
Azzahra sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu seraya melirik jam dinding yang hampir menunjukkan waktu pukul tujuh malam. Dia sangat gelisah karena mendekati waktu Isya, suaminya belum juga pulang dari kantornya.
" Kenapa lama sekali sih pulangnya?" Azzahra sampai menggigit kuku jari-jarinya karena rasa cemas karena Gavin tidak juga memberikan kabar kenapa sampai jam segini dia belum juga pulang. Biasanya sebelum jam lima sore suaminya itu sudah berada di apartemennya.
" Apa jangan-jangan dia pergi dengan sekretarisnya, ya?" Azzahra mulai menduga-duga hal yang menakutkan.
" Awas saja kalau dia berani macam-macam." Azzahra langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa seraya melipat kedua tangan di dadanya.
" Apa susahnya sih kasih kabar? Bilang pulang telat gitu, jadi nggak bikin orang cemas seperti ini!" Azzahra terus menggerutu.
Lima belas menit kemudian Azzahra melihat pergerakan pintu apartemen terbuka dan tampaklah pria yang sedari tadi ditunggunya dari balik pintu itu.
" Assalamualaikum ..." sapa Gavin saat melihat Azzahra duduk di sofa dengan wajah memberengut.
" Waalaikumsalam ..." Azzahra menyahuti tapi dengan sorot mata tajam menatap suaminya.
" Kenapa baru pulang?" Azzahra langsung menodong dengan pertanyaan, namun dia tetap meraih dan mencium punggung tangan Gavin dan meraih tas kerja Gavin.
" Tadi aku ketemu sama Daddy jadi kami mengobrol dulu sebentar sambil makan malam." Gavin mengatakan alasan dia terlambat pulang.
" Kenapa tidak kasih kabar kalau telat pulang? Jadi aku nggak perlu siapkan makan malam." Azzahra mencebikkan bibirnya.
" Maaf, aku lupa, Honey."
" Kamu lupa kalau kamu punya istri? Apa tadi ditemani sekretaris kamu yang seksi itu sampai lupa kasih kabar?" ketus Azzahra.
" Iya, maaf-maaf, Honey. Besok kalau telat aku kabari kamu, deh. Tadinya aku pikir kamu nggak akan menungguku jadi aku nggak kasih kabar." Gavin langsung merangkul pundak Azzahra lalu mengarahkannya ke ruang makan.
" Kamu masak apa?" Gavin membuka tudung saji di meja makan. " Ayo aku temani kamu makan." Gavin kemudian duduk dan mengambil piring kosong yang langsung dia sodorkan ke istrinya. " Ambilkan nasinya."
Azzahra yang masih menenteng tas kerja Gavin akhirnya meletakkan tas kerja suaminya itu di kursi kemudian menyendokkan nasi untuk suaminya.
" Kamu bilang sudah makan." Azzahra heran suaminya itu minta disiapkan makanan padahal tadi berkata sudah makan dengan Dad David.
" Memang sudah, tapi cuma makan steak doang sedikit. Aku sisakan tempat di perutku untuk diisi masakan istriku di rumah." Gavin menyeringai seraya mengambil kembali nasi yang sudah disediakan istrinya lalu mengambil udang goreng tepung dan telur balado lalu menyantap makanan di piring itu sampai tandas tak tersisa.
***
" Akhir pekan ini aku ingin ke Bogor, aku kangen Abi sama Umi." Azzahra mengutarakan keinginannya kepada Gavin saat melihat Gavin keluar dari arah bathroom setelah membersihkan diri.
" Ya sudah, nanti kita ke sana." Gavin menyahuti kemudian melemparkan handuk kecil yang tadi dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke wajah Azzahra membuat Azzahra berdecak.
__ADS_1
" Jorok sekali!" tegur Azzahra.
" Tolong taruh ke bathroom lagi maksudnya." Gavin terkekeh.
Azzahra langsung bangkit ingin menaruh handuk kecil itu namun tangan Gavin menahannya terlebih dahulu.
" Sekalian sama bathrobe ini." Gavin membuka mantel handuknya di hadapan Azzahra hingga memperlihatkan tubuh kekarnya yang kini tak berbalut sehelai benang pun.
" Aaaakkhh ...!!" Azzahra memekik seraya menutup mata dengan telapak tangannya, membuat Gavin tergelak mendapati istrinya itu yang masih saja malu jika melihatnya bertelan*jang padahal mereka sering kali bersentuhan.
" Dasar mesum ...!!" Azzahra langsung berlari ke arah kamar mandi tak memperdulikan suaminya yang tertawa senang membuat dirinya malu seperti tadi.
Setelah Azzahra rasa suaminya itu telah berpakaian, Azzahra memberanikan diri keluar dari kamar mandi. Walaupun mereka sering berhubungan tanpa ada satu benang pun menempel di tubuh mereka, baginya harus melihat penampakan suaminya polos seperti tadi dengan pengaruh akal sehat adalah suatu hal yang memalukan. Namun suaminya itu seakan tidak perduli hingga Azzahra selalu dibuat kesal karenanya.
" Kenapa harus lari seperti tadi? Kayak belum pernah melihat saja. Bukankah kamu sering melihat dan merasakan? Bahkan sangat menikmati sentuhannya." Gavin menggoda Azzahra saat Azzahra kembali dari kamar mandi.
" Dasar pria mesum ...!!" Azzahra lalu berbaring lalu menutup wajahnya dengan selimut hingga kepalanya.
" Sudah mau tidur? Kamu tidak ingin memberikan yang hangat-hangat dulu kepada suamimu ini?" tanya Gavin berbisik di telinga istrinya.
" Nggak ...!!" tolak Azzahra.
" Nggak mau !! Awas sana jangan dekat-dekat !!" Azzahra memberontak.
" Kamu tega nggak kasih aku yang hangat malam ini?" Gavin berucap sedih mendramatisir.
Azzahra diam tak menjawab pertanyaan suaminya. Dia masih bergelung selimut.
" Ya sudahlah kalau kamu tidak mau, aku cari di luar saja."
Azzahra merasakan tempat tidur yang dia tiduri terasa lebih ringan karena pergerakan Gavin yang bangkit dari tempat tidur. Seketika Azzahra teringat kata-kata uminya yang melarangnya menolak permintaan untuk melayani suami. Dan kata-kata suaminya tadi yang mengatakan akan mencari yang lain membuat Azzahra membulatkan bola matanya dan segera menyibak selimutnya
" Kamu mau ke mana?" tanya Azzahra melihat Gavin yang berjalan menuju pintu seraya memakai kimono tidurnya.
" Keluar cari sesuatu," ucap Gavin.
" Mau cari apa?" selidik Azzahra.
" Bukan urusanmu!" ketus Gavin melangkah keluar.
" Aku mau ..!" pekik Azzahra saat Gavin sudah menutup pintu kamarnya. " Gavin, aku mau ...!" seru Azzahra kembali seraya melompat dari tempat tidur berniat menyusul Gavin. Dia tidak bisa membayangkan jika suaminya itu mencari wanita lain yang mau melayaninya. Dia pun tidak sanggup membayangkan jika wanita lain juga merasakan kenikmatan akan sentuhan-sentuhan memabukkan yang biasa dia rasakan dari suaminya itu.
__ADS_1
" Gavin ...!!" Azzahra bergegas membuka pintu.
" Ada apa sih teriak-teriak? Berisik banget!" ucap Gavin yang sedang bersandar di dinding dekat pintu dengan tangan berlipat di dada. Sepertinya dia memang sengaja mengerjai istrinya itu.
" Lagipula tidak sopan memanggil Gavin, Gavin, Gavin! Aku ini suamimu, panggil yang benar jangan panggil nama saja!" protes Gavin.
" Maaf," lirih Azzahra. " Lalu aku harus panggil apa?" tanya Azzahra polos.
" Panggil sayang, kek. Honey, kek. Panggilah yang enak didengar di telinga," ketus Gavin.
" Iya ... maaf, Kak."
" Kak?"
" Teh Natasha juga panggil itu, kan?"
" Kenapa kamu mengikuti panggilan Alexa?"
" Ya, ya nggak apa-apa hanya ingin panggil pakai sebutan itu saja."
" Terserah kamu, deh. Terus kenapa teriak-teriak seperti tadi?"
" A-aku mau ..." ucap Azzahra malu-malu.
" Mau? Mau apa memangnya?" Gavin kemudian melangkah menuruni anak tangga meninggalkan Azzahra.
" Aku mau melayani kamu, kamu jangan cari yang lain, biar aku saja yang melayaninya." teriak Azzahra menyusul suaminya turun.
" Ya sudah cepat sekarang layani aku." Gavin kemudian menyodorkan dua toples mini berisi kopi dan gula ke arah Azzahra.
" Buatkan aku secangkir kopi yang nikmat, aku sedang ingin minum kopi," ucap Gavin kemudian melangkah ke ruang tengah dan duduk di sofa, menyalakan televisi seraya menaruh kakinya berselonjor di atas meja. Tentu saja apa yang dilakukan Gavin membuat Azzahra terkesiap dengan bola mata membulat, mengingat dia salah mengartikan keinginan suaminya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1