Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Lalat Naik Kapal


__ADS_3

Bilik sempit berdinding baja dengan pancuran air mengalir mengurung Yuki. Ia di dalam sana tergesa-gesa menggosok seluruh lipatan tubuhnya. Bayangan kamera tersembunyi tak luput menakuti Yuki. Meski sudah ditelitinya berulang kali sebelum melancarkan aksi mandi, namun tetap rasa was-was itu menghantuinya.


Ceklek.


“Seger … Gantian sana, Is!” Sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk berwarna coklat susu, Yuki mengedikkan dagunya pada Ismi. Kini giliran Yuki yang menjadi penjaga pintu selama Ismi menyegarkan tubuh lengket berbau keringat.


Sejenak Yuki memainkan kuku jemarinya guna mengusir kebosanan. Sesekali kaki gadis itu dihentak berirama sambil memandangi pintu kamar mandi umum dari kapal ro-ro yang masih terkunci rapat. Ternyata deburan ombak dan kebisingan mesin kapal hanya terdengar nyaring dari bilik mandi yang sempit itu saja.


“Makan mie rebus kayaknya enak nih,” gumam Yuki disertai decapan ringan. Air liurnya sudah menggenang di bawah lidah.


Sejurus kemudian Yuki mengedarkan pandangannya, memicing pada sebuah tempat menyerupai mini bar di ujung deck tengah kapal. Tidak terlalu jauh. Hanya perlu melewati beberapa baris kursi penumpang yang berjejer permanen.


Pletak!


“Anj- … Kurang ajar! Sakit bele!” umpat Yuki sambil memegangi dahinya. Ia seakan merasa dejavu pada sentilan maut jari telunjuk ramping Ismi.


“Ngelamun aja sih. Aku udah kelar sampai gak sadar … Memang lihat apa di sana? Cogan?” cerocos Ismi sambil menggosok rambutnya. Kegiatan serupa yang tadinya juga Yuki lakukan.


“Bawa duit gak? Aku pengen beli mie rebus. Habis mandi jadi lapar.”


Menghela nafas pelan, Ismi menggeleng sambil mencebikkan bibirnya. “Mana bawa. Kan niatnya mutar-mutar nyari kamar mandi sampai ke sini cuma buat mandi aja, bukan jajan.”


“Yaaah … Harus ambil duit dulu deh.” Menunduk lesu Yuki melangkah gontai yang diikuti oleh Ismi.


“Atau gini aja … Kamu nungguin di situ biar aku ambil uang aku? Biar gak lama … Tapi nanti ganti!” tawar Ismi pada Yuki yang jelas saja langsung Yuki setujui.


Tanpa menunggu lama setelah ibu jari itu mengacung dan kepala mengangguk laju, Yuki menitipkan kantong pakaian kotornya agar Ismi bawa ke kursi mereka. Sedangkan dirinya sendiri sudah menopang dagu pada tangan yang terlipat di atas meja bar.


Sambil berdiri dan mengetuk ujung kaki yang terlapisi sandal selop ke lantai, Yuki cukup cemas jika Ismi terlambat datang. Bisa malu dirinya jika tidak bisa langsung membayar 2 porsi mie rebus beserta teh tarik instan hangat.


“Bang, kopi hitam sachet itu satu ya?!” celetuk seorang laki-laki di sisi kanan Yuki.


Sama-sama menolehkan kepalanya, pandangan kedua orang itu bersirobok dengan mata membulat singkat.

__ADS_1


“Loh, kok?”


“Eh, Ki?”


Kedua manusia berlainan jenis itu sama-sama terkejut bisa dipertemukan lagi. Terakhir kali mereka berinteraksi langsung ketika Yuki tiba-tiba demam disaat mengikuti gelaran kegiatan pemberian layanan kesehatan gratis.


"Mas Dion kok baru naik ini? Lama juga ya kegiatan itu ... Gak nyangka bisa ketemu lagi."


“Eh, iya ...," balas Dion agak kikuk, ia tersentak dari keterkejutannya yang masih tersisa. "Sebenarnya hanya 8 hari di sini. Tapi berhubung ada kekurangan tenaga medis jadi kepulangan beberapa Dokter yang bisa tetap stay ditunda, termasuk aku. Lagi pula belum lama ini ada badai di laut, gak ada kapal yang berani berlayar ke sini.”


“Oh gitu … Pantas aja lama, aku pikir kenapa sampai lama kegiatan itu, padahal info dari Pak Camat waktu pembukaan acara di tempat kami kegiatan gak sampai akhir bulan ini.” Mengangguk-anggukan kepalanya secara perlahan Yuki mencerna fakta di balik kebetulan yang kini sedang terjadi.


"Ini kalian yang KKN pulang semua?" tanya Dion sembari memposisikan tubuhnya bersandar miring. Kepalan sebelah tangannya menopang pelipis dengan lengan atas yang menempel sempurna di meja bar.


Kembali menganggukkan kepala, Yuki menjawab singkat tanpa bersuara. Ujung kuku jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, menyalurkan kecanggungan karena merasa diperhatikan dari samping oleh Dion.


Yuki bukannya kepedean, namun siapa yang bisa tenang ketika laki-laki tampan sekelas Dion menatap lamat dengan pose bak model? Ralat, pose nya mungkin biasa saja, hanya terlihat menjadi luar biasa ketika Dion yang melakukannya.


“Ara juga pulang?” tanya Dion tiba-tiba. Ada sedikit getar keraguan saat suara itu mengalunkan kalimat singkat penuh tanya.


‘Susahnya jadi Ara … Bisa-bisanya dia gak klepek-klepek setahun diperhatiin sama Mas Dion. Malah itu bocah dicaplok Pak Rava yang nyatanya saudaraan sama Mas Dion,’ gumam Yuki dalam hati. Membandingkan Dion dan Rava yang sama-sama rupawan. Belum lagi jika mengingat nasib sahabatnya yang menjadi korban kebucinan akut.


‘Seandainya … Heh! Apaan sih!’ Mengibaskan tangan di depan wajahnya, Yuki mengusir kilasan angan yang sepatutnya tidak ia bayangkan.


“Kenapa, Ki?”


“Lalat," jawab Yuki cepat sekenanya.


“Lalat naik kapal?” Mengernyitkan dahinya, Dion memperhatikan keadaan sekitar, tidak ada seekor pun binatang tertangkap radius pandang mata Dion. Mungkin jika ia melihat ke hamparan luas lautan baru bisa melihat beberapa ekor lumba-lumba yang mengiringi laju pergerakan kapal. Namun tetap saja tidak tampak seekor lalat yang Yuki sebutkan.


“Kali aja kan lalat nya butuh piknik. Hehe ….” Menyengir Yuki menanggapi pertanyaan Dion. Telinganya memerah karena malu pada bibir ceplas-ceplos yang kali ini kurang cerdik.


“Mas kopi nya,” ucap seseorang sambil menyodorkan secawan plastik kopi hitam instan tepat di dekat Dion. Keduanya saling bertransaksi dengan dua pecahan 5 ribuan yang Dion keluarkan dari dompet untuk membayar.

__ADS_1


“Duluan ya kalau gitu, Ki,” pamit Dion dengan senyum ramahnya. Mengangkat secawan kopi yang mengepulkan asap seraya memundurkan langkahnya.


“Oke, Mas,” jawab Yuki yang juga membalas senyum ramah Dion. Sedetik kemudian hatinya dongkol menyadari Ismi belum juga datang kembali. Padahal aroma mie rebus spesial ekstra telur setengah matang sudah membuat bulu hidung Yuki bergoyang lincah.


Beralih pada kondisi di Kota B, Keven kini sedang uring-uringan karena baru saja mendapatkan kabar mengenai keberadaan Saka. Ingin rasanya Keven langsung pergi menghampiri Saka pada sebuah alamat di Kota lain, namun kepulangan Yuki yang tinggal menghitung jam tidak mungkin Keven lewatkan.


Bisa dibayangkan jika Keven nekad pergi akan jadi seperti apa hubungan mereka yang terlanjur amburadul itu. Keven benar-benar dilema. Di satu sisi ia ingin segera menyeret Saka ke hadapan Alia, namun sisi lainnya Keven ingin menjadi orang yang menyambut kepulangan Yuki.


"Gue harus gimana ini?!! Shiit!!" Menjambak dan memukul puncak kepalanya dengan frustasi Keven mondar-mandir di kamarnya. Padahal kegiatan merapikan kamar baru separuh jalan terselesaikan. Terlihat di beberapa sisi kamar terdapat tambahan furnitur yang sengaja khusus dirinya dedikasikan untuk menyenangkan hati Yuki.


Keven memang tidak tau apapun tentang Yuki, mungkin selain masalah keluarga, tapi bukan berarti ia tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Meski hatinya masih meragu, namun ia yakin jika tidak rela melepas Yuki.


Tapi siapa yang akan tau bagaimana cerita kedepannya? Bisa jadi hubungan layaknya kain yang sobek itu terjahit sempurna atau bahkan sebaliknya semakin rusak.


...----------------...


Malam mulai larut. Bulan yang seharusnya bersinar terang tertutupi awan tebal. Suasana malam yang dingin itu semakin membuat banyak raga menggigil karena hembusan angin kencang dari arah laut.


Tepat pukul 8 malam suasana area pelabuhan itu ramai. Parkiran penuh sesak dengan berbagai kendaraan. Ada yang bermain ponsel. Ada yang berbincang dengan sesama keluarga atau orang asing untuk mengisi waktu menanti. Ada pula yang hanya berteman puntung rokok yang terbuang asal.


"Huufft ... Yuki bilang jam 8 kan, Ma?" tanya Keven pada Mama Agni dengan gelisah. Jam di pergelangan tangannya nyaris berlubang karena terlalu sering ditatap dan diketuk gemas dengan jari telunjuk.


"Katanya paling cepat sampai jam setengah 9. Tapi Mama pikir kita datang duluan aja supaya Yuki gak kasihan nungguin," ujar Mama Agni menjawab pertanyaan anaknya yang sangat terlihat tidak sabaran itu.


"Masih lama," gumam Keven lirih. Ia memilih meninggalkan mobil beserta kedua orang tuanya yang ngotot ingin menjemput Yuki. Langkah gontai Keven membawanya menuju cafetaria yang tampak ramai. Saat ini dirinya butuh kafein sebagai obat penenang.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki🥰


__ADS_2