Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Menantu Tetanggaku Mantan Menantuku


__ADS_3

Kening wanita tua itu mengernyit. Tangannya berulang kali membolak-balikkan pakaian berwarna merah muda bergambar strawberry. Semakin diamati, semakin dirasa tidak asing.


"Ini baju Yuki, kan?” gumam Mama Agni sambil mengendus gumpalan kusut yang digenggamnya. Sejenak ia berdecak tidak percaya pada temuan yang tersembunyi di balik bantal Keven.


“Ma!!” pekik Keven. Langkah kakinya lebar, terayun bersamaan dengan tangan yang terjulur memburu. Ditariknya piyama bergambar strawberry dari tangan Mama Agni dengan wajah merah padam menahan malu.


Panas tubuhnya yang berpeluh seakan tidak terasa lagi. Semua terganti dengan rasa ingin menenggelamkan diri ke palung laut. Ia yang baru saja menghabiskan pagi berkeliling kompleks, memacu kerja jantung dan paru-paru semaksimal mungkin justru mati kutu dengan temuan Mama Agni.


Memicingkan matanya, Mama Agni masih mempertahankan cekalan pada piyama Yuki. Keduanya bak peserta tarik tambang yang beradu sengit. Tentu bukan demi meraih sebuah kemenangan sesaat.


“Kamu nyolong baju Yuki?" tuduh Mama Agni tepat sasaran.


"Ng-nggak," kilah Keven terbata. Telinga yang memerah itu bisa Mama Agni yakini bukan efek lari pagi, tapi malu akibat ketahuan bertindak diluar batas kewajaran.


"Jujur!" tegas Mama Agni. Sekali lagi membalas tarikan pada piyama yang Keven pertahankan.


"Ma ... Jangan diambil!" rengek Keven kesal. Kedua tangannya berusaha memisahkan piyama merah muda dari cekalan kuat Mama Agni. Mengurai satu per satu jari renta Mama Agni dengan tenaga ekstra lembut agar tidak merusak harta kenangan sang mantan istri yang sengaja dicurinya. Benar, dicuri karena diambil diam-diam tanpa permisi.


“Please, Ma … Nanti sobek. Jangan tarik lagi. Lepas ya, Ma? Tolong ….”


Seketika laki-laki berotot itu merengek bak balita yang tidak ingin kehilangan mainan favorit. Menghentak kaki memohon agar sehelai peninggalan illegal itu dibebaskan.


Mengalah, Mama Agni menghembuskan nafas pasrah. Dilepasnya piyama yang terus-menerus Keven tarik. Membiarkan anak satu-satunya meneliti setiap inci piyama Yuki. Mengusap lembut seolah berinteraksi dengan piyama yang jelas tidak bernyawa.


"Bisa-bisanya kamu, Kev," ucap Mama Agni masih tidak percaya dengan pemandangan di depan mata.


Baru saja badan itu hendak berbalik pergi dari kamar Keven, Mama Agni sudah dibuat tercengang pada apa yang baru disaksikannya. "Ngapain kamu hanger lagi? Cuci!! Bau iler mu itu."


Suara Mama Agni menggema, namun tanpa sahutan. Keven diam. Tangannya tetap bergerak memasangkan hanger untuk menggantung piyama Yuki.


“Sini! Mama cuci!” pinta Mama Agni tegas. Menjulurkan telapak tangan terbuka lebar seolah menegaskan perintahnya.


"Apaan sih, Ma?!” gerutu Keven dengan suara lirih.


“Cuci!”


“Nggak!" bantah Keven lugas. Matanya membeliak, melotot sampai bola mata itu seolah ingin melompat keluar.


"Dulu aja orangnya di sini kamu doyan jauh-jauhan, sok cuek. Udah pergi bajunya dikeloni. Pantesan Mama sama Yuki cari nggak ketemu, rupanya ada celurut nyolong," ucap Mama Agni cukup pedas.


Seakan tidak mendengar omelan menyindir, Keven mengabaikan perkataan Mama Agni. Gegas ia menyimpan piyama kusut yang menemani tidurnya beberapa malam terakhir. Selalu diendus bagai candu yang bisa memberikan ketenangan dari mimpi buruk yang nyata. Jelas piyama Yuki itu sudah tidak beraroma Yuki lagi. Baunya sudah menguap dan lebih banyak membaur dengan aroma khas tubuh Keven sendiri.


Brak.


Pintu lemari itu ditutup cepat. Menghasilkan dentuman kuat dari benturan pintu kayu yang terkatup rapat. Sedetik kemudian Keven membalikkan badan, memasang kuda-kuda penjagaan.


"Mama keluar lah. Aku mau mandi," ucap Keven halus sarat akan pengusiran.


"Ya udah mandi sana. Tinggal mandi aja repot."


“Aku gak mandi kalau Mama gak keluar,” tukas Keven.


Menghela nafas berat, Mama Agni kembali tidak habis pikir pada Keven yang terus berdiri diam di depan lemari. Menatap ragu pada kehadiran sang Mama yang seolah bagai ancaman.


Memutar bola matanya jengah, Mama Agni berdecak pelan. Dengan sewot diucapkannya balasan bernada malas, "iya-iya, gak Mama ambil."


Detik berikutnya Mama Agni melenggang pergi. Berlalu menuju dapur untuk meneruskan misi memasak yang sempat tertunda demi membangunkan sang anak yang rupanya sudah melalang buana.

__ADS_1


Sepeninggal Mama Agni, Keven gegas menutup pintu kamarnya, memutar lubang kunci agar tidak secara mendadak diinvasi Mama Agni lagi. Diam-diam kembali Keven raih piyama Yuki. Tersenyum lebar dengan raut nanar yang memancar. Didekapnya piyama itu sambil meresapi panas di pelupuk mata.


“Ma-af.”


Sepatah kata mencekat menyisakan kelu di lidah. Dieratkannya gigi geraham menahan getir yang merebak dari bibir hingga ke dasar relung hati. Kini semua tinggal kenangan yang entah sampai kapan bisa Keven ajak untuk berdamai.


Hati Keven belum ikhlas untuk merelakan Yuki pergi. Namun jika digenggam lebih lama lagi, Keven tau serpihan hati Yuki yang hancur akan berubah menjadi butiran debu. Diratapi juga semua sia-sia belaka.


...----------------...


“Nah ginikan ganteng,” celetuk Mama Agni saat mendapati Keven dengan setelan khas kerja sedang duduk menyeruput kopi susu. “Jangan sampai usaha yang kamu rintis itu ikutan hancur gara-gara kamu galau. Bukan cuma kamu yang bergantung, tapi ada banyak pegawai mu yang cari nafkah di situ.”


Mengangguk Keven mengiyakan. Memang benar perkataan Mama Agni. Dirinya tidak boleh terlalu mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Meski sulit untuk mengendalikan emosi yang bisa berjungkir balik kapanpun sesukanya.


Belum lagi kini Saka sepenuhnya sudah angkat tangan dari bisnis yang keduanya geluti. Bahkan laki-laki itu sudah menjual satu per satu restoran yang sempat dibangunnya. Memilih beralih profesi yang berhasil membuatnya tertarik dikala terpuruk. Tentu semua yang Saka lakukan sedikit banyak bertujuan untuk menghapus jejak bayangan Alia yang menghantui.


Sedangkan Keven, ia terlanjur nyaman dengan pekerjaannya saat ini. Tidak ada pilihan lain selain tetap mengembangkan restoran seperti masa-masa dulu saat semua terasa baik-baik saja.


Lagi pula usaha Keven merambah bisnis ritel sudah kandas alias gagal tota. Berterimakasih lah pada Rava yang berhasil menjatuhkan bom peringatan karena Keven sempat menyentuh Ara-nya.


"Jangan nunggu kesempatan kedua dari orang lain. Kamu sendiri yang harus menciptakan kesempatan itu."


Mengerutkan alis dengan satu sisi menukik naik, Keven menoleh pada Mama Agni di sampingnya. "Maksud Mama?"


"Buktikan kalau kamu masih pantas untuk kembali jadi suami Yuki." Meletakkan nampan berisi piring kotor bekas pisang goreng, Mama Agni menatap lekat Keven. "Mana enak tiap malam meluk baju kosong. Pelan-pelan berjuang lagi sana. Selama apapun kamu umpetin baju itu, percayalah nggak bikin Yuki bertahan di sisi kamu. Yuki bukan bidadari yang nggak bisa pulang ke kahyangan cuma gara-gara bajunya kurang. Berjuang sana sebelum disambar yang lain."


"Hm," dehem Keven singkat. Tampak malas meladeni bualan sang Mama yang sebenarnya cukup mengusik pikiran.


"Itu Bapaknya tetangga kita yang duda dari kemarin udah kirim tanda-tanda ke Yuki. Gak mau ya Mama keduluan sama mereka. Nanti mirip cerita di ikan salto, 'menantu tetanggaku mantan menantuku'. Pokoknya nggak rela ya Mama kalau Yuki sampai dicomot ke sebelah, ke depan bahkan ke belakang sekalipun. Apa lagi sama mereka yang suka julid sama kamu!" celoteh Mama Agni berapi-api. Tangan wanita tua itu mengepal dengan nafas menggebu kesal.


Sama halnya dengan hot news perceraian Keven dan Yuki yang tanpa pelaku utamanya ketahui sudah berbuntut panjang. Ada berbagai genre yang berhasil dirangkai setiap pendongeng handal.


Jelas bukan hanya satu atau dua cerita yang akhirnya kembali mengupas gosip lama 'Keven si pebinor'. Pastinya berhasil pula menyebarkan rasa iba untuk Yuki yang terkenal kelewat ramah pada tetangga sekitar di lingkungan itu.


...----------------...


Dan di sinilah Keven saat ini. Berusaha tegar tidak terpengaruh perkataan Mama Agni, namun detik ini sudah menyamar bagai mahasiswa abadi. Dirinya tidak menyesal meninggalkan kasur dan aroma Yuki yang perlahan menghilang dari kamarnya. Bahkan dengan sadar Keven memutar arah setir kemudi yang mulanya akan menuju restoran.


Jauh di pandangan Keven ada Yuki yang diam terbengong. Menatap kosong lurus ke depan dengan bahu lesu.


Taukah kamu rasanya bernafas dalam ruang hampa? Tercekat tanpa tau harus melakukan apa, begitulah yang Yuki alami saat ini. Ia sudah bebas, namun juga merasa kehilangan. Kesulitan menggapai sesuatu yang dirinya sendiri tidak tau apa yang sangat dibutuhkan saat ini.


Kini Yuki seolah mempermainkan perasaannya sendiri. Pertanyaan tentang sudah benarkah keputusan yang diambil selalu berkelebat menghantui. Namun selalu terjawab oleh kenyataan jika kisahnya bersama Keven telah usai.


Pletak.


“Aduh! Sakiiiitt!!” keluh Yuki nyaring. Suara cemprengnya menggema di sepanjang lorong yang sunyi. Menggelegar hingga berhasil terdengar oleh Keven yang berkamuflase layaknya patung gajah duduk.


“Dari tadi dipanggil nggak nyaut. Mau ikut nggak?” ucap tersangka penjitakan.


“Ke mana?” tanya Yuki dengan bibir mencebik dan sebelah tangan yang masih mengusap bekas jitakan.


“Haduh dari tadi ke mana, Ki? Kami udah berbuih diskusi dari tadi,” sindir perempuan berkemeja navy.


“Ck! Lebay," gumam Yuki didahului decakan pelan.


“Udahlah tinggalin aja dia … Ayo, pergi aja. Nggak usah diurus anak galau itu," ketus pemuda yang menggendong tas ransel besar sembari mendorong punggung para teman-temannya agar segera meninggalkan Yuki.

__ADS_1


“Cuuiit!!” lantang Yuki sembari menyambar kasar tas ranselnya. Ia hentak kuat langkah kaki yang tergopoh membawa beban di punggung.


“Sumpah, resek!”


“Salahnya ngelamun terus,” ketus Dimas sambil menoyor dahi Yuki. Keduanya sudah berjalan bersisian. Saling melempar umpatan yang tidak ada manis-manisnya sambil melepaskan pukulan gemas dan sentilan manja, khas kebiasaan mereka yang sering membuat Ara hampir menyerah menjadi penengah.


“Aku ngantuk, lapar lagi,” kilah Yuki.


“Halah … Aku ngantuk, lapar, hoek … Banyak alasan.”


Plak.


“Nyebelin!”


Berlari mendahului Dimas dan mahasiswa lain yang sama-sama memiliki kepentingan dengan salah seorang Dosen yang menjadi penguji di sidang skripsi, Yuki sekelebat menangkap bayangan familiar dengan aroma yang akhir-akhir ini tidak pernah lagi dihidunya.


"Fokus Yuki! Fokus!" teriak Yuki pada dirinya sendiri. Diketuknya kepala yang seolah terkontaminasi kilasan kenangan yang belum juga menghilang dari benaknya.


"Temen mu itu, Dim. Udah gila dia."


"Siapa? Dia? Kenal ya?" balas Dimas pada pemilik suara yang menyeletuk sambil memasang ekspresi seolah kebingungan.


Sayangnya raut wajah Dimas seketika berubah datar kala matanya bersirobok pandang dengan Keven. Mantan suami Yuki itu jelas menatap benci pada Dimas. Sesaat sudut bibir Dimas tertarik ke atas, membentuk seringai tipis mengetahui ada yang terbakar api cemburu.


Sontak tanpa pikir panjang Dimas mempercepat langkah lebar, menghampiri Yuki yang belum juga sadar pada keberadaan Keven yang menyamar.


Dirangkulnya bahu Yuki tanpa permisi. Berbisik tepat sebelum rengkuhan erat itu disentak kasar oleh gadis yang terbelalak kaget.


"Aku traktir ayam geprek, mau?"


"Serius?"


"Duarius. Tapi aku nebeng perginya, gimana?"


"Idih ... Itu bayar ngojek, bukan traktir."


"Ya udah kalau nggak mau."


"Cih, merajuk!"


"Mau nggak?"


"Mau. Tapi dua porsi, satunya dibungkus."


Begitulah bisik-bisik singkat Yuki dan Dimas. Sangat remeh, namun sukses meremas nyeri dada Keven yang berdiri diam di tempatnya.


Sejurus kemudian tanpa angin kencang yang berhembus, Yuki bagai diterbangkan kala tubuhnya terhuyung ke depan. Nyaris terjungkal oleh kakinya sendiri sebelum akhirnya mendarat pada dada bidang dengan debaran tidak beraturan.


...****************...


*


*


*


Terima kasih sudah membaca😘

__ADS_1


__ADS_2