah nanti kasih tahu turunnya di pool mana, biar nanti aku jemput di pool nya."
" Aku jadi ngerepoti ya, Fah?"
" Iiisshh ... kamu ini kaya sama siapa saja, Ra. Kita ini 'kan sahabatan dari SMA. Oh ya, kamu ke Jakarta ini mau ketemu akang mbeb tersayang, ya?" Afifah terkikik.
" Jangan sebut soal itu, Fah." Seketika rasa tak nyaman menyeruak di dalam hatinya.
" Lho, kenapa? Biasanya kamu semangat jika membahas soal Kak Yoga?" Afifah merasa aneh, karena dia memang belum mendengar kabar Yoga yang telah menikah sekarang.
" Fah, aku bilang jangan dibahas eh malah sebut nama." Azzahra menggerutu.
" Hahaha, sorry-sorry ... memangnya kenapa nih, kok kelihatannya alergi banget dengar nama itu? Bukankah nama itu adalah moodbooster kamu sejak dulu?" tanya Afifah.
" Iya, sekarang sudah nggak lagi," tolak Azzahra.
" Lagi berantem, ya?" tebak Afifah.
Azzahra menghela nafas sejenak. Jika mengingat nama Yoga, masih selalu menimbulkan rasa sakit di hatinya.
" Dia sudah menikah dengan wanita lain, Fah." Azzahra berucap lirih.
" Hahh?? Serius kamu, Ra? Kapan? Sama siapa? Tapi bukannya Kak Yoga itu rencananya mau dijodohkan dengan kamu, Ra? Terus kenapa Kak Yoga menikah dengan orang lain?" Afifah yang kaget mendengar Yoga telah menikah, memberondong Azzahra dengan pertanyaan.
" Dia menikah mungkin sekitar sebulan yang lalu." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Azzahra.
" Ya ampun tega banget Kak Yoga mengkhianati kamu, Ra. Aku doakan semoga rumah tangga Kak Yoga dengan istrinya itu tidak akan langgeng dan tidak akan bahagia," umpat Afifah kesal ikut merasa sakit hati mendengar Azzahra ditinggal menikah oleh Yoga.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1