
Beberapa bulan kemudian
" Lho, kita ini mau ke tempatnya Teh Tata, Kak?" tanya Azzahra kepada suaminya yang sedang mengendarai mobil kesayangannya saat dia melihat mobil yang dikendarai suaminya itu memasuki kawasan cluster elit tempat tinggal Natasha dan Yoga.
" Bukan, Honey." Gavin menyahuti seraya tersenyum.
" Tapi ini 'kan komplek perumahan Teh Tata, Kak." Azzahra memandang suaminya yang terus tersenyum.
" Nanti kau akan tahu sendiri, Honey." Gavin pun melajukan mobilnya hingga berhenti di depan rumah adik sepupunya itu.
" Tuh, kan ... rumah Teh Tata." Azzahra mencibir hingga membuat suaminya terkekeh lalu keluar dari mobilnya.
" Honey, kau mau ke mana?" tanya Gavin saat melihat Azzahra yang menggendong Baby Rayya yang sudah berusia sepuluh bulan itu berjalan menuju teras rumah Natasha.
" Mau masuk ke dalam, Kak. Memangnya mau ke mana lagi?" Azzahra memutar bola matanya.
" Mereka tidak ada di sana, tapi di sana." Gavin menunjuk rumah di sebelah kanan rumah Natasha.
" Kenapa mereka ada di sana, Kak?" Azzahra menengok ke arah yang ditunjuk oleh suaminya.
" Karena itu rumah baru." Gavin menyahuti.
" Rumah baru? Teh Tata sama Kang Yoga pindah ke rumah itu, Kak?" Azzahra terkesiap mengetahui jika Yoga dan Natasha membeli rumah di sebelah rumah mereka.
" Bukan mereka tapi kita, Honey." balas Gavin.
" Kita? Maksud Kak Gavin kita akan pindah ke sini?" Azzahra terbelalak saat mengetahui jika dia, Gavin dan Baby Rayya lah yang akan menempati rumah itu.
" Iya, bukankah kamu memang ingin tinggal di cluster seperti ini, Honey?"
" Iya, Kak. Aku senang sekali bisa tinggal di sini." Azzahra nampak sumringah.
" Ayo kita masuk ke dalam. Sudah aku renovasi di beberapa ruangan agar lebih nyaman." Gavin lalu merangkul Azzahra dan kemudian mereka berjalan menuju rumah di sebelah rumah milik Yoga dan Natasha itu.
" Hai, Ra, Kak Gavin ..." Natasha melambaikan tangannya menyapa Gavin dan Azzahra.
" Assalamualaikum, Teh." Azzahra mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam, ayo sini-sini lihat rumah baru kamu, Ra. Akhirnya kita benar-benar bisa bertetangga, nih." Natasha lalu meraih Baby Rayya dari tangan Azzahra.
" Hai, Baby Rayya ... keponakan Auntie Tata yang cantik seperti Auntie nya." Natasha lalu menciumi pipi Baby Rayya.
" Azkia nya mana, Teh?" tanya Azzahra karena tidak melihat putri bungsu Natasha yang sepantaran anaknya itu. Dia hanya mendapati Alden yang sedang ditemani Yoga yang kini mengobrol dengan suaminya.
" Sore gini jadwalnya dia makan sambil keliling komplek naik stroller sama Bu Ratna." Natasha menjelaskan.
" Enak tinggal di sini ya, Teh. Bisa kenal dan lebih mudah menjalin interaksi dengan tetangga sekitar karena nggak pakai pagar." Azzahra yang sejak pertama kali melihat rumah Natasha memang terpikat hingga ingin juga tinggal di perumahan seperti milik Natasha ketimbang di apartemen milik suaminya.
" Iya, di sini tingkat keamanannya juga terjamin dan ketat." Natasha menambahkan.
" Aku mau lihat dalamya ah, Teh." Azzahra kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
" Aku nggak tahu kalau Kak Gavin beli rumah di sini lho, Teh. Aku baru tahu sekarang ini," lanjut Azzahra.
" Iya, Kak Gavin suruh aku tutup mulut jangan bilang-bilang kamu dulu," sahut Natasha.
" Memang orangnya pindah ke mana? Kok aku nggak pernah lihat ada tulisan plang dijual kalau main ke sini." Azzahra memang sering berkunjung ke rumah Natasha tapi dia tidak pernah tahu jika rumah di sebelah Natasha itu dijual.
Natasha terkekeh lalu berbisik di telinga Azzahra, " Memang aslinya nggak dijual tapi suami kamu itu berani menawarkan harga dua kali lipat dari harga jual rumah ini yang sebenarnya."
Azzahra membelalakkan matanya mendengar ucapan Natasha. Dia tidak tahu berapa harga unit rumah di cluster ini tapi dia bisa menduga jika tiap unitnya dibandrol dengan harga milyaran. Dan sekarang suaminya itu berani membeli seharga dua kali lipat, membuat Azzahra kesal. Dia berpikir suaminya itu perpaduan terlalu kaya dan terlalu bodoh hingga mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk hal yang menurutnya unfaedah.
***
Azzahra menaruh Baby Rayya di box nya kemudian melempar sling bag nya ke sofa lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Tentu saja apa yang dilakukan Azzahra membuat Gavin terheran. Kenapa tiba-tiba istrinya merajuk sejak pulang dari rumah baru mereka.
" Honey kamu ini kenapa?" tanya Gavin mendekati istrinya. " Apa kamu nggak suka sama rumah barunya?" tanya Gavin kemudian.
" Untuk apa Kak Gavin beli rumah itu?" tanya Azzahra tanpa bergerak dari posisi tidurnya.
__ADS_1
" Bukannya kamu yang menginginkan rumah di sana?"
" Tapi untuk apa sampai memaksa pemilik rumah itu menjual dengan harga dua kali lipat? Itu bukan uang yang sedikit, Kak! Bisa beli ratusan rumah biasa. Kak Gavin tahu nggak, di luar sana banyak orang cari uang sepuluh ribu rupiah saja mesti kerja banting tulang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Sekarang Kak Gavin membuang uang puluhan milyar dengan percuma."
" Honey, aku ...."
" Aku tahu keluarga Kak Gavin itu orang berada. Mungkin uang segitu nggak seberapa untuk Kak Gavin. Tapi aku ingin kita ini yang sewajarnya saja. Kalau Kak Gavin mengeluarkan uang sebesar itu untuk memberikan tempat tinggal kepada orang yang tidak mampu, memberikan ke panti asuhan anak yatim atau untuk membangun tempat ibadah, aku masih bisa terima, Kak. Insya Allah berkah. Tapi kalau untuk membeli rumah dengan harga jualnya di bawah nominal yang Kak Gavin beli, aku nggak ikhlas, Kak."
" Kenapa Kak Gavin nggak mendiskusikan terlebih dahulu sama aku? Aku ini istri Kak Gavin. Mestinya Kak Gavin bicarakan dulu ke aku. Aku juga nggak memaksa kita harus punya di sana." Azzahra benar-benar nampak kecewa dengan sikap Gavin.
" Aku ingin mendidik anak-anak kita seperti yang ditanamkan oleh Abi dan Umi ke aku dan juga kedua kakakku."
" Iya, Honey. Aku minta maaf."
" Aku akan menerima maaf dari Kak Gavin setelah Kak Gavin mengembalikan rumah itu kepada penjualnya . Dan Kak Gavin mengambil kembali uang empat puluh delapan milyar yang Kak Gavin serahkan ke penjual rumah itu!" tegas Azzahra.
" Tidak bisa seperti itu, Honey. Aku ini pebisnis, tidak bisa seenaknya saja membatalkan perjanjian jual-beli begitu saja."
" Kalau Kak Gavin tidak bisa membatalkannya, aku ingin pulang ke rumah Abi dan membawa Rayya. Aku nggak ingin Rayya nantinya bersikap boros seperti Kak Gavin. Aku ingin membesarkan Rayya seperti Abi dan Umi membesarkan aku dengan kesederhanaan, bukan kemewahan dan pemborosan seperti yang Kak Gavin lakukan sekarang ini. Melakukan sesuatu yang unfaedah." Azzahra lalu bangkit dari tempat tidurnya.
" Honey, kau mau apa?" tanya Gavin melihat istrinya itu berjalan menuju arah pintu.
" Aku akan bilang ke Papa kalau aku akan pulang ke Bogor!"
***
Tok tok tok
Azzahra mengetuk pintu kamar mertuanya.
" Honey, please ... jangan pulang ke Bogor. Aku minta maaf, aku melakukan semua ini untukmu, Honey." Gavin masih berusaha meluluhkan istrinya agar mengurungkan niatnya mengadu kepada Dad David.
" Rara, Gavin ... ada apa?" Pintu kamar orang tua Gavin terbuka hingga menampakkan Tante Linda di hadapan Azzahra dan Gavin saat ini.
" Maaf, kalau Rara mengganggu istirahat Mama dan Papa. Tapi Rara ingin bicara dengan Papa." Azzahra tak menggubris permintaan suaminya.
" Honey ...."
" Siapa, Ma?" Kali ini suara Dad David yang terdengar.
" Ini, Pa ... Rara bilang mau bicara." Tante Linda menoleh ke arah suaminya.
" Bicara? Ya sudah kita bicara di ruang kerja Papa saja."
Akhirnya mereka berempat, Azzahra, Gavin, Dad David dan Tante Linda pun berjalan menuju ruang kerja Dad David.
" Ada apa, Ra? Apa ada masalah?" Dad David lebih tertarik memperhatikan wajah Gavin yang nampak gelisah dan tak tenang.
" Maaf, Pa. Rara mau minta ijin. Rara akan pulang ke Bogor membawa Rayya." Azzahra menyampaikan maksudnya.
" Oh, kamu mau berkunjung ke rumah orang tuamu, Ra?" tanya Dad David merespon ucapan menantunya.
" Rara ... Rara sementara akan tinggal di sana bersama Rayya, Pa." Sudut ekor mata Azzahra melirik ke arah suaminya yang saat ini duduk di sampingnya.
" Honey ...."
" Kalian akan tinggal di sana? Apa Gavin akan pulang pergi Jakarta-Bogor setiap hari?" tanya Dad David kini mengarahkan pandangan ke arah putranya.
" Kak Gavin nggak akan ikut bersama kami, Pa." ujar Azzahra tegas.
" Honey, tolong jangan bicara seperti ini." Gavin meminta istrinya mempertimbangkan kembali niatnya itu.
" Ada apa sebenarnya ini? Apa ada masalah yang tidak Papa ketahui, Ra?" Dad David mulai merasakan ada permasalahan yang terjadi dengan rumah tangga Gavin dan Azzahra.
Azzahra menghela nafas yang terasa berat.
" Apa Papa tahu kalau Kak Gavin membeli rumah di dekat rumah Teh Tata?" Azzahra menanyakan kepada Papa mertuanya.
" Iya, Gavin bilang kamu ingin punya rumah bertetanggaan dengan rumah Natasha. Memangnya kenapa, Ra? Apa kamu tidak suka dengan rumah yang Gavin pilih?" tanya Dad David kemudian.
__ADS_1
" Berarti Papa juga tahu Kak Gavin membeli rumah itu seharga dua kali lipat dari harga aslinya?" Azzahra mendesah, sudah pasti untuk Dad David pun uang sejumlah itu tidak terlalu berarti.
" Dua kali lipat?" Kali ini Dad David justru terkesiap. " Maksudnya apa ini, Gavin? Kau membeli rumah seharga dua kali lipat?" Sorot mata tajam Dad David kini mengarah ke arah Gavin.
" Aku hanya ingin mengabulkan keinginan Rara, Dad." Gavin beralasan.
Azzahra menghela nafas panjang, ternyata Papa mertuanya itu tidak tahu dengan harga fantastis yang diberikan Gavin untuk mendapakan rumah itu. Apalagi saat Gavin memberikan alasan jika dia melakukan hal itu untuk memenuhi keinginannya.
" Lalu apa Rara senang dengan apa yang kamu lakukan ini? Kau lihat sendiri, kan? Istrimu justru merasa kecewa dengan keputusan sepihakmu ini." Dad David geram dengan kelakuan anak laki-laki satu-satunya itu.
" Gavin, sekarang ini kamu sudah menikah, sudah berkeluarga. Kamu seorang suami untuk istrimu, seorang Papa untuk anak-anakmu. Kamu juga sosok kakak laki-laki untuk kedua adikmu. Jadilah contoh yang baik untuk mereka semua. Bersikaplah lebih bijaksana, jangan hanya mementingkan egomu dan tinggalkan kebiasaan buruk saat muda dulu." Dad David mencoba menasehati Gavin.
" Iya, Dad." Gavin menundukkan kepala merasa bersalah.
" Sekarang kalau sudah begini, bagaimana? Apa orang itu mau mengembalikan uang yang sudah kamu berikan?" tanya Dad David.
" Aku nggak tahu, Dad."
" Kalau pun bisa, itu akan memalukan nama baik keluarga kita," ujar Dad David menyesalkan tindakan Gavin.
" Nanti aku coba minta bantuan Yoga, Dad. Semoga Yoga bisa membantu berbicara dengan pemilik rumah itu sebelumnya." Gavin berharap pemilik rumah itu bisa diajak negosiasi.
" Lalu bagaimana dengan kamu, Rara? Apa kamu tetap bersikeras ingin kembali ke Bogor?" tanya Dad David.
" Rara, Mama rasa sebaiknya kamu tetap di sini saja. Kalau kamu pulang ke sana tanpa Gavin, nanti akan jadi pertanyaan kedua orang tua kamu. Kamu nggak ingin 'kan orang tua kamu kepikiran dengan masalah yang terjadi dengan kalian berdua?" Tante Linda yang sedari tadi hanya mendengarkan permasalahan yang terjadi akhirnya ikut menyampaikan pendapatnya.
" Papa juga setuju dengan Mamamu, Ra. Sebaiknya jangan pulang ke rumah orang tuamu dulu, nanti malah jadi salah paham dan menimbulkan omongan tidak enak." Dad David menyetujui usulan istrinya
" Kalau kamu kesal dengan suamimu atau tidak ingin berdekatan dengan suamimu, kau bisa pakai kamar yang lain di rumah ini."
" Dad ...! Maksud Dad apa? Dad ingin aku dan Rara pisah kamar?!" Gavin memprotes apa yang dikatakan oleh Dad David.
" Apa kamu lebih senang Rara pulang ke Bogor?" Dad David menyindir Gavin.
" Tapi aku nggak mau pisah kamar dengan Rara dengan Baby Rayya juga, Dad!" Gavin kembali memprotes keputusan Dad David dan Tante Linda.
" Sebelum kamu menyelesaikan jual beli rumah itu dengan baik, Rara bebas memilih di mana dia ingin tidur di rumah ini. Agar kamu juga bisa berpikir baik-baik, menelaah apa kesalahan kamu." Dad David lalu berdiri.
" Kita kembali ke kamar, Ma." Dad David kemudian mengajak istrinya untuk meninggalkan ruang kerja dan kembali ke kamarnya.
Azzahra pun melakukan hal yang sama, dia pun berjalan meninggalkan ruang kerja Dad David dan dibuntuti oleh Gavin.
" Honey, aku minta maaf." Gavin menggenggam tangan Azzahra dan menciumi jari-jari lentik istrinya itu namun Azzahra menarik tangannya.
Sesampainya di depan pintu kamar mereka, Azzahra menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gavin.
" Kak Gavin dengar 'kan apa yang dikatakan Papa dan Mama?" Kini Azzahra melipat tangan di dadanya ." Jadi, Kak Gavin yang pindah dari kamar ini, atau aku dan Rayya yang pindah?" tanya Azzahra.
" Honey, aku mohon jangan seperti ini. Aku minta maaf, jangan suruh aku jauh dari kalian." Gavin kembali menggenggam tangan Azzahra bahkan kini pria itu duduk belutut di hadapan Azzahra membuat Azzahra terkesiap, ini pertama kalinya suaminya itu melakukan hal itu terhadapnya. Sebenarnya dia merasa tak tega. Namun dia harus melakukan hal ini agar suaminya itu menyadari kesalahannya.
" Honey, please jangan hukum aku seperti ini." Gavin kembali membujuk Azzahra.
" Kak Gavin harus menerima ini. Dengan menyendiri jadi Kak Gavin bisa merenungkan kesalahan apa yang sudah Kak Gavin perbuat. Aku tidak ingin Kak Gavin menjadi orang yang egois dan menganggap apa yang Kak Gavin lakukan itu selalu benar."
" Aku nggak ingin Kak Gavin selalu beranggapan semua bisa didapat dengan uang yang Kak Gavin punya. Kalau Kak Gavin berpikir kebahagiaan aku bisa dibeli dengan uang, Kak Gavin salah besar. Aku tidak pernah menginginkan uang yang Kak Gavin punya." Bola mata Azzahra mulai berkaca-kaca. Dia lalu menarik tangannya dari genggaman Gavin. Dia kemudian membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali, meninggalkan Gavin yang masih berlutut di depan kamarnya, membuat tangisan Azzahra seketika pecah.
*
*
*
Bersambung ...
Pin, Gapin ...
Bener kata Rara, Gavin itu perpaduan antara terlalu kaya + terlalu bodoh.😁
Visual Baby Rayya
__ADS_1
Happy Reading ❤️