Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Gayung Merah Muda


__ADS_3

Ctak.


"Jangan ngelamun. Nanti kesambet hantu laut," ucap Ismi setelah seenaknya menyentil dahi Yuki hingga memerah.


"Sakit bele!" sungut Yuki sambil mengusap dahinya yang terasa panas pada satu titik saja.


"Ismi. Ismi Laila, bukan bele!" ucap Ismi mengoreksi panggilan Yuki terhadap dirinya. Padahal Ismi sendiri juga tau jika Yuki sengaja menyematkan julukan ‘bele’ kepadanya.


"Aku kira kamu belum nikah, Ki. Sampai ku kira kemarin kamu senyum-senyum gara-gara Mas pacar. Pakai dibilang kenalan lagi, pasti itu Mas suami kan?" lanjut Ismi berucap. Senggolan kecil dari sikunya mengenai lengan Yuki.


"Hm, iya," jawab Yuki pendek, malas mengatakan yang sebenarnya. Atau lebih tepatnya Yuki malas jika berakhir dicerca pertanyaan layaknya interogasi.


"Tapi kalian so sweet banget ya sampai peluk-pelukan gitu. Jomblo kayak aku bisa apa selain mengiri?" ucap Ismi sembari menggoyangkan bahu dan menangkupkan tangan ke wajah dengan gestur gemas.


'Cih... Gak tau aja dia nasib ku malang,' gerutu Yuki dalam hati.


“Ini kapan sih bus jemputan di sini sampai?” keluh Yuki sengaja mengalihkan topik pembicaraan Ismi. Kebetulan memang Yuki cukup kesal karena harus menunggu bus yang seharusnya mengantar mereka sampai di posko tujuan masing-masing kelompok KKN.


“Gak tau juga. Kenapa gak bus yang antar kita ke pelabuhan di sana itu ikut aja ke sini ya? Padahal naik ro-ro kan bus bisa ikutan. Kalau kayak gini bikin capek nungguin.”


“Biaya operasional buat transportasi nambah kalau itu bus ikut juga. Gak cuma biaya masuk kapal, tapi bus yang antar kita itu bus Kabupaten, otomatis dibawa ke sini harus bayar lebih.”


“Ah ribet aku gak paham gituan.”


“Iyain aja kalau ribet.” Yuki menopang dahinya di atas lutut yang terlipat. Mencoba menahan rasa lapar yang merongrong lambungnya hingga menyebabkan ledakan kecil di kepala yang berdenyut pusing.


"Dari jam 3 siap-siap, jam 4 udah standby tapi malah jam 7 pagi berangkatnya, sekarang udah hampir jam 8 tapi kita belum ada kejelasan. Ini sih lebih dari 20 jam perjalanan laut di tambah nungguin nya udah fix seharian gak jelas ... Badan ku juga lengket banget gara-gara gak mandi kemarin," keluh Yuki sambil mengendus ketiaknya. Semerbak aroma menyengat langsung menyapa indera penciuman Yuki.


"Sabar aja dulu. Nanti di sana kita numpang mandi di rumah warga,” celetuk Ismi santai dengan cengiran khas.


"Memang gak malu?"


"Aku udah biasa numpang sana-sini buat mandi. Udah tebal malu ku ini. Air di kos ku kan sering mati."

__ADS_1


"Idih ...." Melirik dengan salah satu sudut bibir atas tertarik naik, Yuki menatap sepele pada Ismi.


Jika saat itu Yuki bisa menggeleng tidak habis pikir pada kalimat Ismi yang dengan santainya mengatakan menumpang mandi di rumah warga. Namun nyatanya itulah yang terjadi pada Yuki saat ini.


Gayung merah muda digunakannya untuk mengguyur badan yang sudah polos dengan air bak yang terisi penuh. Tadinya hanya separuh, namun sengaja diisi penuh karena dirinya dan beberapa temannya menumpang mandi. Secara bergiliran kamar mandi yang tidak besar itu selalu riuh dengan deburan air yang tergayung.


Antara malu, segan, canggung dan butuh, Yuki menggunakan air di bak mandi itu seperlunya saja. Benar-benar tidak mencerminkan Yuki yang biasanya boros air dalam ritual mandinya.


Sehari.


Seminggu.


Dan kini tepat hari ke-11 Yuki kembali menumpang mandi. Namun selama ini tidak hanya menumpang mandi karena nyatanya ia juga harus menumpang tinggal selama 40 hari di rumah warga. Tentu saja terpisah antara laki-laki dan perempuan.


Jika para laki-laki tinggal di rumah Pak Lurah, maka para perempuan tinggal di rumah seorang janda tua yang hidup sebatang kara. Tempat tinggal para gadis itu juga atas permintaan langsung janda tua yang akrab di sapa Nenek Iyut, bukan dari kata kiyut atau plesetan cute, namun Iyut dari kata buyut.


Cukup betah Yuki berada di Kelurahan yang terkenal dengan para warganya yang dominan memilih bekerja di luar Pulau. Sebuah fakta yang mulanya Yuki anggap biasa saja, namun sangat berdampak pada kemajuan daerah.


Mengapa sangat berpengaruh?


Tidak ada generasi muda penerus yang mau melanjutkan perjuangan para sesepuh. Tidak ada jiwa muda yang menunjukkan kobaran semangat untuk mengangkat potensi Desa. Itulah yang menjadi problematik utama yang sangat sulit untuk Yuki dan teman-temannya pecahkan.


“Haah ….” Kasar, putus asa dan frustasi, mungkin seperti itu makna tersirat dari helaan pendek nafas Yuki. Tangannya yang sibuk mengipasi wajah yang kepanasan dengan kertas bekas tampaknya kurang memuaskan.


“Pakai ini,” celetuk seseorang yang sudah berada tepat di hadapan Yuki, mengayunkan nampan plastik hingga menimbulkan hempasan udara menerpa wajah.


“Mantap, Bro … Lanjutkan aksi mu, Ron.” Mengacungkan ibu jarinya, Yuki tersenyum sumringah.


“Time up (waktu habis).” Mengangkat kedua bahunya acuh, sosok yang dipanggil ‘Ron’ oleh Yuki itu melenggang pergi begitu saja.


“Aron PHP mulu kerjaannya.”


“Yang mau diseriusin udah punya suami, jadi di PHP aja,” celetuk Aron sekenanya dengan suara meninggi tanpa canggung.

__ADS_1


Seluruh teman KKN Yuki memang sudah tau tentang status Yuki yang sudah menikah. Meski mulanya ada yang tidak percaya dan dikira candaan, namun akhirnya semua menjadi jelas setelah Yuki menunjukkan foto pernikahan yang ada di ponselnya dengan gaya pamer. Sok paling bahagia dan bangga dengan pernikahannya.


Selain itu, sempat pula terjadi kecanggungan karena seseorang tiba-tiba menyinggung tentang postingan viral dengan Yuki pemeran utama nya yang berakhir dengan berita pernikahan dadakan. Tidak terhindar pertanyaan hamil duluan juga sempat terceplos bibir tipis salah seorang teman sekelompok Yuki, tapi jelas bisa Yuki tepis dengan balasan manis seolah dirinya baik-baik saja dengan pertanyaan tersebut. Lebih tepatnya pura-pura baik-baik saja.


“Capek banget,” keluh Ismi dengan lengan menjuntai dan punggung membungkuk. Wajahnya kusam dan lesu setelah hampir seharian mengatur barisan para penduduk untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan yang hanya dilakukan di tingkat Kecamatan itu membuat peserta yang ikut serta membludak.


“Katanya ada satu orang lagi relawan yang belum datang, Ki. Tadi aku sempat liat profilnya waktu diam-diam buka berkas data relawan yang lupa dibawa Pak Lurah, tapi ponsel ku habis baterai jadi gak bisa curi-curi foto. Sumpah ganteng banget. Semuanya pasti kaget termasuk kamu.” Memainkan kedua alisnya naik-turun serentak, Ismi berhasil membuat jiwa kepo Yuki meronta-ronta.


“Kenapa aku juga kaget? Apa saking ganteng banget ya?” tanya Yuki dengan mata memicing, bibirnya yang sempat menjeda perkataan kembali berucap dengan intonasi yang menjabarkan rasa penasaran, “gak sempat foto tapi lihat namanya kan? Kasih tau lah … Jangan buat aku susah tidur bayangin yang ganteng-ganteng tapi nanti zonk!”


Mengguncang lengan Ismi yang tertawa terbahak-bahak, Yuki tidak memiliki gambaran apapun dari sosok yang mungkin hadir mengejutkan dirinya.


Di waktu yang sama namun di tempat berbeda, seorang laki-laki dewasa sibuk menatap jam tangan dengan gusar. Dirinya sengaja memilih menggunakan transportasi udara dengan jadwal penerbangan yang tidak bisa ditemukan setiap harinya.


Sesekali matanya mengedar menatap landasan pacu, tampak pesawat kecil yang akan digunakannya sedang bergerak pelan menyesuaikan posisi awal. Sukses hal itu membuat dirinya semakin gelisah tidak sabaran untuk segera sampai di tempat tujuannya.


...****************...


*


*


*


Siapa laki-laki dewasa itu?😳


A. Keven


B. Dion


C. Sosok Baru


D. A & B Benar 😎

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki 🥰


__ADS_2