Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Semur Jengkol


__ADS_3

“Kamu ….”


“Apa?” ketus Yuki memotong ucapan Keven. Memicing sengit sambil mencebik dan menyilangkan tangan di depan dada. Benar, keduanya sudah tidak bergandengan tangan lagi. Tapi sama-sama berjalan ke tempat parkiran.


Menggeleng, Keven hembuskan nafas perlahan. Kobaran amarahnya dalam sekejap padam. Ia mulai meyakinkan diri bahwa obrolan dua gadis itu hanya basa-basi tanpa isi. Meski tetap berhasil menyulut emosi.


Sementara itu Keven yakin ada sesuatu yang salah, namun masih menjadi misteri apa kesalahannya. Tapi jelas bukan dipicu emosi sesaat Yuki karena datang bulan. Nyatanya sudah 11 hari berlalu dari pertemuan terakhir mereka.


“Kamu suka sama cewek rambut pendek?” Tiba-tiba suara Yuki menggema bagai mengintrogasi. Sorot selidik dan awas terpancar tajam dari sepasang bola mata yang sesekali mengedar. Cukup mengagetkan pula hiruk pikuk di sekitarnya didominasi wanita berambut pendek dari gaya sebahu hingga potongan bob yang berani.


“Ng ….” Memiringkan kepala, Keven sengaja memutus perkataannya. Diteliti ekspresi Yuki yang terlihat serius, penuh selidik dan tanya yang menuduh. Sontak kerutan halus di dahi Keven semakin bertambah. Kedua alisnya bahkan nyaris bertaut karena mengerut.


“Jadi kamu nggak suka?” tanya Yuki lagi dengan mata semakin menyipit.


Seketika radar bahaya seakan berdengung nyaring di telinga Keven. Praktis ia bingung sekaligus dilema pada pertanyaan tanpa sebab dari Yuki.


“Bohong banget,” ketus Yuki sambil membuang pandangan ke langit biru. Mengabsen gumpalan awan hitam yang menyelip bergerak perlahan.


Sejatinya udara siang menjelang sore itu terasa dingin menyegarkan. Namun Yuki justru kepanasan. Cukup wajar karena baru saja keluar dari gedung besar berpendingin kualitas super ditambah kesal tanpa kejelasan.


Flashback On.


Aroma laut tercium pekat. Baunya seakan menempel lekat bercampur wangi parfum dan keringat di kaos crop top yang Yuki pakai. Samar-samar sensasi manis, kecut dan masin saling mendominasi kala Yuki endus kerah kaosnya.


“Panas,” keluh Yuki saat baru saja menginjakkan kaki di bawah terik matahari, berpayung langit cerah pagi hari yang sudah memanas. Spontan Yuki mengibaskan kemeja oversized yang tidak dikancing itu kuat-kuat. Namun sejuknya tidak bisa mengalahkan sengatan terik matahari.


“Neng, kurang dua rebu.”


“Eh, iya, Pak … maaf.” Menyengir malu, Yuki jelas terkejut oleh celetukan suara di sisi kanannya. Buru-buru ia rogoh selembar uang dua ribuan dari tas selempang. Mengulurkan tangan menyodorkan kekurangan pembayaran angkot yang baru saja dinaiki.


Lalu tanpa kata lagi Yuki pergi dengan langkah riang. Sesekali berlari diselingi loncatan kecil. Terkadang menyapa pepohonan dan serangga-serangga yang mengabaikannya seolah sudah menjadi teman lama.

__ADS_1


Yuki sengaja mengambil jalan memutar. Berhenti untuk berswafoto. Tentu bukan hanya sekali dua kali, tapi puluhan kali jepretan.


Namun dalam sekejap senyum Yuki luntur. Ia berjalan mundur merundukkan badan. Mengendap-ngendap dengan tatapan tajam tidak lepas dari sepasang manusia berlainan jenis yang tampak asik dalam sebuah perbincangan.


Tanpa sadar Yuki meremas geram tas yang dijinjing. Ia katupkan gigi rapat-rapat sambil merengut tidak suka. Entah mengapa Yuki ingin menjadi mata-mata.


“Sama siapa?” gumam Yuki sambil menyipitkan mata. “Bukan Kak Alia deh, tapi senyum-senyum gitu. Kok mencurigakan … siapa sih?!”


Kepala Yuki menyembul sebatas separuh wajah dari balik dinding samping bangunan paling pinggir. Ia seakan familiar pada postur tubuh wanita berambut sebahu di hadapan Keven. Tapi 100 persen diyakini bukan Alia. Tak ayak Yuki mengerutkan dahi sambil memutar otak.


“Mirip suster ngesot di klinik Mas Dion. Tapi masa … hei, nggak mungkin. Bisa jadi itu pelanggan biasa yang kebetulan mirip aja.” Terkekeh hampa, Yuki menggeleng menampik tebakannya. Seketika buru-buru ia bersandar sambil berjongkok dan memegangi dada kiri kala Keven hampir menatap tepat ke arah persembunyiannya.


Sedetik.


Dua detik.


Yuki pelan-pelan kembali mengintip.


Deg.


“Gak bener ini.” Lagi-lagi Yuki menggeleng. Pikirannya kosong namun bibirnya tersenyum getir. “Ngaku cinta mati tapi di dadah-dadah cewek lain, senyum?! Sumpah … kenapa aku kesal? Gerah!!”


Panas pagi hari itu rupanya tidak sepanas kobaran di mata Yuki. Baranya bahkan tersisa mengasapi kecemburuan yang tidak ingin Yuki akui.


Flashback Off.


“Bekiicoot ….” Suara nyaring yang berpotensi memecah gendang telinga mengalun panjang. Tersampaikan dengan lantang berkat bantuan angin yang berhembus searah. Siapa lagi pemilik suara itu jika bukan Dimas.


Pemuda yang berlari kencang berakhir merangkul Yuki dengan sedikit memiting itu bahkan tampak tidak peduli pada kehadiran Keven dan tatapan penasaran orang-orang. Ia fokus menyalurkan kebahagiaan bercampur kesal pada sang sahabat yang baru bisa ditemui. Tidak hanya sampai sebatas rangkulan, Dimas juga menjitak disertai usakan gemas di puncak kepala Yuki.


“Argh!! Cuit bego, lepas!” teriak Yuki sambil memberontak. Mendorong dengan telapak tangan tepat menempel di wajah Dimas. Seketika tubuh Dimas terhuyung ke belakang. Tentu bukan karena dorongan Yuki, melainkan tarikan kasar yang Keven berikan di kerah baju Dimas.

__ADS_1


Pletak.


“Kurang ajar!” umpat Yuki yang baru saja mendaratkan sentilan di dahi Dimas. Sejenak ia regangkan otot leher yang syok akibat ulah Dimas.


Sedangkan Keven, jelas menghadiahi tatapan sinis pada Dimas. Ia berdiri dalam posisi siap memblokade segala bentuk serangan Dimas, pemuda tengil yang sekilas menjulurkan lidah mengejek.


“Wah-wah, wah … gak tau terima-kasih ini bocah. Udah ngabarin tiba-tiba, nggak bawa oleh-oleh, malah sekarang main sentil. Nggak bakal aku kasih semur jengkol Tante Lauritz!" ancam Dimas dengan seringai lebar seiring dagunya terangkat angkuh.


"Enak aja! Tante Liz pasti masak buat aku, iya kan?!"


“Anda siapa? Anak terbuang nggak usah ngaku-ngaku dibuatin makan. Sono pergi lagi nggak usah pulang. Udah dicoret dari daftar tuyul.”


“Idih, udah dia yang tukang nyuri lauk. Mana buruan kasih bekal beracunku?!” ucap Yuki sewot dengan tangan menengadah tidak sabaran.


“Di motor. Ambil sendiri. Rajin kali mau aku tenteng ke mana-mana.” Kalimatnya boleh menolak, namun langkah kaki Dimas malah mengarah pada jajaran kursi besi di luar Swalayan.


“Cuit pemalas,” cibir Yuki sambil mengekori Dimas.


“Bekicot lemot!” balas Dimas sengit.


“KHEM-KHEM!!” dehem Keven kuat. Benar-benar menguji kesabaran berada di antara dua makhluk doyan keributan. Tapi yang pasti Keven cemburu pada kedekatan Yuki dan Dimas meski diatasnamakan persahabatan.


Menoleh ke belakang, Dimas mengembangkan senyuman. “Batuk Bang? Garuk, hehe …,” ucap Dimas sekenanya. Ia menyengir tanpa dosa sambil mempraktekan gaya menerkam, bukan menggaruk.


“Ck … lebay,” gumam Yuki sambil memutar bola matanya malas, hampir terlontar bersamaan dengan ujaran Dimas.


“Nih,” ucap Dimas tiba-tiba seraya menyodorkan tas bekal makanan bergambar lumba-lumba dari Tante Lauritz, milik Rian, adik Ara.


“Katanya di motor. Emang banyak bacot ya, Cuit. Sembarangan lagi di tinggal gini. Kalau digondol kucing gimana?” Bukannya berterima-kasih, Yuki justru melontarkan protes.


“Udah dibawain masih juga ngomel. Kirain tinggal di pulau bibirnya ikut ditinggal, ternyata sama aja kayak kain rombeng. Udah ambil nih! Jangan dimakan waktu naik ro-ro. Jangan menyebarkan polusi perjengkolan.”

__ADS_1


"Perlu digarisbawahi sekarang aku naik speedboat. Nggak akan bisa ongkang-ongkang kaki sambil ngunyah cantik kayak naik ro-ro. Lagian aku nggak langsung balik ke sana. Besok mau ketemu Papa dulu. Makanya aku mau ambil motor di Nita," ucap Yuki senang sambil menggoyang-goyangkan kunci motor di depan wajah tanpa menyadari tatapan melotot Keven.


Seperti yang Yuki katakan, keesokan harinya gadis itu sudah mengarungi jalan panjang di bawah terik matahari. Sempat berhenti beberapa kali guna mengisi bahan bakar dan tentu saja lambungnya yang keroncongan. Meskipun begitu, Yuki tetap bahagia karena tidak lama lagi bisa bertemu Papa Gibran. Tidak peduli pula ia lelah dan berpeluh sebesar durian setiap berhenti di lampu merah.


__ADS_2