Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Layang-Layang yang Putus


__ADS_3

Setiap senyuman punya cerita masing-masing. Bahkan wajah yang cemberut kadang menyimpan senyumannya sendiri. Sama seperti layang-layang yang memilih meninggalkan Yuki. Meski menimbulkan rasa gamang, ia terputus untuk terbang bebas di udara.


Mungkin salah Yuki memilih motif sunset yang identik perpisahan walaupun berwarna merah muda yang tampak manis. Sempat senang dan putus asa, bibir yang manyun itu mengulum senyuman. Ada kesenangan yang sulit dijabarkan saat membuat Keven bersusah payah berlari mengejar benang putus yang nyaris sanggup dijangkau ujung jari.


Yuki sudah tau jika layang-layang yang terlepas dari tangannya tidak akan bisa kembali, namun ia enggan mencegah Keven. Lebih baik merengek agar Keven terus berlari panik berusaha mendapatkan layang-layang putus yang terus tertiup angin. Sesekali Yuki berteriak menyemangati Keven.


Anggap saja olahraga dadakan karena sebelumnya membuat Yuki kesal. Jelas Yuki tergelak tawa kencang saat Keven sudah cukup menjauh. Secepatnya pula Yuki berpura-pura abai. Memutar tubuh memandang deburan ombak yang tidak kalah riuh dari gelak tawanya.


“Yuukkiiii..!!” Teriak Keven lantang memanggil Yuki yang asik saling mengejar dengan deburan ombak. Nafasnya tersengal setelah gagal mendapatkan layangan putus yang semakin melambung tinggi.


“YUKI!” Panggil Keven ketus pada Yuki dengan suara meninggi. Kesal diabaikan begitu saja. Bukannya disambut tatapan Yuki, Keven yang baru membalikkan badan justru melihat Yuki sudah sibuk bermain air dengan riang.



“Mana? Gagal ya?” Tanya Yuki celingukan seakan menelisik keberadaan layang-layang merah mudanya, tentu basa-basi. Tanpa ditunjukkan atau dijabarkan juga sudah sejak awal Yuki tau jika usaha Keven sangat sia-sia.


“Ck!” Decak Keven kesal. Menarik pergelangan tangan Yuki menjauh dari kejaran ombak. Menatap dingin wajah yang menyengir tanpa dosa.


Byur..


“HAHAHA.. HAHAHA..” Kedua tangan yang memeluk perutnya sendiri itu menahan gelak tawa yang menekan perut. Dari segala penjuru pantai orang-orang pasti berasumsi jika pasangan muda itu tampak mesra bermain air. Kebenarannya Keven terduduk dengan deburan ombak yang menghantam tubuh basahnya hanya bisa mematung kaget karena terdorong kasar.


Yuki masih berdiri di hadapannya. Menonton puas Keven yang berhasil dijatuhkan. Bukan karena kekuatan Keven yang tiba-tiba melemah atau Yuki yang terlalu kuat mendorong. Namun tendangan di belakang lutut yang menyertai dorongan mendadak mau tidak mau membuat Keven limbung dan terhempas di atas pasir pantai yang basah.


“Kurang ajar!” Geram Keven sambil memukul pasir dan air yang tentu saja langsung terpercik.


“Sini kamu!!” Perintah Keven saat Yuki melarikan diri. Bahkan sandal yang baru diganti kini mendapat jatah terbanting juga. Sungguh di kisah ini drama sandal selalu menderita.


“Gaak maauu..!!” Pekik Yuki yang kesusahan berlari menghindar. Benar saja, dalam satu kedipan mata tubuh ringan itu melayang. Memberontak menendang udara kosong. Yuki terus meracau memohon. Tatapan matanya berbinar memelas.


Menyeringai, Keven terkekeh dan menggeleng acuh. Kakinya terus melangkah hingga mencapai air setinggi lutut.

__ADS_1


“Aaaaaaa..!!” Jerit Yuki saat tubuhnya seolah melambung ke udara. Yuki yang hampir terlempar langsung mengalungkan tangannya ke leher Keven. Sontak saja hal itu membuat mereka terjerembab bersama dan tersapu gulungan ombak dalam posisi saling memeluk satu sama lainnya.


Uhuk.. Uhuk..


Suara terbatuk-batuk tidak hanya berasal dari satu orang saja. Baik Yuki maupun Keven, keduanya sama-sama menelan air laut dengan berbagai micro partikel. Dalam benak Yuki, dirinya sudah seperti ikan paus yang asik menelan plankton sebagai santap sore.


Byur..


Belum cukup kondisi basah kuyup dan raut sinis Keven menakuti Yuki. Tanpa menunda Yuki menangkupkan telapak tangan, mendorong percikan besar layaknya guyuran pada Keven yang tentunya berusaha menghindar, menangkis air yang hendak mengguyur wajahnya. Keduanya bak anak kecil yang sangat berlainan, bagai perusuh dan korbannya.


“Yuki, cukup!” Sergah Keven dengan mata melotot garang.


“Gak mau!” Tolak Yuki dengan juluran lidah yang mengecap rasa asin. Tangannya sibuk memercik air laut dangkal yang terus bergelombang.


“Shiit!” Umpat Keven sambil berdiri. Tergopoh dan terhuyung sesaat karena bersamaan dengan ombak yang datang menerjang.


“Hahaha.. Hooeek..!!” Tawa Yuki yang berakhir suara seperti muntahan. Karma. Yuki kembali menelan air laut dalam jumlah banyak.


“Aaaa.. Jangaaaan..!!”


Byur..


Teriakan Yuki terlambat. Tubuhnya terhempas dan tenggelam begitu saja.


“Gak asik..! Main otot!” Protes Yuki menatap sinis Keven yang mengangkat bahu acuh. Keven bersikap layaknya pemenang di hadapan Yuki.


“Bangun cepat!” Perintah Keven pada Yuki yang masih betah menikmati tubuh yang terendam air laut sore itu. Tidak ada kegiatan peninjauan seperti yang pernah Keven sebutkan saat meminta Yuki menemaninya pergi. Hampir seharian mereka hanya menghabiskan waktu di jalan yang cukup panjang dan berlanjut dengan main-main tidak jelas.


Menggeleng jahil, Yuki mengabaikan Keven yang menghela nafas berat. Tiba-tiba Keven menyelipkan tangan disela lipatan ketiak Yuki, memaksa tubuh yang lebih rendah darinya itu untuk segera berdiri.


“Ayo!” Ajak Keven singkat. Entah sadar atau tidak, Keven menggenggam dan saling menautkan jemari dengan Yuki. Menarik lembut gadis yang mengedarkan pandangan mencari keberadaan sandal serta topi yang menghilang dari kepalanya.

__ADS_1


Tepat beberapa langkah di depan tampak sandal yang tumpang tindih dengan topi Yuki yang terjatuh. Disambar dalam genggaman tangan kosong, Keven sudah membawa sandal dan topi itu di tangan kanannya.


“Mau ke mana?” Tanya Yuki yang terpaksa mengekor. Memasang raut kesal yang nyatanya tersentuh takjub pada kelembutan Keven. Sungguh sikap Keven benar-benar melembut setelah peristiwa itu. Tidak mengapa jika hanya karena iba, setidaknya Yuki bisa merasakan sedikit perhatian yang dibalutnya dalam arti cinta.


Usaha Yuki membunuh rasa cinta itu gagal. Mati rasa yang sempat Yuki pikirkan rupanya perasaan kecewa sesaat atas fakta kehancuran hubungan orang tuanya. Bukan mati rasa sebenarnya atas rasa yang ia miliki untuk Keven. Plin-plan dan bodoh, Yuki akui memang seperti itu dirinya.


“Ini kunci kamar kamu.” Ucap Keven sambil menyodorkan sebuah kunci. Tubuh basah keduanya tidak merasakan air yang mengalir atau tetesan dari baju basah yang melekat.


“Kita nginap?” Tanya Yuki dengan mata berbinar polos. Tidak langsung menerima kunci yang Keven sodorkan. Membiarkan tangan itu menggantung begitu saja.


“Hm.” Dehem Keven singkat. Meletakkan ke tangan Yuki kunci sebuah kamar yang tidak segera Yuki ambil.


Mengernyit kebingungan Yuki memandang kunci di tangannya sambil berjalan di belakang Keven. Tepat di depan kamar berpintu coklat dengan angka yang sama tertera di kunci yang ia pegang, Yuki diam terpaku. Melirik ke sisi samping sosok yang sudah membuka kunci pintu berbeda.


“Kita beda kamar?” Ucap Yuki penuh tanya. Meski jawaban sudah di depan mata, tapi Yuki tetap butuh kepastian dari penuturan Keven.


Melirik sekilas, Keven hanya mengangguk. Membiarkan Yuki sibuk menyelami berbagai dugaan. Sadarkah Keven jika kini Yuki menatap sendu dengan leher tercekik?


“Masuklah!” Ucap Keven bak perintah sebelum dirinya terlebih dahulu menghilang di balik pintu.


...****************...


*


*


*


Mau apa sebenarnya Mas Keven nya Yuki ini?🤔


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki🥰

__ADS_1


__ADS_2