KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Melepas Rindu


__ADS_3

Dua Minggu berlalu, hampir tiap dua hari sekali Gavin selalu datang berkunjung ke rumah Abi Rara. Walaupun masih mendapat sambutan yang sama namun pria itu tak kenal lelah terus berusaha menunjukkan keseriusannya. Gavin selalu datang di waktu yang sama setiap paginya. Dia sengaja memilih waktu itu saat Abi masih ada di rumahnya. Dia memang tidak ingin diam-diam mengunjungi istrinya itu tanpa sepengetahuan Abi Rara.


Seperti hari ini, sekitar jam setengah enam pagi Gavin sudah berada di rumah Azzahra. Namun kebetulan Abi Rara secara mendadak selepas Shubuh tadi mesti pergi ke luar kota bersama Pak Prasetya, Papih Yoga.


" Umi, Umi ... di depan ada A' Gavin," seru Rusmi pada Umi Rara yang sedang menyiapkan menu untuk sarapan.


" Ada Gavin? Aduh gimana ini, Rus? Abi nggak ada di rumah. Kalau Gavin memaksa ketemu Rara gimana?" Umi Rara nampak panik.


" Ya sudah, di kunci saja Neng Rara nya dari luar, Umi biar nggak bisa ketemu." Rusmi memberikan saran.


" Hush, ngaco kamu!" sergah Umi Rara.


" Jadi gimana, Umi?" tanya Rusmi kembali.


" Umi juga bingung. Kalau Umi ijinkan masuk nanti Abi marah. Tapi kalau nggak Umi kasih ijin kalau dia maksa gimana ya, Rus?"


Sementara Umi Rara dan Rusmi sedang bingung memikirkan apa yang harus dilakukan. Azzahra yang memang sudah dikabari suaminya akan datang berkunjung segera berhias secantik mungkin. Apalagi saat dia tahu jika Abinya sudah pergi selepas Shubuh tadi.


Azzahra keluar dari kamarnya dan dia berjalan mengendap menuju depan rumahnya. Dia mengintip dari jendela. Dia mendapati sosok Gavin yang sedang berdiri di teras membelakanginya.


Azzahra mengembangkan senyuman dan dengan cepat dia membukakan pintu rumah orang tuanya.


" Kak Gavin ..." Azzahra langsung berlari memeluk suaminya itu.


Gavin yang sedari tadi menunggu pintu dibuka langsung menbalikkan tubuhnya saat mendengar suara istrinya itu.


" Assalamualaikum, Honey ..."Gavin berbisik menyapa Azzahra dia pun mengeratkan pelukan ke tubuh Azzahra. Rasanya sudah lama sekali dia tidak memeluk tubuh ramping istrinya itu.


" Waalaikumsalam, Kak ..." Azzahra terus menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya. Selama dua Minggu lebih dia harus berpisah bahkan tidak bersen"tuhan dengan suaminya, rasanya saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk melepas rindu mereka berdua.


" Rara, kenapa kamu di sini? Ayo masuk ke dalam!" Umi Rara yang sudah muncul di teras rumah dan mendapati anak juga menantunya itu sedang berpelukan langsung menarik tangan Azzahra.


" Umi, Rara mau sama Kak Gavin sebentar." Azzahra mencoba menepis tangan Uminya.


" Ra, kalau Abi kamu tahu kamu begini, nanti Umi yang akan kena marah."


" Umi jangan bilang ke Abi kalau Kak Gavin datang ke sini 'kan bisa?!"


" Memang Abi ke mana?" tanya Gavin yang tidak mengetahui Abi Rara pergi ke luar kota.


" Abi Rara sedang pergi ke luar kota, makanya sebaiknya kamu pulang saja, Gavin! Umi nggak ingin masalah ini semakin runyam." pinta Umi Rara.

__ADS_1


" Honey, sebaiknya kau turuti Umi kamu, ya! Aku senang bisa bertemu dan memeluk kamu seperti ini. Aku nggak ingin Abi kamu marah jika Abi sampai tahu kita bertemu." Gavin mencoba memahami permintaan dari ibu mertuanya.


" Tapi, Kak ...."


" Kamu mau dengar aku, kan?"


" Lalu kapan Kak Gavin bawa aku pergi dari sini?"


" Aku masih berusaha, Honey. Makanya kamu jangan menentang apa yang diminta Abi dan Umimu." Gavin menasehati Azzahra, dia tidak ingin mertuanya akan menyalahkannya jika Azzahra menentang apa yang dikatakan Abi dan Uminya.


Gavin lalu menangkup wajah Azzahra dan mengecupkan bibirnya ke bibir Azzahra hingga membuat Umi Rara seketika terkesiap hingga memalingkan wajahnya.


" Astaghfirullahal adzim, kalian ini nggak ingat ini itu bukan di kamar!" protes Umi Rara.


" Oh, maaf, Umi. Habis mau bagaimana lagi? Abi dan Umi 'kan melarang kami satu kamar." Gavin menyeringai. " Kecuali ...."


" Kecuali apa?" Umi Rara melotot.


" Kecuali Umi mengijinkan kami satu kamar kembali." Gavin menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


" Kamu jangan ngelunjak, ya!" hardik Umi Rara


" Umi bilang 'kan kalau Umi ingin punya cucu dari Rara? Lalu kalau kami tidak bisa satu kamar bagaimana keinginan Umi itu cepat terwujud?" Gavin iseng mencoba mempengaruhi Umi Rara.


Umi Rara membelalakkan matanya.


" Maksud kamu apa, Gavin?"


Gavin tersenyum. " Lupakan saja, Umi. Karena apa yang saya harapkan tidak akan mungkin bisa Umi kabulkan." Gavin kemudian mengecup kening Azzahra.


" Apa kalian bisa berjanji tidak akan bilang pada Abi?"


Gavin dan Azzahra terkesiap mendengar ucapan Umi Rara hingga mereka saling pandang.


" Apa ini maksudnya Umi ...."


" Sudah masuk sana! Jangan lama-lama!" Umi Rara bergegas masuk ke dalam rumah. Karena Umi Rara benar-benar pusing melihat kelakuan anak dan menantunya tadi.


Apa yang dikatakan Umi Rara sontak membuat Gavin bersorak kegirangan, walaupun dia lakukan itu dalam hati. Dan dengan segera Gavin membawa Azzahra masuk ke dalam kamar Azzahra. Dia ingin melepaskan apa yang sekitar tiga Minggu tidak tersalurkan terhitung sejak soal William terkuak.


" Umi, Neng Rara sama A'Gavin sedang begituan, ya!" Rusmi terkikik seraya menutup mulutnya.

__ADS_1


" Hush!! Jangan ribut-ribut nanti ada yang dengar bisa bahaya!" Umi Rara meminta Rusmi untuk tutup mulut.


" Tapi, Umi. Kalau Abi sampai tahu gimana, ya?" tanya Rusmi lagi.


" Kalau Abi sampai tahu, kamu akan Umi ce*kik!" ancam Umi Rara.


" Kok Rusmi, Umi?" Rusmi mencebikkan bibirnya.


" Ya siapa lagi orang luar yang tahu selain kamu? Kalau Abi sampai tahu artinya kamu yang memberitahu."


" Astaghfirullahal adzim, Umi. Umi kok tega menuduh Rusmi melakukan hal yang belum terjadi."


" Sudah-sudah jangan bicara saja! Lanjutkan masaknya! Biar Gavin juga nanti bisa ikut sarapan," perintah Umi Rara yang langsung dituruti oleh Rusmi.


***


Satu jam setelah percintaan yang terjadi antara Gavin dan Azzahra. Saat ini mereka masih berpelukan dengan kulit tubuh saling bersen*tuhan karena tubuh mereka berdua tak berbalut sehelai benang pun.


Gavin menyeka peluh yang mengembun di kening Azzahra.


" Akhirnya kita bisa melakukan ini lagi. Apa kamu bahagia, Honey?" tanya Gavin membelai wajah Azzahra.


" Iya, Kak. Aku bahagia ..." Azzahra menyahuti.


" Aku merindukan semua yang ada padamu, Honey." Gavin kembali menautkan bibir mereka berdua hingga membangkitkan kembali ga*irah yang tadi mulai mereda.


" Honey, sekali lagi, ya?" pinta Gavin saat mereka menjeda pagutannya.


" Kak Gavin 'kan mesti berangkat ke kantor."


" Nggak masalah, Honey. Aku bos di sana, jadi telat pun tak akan ada yang menegurku kecuali Daddy. Tapi kalau Dad tahu apa yang menyebabkan aku terlambat, Dad pasti akan memaklumi." Gavin akhirnya kembali menenggelamkan istrinya itu ke dalam lautan asmara yang memberikan kenikmatan yang tiada tara.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2