Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Icip-icip Nyicil


__ADS_3

“Udah cantik, Sayang,” ucap Keven sambil mengecup puncak kepala Yuki. Mengelus lembut bahu yang tertutupi kaos bermotif abstrak penuh warna.


Menatap lurus ke cermin, Yuki tetap asik meratakan krim di wajah seraya berkata, “tau kok. Dari lahir juga cantik. Kamu aja yang sempat katarak."


'Salah lagi?' batin Keven dengan sebelah alis menukik naik.


“By, dulu kamu gak suka aku karena apa?” tanya Yuki tiba-tiba seiring sapuan jemari di wajah terhenti. Sorotnya yang tajam menatap Keven instens lewat pantulan cermin.


Walaupun tidak melihat secara langsung, namun sudah cukup membuat radar bahaya Keven otomatis aktif. Salah menjawab sedikit saja, bisa-bisa meja rias itu melayang.


“By, jawab!” rengek Yuki menuntut. Ia duduk menyerong dan menarik-narik ujung kaos Keven.


"Jujur?"


"Gak. Bohong aja terus," sahut Yuki ketus.


"Okay. Kamu pendiam, pemalu, lemah lem-”


"Stop, stop!! Kenapa bohong beneran? Ngeselin banget. Jujur, By,” sela Yuki sewot, kesal dan pasti tidak puas.


"Janji nggak ngambek?"


"Tergantung."


Keven terjebak. Sudah dipastikan dirinya tidak aman jika harus menjabarkan sebuah kejujuran. Padahal jawaban palsu itu sudah sangat menjelaskan arti yang berlawanan.


“Jadi segitunya kamu gak suka sama aku?”


“Suka, Sayang.”


“Bohong banget. Aku kan masih cerewet. Kamu gak suka aku yang cerewet, kan?”


Menghela nafas panjang, Keven lantas membatin, 'nah kan, belum juga dijawab.’


Sepertinya Keven akan sering mendengar pertanyaan serupa. Dan lebih parahnya harus siap sedia menghadapi Yuki yang merajuk bila suasana hatinya memburuk.


“Tuh kan kamu diem lagi. Udah lah, sana gosok gigi! Aku mau tidur,” sungut Yuki sambil menghentakkan kaki ke arah ranjang.


"Sa-"


"Udah sana. Gak usah sayang-sayangan dulu. Level keselku tujuh dari sepuluh. Kalau kamu deketin jadi sepuluh per sepuluh. Salah deh, maksudnya sepuluh dari sepuluh. Sepuluh per sepuluh kan satu."

__ADS_1


Mengalah, Keven menggeleng pasrah dengan senyum geli. Ia lantas bergegas ke kamar mandi. Lebih baik secepatnya membersihkan diri. Lalu membujuk lewat pelukan mesra guna meredakan emosi Yuki yang nyaris meluap.


Praktis tanpa menunggu lama Keven sudah berganti pakaian dengan celana kolor seperempat tiang dan kaos singlet hitam.


Perlahan tapi pasti merangkak naik ke tempat tidur. Mencolek pipi dan mengetuk lembut dagu perempuan yang memasang ekspresi cemberut.


"Ternyata bidadari manyun tetap cantik," ucap Keven sengaja menggoda. Namun jujur saja istrinya memang teramat sangat mempesona.


"Udah pinter gombal," balas Yuki dengan senyuman mengejek. Matanya mendelik jengah. Sebelah pipinya bertumpu pada punggung tangan dalam posisi berbaring miring.


"Sejak kapan jujur jadi gombal?"


"Halah, ngerayu."


"Sayang ...."


"Hm."


Keven beringsut mendekat. Membelai wajah mungil yang menggemaskan. Lagi-lagi jantungnya berdebar hebat pada perempuan yang menatapnya lekat. Mata cekung dan kantong mata tebal itu sama sekali tidak mengurangi daya pikat Yuki.


"Malam ini boleh aku peluk?"


"Lebih juga boleh," sahut Yuki datar. Namun berhasil membuat Keven bersorak girang di dalam hati.


"Nyicilnya dikit banget," protes Yuki sambil menenggelamkan wajahnya di dada Keven. Berlanjut menggerutu di dalam hati. 'Padahal aku ready kapan aja. Masa harus aku juga yang ngajak? Eh bego, kan emang lagi bulanan. Bener-bener deh, keburu kepengen malah bikin bego. Malu-maluin aja. Tapi icip-icip nyicil tambah dikit lagi kan gak masalah. Apa kodein aja ya?'


“Gak nyaman?” Keven mengendurkan dekapan, menundukkan kepala guna mengamati Yuki yang sedari tadi bergerak tidak tenang. Padahal perempuan itu tengah merutuki dirinya sendiri yang buru-buru ingin diterkam.


“Hehe, nggak kok By." Menyengir, Yuki mendongak dengan dagu bertumpu menancap di dada Keven. Kedipan mata yang berbinar terpesona kala mengamati rahang tegas, kulit sehat, hidung mancung, alis tebal dan tentunya bibir kissable yang tidak lain milik suaminya, Keven.


"Kok bisa ya sekarang kita peluk-pelukan gini? Geli gak sih kalau ingat dulu bagian tengah ini pasti aku kasih guling terus kamu pasti tidurnya di pinggir banget. Udah kayak alergi. Takut rabies.”


“Situasinya udah beda, Sayang. Dulu kita memang saling jaga jarak."


"Kamu aja kali yang jaga jarak terus. Aku nggak. Malah kadang-kadang sengaja pakai yang aduhai biar kamu resah. Tapi gagal. Kamu gak tergoda. Sampai aku mikir jangan-jangan kamu menyimpang."


"Aku normal, Sayang. Kalau kamu tanya apa dulu aku nggak tergoda, jujur jawabannya aku tergoda. Sebisa mungkin aku jaga jarak. Apalagi harus menghadapi kamu yang super aktif dan agresif, harus ekstra waspada.”


“Masa iya? Tapi kayaknya nggak tuh. Kamu biasa aja deh setiap ketemu aku. Gak ada tanda-tanda tergoda sama cewek cantik penunggu kasur. Mau aku jungkir balik sekali pun, kamu melengos gitu aja."


"Karena aku berusaha mati-matian anggap kamu gak ada. Mencoba menjaga dan gak merusak kamu."

__ADS_1


"Berhasil sih jagain akunya. Terbukti jadi janda masih perawan. Tapi sama aja, nanti main dispenser sama kamu. Kan nikah lagi juga sama kamu, bukan orang lain. Ternyata sok cuek tapi perhatian. Sok gak peduli tapi gak mau ditinggalin,” seloroh Yuki mencibir. Spontan menghadirkan tawa kecil dari bibir Keven.


“Oya, By. Ini udah lama banget pengen aku tanyain. Kotak di dalam rak di atas wastafel dapur … botol dari aku? Kalau bukan ya udah. Tapi mirip sih. Cuma kalau aku ingat-ingat gak mungkin deh. Semua botol kopi dari aku kan kamu kasih ke orang. Gak ada satu pun yang kamu minum. Kalau aku ingat-ingat lagi gak ada botol yang pernah kamu kasih ke Bang Ringgo. Berarti mirip aja, kan? Terus buat apa Mama beli botol sebanyak itu, By?” cerocos Yuki cepat, tanpa jeda. Bahkan Keven meragukan istrinya sempat bernafas selama melontarkan kalimat panjang lebar itu.


“Bukan. Itu botol dari kamu.”


“Kok bisa? Bukannya kamu kasih ke orang? Masa habis kopinya diminum kamu minta botolnya. Gak mungkin banget seorang Bapak Keven begitu," ucap Yuki asal menebak. Ia terkekeh pada dugaan tidak masuk akal yang terlintas di benak.


“Nggak salah, tapi juga nggak sepenuhnya bener.”


“Ish, tinggal bilang apa yang bener aja berbelit.”


“Aku memang minta botol-botol itu. Tapi setelah kamu ninggalin aku.”


"Maksudnya? Setelah kita cerai? Terus botol yang kamu kasih ke Bang Ringgo kok gak ada? Aku hafal banget loh semua warna botol-botol yang aku pakai."


“Hilang.”


“Bang Ringgo yang hilangin?”


Angguk Keven mengiyakan. Jemarinya menyibak helaian rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah Yuki.


“Tau gitu dulu aku terima aja botol yang Bang Ringgo balikin. Oya, By, mau aku kasih tau sesuatu gak?”


“Kamu mau cerita?”


“Iya. Tapi kamu mau tau nggak?”


“Iya, mau.”


"Beneran mau tau, kan? Aku gak tanggung jawab ya kalau nanti kamu kesel."


Coba saja jika posisinya dibalik dan Keven tidak kunjung bercerita to the point, pasti sudah mendapatkan semburan protes dari Yuki. Sayangnya saat ini Keven harus pasrah meski mulai dilanda rasa penasaran tingkat tinggi.


Malam itu keduanya benar-benar menghabiskan waktu untuk saling berbagi cerita, mengulas kisah yang terkenang di dalam hati masing-masing. Sesekali diselingi canda tawa. Dilengkapi sentuhan gemas, kecupan mesra yang hebatnya tanpa terselip hasrat panas membara selain kasih sayang yang mendalam.


"Selamat tidur, Sayangku. Semoga besok senyummu lebih bersinar lagi," bisik Keven disertai kecupan lama di pelipis Yuki. Sontak seulas senyum tipis terpatri di bibir Yuki yang terpejam dan berbaring miring membelakangi Keven.


...****************...


Mohon maaf lama update 🙏 Sebagian temen-temen pasti tau juga dari bulan lalu aku udah lama gak aktif di sosmed ... ya ada sedikit kendala.

__ADS_1


Jadi, makasih banyak untuk yang sabar banget nungguin kelanjutan kisah Yuki🥰


__ADS_2