
Tok tok tok
" Permisi, Pak. Ada tamu di luar, dia mengaku teman Pak Gavin, namanya Pak Steven." Shella membuka pintu dan menyampaikan kedatangan Steven kepada Gavin.
" Oh iya, tolong suruh masuk, Shel. Dia memang teman saya." Gavin menyahuti dan menyuruh Shella membawa masuk Steven.
" Baik, Pak." Shella kemudian mempersilahkan Steven untuk masuk ke dalam ruang kerja Gavin.
" Hei, saya masih single belum Bapak-bapak jangan panggil saya Pak." Steven memprotes panggilan Shella kepadanya.
" Oh, maaf, Mas." Shella langsung meralat panggilannya.
" Maaf, saya bukan peranakan dari daerah Jawa jadi kayanya kurang cocok kalau dipanggil Mas." Steven kembali memprores.
" Oh, maaf ... jadi saya harus panggil apa, ya?" Shella dibuat bingung dengan semua protes Steven.
" Saya paling cocok dipanggil kamu dengan sebutan 'Yank' atau 'Beib'." Steven kemudian terkekeh mengatakan hal itu.
Tentu saja ucapan Steven langsung membuat Shella memutar bola matanya sedangkan Gavin yang memperhatikan sahabatnya itu hanya menggelengkan kepalanya.
" Shel, nggak usah ladeni dia, sebaiknya kamu segera kembali ke mejamu." Gavin menyuruh Shella kembali ke tempatnya.
" Hei, Cantik. Bisa minta nomer HP nya, kan?" seru Steven sebelum Shella menghilang dari ruangan Gavin, namun Shella tak memperdulikan ucapan Steven.
" Sekretaris lu oke juga, Vin. Body goals banget. Boleh dong buat gue," ucap Steven menyeringai.
.
" Sudah pernah lu cicipi belum?" celetuk Steven kemudian.
" Otak me*sum lu nggak hilang-hilang, Vin." Gavin menyindir sahabat yang juga sebagai partnernya dalam mengelola bisnis garmen di Jerman bersama dua teman lainnya.
" Hahaha ... biar hidup lebih semangat, Bro!" ujar Steven beralalasan
" Lagian lu kaya nggak pernah ngerasain saja. Kita 'kan satu produk." Steven tergelak membuat Gavin kembali hanya menggelengkan kepala.
" Atau sekarang lu udah taubat makanya milih cewek yang pakai kerudung itu?" sindir Steven lagi.
Gavin mengulum senyuman. " Setiap orang diberikan kesempatan untuk berubah, tinggal gimana kita saja mau atau tidaknya berubah menjadi lebih baik," ucap Gavin bijak.
" Sudah seperti motivator saja ucapan lu, Vin." Steven tertawa kencang.
" Lagipula menurut gue lu itu makin parah. Berubah selera cewek doang, sekarang suka yang berkerudung. Tapi kelakuan tetap saja sama, berani ngajak ngamar itu cewek. Depan layar saja lu berani cium-cium cewek itu apalagi di belakang layar, entah sudah lu apakan dia?"
" Sudah dibilang gue ajakin make love, lu nggak percaya juga?!" Gavin menyeringai.
" Ah, gi*la, lu! Cewek kelihatannya alim seperti itu lu sikat juga." Steven benar-benar tidak mempercayai jika Gavin berani merusak seorang wanita sholehah seperti Azzahra.
" Ya mau dikata apa lagi? Kalau memang sudah jodoh." Gavin melipat tangan ke belakang kepala lalu menyandarkan kepalanya itu di sandaran kursi kerjanya.
" Maksud lu, Vin?"
" Dia bini gue."
" Jangan bercanda lu, Vin!" Steven tidak mempercayai ucapan Gavin.
" Kalau gue nggak serius mana berani gue cium cewek seperti dia."
* Ah, si*al, lu! Cepat banget lu move on dari si Tante," sindir Steven.
__ADS_1
" Si"alan, lu!" umpat Gavin seraya melempar pulpen ke arah Steven membuat Steven terpingkal-pingkal.
" Tapi bagaimana lu bisa nikah dengan dia? Apa bokap lu yang menjodohkan kalian?"
" Antara ya dan tidak."
" Maksud, lu?"
" Mungkin karena jodoh lebih tepatnya."
" Gue masih nggak sangka lu nikah sama cewek itu, siapa namanya?"
" Azzahra."
" Oh Azzahra namanya." Steven mengelus rahangnya.
" Rasanya gimana waktu make love sama dia?"
" Lebih serulah yang pasti. Ngerasain yang original." Gavin terkekeh membayangkan bagaimana dia harus melewati drama malam pertama bersama istrinya itu.
Steven pun ikut terkekeh mendengar perkataan Gavin. Dia kemudian mengedar pandangan ke seluruh ruangan kerja Gavin.
" Enak sekarang lu, Vin. Pegang usaha sendiri." Steven sempat melihat bagaimana megahnya hotel milik ayah dari Gavin itu.
" Lebih enak usaha sendiri, Steve. Ini punya bokap bukan punya gue pribadi," tepis Gavin.
" Tapi nanti ujungnya lu juga yang dapat warisannya, kan?"
" Tapi lebih nikmat jerih payah sendiri."
" Iya, sih."
" Oh ya, ada apa lu pulang ke Jakarta? Tumben sekali, biasanya lu betah di sana," sindir Gavin.
" Keperluan apa?"
" Gue ingin jual sebagian saham gue ke lu, Vin."
Gavin mengeryitkan keningnya.
" Memang kenapa lu jual saham lu itu, Steve?" tanya Gavin serius. " Lu bangkrut karena kehabisan modal buat mengencani cewek-cewek?" ledek Gavin.
" Ah, si*alan, lu! Nggak akan gue kekurangan modal buat menyenangkan cewek, sih!" sangkal Steven cepat.
" Lalu buat apa lu jual saham segala?"
" Gue mau coba buka usaha restoran di beberapa tempat di sana. Gue butuh dana segar untuk itu. Gue hubungi lu karena lu yang paling berkompeten buat beli saham gue."
" Ya sudah, gue pikir-pikir dulu, Steve. Soalnya kemarin gue juga habis bantu adik sepupu gue dari jebakan Agatha."
" Jebakan si Tante? Memang kenapa?"
" Dia mengajak join cewek pemilik butik dan waktu pertama kali gue ketemu itu cewek, gue tertarik sama dia. Dan Agatha tahu hal itu, lalu dia menarik semua modal yang dia tanam di usaha cewek itu secara mendadak dan harus segera dikembalikan." Gavin menceritakan kejadian antara Dia, Natasha dan Agatha
" Lalu apa hubungannya dengan adik sepupu lu?"
" Karena ternyata cewek itu adalah adik sepupu gue dulu yang sudah lama berpisah."
" Oh, adik sepupu yang pernah lu ceritain ke gue yang ada foto kecil lu dulu itu, ya?"
__ADS_1
Gavin menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Steven.
" Tunggu-tunggu, lu bilang lu tertarik sama cewek pemilik butik dan itu ternyata adik sepupu lu gitu?"
" Iya ...."
" Parah lu, Vin. Adik sepupu sendiri lu mau disikat juga."
" Kan gue sudah bilang sebelumnya gue nggak tahu dia adik sepupu gue."
" Oke-oke, lalu ?"
" Ya gue tolongin adik gue itu membayar dana yang Agatha kasih ke adik sepupu gue itu."
" Adik sepupu lu cantik nggak, Vin? Ah, kalau lu saja naksir pasti cantik, kan? Kasih gue saja sini adik sepupu lu itu." Steven menyeringai seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
Gavin tergelak mendengar permintaan Steven.
" Nggak Sudi gue kasih adik-adik gue buat player macam lu, Steve," sindir Gavin.
" Si*alan, lu! Eh, beneran, nih. Siapa tahu gue jadi taubatnya kalau jadian sama adik lu itu.
" Dia sudah punya suami."
" Wanita bersuami masih bisa gue goda. Mereka pasti akan klepek-klepek kalau lihat pesona seorang Steven Albertino." Steven berkata dengan jumawa.
" Mau seperti apapun lu, pesona lu itu nggak ada seujung jari suaminya adik sepupu gue itu kalau lu mau tahu." Gavin meremehkan Steven.
" Memang ada yang bisa kalahkan pesona gue?"
" Banyak kalau lu mau cari." Gavin terkekeh menyindir
" Oh ya, Vin. Sebelum ke sini gue sempat singgah dulu ke Singapura." Steven mengubah topik pembicaraan.
" Ada apa lu ke Singapura? Kencan?" sindir Gavin.
* Ya seperti itulah. Gue dapat kenalan orang sana. Ya biasalah ..." Steven menyeringai dan Gavin paham arti senyum sahabatnya itu.
" Tapi bukan itu yang ingin gue ceritakan ke lu."
" Lalu?"
" Gue ketemu Jovanka di sana."
Deg
Gavin kini menatap serius Steven saat sahabatnya itu menyebutkan satu nama yang pernah sangat berkesan di hatinya.
" Oh ya? Bagaimana dia sekarang?" Gavin berbasa-basi tidak ingin terlalu antusias menanyakan.
" Makin cantik yang pasti dan ... dia sudah mempunyai anak."
" Oh, syukurlah kalau begitu." Entah mengapa seketika ada rasa sesak menyeruak di dada Gavin saat harus mengingat kembali soal Jovanka. Sosok wanita yang dulu pernah dicintainya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️