
Makan malam hari itu terasa berbeda. Pertarungan sengit di antara Keven dan Yuki membara tanpa perlu dijelaskan. Bahkan mencekam bagi Papa Leigh dan Mama Agni yang diam-diam saling lirik pandang pada kedua anak muda yang mengunyah brutal nasi beserta lauk-pauknya.
Seandainya nasi bisa menjerit, mungkin banyak yang sudah berdemo karena merasa tidak adil. Sebagian tergerus kasar, namun selebihnya ditelan utuh begitu saja.
"Papa udah makannya? Mama udah nih," celetuk Mama Agni tiba-tiba. Bersyukur hanya mengambil porsi kecil hingga tidak menunggu waktu lama untuk dihabiskan.
Mengangguk pelan, Papa Leigh tetap menatap lekat putranya. Sejenak laki-laki tua itu menghembuskan nafas berat. Jika bukan karena lirikan maut Mama Agni, bisa saja Papa Leigh sudah menjewer telinga Keven yang makan sambil menggerutu samar tanpa suara.
Kini, masih dengan suasana yang entah harus didefinisikan seperti apa, keempat orang itu duduk santai membiarkan tayangan televisi yang menonton mereka.
"Ma, Pa ...," ucap Yuki tiba-tiba, menjeda kalimat selanjutnya sambil menatap bergantian Mama Agni dan Papa Leigh, "Yuki mau minta izin. Ak-"
"Yuki!" sela Keven dengan intonasi yang rendah dan berat. Tangannya reflek mencengkeram erat pergelangan tangan Yuki.
"Sakit," ucap Yuki lirih. Spontan mata itu melotot. Bibirnya bergerak tipis agar kedua mertuanya tidak curiga. Akan tetapi semua itu sia-sia.
"Keven, jaga emosi kamu!" tegas Papa Leigh yang tidak suka dengan cara sang anak memperlakukan Yuki.
"Biarkan Yuki bicara. Kamu, Keven ... Sini pindah duduk di sebelah Mama, jauhan dari Yuki!" perintah Mama Agni lantang. Wanita tua itu sudah berdiri dan menarik kuat tubuh mematung Keven yang tidak rela dijauhkan dari Yuki.
"Maaa ...," protes Keven dengan nada merengek. Laki-laki keras kepala, egois dan gengsian itu selalu tidak sadar saat tiba-tiba merengek pada sosok yang telah melahirkannya.
"Bicaralah, Ki. Mama dan Papa akan dengarin apa yang mau kamu sampaikan. Abaikan aja suami kamu itu. Pasti ada sesuatu yang bikin kamu kesal gara-gara dia!"
"Papa kenapa nyalahin aku? Aku hanya mempertahankan apa yang mau aku perjuangkan!" ucap Keven tegas dan lugas.
"Sekarang kamu diam dulu! Kasih kesempatan istri kamu untuk bicara sama Mama, Papa!" ucap Papa Leigh tidak kalah tegasnya. Sejurus kemudian laki-laki tua itu mengangkat telapak tangan terbukanya, mengkode agar Yuki melanjutkan apa yang ingin disampaikan. "Ayo, Ki ... Bicaralah ...."
"Sebenarnya a-aku mau minta izin sama Mama, Papa." Menunduk Yuki meremas jari-jemarinya.
"Izin apa, Ki?" tanya Mama Agni yang sejujurnya sudah sangat penasaran. Sejenak perasaannya tidak tenang. Ditambah sikap Keven yang sangat terlihat menentang.
"Sebenarnya ...," ucap Yuki menggantung, sudut ekor matanya melirik sekilas pada Keven. Ia benar-benar gugup, namun bukan karena Keven, melainkan kedua orang tua Keven yang sangat dihormati dan juga sayangi itu.
Sedangkan Keven sudah gelisah. Bahkan setiap ingin berucap bibirnya terpaksa terbungkam karena Mama Agni selalu memelototi dirinya. Belum lagi jari-jari rapuh yang siap mencubit kecil tanpa pikir panjang.
"Sebelumnya Yuki minta minta maaf kalau apa yang akan Yuki sampaikan ini nantinya bikin Mama Papa gak enak hati. Bukan maksud Yuki gak suka di sini. Tapi Yuki mau fokus dengan skripsi dan supaya mempermudah penelitian yang akan diambil," ucap Yuki yang jelas mengandung separuh kebohongan.
__ADS_1
Sejenak Yuki menjeda kalimatnya. Menarik nafas dalam secara perlahan sembari menatap satu per satu wajah yang menyorotnya penuh tanya.
"Jadi di sini Yuki mau izin untuk tinggal di tempat kos. Papa tau kok tempatnya, itu sebelahan sama tempat kos yang dulu Papa antar Yuki sebelum pergi KKN," jelas Yuki lagi sambil menatap Papa Leigh.
"Kenapa harus sampai kos, Ki? Bukannya bisa aja kamu bolak-balik dari rumah ini?" tanya Mama Agni sendu. Ia tidak tega membiarkan Yuki tinggal seorang diri. Jika saja Yuki meminta Keven turut serta, mungkin Mama Agni tidak sekhawatir saat ini. Namun mendengar lokasi tempat kos yang disebutkan, sudah cukup membuat Mama Agni paham bahwa Yuki akan keluar dari rumahnya tanpa mengikutsertakan Keven.
"Bukan gak bisa, Ma. Tapi kalau sewaktu-waktu harus pulang larut jadi gak kejauhan. Lagi pula tempat kos nya dekat sama kampus. Jadi kalau butuh apapun dadakan Yuki gak terlalu keteteran." Kali ini Yuki tidak berbohong. Memang salah satu bahan pertimbangan memilih tempat kos yang sama dengan Ismi selain khusus perempuan juga karena dekat dengan kampus. Cukup dengan berjalan kaki saja Yuki sudah sampai di halte bus pertama kampus nya itu.
"Ada Keven di sini yang pasti siap bantu kamu. Mama jamin meski dia nolak, Mama yang akan paksa," ujar Mama Agni yang masih dalam mode membujuk. Rasanya tidak rela melepas gadis muda yang selalu menjadi teman dan pusat kebahagiaan beberapa bulan ini menghilang dari rumahnya.
"Apa kamu yakin sama keputusan kamu?" Merendahkan punggungnya, kedua siku Papa Leigh bertumpu di atas masing-masing pahanya. Ia menoleh sekilas pada Keven yang jelas sudah memerah dengan garis rahang mengeras.
"Yakin, Pa. Yuki udah mempertimbangkan semuanya. Apalagi waktu turun penelitian yang gak tentu dan sample lebih baik langsung Yuki bawa ke laboratorium, jadi lebih baik Yuki kos di dekat kampus." Mantap, jelas, tegas dan lugas, begitulah nada bicara tanpa keraguan Yuki.
"Kalau kamu tau waktu penelitian yang gak tentu, harusnya kamu tetap tinggal di sini!" tukas Keven sinis. Ketidakrelaannya dibalut kekesalan, kekecewaan serta emosi frustasi dan putus asa yang tidak akan ada habisnya.
"Kalau minggu depan kamu mulai kuliah, berarti gak sampai 3 hari lagi. Apa cukup waktu kamu beres-beres tempat kos kalau lusa pagi baru pergi?"
"Pa ...," tegur Mama Agni dan Keven serentak. Ibu dan anak itu sama-sama membolakan matanya. Menatap tidak percaya pada kalimat Papa Leigh yang menyiratkan persetujuan.
Keluarga itu seakan terpecah karena keinginan Yuki yang ingin tinggal terpisah sementara. Benar, sementara dibenak mereka semua. Namun merupakan langkah awal sebelum Yuki mengungkapkan niat sebenarnya yang ingin berpisah dari Keven.
Malam semakin larut. Setelah perseteruan yang tidak berujung itu Keven pergi begitu saja. Pasalnya dirinya kalah kala Mama Agni ikut menyetujui keputusan Papa Leigh yang mengizinkan permintaan Yuki. Semua hanya demi pendidikan, begitu pikir sepasang suami istri yang sudah menganggap Yuki sebagai anaknya sendiri.
"Sejak kapan kamu merokok?" celetuk Yuki di samping laki-laki dewasa dengan tampilan berantakan. Bukan baju yang berantakan, namun rambut acak-acakan yang menghiasi raut kusut Keven.
Menghisap batang rokok yang dijepit jarinya, Keven mengabaikan pertanyaan Yuki. Hampir satu bungkus rokok berhasil dihisapnya. Terbukti dari banyaknya putung rokok yang berserakan di ujung kaki Keven yang terlapisi sandal jepit mahal.
Di pinggir jalan, tepatnya di pelataran rumah orang tuanya, Keven menenangkan diri dengan cara menyiksa lewat kepulan asap rokok. Rasa manis namun beracun yang terecap di bibir dan lidah meninggalkan sensasi nikmat yang sukses membuat Keven ketagihan.
"Mama bilang hampir sebulan ini kamu mulai ngerokok ... Berhentilah merokok, gak baik untuk kesehatan."
Beginilah Yuki. Setidak pedulinya gadis itu, namun tetap saja menaruh perhatian. Jika begini, wajar saja Keven lama-kelamaan luluh. Sayangnya Keven yang masih terdiam dan menatap punggung Yuki yang menjauh tidak merasakan nada cinta dalam untaian kalimat itu. Nanar Keven merasakan dadanya seketika terhimpit sesak.
Sekejap Keven lempar sebatang rokok yang belum habis dihisapnya. Diinjak sedikit memutar dan meludah sembarangan sebelum mendorong langkahnya mengejar Yuki yang sudah menghilang di balik pintu.
"Jangan pergi ... Aku mohon, jangan pergi," pinta Keven sendu. Ia masih di ambang pintu kamar yang terbuka, menatap pilu Yuki yang tersenyum riang sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
__ADS_1
Meski tidak saat ini juga Yuki ingin pergi, namun ia sudah memenuhi koper itu dengan segala kebutuhannya.
Menahan tangan Yuki yang kembali menyusun pakaiannya, Keven melepaskan paksa tangan Yuki dari pakaian yang hendak diletakkan. Ia jauhkan koper itu. Diangkatnya segala baju yang sudah Yuki lipat. Disusunnya kembali ke dalam lemari dengan tenggorokan tercekat, lidah kelu dan pikiran yang kalut.
"Percuma kamu kembalikan. Aku tetap akan pergi. Keputusan aku udah bulat."
"Nggak!" tolak Keven tanpa membalik badannya. Ia tetap fokus mengembalikan baju Yuki ke dalam lemari. Mengosongkan isi koper tanpa sisa.
Memutar tubuh dan menghampiri Yuki, Keven meraih kedua telapak tangan Yuki ke dalam genggamannya. "Aku sadar selama ini aku banyak mengabaikan kamu. Aku tau aku udah terlalu bersalah sama kamu. Tapi aku mohon, jangan kayak gini. Kamu udah kasih aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Jadi jangan pergi dari rumah ini. Kalau sekarang kamu gak nyaman kita tidur sekamar, aku bisa tidur di restoran. Tapi tolong jangan berusaha menjauh dari aku ... Aku mohon ...," ucap Keven mengiba.
"Seperti yang aku bilang, aku hanya perlu ruang untuk sendiri saat ini. Kamu bisa berjuang. Kamu bisa dapatkan kesempatan dari aku. Tapi bukan berarti aku gak bisa nentuin keinginan aku saat ini maunya apa, kan?" balas Yuki tenang, nyaris tanpa emosi yang terlihat. Nyatanya Yuki meredam gejolak di dada agar tidak muncul ke permukaan.
Dulu Yuki berusaha mati-matian memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Meski dipenuhi keacuhan dan ketidakpedulian, namun ia tetap bertahan. Tidak ingin pernikahan yang tidak diinginkan itu hancur begitu saja.
Tapi kini di saat ia lelah, mengapa Keven justru ingin bertahan?
Mengapa di saat ia menyerah selalu saja Keven mengurungnya dalam situasi yang sulit?
Tersiksa. Yuki benar-benar tersiksa dengan segala takdir yang berhubungan dengan Keven.
...****************...
*
*
*
Diperjuangkan saat kita menyerah, rasanya seenggak enak apa ya?š¤
By the way, follow/add IG dan FB aku ya ... Kali aja nanti oleng ada spoiler di sanaš¤ (Untuk yang di FB acc lama, trauma acc semua pertemanan malah zonkš)
IG : @hi.onelight
FB : Hana Hikari
Terima kasih udah mengikuti kisah Yuki š
__ADS_1