
“Lagi?” tanya Keven yang dijawab gelengan Yuki. Sontak sendok yang terangkat itu kembali menyentuh piring, lengkap dengan nasi dan lauk pauk yang masih banyak tersisa.
“Mau cendol atau camilan lain?” tanya Keven cemas, “atau makanannya gak enak? Tunggu ya Sayang. Mungkin Simba mau masakan Papa.”
“By, jangan panik,” ujar Yuki lembut. Menahan tangan Keven yang hendak beranjak pergi. Mengulas lengkungan tipis yang menghibur kekhawatiran berlebih Keven.
Menyugar rambutnya, Keven mendesah kasar. “Maaf … maaf, Sayang. Semua salahku. Tapi sumpah, aku gak tau kenapa Alia datang,” sesal Keven sebab memperlihatkan kepada Yuki kebersamaannya dengan Alia. Meskipun belum sempat bertukar obrolan, hanya mau tidak mau telah berhadapan. Bahkan Keven sudah berniat mengabaikan teman kecilnya itu. “Kamu makan lagi ya? Tolong pukul aku kalau marah. Jangan mogok makan. Kasihan anak kita.”
“Aku? Mogok makan? Gak mungkin."
“Kalau bukan mogok makan, kenapa gak mau lagi? Ini semua kesukaan kamu. Segitu marahnya kamu sampai nggak selera makan?”
“Kok kamu jadi bawel? Jangan mirip aku gitu dong, By. Kasihan Simba nanti nggak punya jeda dengar cerocosan kita. Lagian kamu dijawab geleng aja udah negative thinking. Mendadak panikan gara-gara ketemu yang pernah spesial di hati. Kamu gak lihat habis geleng itu aku minum? Haus kali, By.”
"Beneran?"
"Iya, By. Ayo suapin lagi. Aaa ...."
“Jadi kamu percaya sama aku?” lirih Keven ragu-ragu. Mengatupkan mulut mengangga Yuki.
Sejenak hening menyapa kala Yuki memasok oksigen ke paru-paru sebanyak-banyaknya. Pupil tajam itu terpaku menyoroti ekspresi cemas Keven. Lalu turun pada genggaman erat namun lembut yang menguasai kepalan tangan kirinya.
“Ada alasan untuk aku gak percaya sama kamu?”
Yuki menutupi isi hati sesungguhnya. Berkilah pada hati yang sejatinya memang sempat tertohok kalimat tanya Keven.
Di balik senyum tulus itu, Yuki menampik hasutan yang terlintas di benak bila Keven diam-diam menemui Alia. Mengikhlaskan kilasan kisah lama ketika dirinya hanyalah sebuah bayangan hitam dalam sebuah kamuflase kebahagiaan semu.
“Gak ada yang perlu disalahkan lagi, By. Kita berdua gak bisa mengendalikan atau merubah hidup orang lain. Yang bisa kita lakukan hanya fokus menata hidup kita sendiri," ujar Yuki tenang. Menepuk pelan punggung tangan Keven yang terus menggenggam sebelah tangannya.
"Kamu salah. Aku pun juga ada salah. Kita semua gak luput dari kesalahan. Lagi pula memang benar kalian berdua lebih dulu saling mengenal. Cerita kalian udah dimulai lebih awal, bahkan sebelum aku lahir. Tapi seperti yang kamu bilang, aku punya kamu dan begitu pun kamu yang hanya milikku.”
__ADS_1
‘Sok bijak sekali anda Yuki,’ imbuh Yuki dalam hati. Otaknya sudah kembali bekerja normal. Ia bertekad kuat melawan pikiran-pikiran buruk yang nyatanya hanya ketakutan sesaat.
“Benar. Kamu punyaku. Aku punyamu.” Angguk Keven membenarkan. Namun tidak mengangsurkan kegundahan hati. “Semuanya tetap masa lalu. Tapi masa lalu kita … aku takut kamu pergi ninggalin aku. Aku takut kamu marah, kecewa dan gak percaya sama aku. Terlalu banyak hal menyakitkan yang kamu dapatkan dariku. Sumpah, Sayang, aku cinta kamu.”
“Dan Sumpah By, aku juga cinta kamu," balas Yuki tidak kalah serius.
“Tapi yang pernah sakit itu memang gak sepenuhnya bisa sembuh. Jujur aja, cinta yang pernah retak itu pasti gak bisa utuh lagi, By. Dulu cintaku ke kamu sepuluh. Sekarang empat aja udah lebih dari cukup.”
“Empat?” tanya Keven cepat. Lidahnya kelu. Pupil matanya bergetar gusar. Meski hanya sebatas perumpamaan angka, tapi percayalah lutut Keven seakan melemas.
“Iya, empat aja. Enam sisanya cinta buat diri aku sendiri. Boleh cinta, boleh bucin, tapi gak boleh bego. Siapa yang tau apa yang akan terjadi di masa depan? Gak ada. Jadi kalau seandainya kamu oleng lagi, aku bukan sekadar baik-baik aja, tapi lebih baik-baik aja. Meskipun gak sampai sangat-sangat baik-baik aja. Ribet ya?”
Keven menggeleng. Menggeser kursinya sampai saling menempel. Meraih bahu perempuan yang dicintai ke dalam rengkuhan.
“Kamu berhak berpikir gitu. Semua karena ulahku. Bahkan satu cinta yang kamu sisakan udah lebih dari cukup. Asal kamu tetap di sini. Jangan pergi. Kita menua bersama, ya?"
"Sampai gigi kita ompong. Sampai kita punya piut ya, By?"
"Iya piut. Cucunya cucu. Anaknya cicit kita. Pasti saat itu kita udah ompong, bungkuk terus pakai popok lagi."
Rona haru Yuki menjalarkan sebongkah pengharapan di dada Keven. Mencetak segaris keserakahan akan masa depan yang belum diketahui bagaimana alurnya nanti. Hanya seberkas impian yang akan terus mengantar dan membimbing agar hari-hari yang dijejaki selalu dalam kebersamaan.
"Kita coba bantu Kak Alia ya, By?" ucap Yuki tiba-tiba. "Setau aku Mas Dion itu termasuk psikolog handal. Siapa tau Kak Alia bisa sembuh kalau berobat ke Mas Dion. Gak ada salahnya kalau kita sarankan ke orang tua Kak Alia. Menurutku mereka yang harus terus nemenin anaknya."
"Kamu yakin mau aku lakuin ini?"
"Iya, By." Angguk Yuki tulus. "Demi kemanusiaan kita gak bisa mengabaikan orang yang membutuhkan bantuan. Bisa sembuh atau nggak yang penting usaha dulu. Bisa jadi juga lingkungan di sana yang bikin Kak Alia gak nyaman dan gak ada perkembangan. Bukannya kamu bilang kalau Kak Alia dari kecil terbiasa tinggal di Kota ini, bisa jadi kan karena lingkungan?"
Kedua sudut bibir Keven tertarik naik. Seulas lengkungan tipis menghias di wajah. "Kebaikan apa yang pernah aku lakukan di masa lalu sampai bisa jadi suami kamu, hm? Apa sayap kamu patah karena aku? Kenapa bidadari bisa tinggal di bumi bahkan jadi ibu untuk anak-anakku."
"Hish, malah gombal. Lagi serius loh, By!"
__ADS_1
"Aku juga serius. Sayapmu di mana, Sayang?"
"Gak tau, hilang," jawab Yuki ketus sambil mencubit kesal Keven yang spontan mengaduh.
"Semoga hilang selamanya. Biar kamu gak bisa pergi dari aku."
"Iya-iya wahai Raja Neraka, hamba akan setia di sisi Paduka. Walaupun kaki ini masih kuat untuk sekadar berlari maraton."
"Awas kalau lari. Aku ikat kaki tangan kamu."
"Terus aku gak bisa gerak dong," protes Yuki.
"Masih ada aku. Kamu mau ke mana pun bisa aku gendong."
"Kalau aku digendong, anak kita gimana?"
"Bisa aku gendong juga. Kamu di belakang, anak-anak kita di depan."
"Emang kuat? Ingat umur loh, By."
"Mau ngatain aku tua lagi?"
"Buat apa ngatain kalau faktanya gitu." Skakmat. Ingin Keven sanggah pun tidak bisa. Fakta itu menampar laki-laki di awal usia 30 tahunannya.
"Oya, ada satu hal lagi yang aku minta sebelum kelupaan." Sorot mata teduh Yuki seketika berubah tajam. Tubuhnya sedikit beringsut menyerong.
"Aku memang minta kamu bantu Kak Alia. Tapi tolong tetap prioritaskan aku dan anak kita. Tutup mata kamu demi aku setelah urusan ini selesai ... ini egois. Aku tau. Jujur aja, belum terjadi pun aku sadar kalau semakin kamu ikut terlibat, semakin gak habis-habis permasalahan ini. Aku gak tau batas kemampuanku. Sekuat apapun aku, seikhlas apapun tetap aja gak ada yang tau kapan hatiku bisa terluka.”
...****************...
Terima kasih udah baca sampai sejauh ini🥰 Kita udahin ya masalah terakhir Yuki & Keven di sini ... gimana nasib Alia? Yuk berbisik di kolom komen aja😂 (Itu pun kalau ada yang peduli sama Alia)
__ADS_1