
Dua jam sudah sejak Mama Maria dikebumikan. Yuki belum juga beranjak dari samping gundukan tanah bertabur bunga yang masih basah. Ia tidak menangis. Tidak pula meraung ataupun menjerit histeris.
“Sayang, ayo pulang,” bujuk Keven sambil merangkul bahu lesu Yuki. Namun gadis itu hanya diam seribu bahasa. Kepalanya menggeleng samar dengan sorot mata kosong.
Sejenak seulas tarikan tipis terpatri di kedua sudut bibir, menghiasi wajah sayu yang seolah kehilangan cahayanya.
“Mama sendiri,” lirih Yuki serak diiringi gelengan kecil.
Sepersekian detik kemudian, tangan Yuki bergerak cepat menangkap kelopak-kelopak bunga yang tertiup angin. Menyusun di puncak gundukan tanah sambil meracau gumaman tidak jelas. Seakan berbisik menceritakan keluh-kesah ketidakrelaan atas kepergian sosok yang terkubur di bawah sana.
Keven tetap setia berjongkok di sebelah Yuki. Merangkul dengan cengkeraman lembut. Jemari kanannya yang bertengger di bahu hampir menyentuh lengan atas Yuki. Perlahan tangan itu berpindah mengusap punggung ringkih yang merunduk seraya berkata, “it’s ok kalau kamu masih mau di sini, tapi aku temenin ya?”
Yuki mengindahkan kalimat Keven. Ujung jari telunjuknya terlalu asik menyusuri tepian kelopak bunga merah muda dengan pangkal putih. Bahkan tidak mempedulikan kaki kesemutan karena terlalu lama berjongkok.
Jangan ditanya pula seberapa remuk badan yang menolak asupan makanan itu setelah menempuh perjalanan panjang untuk kembali ke Kota B. Ditambah lagi harus melewati prosesi pemakaman yang menguras seluruh energi dan emosi.
Benar, Mama Maria dikebumikan di salah satu pemakaman umum Kota B. Semuanya atas permintaan Yuki, bukan semata-mata agar lebih dekat darinya. Namun Yuki ingin Mama Maria pulang meski sudah tidak bersamanya lagi.
“Sekarang tinggal kita berdua. Gak apa-apa kalau kamu mau nangis. Ada aku di sini.”
Bisikan Keven sukses membuat air mata Yuki tumpah. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Bibirnya digigit agar tidak mengeluarkan isakan tangis yang memilukan.
Guncangan tertahan itu dapat Keven rasakan berkat dahi yang kini menempel di kepala Yuki. Sorotnya jatuh mengamati jari-jemari kurus yang meremas tanah.
Tidak berselang lama keduanya tersentak oleh gemuruh guntur dan seberkas kilat di langit mendung. Rupanya kilau sinar mentari sudah cukup lama menghilang, tertutupi awan hitam yang bergerak perlahan ke arah utara.
...----------------...
Di antara sedih atau bahagia, Yuki tidak tau dirinya tengah berdiri di mana. Hidupnya tetap berjalan seperti sedia kala, namun di dalam dirinya seakan ada monster yang terus menggali lubang besar.
Rupanya begini lah kehilangan sebenarnya. Ia tidak mampu hanya untuk sekadar melihat satu sama lain. Terpisah oleh kenyataan jikalau yang ditemui setiap berkunjung ke pemakaman hanya jasad yang perlahan termakan proses alam, terkamuflase di bawah gundukan tanah yang sudah memadat.
“Halo Mama Yuki?”
__ADS_1
Gadis yang termenung itu seketika menoleh. Wajah lesu penuh keputusasaan sekejap berbinar bahagia. Sejenak Yuki mengerang kala memaksa kaki yang entah sejak kapan kesemutan berdiri secara mendadak.
“Kok gak bilang-bilang mau datang? Aku gak ada siapin amunisi rumpi nih. Oya, Elly udah boleh diajak keluar? Gak bahaya, kan? Ya ampun lucu banget tidurnya. Bangun dong cantik, bangun. Mama belum pernah lihat kamu nangis,” cerocos Yuki dengan gemas.
Tentang panggilan Mama, semua sudah atas keputusan bersama kedua perempuan bersahabat itu. Tidak disangka-sangka gurauan ringan saat masih duduk di bangku perkuliahan bisa menjadi kenyataan.
"Ini kaos kaki dari aku ya, Ra?"
"Iya, lucu kan?"
"Lucu parah, gemoy. Kirain bakal gak muat. Kaki bayi kecil banget." Yuki mengangguk dengan mata tidak lepas memandangi Elly, putri kecil sang sahabat. Bayi mungil yang terbuai dalam tidur nyenyak. Tenang tidak terusik sedikit pun meski Yuki colek-colek ujung jari kakinya.
Akan tetapi tiba-tiba mata Yuki mengedar, dahinya mengerut kala kehadiran seseorang yang dicari tidak terlihat. "Kamu ke sini sendiri?"
"Kak Yuki matanya udah rusak? Ada aku di sini," sahut pemuda yang duduk di undakan lantai.
"Bukan kamu, Jon. Ajudan Kakakmu mana?"
"Mas Rava kerja lah. Memang pengangguran kayak Kakak."
"Ini lagi cari uang jajan tambahan."
"Dia baru malak uang jajan, tapi syaratnya disuruh Mas Rava ikut ke sini, Ki. Mas Rava ada meeting, jadi tadi cuma ngantar terus langsung pergi. Makanya Jona yang nemenin," jelas Ara sebelum Yuki sempat menyemprot tanya pada Jona.
“Mentang-mentang iparnya crazy rich dipalakin,” cibir Yuki yang dibalas sikap acuh oleh Jona. Tampak pemuda itu hanya mencebik sekilas dan kembali asik memainkan ponsel.
“Oya, ada akar kelapa dari Mama. Mamas kasih itu kantongnya ke Kak Yuki.”
“Akar kelapa?” gumam Yuki seraya meraih kantong kresek merah dari tangan Jona.
“Oh, kue. Aku kira akar kelapa beneran. Buat apa gitu, kan,” kekeh Yuki sambil mengeluarkan satu pack setengah kiloan berisi kue kering bernama akar kelapa itu. “Ada kue bawang, sumpia sama apa ini lupa namanya? Kumis kucing ya? Eh apaan sih? Kue tai kucing apa kue gabus kan bilangnya yang kayak stik keju gitu tapi manis? Udah lama gak ngemil ini. Nanti aku telepon Tante Liz, bilang makasih kurang banyak.”
Sementara itu, tidak jauh dari keduanya Keven tersenyum lega. Kehadiran Ara beserta Elly si bayi mungil benar-benar mengembalikan keceriaan Yuki.
__ADS_1
Setidaknya untuk hari ini Yuki tidak murung sepanjang waktu. Pasalnya sudah lewat seminggu lamanya perempuan itu suka termenung seorang diri. Bahkan saat diajak mengobrol sering kali mendadak terdiam dalam lamunan.
“Sayang, masuk yuk? Di ruang tamu aja ngobrolnya.”
Terperanjat, Yuki melirik pada tangan yang menyentuh bahunya. Lalu mendongak menatap Keven yang tengah melontarkan kalimat mempersilakan Ara serta Jona untuk masuk terlebih dahulu. Namun tetap berakhir Keven dan Yuki yang berjalan mendahului.
“Keasikan sampai lupa, By,” bisik Yuki sambil menyengir. Gadis itu terlihat jauh lebih riang.
“Kamu senang?” balas Keven tidak kalah lirih.
“Iya. Elly lucu. Dulu kita lihat udah gembul, kan? Sekarang kelihatan banget pipinya montok.”
“Princess kan titisan Mas Rava, Kak. Kuat nyusu,” sahut Jona yang langsung mendapat pukulan Ara.
“Mamas!” tegur Ara dengan intonasi rendah dan mata melotot tajam.
“Bener juga. Titisan Pak Rava pasti kuat nyusu, hahaha ….” Tawa Yuki pecah. Tangannya bahkan tanpa sadar bergerak asal memukul lengan Keven. Sedangkan Keven justru tersenyum lebar dan pasrah jika harus menjadi samsak asalkan Yuki senang.
"Jadi pengen cepetan punya sendiri, tapi belum diproses. Enak gak sih?" celetuk Yuki tiba-tiba sambil tersenyum penuh makna. Berhasil membuat Keven tersedak air liurnya sendiri.
"Apaan?" tanya Ara layaknya berbisik, nyaris tidak bersuara.
Sedangkan Keven sudah gelagapan. Ia gugup dan mendadak salah tingkah.
"Bikin anak, enak?"
"Mulut Kak Yuki gak ramah lingkungan. Terlalu de-la-pan be-las plus-plus. Tolong disaring ya kontennya, ada anak di bawah umur,” protes Jona jengah.
"Gak usah melototin aku, By. Aku lupa ada bocil," ucap Yuki tanpa melihat Keven. Seolah memiliki mata lain di belakang kepala.
...****************...
Terima kasih untuk semuanya yang menunggu UP kisah Yuki😘
__ADS_1
Oya, thanks juga buat yang udah kasih tips lewat iklan😍 pemasukan recehanku bertambah😎