Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Cium Aku


__ADS_3

Ada batas tipis di antara benci dan cinta. Entah itu kecewa, kekaguman atau perasaan lain yang sulit didefinisikan.


Satu hal yang pasti, baik Keven maupun Yuki pernah sama-sama berdiri di antaranya. Bahkan sempat tergoyahkan keraguan atas bisikan cinta dan benci yang saling bersahutan.


"Hamil?" gumam Yuki lirih, nyaris tanpa suara. Alisnya yang berkerut perlahan terurai seiring bibir melengkung senang. Matanya seakan berkilau oleh binar haru.


"YES!!" pekik Yuki girang. Tanpa sadar melompat-lompat kecil diselingi goyangan pinggul dan kepala seakan tengah menggelar konser di kamar mandi. Lupa jika bisa saja ia tergelincir.


"Sayang? Ada apa? Aku masuk ya?" tanya Keven dari balik pintu kamar mandi. Suaranya yang lantang tersirat kekhawatiran. Bahkan tangannya berulang kali sudah memutar knop pintu yang terkunci, siap untuk mendobrak.


"Gak apa-apa, By. Aku berhasil bikin balon busa pakai pasta gigi," kilah Yuki sambil menyembunyikan tawa cekikikan. Ia akan memberikan kejutan untuk Keven. Tapi bukan hari ini, melainkan besok setelah Keven pulang bekerja.


'Besok pagi harus cek lagi. Moga garis dua buram ini makin jelas. Sekarang kita simpan dulu di bungkus pembalut. Maaf ya By, malam ini kita tutup pabrik dulu.'


Dengan mantap Yuki bersiap melenggang keluar. Menenteng lesu satu pack pembalut sebagai tanda jika sejak saat itu hingga seminggu ke depan tidak ada pertempuran berjilid.


"Kenapa kamu dandan secantik ini? Aku kan harus pergi," ucap Keven sambil menarik pinggang Yuki. Sontak perempuan yang merapikan rambut suami tercinta itu jatuh terduduk di paha Keven.


Secepat kilat kecupan sayang mendarat singkat di dahi Yuki. Namun bukannya segera menyudahi, Keven justru kembali mengecup pipi Yuki berulang kali. Melabuhkan ciuman dalam, memangut bibir manis yang perlahan terbuka membalas sesapan tipis.


'Loh udah?' batin Yuki kala Keven menjauhkan wajahnya.


"Mau lagi, By," rengek Yuki manja. Kakinya bergerak menendang udara bergantian. Bibir manyun merekah meminta lebih. Tangannya dengan cepat melingkar dan bergelayut di leher Keven. Benar-benar menghipnotis.


"Kalau gak merah pasti aku makan," ucap Keven sambil mencubit gemas hidung Yuki. Ia sangat menyukai sikap manja sang istri. Menggilai segalanya tentang Yuki.


Akan tetapi, sejurus kemudian Keven melepaskan belitan Yuki dengan lembut. Mendudukkan perempuan yang dipangku ke atas ranjang. Mendorong mundur pujaan hati yang telah berhasil meruntuhkan keteguhan tekad hanya ingin menikmati kecupan singkat. Beruntung Keven ingat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.


'Kok jadi gini sih? Argh, Yuki!!' sesal Yuki dalam hati. Mencebik kesal saat mendapati Keven berlalu dan meraih waist bag di nakas.


Menghembuskan nafas panjang, Yuki terkalahkan oleh tipuannya sendiri. Kini ia harus membuyarkan rangkaian imajinasi nakal.


"By, tungguin aku ya? Cuma pakai lipstik sebentar."


"Kamu ikut?"


"Kita udah bahas ini loh kemarin. Pokoknya aku mau bantu kamu jualan lagi. Gak pakai nego!"

__ADS_1


"Dengan syarat jangan dekat-dekat Ringgo, bisa?"


"Idih, cemburu. Tau gitu gak aku ceritain Bang Ringgo pernah PDKT. Lagi pula itu sebelum kita nikah. Masa-masa aku jadi fangirl gila kamu. Salah sendiri kamu kasih kopi susu yang aku buatin ke Bang Ringgo. Jampi-jampinya jadi salah sasaran."


Mendengus sebal, Keven akui ia menyesal memberikan sebotol kopi susu buatan Yuki demi tidak membuang-buang minuman kesukaannya itu. Siapa sangka dari hal sepele baginya saat itu justru memperpendek jarak antara Yuki dan Ringgo.


Bahkan yang tidak terduga bisa-bisanya kedua orang itu tetap berhubungan tanpa canggung di hadapan Keven. Meskipun sebatas pekerja dan majikannya.


"Untung aja aku bucin mati-matian sama kamu. Kalau gak ...."


"Gak usah berandai-andai," tukas Keven tidak suka. Sorot matanya seakan siap mencincang siapa pun yang dilihat.


"Sayangku kalau cemburu nyeremin. Jadi pengen diterkam deh," balas Yuki sambil mengerling genit. Menggoda Keven layaknya kucing liar kelaparan.


'Sadar, Kev!! Sadar!! Kerja! Istri lo gak bisa digarap,' seru Keven dalam hati. Berusaha menyadarkan dirinya yang hampir membopong Yuki ke ranjang dalam pergulatan sepanas terik matahari di luar sana.


"Kamu mau berdiri di situ atau siap-siap ikut aku?" tanya Keven sok tegas.


"Gara-gara kamu sih mengalihkan duniaku. Mau pakai lipstik aja jadi tertunda. Kamu nakal," seloroh Yuki meninggalkan Keven yang mau tidak mau terkekeh gemas.


“Kok gitu?” sahut Yuki tidak terima. Berbalik menghentakkan kaki kesal sembari melotot pada Keven. Namun bukannya mendapat jawaban, Keven justru menertawai mata Yuki yang seakan besar sebelah akibat sapuan maskara tidak merata.


Tapi mau bagaimana lagi, ujung-ujungnya Yuki tetap menurut pada Keven. Ia menghabiskan waktu di dapur. Melatih keahlian mengendalikan pisau dan memperbaiki takaran kecap dalam semur ayam kentang andalannya.


"Suara motor Mas Keven. Jam berapa ini?" tanya Yuki lirih pada dirinya sendiri. Mendadak jantungnya berdegup cepat bagai anak gadis yang didatangi kekasih hati.


Buru-buru Yuki meletakkan kuali yang baru dicuci. Bergegas mengeringkan tangannya dengan tisu dapur. Merogoh ponsel yang bersemayam di saku apron.


Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat tujuh menit. Meleset tujuh menit dari waktu yang Keven janjikan pada Yuki.


Sedangakan Keven yang semula bersemangat sampai menggebu-gebu seketika menggeram muram. Rahangnya mengeras pada sekelebat bayangan laki-laki familiar. Sialnya justru terlihat akrab dengan Mama Agni.


“Itu mantan kamu?”


Baru saja Yuki menginjakkan kakinya di teras untuk menyambut Keven, ia sudah diserbu pertanyaan mengejutkan. Gegas Yuki mengikuti arah pandang Keven. Seketika bersirobok pandang dengan sosok yang menyapanya lewat senyum sumringah.


"Sejak kapan ...," gumam Yuki sambil mengernyit heran.

__ADS_1


“Kamu gak sengaja dandan buat ketemu dia, kan?” selidik Keven meneliti penampilan Yuki. Bergegas memasang punggung membelakangi Satria. Bersiaga menutupi jangkauan pandang pada Yuki yang selalu terlihat berkali-kali lipat semakin mempesona.


Laki-laki yang beramah-tamah dengan Mama Agni di rumah tetangga seberang jalan itu sukses membuat Keven meradang.


"Masuk. Sekarang!" perintah Keven sambil melirik sinis pada Satria yang tertangkap menyeringai tipis.


Sungguh hebat mata si pencemburu mendeteksi bibit-bibit pebinor kelas amuba. Tidak peduli sekecil apa trik yang dilancarkan.


"Gendong," pinta Yuki tiba-tiba dengan tangan yang merentang lebar. Ia tau dan cukup senang atas kecemburuan Keven.


"Cium aku," balas Keven menuntut, terselip kelicikan berkelut cemburu. Disambut pula dengan hangat oleh Yuki yang selalu menikmati setiap sentuhannya bersama Keven.


"As you wish, My Hubby," sahut Yuki.


Dalam sedetik pertemuan kedua bibir itu terjadi. Namun terlalu singkat hingga membuat Keven bertambah kesal. Kerutan di dahi jelas bertambah dalam.


"Cium aku seperti biasa."


Seketika bola mata Yuki seakan melompat keluar. Tubuhnya yang melayang dengan kepala lebih tinggi dari Keven benar-benar mempermudah melihat Mama Agni. Wanita tua itu jelas melongo dan menunjuk-nunjuk ke arahnya dari seberang jalan.


"Keven!! Yuki!!"


Suara tegas Papa Leigh menyeruak pendengaran. Menghentikan jemari ramping yang meremas rambut Keven. Memisahkan seorang insan yang melompat dari gendongan Keven. Gelagapan salah tingkah, tersipu malu dan membeku canggung. Berbeda dengan Keven yang santai mengusap sudut bibir Yuki.


"Kalian ini apa-apaan?! Ciuman gak tau tempat. Malu jadi tontonan tetangga!" cerocos Mama Agni dari arah belakang.


"Aduh, Ma ... aku bukan anak kecil," keluh Keven. Tubuhnya mau tidak mau merunduk akibat jeweran Mama Agni.


Wanita tua itu syok menyaksikan anak dan menantunya beradegan tidak senonoh di ambang pintu. Bahkan terlalu terkejut hingga tidak menyadari jika sandal yang dipakai hanya sisi kiri saja.


"Kalau mau bikinin Mama cucu di kamar. Gak usah eksperimen aneh-aneh!!" ketus Mama Agni menyudahi jewerannya.


'Mama kayak gak pernah muda aja,' cibir Keven, tentu hanya di dalam hati. Namun lewat sorot mata, Mama Agni jelas memahami bagaimana isi kepala anak tunggalnya itu.


...****************...


Terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini🥰

__ADS_1


__ADS_2