
Keven mengernyit. Kantuknya terusik oleh Yuki yang bergerak gelisah dalam pelukan. Lantas ia sedikit beringsut mundur. Menopang kepala dengan tangan kanan. Sorotnya jatuh pada gadis yang berusaha memejamkan mata.
“Kenapa?” tanya Keven lembut, namun sukses membuat Yuki terkejut.
Bulu mata bergetar dari kelopak yang terpejam itu sangat menggemaskan. Meski sekejap langsung mengerjap, melirik ragu pada Keven. Menyengir salah tingkah.
“Nggak,” jawab Yuki disertai gelengan kecil. Lalu membalikkan badan dan membalas rengkuhan Keven.
“By, aku aja ya yang peluk kamu dari belakang,” pinta Yuki dengan ekspresi memohon.
“Kenapa?”
“Pengen aja.”
“Gak mau aku peluk?”
“Mau. Tapi aku aja yang peluk.”
"Gerah?"
"Ish, bukan. Anggap aja belalang kayu cungkring ini mau ngerasain meluk sapi berotot. Pokoknya balik badan aja aku yang peluk ya, ya-ya?"
Menghela nafas panjang, Keven mengangguk. Cukup berat hati berbalik. Sedikit tidak rela membelakangi sang istri. Namun Keven tidak bisa melakukan apa pun kala Yuki sudah memasang ekspresi memelas melebihi keimutan anak kucing.
Sedangkan Yuki akhirnya bernafas lega. Pasalnya sesuatu di bawah sana yang mengganjal membuatnya gagal fokus dan dilanda keresahan. Terbayang imajinasi nakal aktivitas karaoke dadakan Keven yang menggigit akal sehat.
Tidak tanggung-tanggung rupanya perbuatan iseng Yuki terbalas kontan. Benar-benar instan. Ia bagai dihukum sebuah karma buruk akibat menjadi istri durhaka. Beruntung Keven tidak menyadari.
Praktis tidak berselang lama usai posisi keduanya berubah, nafas Yuki sudah terhembus teratur. Angannya berhasil berkelana ke alam mimpi.
‘Jangan bilang … gila.’ Mata Keven yang hampir terpejam itu melotot. Tangannya berusaha mengendurkan belitan Yuki. Menggeser agar posisi keduanya merenggang sejenak.
“Sayang? Udah tidur?” tanya Keven lembut. Kepalanya berusaha menoleh ke belakang. Namun seketika mendesah kasar.
Di atas kepala berbatas bantal, pembungkus roti bun kembar Yuki teronggok. Pantas saja rasa kenyal yang menempel di punggung terasa semakin nyata.
Sial. Kini bayangan benda kenyal yang menempel itu tidak bisa Keven abaikan. Gairahnya memuncak nyaris melewati batasan.
Sedangkan Yuki terus saja mendusel di punggung. Membelit tidak rela kehilangan kehangatan. Menyiksa Keven dengan kenikmatan yang tidak kunjung bisa ia serang. Padahal Keven sudah sekuat tenaga menahan gejolak insting sebuas binatang liar.
'Argh!! Shiit!!' Bukannya menghilang, khayalan itu semakin menggila.
__ADS_1
Yuki memang nyaman. Tapi Keven tidak bisa tidur semalaman. Ia panas dingin sendirian. Rasanya ingin segera membakar kalori di kamar mandi.
Alhasil keesokan harinya aura mendung bergelayut lekat di wajah kusut Keven. Jejak-jejak begadang tergurat jelas. Kantuk yang mendera memberontak ingin dilepaskan lewat mulut yang menguap lebar. Yuki benar-benar berbahaya.
...----------------...
"Kev, sini dulu," teriak Mama Agni dari dapur.
Baru saja kaki Keven menapak lantai dasar di dekat undakan terakhir anak tangga. Menyugar rambutnya yang basah beraroma strawberry. Tentu karena menggunakan shampoo milik Yuki.
"Apa, Ma?"
"Minum."
Mengernyit, Keven mengelak. Mendorong mundur segelas ramuan mengerikan yang disodorkan Mama Agni. Bergidik ngeri dengan aneka rasa aneh yang seketika terecap di lidah.
"Ma, aku gak suka jamu."
"Pokoknya minum!”
“Mama aja.”
“Hus! Ini bagus buat laki-laki. Dari pada loyo. Malu sama Yuki."
“Itu … ya ampun, Nak, keringatmu banjir. Mama bilang kan tunggu Bibi aja bersih-bersihnya.”
“Gak apa-apa, Ma. Cuma nyapu keliling sedikit. Sekalian olahraga. Ini mau ngadem dulu sebelum mandi,” jawab Yuki sambil menghidu ketiaknya bergantian. Diam-diam meringis kala samar-samar tercium aroma kecut yang menyengat.
“Oya, loyo apaan, Ma? Mama lagi capek?” tanya Yuki melanjutkan rasa penasarannya.
"Udah ini Mama serahkan ke kamu.” Bukannya menjawab, Mama Agni justru menyerahkan setengah gelas berisi racikan jamu.
“Mas Keven kan gak suka jamu, Ma.”
“Suruh minum.”
“Ta-”
“Paksa Keven habisin. Biar tambah kuat bikinin Mama cucu.”
Mengerutkan dahi penuh tanda tanya, Yuki lantas berbisik pada Keven, “minum dikit ya, By. Kamu kan gak doyan, nanti aku bantu minum juga. Udah lama nggak ngejamu.”
__ADS_1
“Loh jangan. Ini buat anak laki. Obat kuat,” seru Mama Agni lantang. Rupanya suara berbisik Yuki masih tertangkap pendengaran Mama Agni.
Sejenak pasangan lama tapi pengantin baru itu saling pandang. Keduanya sama-sama mengerutkan dahi bingung. Lalu celetukan lirih Mama Agni berhasil menyambung sinyal putus di otak Yuki.
"Main berapa ronde?"
Pecah tawa Yuki. Sontak jemarinya terangkat hingga membelalakkan mata Mama Agni. Sementara Keven tetap bingung dengan kerutan semakin dalam, mencerna pembahasan apa yang menyebabkan tawa Yuki pecah. Namun tidak pula Keven menyia-nyiakan waktu untuk melarikan diri dari racikan menyengat nan mematikan baginya.
...----------------...
“Belum puas ketawa?” tanya Keven cukup lantang. Pasalnya tengah berada di motor yang melaju menembus terpaan angin kencang dan keramaian jalanan.
“Udah, tapi setiap ingat langsung ngakak. Mama percaya aja kita udah bikin bayi sepuluh ronde. Padahal nyicil baru tipis-tipis. Lagian deep kiss juga belum pernah. Padahal kalau dicicil lebih sering aku siap loh. Tinggal permainan utama aja menunggu sampai bulanan ku selesai.”
“Sayang,” tegur Keven berlanjut membatin pasrah, 'bisa-bisanya seajaib itu kamu, Yang.'
“Hehe, iya-iya, maaf-maaf. Tau kok gak boleh bahas di luar. Nanti kita bahas di kamar. Urusan ranjang bukan rahasia umum."
Benar, Yuki mengangkat sepuluh jemarinya sebagai jawaban. Ekspresi yang dibuat pura-pura malu tidak sedikit pun menimbulkan kecurigaan Mama Agni. Ajaibnya justru Mama Agni bertepuk tangan bangga.
“Sayang, mau beli bunga tambahan?” tanya Keven seraya membelokkan motor pada area komplek pemakaman.
“Gak usah, By. Aku udah bawain bunga kesukaan Mama,” tolak Yuki sambil menetralkan perasaan berkecamuk.
Rongga dada Yuki kembali sesak. Tapi ia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Mencoba berhenti meratapi kepergian sang Mama yang sudah tenang di alam sana. Belajar mengurangi frekuensi berkunjung yang mulanya selalu setiap hari, tentu dimulai sejak hari ini.
‘Ma, aku datang lagi. Mungkin juga ini terakhir kalinya anak gadis Mama datang. Eits, Mama jangan sedih. Bisa jadi besok-besok aku datang udah gak gadis lagi, hehe … sekarang udah jadi istri beneran, Ma. Bukan pajangan atau jadi setan penunggu kamar lagi. Semoga kesebelasan cucu Mama cepat launching. Ya walaupun Mas Keven hebat banget Ma, dari dulu sampai sekarang konsisten gak minta jatah.’
Bahu Yuki terguncang oleh kekehan geli yang ditahan. Tidak ada gurat kesedihan, hanya pancaran bahagia penuh keikhlasan yang perlahan merebak.
‘Mama tau, setiap aku menangis di sini, Mas Keven juga nangis. Gak ada air mata, tapi sedihnya kerasa banget. Makanya maaf ya Ma, ke depannya aku gak bisa sering-sering ke sini. Maaf, anak Mama ini gak sekuat yang Mama kira. Salahku terlalu larut sedih sampai bikin susah keluarga Mas Keven,’ adu Yuki dalam hati.
“Sayang, ayo … udah setengah jam. Kita pamit sama Mama dulu ya? Kita udah ditungguin orang tukang. Harus cek renovasi.”
Mengangguk, Yuki meminta bantuan Keven untuk berdiri. Kembali keduanya meluncur menuju salah satu restoran Keven yang sedang di renovasi.
Bermodal uang yang semula hendak diperuntukkan untuk Mama Maria, Keven merombak salah satu restoran nya menjadi semi outdoor. Meskipun demikian, ia masih tetap berjualan di depan toko onderdil milik Om Yudith menjelang akhir sore sampai tengah malam. Begitulah setiap harinya dibantu Ringgo.
Pelan-pelan pula Keven menyiasati dengan tulisan kapan lapaknya akan pindah agar para pembeli setia tetap berdatangan. Jujur saja Keven sangat berutang budi pada keluarga sahabat Yuki. Pasalnya sosok orang tua Ara itu menolak dengan keras setiap Keven dan Yuki memberikan bayaran dalam artian uang sewa.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca kisah Yuki sampai sejauh ini😍 Semoga kesebelasan harapan Yuki berhasil terwujud 🤭