
Azzahra mengusap rambut suaminya yang sedang menyandarkan kepala di pahanya seraya mengelus-elus perutnya.
" Baby, kenapa baby tega menyiksa Daddy?" Gavin berbicara dengan perut Azzahra. Sontak perkataan Gavin membuat Azzahra membelalakkan bola matanya.
" Kak Gavin nggak ikhlas berkorban demi dedek bayi di perutku ini?" protes Azzahra kemudian.
Gavin langsung mendongakkan kepalanya menatap ke arah istrinya yang sedang melotot.
" No, Honey. Bukan seperti itu maksudku!" Gavin membantah dengan cepat.
" Lalu maksud Kak Gavin apa bicara kalau anakku ini menyiksa Kak Gavin?" tanya Azzahra meminta suatu penjelasan dari suaminya.
" Anak kita, Honey. Kita 'kan buatnya bersama." Giliran Gavin yang memprotes ucapan Azzahra.
" Kalau mengaku anak Kak Gavin, kenapa Kak Gavin memprotes ngidamnya dedek bayi ini?" gerutu Azzahra.
" Bukan begitu, Honey. Maksudku kenapa keinginan baby aneh-aneh begini? Bikin kepala aku pusing. Kenapa nggak yang normal-normal saja?" keluh Gavin.
" Yang aneh itu Kak Gavin, bukan dedek bayinya. Aku pernah lihat Teh Fatimah sana Teh Azizah waktu hamil dan ngidam, nggak ada yang tingkahnya aneh seperti Kak Gavin begini. Paling juga ngidam ingin makan ini, ingin pergi ke sana. Nggak ada yang menyamakan orang lain seperti monster." Azzahra membandingkan saat kedua istri dari Asraf dan Aydan mengidam dengan apa yang dialami Gavin saat ini.
" Kau tidak merasakan tersiksanya aku seperti ini sih, Honey."
" Oh, jadi Kak Gavin ingin aku saja yang mengalami seperti Kak Gavin sekarang ini, begitu?!" ketus Azzahra galak.
" Bukan begitu, Honey." Gavin langsung bangkit dan duduk di samping Azzahra.
" Kau ini sensitif sekali, Honey. Sedikit-sedikit marah, sedikik-sedikit marah ...."
" Kalau Kak Gavin nggak suka lihat aku marah-marah, kenapa Kak Gavin suruh aku datang kemari?!" Azzahra kemudian berdiri.
" Aku mau pulang saja kalau begitu!" Azzahra hendak melangkah namun Gavin sudah merangkulkan lengannya ke pinggang Azzahra.
" Honey, kau jangan pergi!" larang Gavin.
" Kenapa? Bukankah Kak Gavin bosan melihat aku marah-marah?" Azzahra berkacak pinggang.
" Maafkan aku, Honey." Gavin yang masih dalam posisi duduk menciumi perut rata Azzahra.
" Baby, bujuk Mommy supaya jangan marahin Daddy. Rayu Mommy juga supaya maafin Daddy ya, Baby." Gavin kembali mengajak bicara janin di dalam perut Azzahra seraya mengecupnya berulang-ulang.
" Baby, bilang juga sama Mommy kalau Daddy sayang sekali sama Mommy." Gavin mendongakkan kepalanya menatap sang istri yang juga sedang menatapnya.
Tentu saja perlakuan manis Gavin seperti ini mudah meluluhkan hati Azzahra yang memang sudah sangat mencintai suaminya itu. Azzahra kini membelai rambut Gavin.
" Mommy sudah maafin Daddy?" tanya Gavin kepada Azzahra yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala Azzahra.
__ADS_1
" Baby, Mommy sangat baik sama Daddy. Daddy beruntung mendapatkan Mommymu, Baby." Kembali Gavin menghujani perut Azzahra dengan kecupan-kecupan.
" Kak Gavin sudah makan?" tanya Azzahra kemudian.
" Belum, Honey. Makanannya baunya benar-benar tidak enak. Kenapa semua yang mampir di hidungku baunya tidak enak semua terkecuali kamu, Honey?" tanya Gavin.
" Kak Gavin tutup hidungnya saat makan. Kalau Kak Gavin seperti ini terus sampai aku melahirkan bagaimana? Memangnya Kak Gavin mau nggak makan sampai berbulan-bulan? Nanti Kak Gavin jadi kurus ceking dan nggak tampan lagi gimana?" Azzahra menakut-nakuti.
" Tapi perutku rasanya mual, Honey. Semua yang masuk ke mulut rasanya mental semua," keluh Gavin.
" Nanti aku belikan Yogurt. Kak Gavin makan Yogurt dulu saja. Itu bisa meredakan rasa mualnya. Setelah itu Kak Gavin harus makan. Aku nggak mau Kak Gavin sakit." Azzahra benar-benar merasa prihatin atas penderitaan yang dirasakan suaminya itu.
" Aku mau makan kalau kamu suapi aku, Honey." Gavin memeluk tubuh ramping Azzahra.
" Ya sudah, asalkan Kak Gavin mau makan." Azzahra pun terpaksa menuruti permintaan dari suaminya tanpa banyak protes.
***
Azzahra merasakan sulit bergerak dan bernafas karena suaminya itu sedari tadi memeluknya sangat erat. Bahkan sejak di kantor siang tadi sepertinya Gavin tidak ingin lepas darinya.
" Kak, aku susah bernafas kalau Kak Gavin peluk erat seperti ini," keluh Azzahra meminta suaminya itu melepaskan pelukannya saat mereka bersantai di dalam kamar jelang malam.
" Apa Baby kesakitan, Honey?" tanya Gavin mengurai pelukannya.
" Oh, maaf, Honey." Gavin meminta maaf kepada Azzahra.
" Karena memelukmu membuat pikiranku tenang, tidak stres dengan ngidam yang aku alami sekarang ini." Gavin baralasan.
Azzahra seketika tersenyum mendengar perkataan Gavin.
" Kenapa kamu tersenyum seperti itu?"
tanya Gavin curiga menatap istrinya.
" Aku hanya lucu jika ingat bagaimana dulu Kak Gavin suka usil sama aku. Sekarang dedek bayi yang balas usil ke Papanya. Dedek bayi sayang sama Mama ya, Dek." Azzahra mengusap perutnya sendiri.
" Kau merasa puas dengan yang terjadi padaku, Honey?" Gavin memberengut.
" Bukan merasa puas, Kak. Tapi Kak Gavin mesti memahami dari sekarang. Akan ada balasan atas apa yang kita lakukan di masa lalu, entah itu kebaikan ataupun keburukan." Azzahra mencoba kembali menasehati.
" Apa Jovanka dulu mengalami seperti aku ini ya, waktu hamil William? Kasihan sekali kalau sampai mengalami seperti ini."
Azzahra mengeryitkan keningnya saat mendengar suaminya itu menyebut nama Jovanka.
" Kenapa tiba-tiba Kak Gavin mengingat Kak Jovanka? Kak Gavin kangen ya, sama Kak Jovanka?" Tiba-tiba Azzahra merasa tidak suka suaminya menyebut nama mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
" Honey, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa kasihan saja, bukan berarti aku kangen sama dia." Gavin segera mengklarifikasi ucapannya.
" Kau jangan cemburu pada Jovanka. Sekarang ini Jovanka sudah hidup bahagia dengan Peter, seperti aku juga hidup bahagia bersamamu, Honey."
" Maaf, Kak. Aku hanya takut jika Kak Gavin akan berpaling dariku." Kini Azzahra yang menyadarkan kepalanya di lengan berotot Gavin.
" Kau tak perlu merasa cemas seperti itu, Honey. Aku tidak akan meninggalkanmu, apalagi sudah ada baby di perutmu hasil kerjasama kita yang baik selama ini." Gavin lalu mengecup pucuk kepala Azzahra menyalurkan rasa kehangatan di hati istrinya itu.
" Aku kangen, Honey." bisik Gavin di telinga Azzahra hingga menimbulkan gelenyar yang sering dia rasakan saat suaminya itu hendak memulai percintaan mereka.
" Kangen siapa, Kak?" Azzahra menengadahkan kepalanya menatap wajah sang suami.
" Kangen hiya-hiya denganmu, Honey."
" Kak ...!" Azzahra memekik karena Gavin sudah menyerang dengan menjelajahi ceruk lehernya.
" Kak, aku sedang hamil muda." Azzahra mencoba menjauhkan diri dari tubuh suaminya.
" Memangnya kenapa? Tidak masalah 'kan kalau kita berhubungan?"
" Tapi aku takut, Kak!"
" Aku janji akan pelan-pelan saja, Honey."
" Tapi, Kak ...."
" Ayolah, Honey. Sebentar saja tak akan lama. Aku ingin berkenalan dengan baby biar baby tidak pangling melihat Daddy nya jika sudah lahir nanti."
" Kak Gavin ini aneh sekali! Mana mungkin kalau anak kita lahir akan pangling sama Papanya. Saat dedek bayi lahir dia 'kan masih belum bisa melihat dan mengenali wajah orang, Kak." Azzahra menepis anggapan Gavin yang dianggapnya mengada-ada.
" Ayolah, Honey. Aku ingin menengok. Aku takut nyasar kalau lama nggak mengunjungi itu." Gavin kembali memulai aksinya merayu.
" Kak, aku baca di artikel kalau suami yang mengalami kehamilan simpatik itu keinginan bercintanya akan berkurang. Tapi kenapa Kak Gavin tidak seperti itu?"
" Itulah kelebihan suamimu ini, Honey." Gavin menyeringai dan melanjutkan aksinya membawa sang istri melayang merasakan nikmatnya surga dunia.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1