KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Rencana Kabur


__ADS_3

Azzahra terisak di kamarnya, setelah abi dan uminya memutuskan untuk menikahkan dia dengan Gavin dia langsung berlari ke kamarnya. Rasa marah, kesal, kecewa, benci, sedih kini berbaur menjadi satu di hatinya saat mengetahui dia kelak akan mempunyai suami seperti Gavin.


Azzahra tidak bisa membayangkan bagaimana jika nantinya dia harus tinggal satu atap dengan pria menyebalkan itu. Yang pasti dia akan merasa seperti berada di dalam neraka.


" Ra, kamu yang sabar ya, geulis." Umi Rara yang langsung menyusul Azzahra kini membelai kepala putrinya itu.


" Rara nggak mau menikah sama dia tapi kenapa Umi menyetujui rencana Abi?" protes Rara merasa heran uminya yang selalu berada di belakangnya kini malah mendukung untuk menikahkan dia dengan Gavin.


" Umi juga nggak rela, geulis. Tapi mau gimana lagi? Di luaran pasti sudah ramai membicarakan kalian. Kalau kamu nggak beneran menikah, kamu pasti akan jadi bulan-bulanan netizen, Ra."


Azzahra melirik ke uminya dengan sedikit kesal. Dalam kondisi seperti ini bisa-bisanya uminya itu melontarkan kata-kata candaan.


" Ra, usia kamu sekarang sudah dua puluh empat tahun. Dulu di usia kamu ini Umi sudah punya Asraf dan Aydan, juga Umi sedang hamil kamu. Dan sekarang melihat kamu belum menikah hampir setiap kumpul dengan ibu-ibu pengajian, ibu-ibu arisan selalu menanyakan kapan kamu akan menikah. Apalagi saat kamu batal bertunangan dulu, ada saja mulut usil yang menggunjingkan kamu. Apalagi kalau sekarang mereka tahu jika apa yang dikatakan orang itu hanya candaan kalau dia itu calon kamu."


" Tapi Rara nggak suka sama dia, Umi. Umi tahu sendiri tingkah orang itu menyebalkan seperti apa? Kalau Rara menikah sama dia, bisa-bisa Rara kurus kering karena kebanyakan makan hati, Umi." Azzahra semakin tersedu mengetahui nasibnya yang dia rasa sangat malang itu.


Umi Rara terus mengusap lembut punggung putrinya itu.


" Umi, Umi harus bisa merubah pendirian abi. Kalau Umi nggak bisa membuat abi berubah pikiran maka Rara akan ..." Azzahra menjeda kalimatnya sesaat sambil berpikir mencari alasan yang tepat untuk mengancam umi dan abinya.


" Akan apa, Ra? Kamu akan apa?" tanya Umi Rara penasaran.


" Rara akan kabur dari sini." ancam Azzahra cepat.


" Astaghfirullahal adzim, kamu jangan macam-macam, Ra. Kamu jangan nekat mau kabur dari rumah." Umi Rara langsung memeluk tubuh putrinya itu dan kini Umi Rara pun ikutan terisak.


" Kalau Umi nggak ingin Rara kabur, maka umi harus membuat abi membatalkan rencananya," ancam Azzahra kembali.


" Iya-iya, nanti Umi bilang sama abi kamu, tapi kamu jangan nekat sampai kabur ya, geulis?" Umi Rara menangkup wajah putri kesayangannya itu membuat Azzahra akhirnya menganggukkan kepalanya.


Sementara di ruangan kamarnya Gavin pun sama-sama kesal seperti Azzahra.


" Shit!!" Gavin menendang kursi yang ada di kamar itu. " Sial, sial, sial !! Kenapa aku harus menikahi wanita itu?! Kacau!! Aku nggak bisa bayangkan akan seperti apa kehidupan rumah tanggaku punya istri cengeng dan aneh seperti dia. Pasti akan penuh drama menikah dengan anak dari keluarga aneh ini." Gavin mengedikkan bahunya. " Benar-benar musibah," gerutu Gavin lagi.


Ddrrtt ddrrtt


Gavin merogoh sakunya saat ponselnya bergetar.


" Hallo, Pak Darius ... ada kabar apa?" tanya Gavin pada Pak Darius, pengacara pribadinya.


" Selamat pagi Tuan Gavin, maaf pagi-pagi saya mengganggu waktu Anda, Tuan. Saya hanya ingin memberitahukan jika sidang putusan hakim soal gugatan perceraian akan dijadwal lusa, Tuan." Pak Darius menerangkan.

__ADS_1


" Lusa?"


" Benar, Tuan."


" Hmmm, baiklah besok saya akan ke Jakarta," sahut Gavin. " Apa ada lagi yang ingin Pak Darius sampaikan?" tanyanya kemudian.


" Sementara hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, Tuan." Pak Darius menjawab.


" Apa Agatha membuat masalah?"


" Tidak, Tuan. Semua aman terkendali."


" Syukurlah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya Pak Darius."


" Sama-sama, Tuan Gavin."


Selepas menutup sambungan telepon dengan Pak Darius, Gavin langsung menghempaskan tubuhnya ke atas springbed.


" Lusa putusan sidang ..." Gavin memijat pelipisnya. Seketika dia teringat akan ucapan Abi Rara tadi.


" Setelah sidang putusan cerai kamu keluar, kamu harus secepatnya menikahi Azzahra."


" Shit!! Ini yang namanya keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa." Gavin mengumpat seraya mengusap kasar wajahnya dan memijat pelipisnya, namun beberapa saat kemudian seringai licik langsung mengembang di sudut bibirnya.


***


Abi Rara menoleh ke arah Gavin.


" Ada apa?" tanyanya kemudian.


" Hmmm, saya mau minta ijin Bapak karena besok saya harus ke Jakarta."


" Apa ada masalah?"


" Tidak, Pak. Lusa saya harus menghadiri sidang putusan hakim soal perceraian saya." Gavin menjelaskan.


Abi Rara langsung serius memandang ke arah Gavin. " Sidang perceraian?"


" Benar, Pak. Maka dari itu saya minta ijin ke Bapak." Gavin memohon ijin kepada Abi Rara.


Abi Rara menganggukkan kepalanya tanda memahami.

__ADS_1


" Baiklah, saya ijinkan kamu ke Jakarta. Tapi setelah itu kamu mesti kembali secepatnya kemari," perintah Abi Rara.


" Baik, Pak. Setelah sidang selesai saya akan kembali kemari." Gavin menyetujui permintaan Abi Rara.


" Ya sudah, kamu bisa kembali ke tempatmu sekarang." Abi Rara yang merasa tidak ingin diganggu lagi saat dia sedang bersama hewan-hewan peliharaannya segera menyuruh Gavin pergi.


" Baik, Pak. Saya permisi, terima kasih." Gavin langsung berpamitan dan kembali ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di kamarnya dia langsung menghubungi seseorang.


" Halo, Wan. Tolong kamu carikan tiket pesawat ke Bali untuk besok lusa di atas jam dua belas siang atas nama saya."


Setelah memerintahkan anak buahnya membooking tiket pesawat Gavin merebahkan tubuhnya dengan tangan melipat ke belakang kepala di atas tempat tidur.


" Akhirnya, aku bisa punya kesempatan kabur dari sini juga." Gavin menyeringai penuh kemenangan.


***


" Abi, apa keputusan Abi untuk menikahkan Rara dengan laki-laki itu bisa diubah?" tanya Umi Rara saat memijat kaki suaminya itu.


" Memangnya kenapa? Umi sendiri yang bilang takut terjadi gosip yang tak sedap di lingkungan sini." Abi Rara menyahuti.


" Iya, sih. Tapi Umi takut ..." Umi Rara berkata dengan nada cemas.


" Umi takut kenapa memangnya?" Abi Rara langsung menatap wajah istrinya yang masih nampak cantik di usia yang sudah mendekati lima puluh tahun itu.


" Umi takut Rara nekat kabur, Abi."


Abi Rara terkekeh mendengar kecemasan istrinya itu. " Kabur? Nggak mungkin Rara akan kabur, Umi. Lagipula ... memangnya Rara mau kabur ke mana?" tanyanya kemudian.


" Umi nggak tahu, Abi. Tapi tadi Rara mengancam akan kabur kalau Umi tidak bisa mengubah keputusan Abi untuk menikahkan Rara dengan Gavin." Umi Rara menceritakan ancaman Azzahra.


" Dan Umi percaya akan ancaman putri kita itu?" Abi Rara mengusap bahu istrinya. " Rara itu sejak kecil selalu sama kita, dia tidak pernah bisa pergi jauh dari kita. Sekarang bagaimana mungkin dia mau kabur? Kalaupun dia sampai kabur, pasti juga ke tempatnya Asraf atau mungkin ke Aydan. Umi tidak perlu mengkhawatirkan tentang Rara. Percaya sama Abi, anak kita tidak akan senekat itu kabur dari rumah ini." Abi Rara terus berusaha untuk menenangkan istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Nah loh, mau pada kabur dua²nya 😂😂


Happy Reading❤️


__ADS_2