Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Tower Siluman


__ADS_3

‘Tumbuh sehat di dalam sana ya anak Papa. Makasih istriku tersayang, cintaku.’


Pagi yang dingin itu menghangat, khususnya di hati Keven. Lamat-lamat dipandangi Yuki yang menggeliat dalam dekapan. Menimbulkan sensasi meremang akibat gesekan yang tidak hanya membangunkan kesadaran, namun tower siluman yang ikut berdiri hampir tegak. Tubuh polos keduanya masih saling menempel setelah pergumulan semalam


"Sampai kapan pura-pura tidur?" bisik Keven dibubuhi kecupan sayang di tengkuk dan bahu polos Yuki. "Kalau kamu tidur secantik ini, gimana bisa aku biarin gitu aja?”


"Ciumnya kurang. Tiketnya belum lunas. Kiss lima kali dulu baru bangun," celetuk Yuki serak dengan mata terpejam. Meringkuk nyaman di pelukan Keven. Menikmati setiap kecupan yang mulai menghujani.


"Bonusnya mana?"


"Bonusnya habis mandi," balas Keven.


"Takut gak kuat ya?" tanya Yuki seraya membalikkan badan secara perlahan. Mendongak menatap Keven dalam temaram lampu tidur.


Mengangguk, Keven usap puncak kepala Yuki. Disingkirkan rambut yang menjuntai ke wajah. Turun membelai daun telinga dan leher jenjang yang sangatlah indah.


Namun sepersekian detik kemudian Yuki menyeringai penuh makna. Berdecih singkat seiring dengan tangan meraba, mengelus dan meremas lembut bagian tubuh Keven yang disentuh. “Pengen lagi ya?"


Terbelalak, Keven buru-buru menarik tangan Yuki yang bergerak nakal. Perempuan itu benar-benar tidak tertebak. Sisi agresifnya meledak ke segala bentuk.


“Udah bangun gitu sok nolak. Nanti gak aku kasih jatah nangis.”


“Nakal banget sih.” Geleng Keven pelan. Sejurus kemudian menyesap kuat pipi Yuki dengan gemas.


“Istri siapa dulu dong … kamu,” balas Yuki cengengesan.


Harus diakui, tidak salah Keven menyebut Yuki agresif. Bahkan pernah sangat tidak menyukai sifatnya yang satu ini.


Akan tetapi, bukan berarti Keven pribadi yang pasif. Laki-laki itu nyatanya sedari tadi berusaha menutupi kebangkitan tower siluman akibat tersenggol Yuki. Padahal hampir berhasil menidurkan yang terbangun karena takut Yuki kelelahan. Sayangnya justru istri tercintanya itu yang memancing gairah tertahan hingga meledak.


Tidak perlu ditanya, ranjang berantakan yang masih ditiduri kembali menjadi saksi bisu panasnya sepasang insan memadu kasih. Remang lampu tidur dan kelambu yang tertutup rapat tidak menyulitkan Keven mengabsen setiap ekspresi yang tergurat di wajah sang istri.


...----------------...


“Mama kalau khawatir mending ikut deh. Di warung kita ada kamarnya. Kalau capek bisa tidur. Aku itu cuma nemenin Mas Keven, Ma. Bukan mau kerja berat-berat kok,” ujar Yuki sambil sesekali mengamati ponsel. Membaca sepenggal balasan dari driver taksi online yang dipesan, tertera jika sudah hampir sampai tempat penjemputan.

__ADS_1


Menghela nafas panjang, Mama Agni berkata, “Mama gak bisa ikut. Ada undangan. Tadinya mau Mama ajak kalau kamu gak nyusul Keven. Bisa ngumpul sama Ibu-ibu di sini.”


“Arisan lagi?” tanya Yuki yang diangguki oleh Mama Agni.


Seketika Yuki bernafas lega. Bersyukur telah terlebih dahulu mengutarakan keinginan menyusul Keven. Pasalnya meski bobot bayi dalam kandungannya normal, namun perut serta badan Yuki sendiri tidaklah terlihat begitu besar.


Berat badan yang tampak tidak naik drastis inilah yang sering kali menjadi perbisikan tetangga julid. Tentu tidak hanya sekali atau dua kali menyapa pendengaran saat acara jalan-jalan pagi keliling komplek bersama Keven. Oleh karena itu, lebih baik menghindar dari pada Yuki harus memaki satu per satu dan menimbulkan keributan.


“Lagi pula tadi Keven bawa motor. Mau pulang tarik empat?”


“Kalau tarik empat nanti kasihan cucu Mama penyet,” seloroh Yuki dengan kekehan kecil seraya meraih tote bag berisi baju ganti untuk Keven. Berdiri dengan sebelah tangan memegangi pinggangnya sendiri.


“Hati-hati ... bilang Pak supir jangan ngebut. Kamu lagi hamil, pelan-pelan aja.”


“Iya Mamaku sayang. Mantu sama cucu Mama pergi dulu ya,” pamit Yuki sambil mencium tangan Mama Agni. Bergegas dengan hati-hati menuju taksi yang sudah menanti. Bahkan sudah dibukakan pintunya oleh sang driver.


Sepanjang perjalanan calon ibu muda itu asik menggulir layar ponsel. Memasukkan satu per satu pernak pernik bayi ke dalam keranjang belanjaan online.


Perkembangan dunia digital benar-benar memudahkan kegemaran belanja Yuki. Meskipun terkadang ada beberapa barang yang tidak sesuai ekspektasi.


Senyum pun terus terkembang sepanjang perjalanan. Ponsel bukan lagi menjadi benda yang menarik. Yuki sibuk mengelus perut bulatnya. Membisikkan kalimat-kalimat sayang meski hanya di dalam hati.


Namun, tangan terkepal dan wajah muram seketika menyingkirkan kuncup-kuncup tawa yang ingin Yuki bagi pada Keven.


“Ngapain dia di sini?” Dengan langkah lebar Yuki menghampiri Keven. Menarik nafas dalam-dalam sebelum mengulas senyum sumringah yang dipaksakan.


Hati itu ternyata masih bergetar goyah, bahkan sakit, takut dan cemas bersamaan. Kepercayaan dirinya sedikit tergerus. 'Sabar Yuki. Jangan overthinking. Gak boleh brutal,' batin Yuki.


"Kak Alia? Apa kabar Kak? Kok gak duduk? Duduk dulu Kak, lama loh kita gak ketemu," sapa Yuki seramah mungkin. Seolah tanpa dendam bergelut di dada. Namun bibir yang tersenyum tidak selaras dengan mata memicing tajam.


'Colok juga itu mata lihat-lihat! Pergi sana, hus!!' ketus Yuki dalam hati. Berkobar ketidaksukaan yang tanpa disangka mendarah daging.


"Sayang ...." Keven menggeleng. Melindungi Yuki dalam rangkulan posesif. Sebelah tangannya reflek menjadi tameng perut sang istri yang Alia amati.


"Dia gak ada urusan. Biarin aja pergi ... masuk ya, Sayang. Kenapa gak bilang kalau mau datang? Kamu pasti belum makan siang. Sini tasnya," lanjut Keven berucap. Tidak lupa menghadiahi lirikan sinis pada Alia yang terlihat menggeram kesal.

__ADS_1


"Makan di sini aja, By. Kak Alia udah makan? Oya, Rezvan mana Kak?"


Duduk dengan santai, Yuki sama sekali tidak terganggu dengan tatapan remeh Alia. Tidak peduli pula jika dari ujung kaki sampai puncak kepala terus diteliti. Ia biarkan perempuan yang tetap berdiri diam enggan menanggapi ocehannya itu.


"Bisa lah ya anak-anak nanti sahabatan, orang tuanya kan bersahabat. Apalagi Kak Alia sama Hubby punya hubungan baik, baik banget ... masih sahabatan, kan?"


Calon ibu muda itu tersenyum miring. Meminta Keven terus mengusap perutnya. Sekejap berusaha menyilangkan kaki meski gagal karena terganjal perut, sedikit tidak nyaman.


Satu hal yang pasti, Yuki tidak ingin lagi bermuka dua. Menghadapi Alia memang harus dengan kepala dingin, tetap santai tanpa tersulut emosi. Tapi bukan berarti ia tidak bisa bersikap tegas, memasang dinding pembatas tebal dan menjulang tinggi demi melindungi diri sendiri serta keluarga kecilnya.


"Maaf ya Kak, kalau gak ada keperluan lagi silakan pergi. Kalau bisa gak perlu deh muncul lagi. Iya kan, By? Bukannya aku jadi orang ketiga yang jahat di antara persahabatan kalian, tapi Kak Alia ini siapa dibandingkan aku yang istrinya Mas Keven? Ya jelas bukan siapa-siapa."


"Istri? Bangga jadi istri yang gak dianggap?" Suara Alia terlontar. Perempuan itu tampak melipat tangan seraya menertawakan Yuki.


"Nah ini, apalagi muncul cuma bahas gimana cin-ta-nya suami aku ke Kakak dahulu kala. Gak penting banget. Kalau hatinya udah milik aku, Kakak bisa apa? Nangis guling-guling di kasur? Hish, bikin malu aja. Masa mau bersaing nangis sama anak sendiri."


"Kamu tau apa?! Dari kecil ...."


"Stop, Al!!" potong Keven geram. "Tolong hormati kehidupan kita masing-masing. Jangan rusak sisa kenangan baik pertemanan kita selama ini."


"Kamu dan Saka sama. Kalian berubah. Semua berubah semenjak ada dia. Kalian gak peduli sama aku. Harusnya kalian senang. Saka bisa nikahin aku. Kita masih bisa tetap bersama. Apalagi yang kurang? Itu kan yang kalian mau? Kenapa kalian berubah? Bahkan sekarang aku datang sendiri. Kamu senang, kan?"


"Gila. Ternyata kamu bukan cuma sakit, tapi gila!!"


'Katanya kena penyakit narsis, kenapa separah ini? Mana kayak kurang perhatian juga ... aduh Yuki jangan iba. Please, jangan iba dulu.' Yuki ikut berdiri di samping Keven. Menghela nafas dengan berat. Jika bukan karena sudah mengerti Alia mengidap Narcissistic Personality Disorder, bisa dipastikan Yuki akan menyiram Alia dengan air bekas cuci mangkuk tukang bubur Ayam.


'Kayaknya Mas Keven perlu hubungin orang tua Kak Alia buat berobat ke Mas Dion nih. Bisa jadi diobati orang ganteng jadi gak tambah sinting.'


"Aku bukan berubah, Al. Hanya kamu yang gak pernah melihat ke depan," ucap Keven lagi. Lalu menuntun Yuki untuk beranjak pergi. "Ayo, Sayang. Kamu gak boleh telat makan."


"Sebentar, By," ucap Yuki tiba-tiba. Membalikkan badan dan kembali mendekat pada Alia. Tentu dalam jarak aman.


"Perlu Kakak tau, warung kita ini tempat usaha, bukan tempat nostalgia. Kalau belum move on ke sana aja, ke kenangan yang udah dijual. Sekalian cuci mata, kali aja jodoh Kakak sesungguhnya ada di sana. Yang pasti bukan Mas Keven," ucap Yuki lugas. Tidak gentar meski wanita yang dihadapi menatapnya nyalang.


"Sekali lagi aku bukan mau jadi orang ketiga yang jahat di antara persahabatan kalian. Karena nyatanya kalau kayak gini terus, Kakak itu orang ketiga yang nggak diharapkan. Kakak setannya."

__ADS_1


__ADS_2