
Azzahra membeku seketika saat bibir Gavin mengecup bibirnya dengan mata terbelalak. Ini pertama kalinya dia berciuman dan itu membuat wajahnya bersemu merah. Belum lagi jantungnya yang berdebar sangat kencang, mungkin detaknya itu bisa dirasa oleh Gavin karena tubuh mereka saling bersentuhan. Azzahra masih tertegun dengan menatap bibir Gavin yang tadi mengecupnya hingga akhirnya dia terkesiap saat bibir Gavin kembali mendekat ke arah bibirnya membuat tangannya dengan sigap membekap mulut Gavin.
" Kamu berani-berani sekali cium saya!" geram Azzahra kesal.
" Hmmpptt ... " Gavin terlihat ingin berkata sesuatu tapi terhalang tangan Azzahra.
" Dasar pria mesum ...!! Rasakan ini ...!!" Azzahra terus membekap hingga Gavin kesulitan bernafas.
Gavin yang merasa Azzahra tidak juga melepas tangan dari mulutnya akhirnya memilih mengigit pelan telapak tangan istrinya itu.
" Aaawww ... kenapa kamu gigit tangan saya?" Dengan spontan Azzahra menarik tangannya dari wajah Gavin.
" Kamu kenapa membekap mulut saya? Mestinya saya yang membekap mulut kamu biar de*sahan kamu tidak terdengar sama umi dan abi kamu." Gavin menyeringai. " Apa kita mau coba sekarang?"
Azzahra terkesiap dan segera menjauhkan wajahnya, tangannya pun refleks kembali memukul lengan Gavin.
" Awas ...!! Lepaskan saya ...!!"
Setelah lepas dari dekapan Gavin, Azzahra pun langsung melangkah ke arah pintu kamar dan membukanya.
" Cepat keluar dari sini ...!!" usir Azzahra galak.
" Kalau saya tidak mau?" Gavin kembali melipat tangan di bawah kepalanya.
" Kalau kamu tidak mau, saya akan pindah kamar!" ancam Azzahra.
" Ya sudah pindah kamar lah sana ..." Gavin menantang.
" Oke !!" Azzahra langsung melangkah keluar kamarnya. Namun tak lama wanita cantik itu kembali masuk ke dalam kamarnya.
" Kenapa balik lagi? Tidak mau jauh-jauh dari saya, kan?" Gavin menyeringai mendapati wajah Azzahra yang tetap terlihat cantik walaupun sedang memberengut.
" Ini kamar saya, mestinya kamu yang keluar dari kamar saya," ketus Azzahra melipat kedua tangan di dadanya.
Gavin kemudian bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu sambil melirik dan menyeringai ketika melewati Azzahra membuat wanita itu langsung membuang muka.
Azzahra berpikir jika pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu akan pergi dari kamarnya hingga membuat hatinya tenang. Namun suara pintu dikunci membuat dia langsung berbalik badan. Dia terkesiap saat melihat sosok Gavin masih ada di kamarnya seraya menunjukkan kunci pintu kamar yang kini ada di tangan pria itu kemudian menaruhnya di saku celananya.
" Kita terkunci di kamar, gimana dong?" ucap Gavin santai mendekat ke arah Azzahra membuat Azzahra berjalan mundur ke belakang.
__ADS_1
" Jangan mendekat ...!! Saya akan teriak kalau kamu berani sentuh saya!" ancam Azzahra.
" Teriak saja kalau mau teriak. Paling nanti orang akan mengira kalau kita sedang hiya-hiya." Gavin tersenyum nakal.
" Hiya-hiya?" Kening Azzahra berkerut tidak mengerti maksud ucapan Gavin.
" Iya, hiya-hiya ..." Gavin lalu menggerakkan kedua jari telunjuknya yang saling berhadapan dan saling bersentuhan, membuat akhirnya dia mengerti makna istilah yang dikatakan Gavin tadi.
" Jangan macam-macam kamu, ya!" Azzahra langsung bereaksi masih melangkah mundur karena Gavin masih tetap berjalan mendekatinya.
" Aku nggak macam-macam, kok. Cuma mau minta yang seperti tadi." Gavin langsung menarik pinggang ramping Azzahra sehingga tubuh wanita itu kini berada dalam dekapannya dan membuat wajah mereka berjarak kurang dari sejengkal.
" Lepaskan ...!!" Azzahra mencoba berontak namun Gavin tak membiarkan tubuh wanita itu lolos dari pelukannya.
Cup
Azzahra membelalakkan matanya saat Gavin kini mengecup pipi kanannya.
" Aku juga mau yang satunya, biar balance." Sebuah kecupan kembali Gavin lakukan di pipi kiri Azzahra sehingga menyebabkan wajah wanita itu kembali bersemu merah.
" Mau yang mana lagi?" Gavin memainkan alisnya menggoda Azzahra.
" Yakin nggak mau lagi?" goda Gavin kembali, membuat Azzahra kini menutup seluruh wajah dengan tangannya yang tadi hanya menutupi pipinya.
Namun tak lama Azzahra langsung terkesiap saat dia merasa tubuhnya melayang di udara dan saat dia melepaskan tangan yang menutupi wajahnya dia terkejut karena saat ini tubuhnya sudah berada di antara lengan kokoh Gavin. Tak lama tubuhnya sudah diletakkan Gavin di atas tempat tidur kembali.
Gavin kini membuka baju yang tadi dipakainya untuk acara akad nikah hingga membuat pria berotot liat itu kini betelanjang dada dan memperlihatkan deretan kotak-kotak di perutnya.
" Kamu mau apa?" Azzahra beringsut saat melihat Gavin kemudian naik ke atas tempat tidur dan mendekat ke arahnya.
" Fo*replay?"
Kening Azzahra kembali berkerut, istilah-istilah yang dipakai Gavin terasa asing di telinganya.
" Seperti warming up kalau kamu mau berolah raga." Gavin menjelaskan.
" Pemanasan?"
" Nah, itu kamu pintar."
__ADS_1
" Pemanasan untuk apa?"
" Ber*cinta, dong. Memang pemanasan buat apa lagi? Kita ini 'kan pengantin baru, masa pemanasan buat lari marathon."
Ucapan Gavin membuat Azzahra menegang, apalagi saat kini Gavin memposisikan diri di atas tubuhnya hingga membuat jantung Azzahra berdetak tak beraturan dan seakan susah untuk bernafas. Apalagi saat tangan Gavin mulai membuka satu persatu kancing baju kebaya yang masih dipakainya. Sementara matanya begitu lekat memandang sorot mata Gavin yang juga sedang menatapnya hingga pandangan mata mereka saling bertautan.
Gavin kini telah berhasil melucuti semua kancing kebaya walau dia agak kerepotan melepaskan benda-benda kecil itu. Namun tak semudah itu Gavin bisa menikmati pemandangan indah akan pegunungan, karena tubuh Azzahra saat ini masih terbalut baju manset yang menutupi tubuh wanita cantik itu. Walau matanya sudah dapat melihat tingginya cetakan gunung yang menjulang yang masih terbalut ketat manset itu. Pikiran Gavin sudah langsung bertravelling ingin menjelajahi pengunungan itu, dia sampai menelan salivanya.
" Ini buka nya gimana?" pertanyaan polos itu yang akhirnya keluar dari mulut Gavin.
Azzahra langsung tersadar saat mendengar pertanyaan Gavin apalagi saat pria itu sudah menatap bagian dadanya sontak membuat wanita itu kini menyilangkan kedua tangan di dadanya.
" Lihat apa kamu?!"
" Kenapa ditutup? Saya sedang membayangkan sulitnya mendaki gunung yang tinggi." Gavin berkelakar.
Azzahra membulatkan bola matanya. " Dasar pria mesum ...!! Awas, saya mau bangun ...!!"
" Saya juga mau bangun, sudah hampir bangun dan bisa bangun beneran kalau kamu bantu." Gavin menyeringai. " Kamu bantuin bangun, ya?" Kini Gavin memainkan kedua alisnya menggoda Azzahra.
Azzahra yang polos dan benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan Gavin lalu berkata, " Gimana saya bantu bangun? Tubuh kamu ada di atas saya bikin saya tidak bisa bangun." Azzahra mencebikkan bibirnya.
" Kamu tidak usah bangun pun bisa bangunin saya, kok."
" Gimana bisa?" tanya Azzahra polos.
" Begini ..." Gavin kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Azzahra kembali memberikan sebuah sentuhan tidak hanya kecupan singkat seperti yang tadi dia lakukan. Sentuhan bibirnya kali ini lebih berhasrat walaupun Azzahra hanya diam terpaku tak merespon apa yang dilakukan suaminya itu. Sementara jantungnya seketika terasa berhenti berdetak dia bahkan harus menahan nafasnya saat dia merasa gelenyar aneh tiba-tiba merayap di tubuhnya hingga membuat darahnya berdesir.
Tok tok tok
Azzahra langsung terperanjat dan mendorong tubuh suaminya saat terdengar pintu kamarnya diketuk seseorang.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️