Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Laki-Laki Munaroh


__ADS_3

“Yuki..?! Kamu yang siapin baju kerja aku?” Teriakan itu menggema di ruang persegi yang tidak luas, namun tidak pula sempit, hanya cukup pas jika ingin digunakan sebagai arena baku hantam.


“Iya.” Jawab Yuki singkat, menatap datar sosok yang berjalan santai dengan handuk yang membelit pinggangnya.


Jika di awal pernikahan mereka berlomba membawa baju ganti, maka kini tergantung kemana langkah pertama tertuju. Jika kamar mandi, tentu saja baju urusan belakangan.


Jangan kira pula tidak ada degupan jantung yang terpompa lebih cepat atau semburat rona malu, mereka adalah perempuan dan laki-laki normal, namun kini semua seolah biasa saja. Perasaan itu terbungkus dalam kamuflase sikap acuh yang saling tidak tertarik.


‘Aneh.’ Gumamnya sambil meraih pakaian semi formal yang tersusun rapi di atas kasur, lengkap dengan dalaman penutup aset masa depan yang biasanya dihindari.


“Tumben kamu siapin? Biasa juga nggak.” Celetukan itu mengundang roh burung hantu merasuki mata Yuki.


“Kalau gak mau pakai biarin aja.” Ucap Yuki ketus.


“Bukan gitu. Aneh aja kamu jadi ngurusin keperluan aku.”


“Kamu pikir kopi susu yang setiap pagi kamu seruput buatan siapa kalau bukan aku!? Kak Alia?” Ucap Yuki dengan suara meninggi, menekan nama menyebalkan yang merusak pagi indahnya.


“Gak usah mimpi!! Kak Alia sibuk memadu kasih sama suaminya saat kamu juga nikmat ngorok dan aku masak sama Mama di dapur.” Cerocos Yuki ketus, melengos membanting pintu hingga dirinya ikut terperanjat.


“Pintunya gak apa-apa kan ya?” Gumam Yuki sambil meraba dan mengusap daun pintu dengan perasaan was-was.


Sedangkan yang di dalam kamar hanya mampu mengusap dadanya yang berdebar terkejut. “Pantas rasanya beda, rupanya bukan Mama yang buatin. Lebih pahit tapi enak.” Ucapnya sembari menampilkan senyum tipis yang merekah, menghias indah wajah dengan sudut rahang kokoh yang menawan.


“Kenapa juga aku senyum-senyum gak jelas. Lagi pula buat apa dia sok perhatian.” Dengusnya dengan sudut bibir yang masih tertarik ke atas. Teringat pada sikap Yuki diawal perkenalan dan sebelum pertikaian, cukup mirip meski berkurang sikap manja dan doyan merayu. Dasar laki-laki munaroh alias munafik separoh.


“Kalian gak berangkat barengan aja?” Ucap Mama Agni dengan alis kanan yang menukik ke atas. Menatap heran sepasang pengantin yang terbilang baru namun tidak pernah memamerkan kemesraan.


“Yuki naik motor aja, Ma. Biar cepat sampai kampus. Lagian nanti kalau barengan susah waktu Yuki pulang harus cari tebengan.” Jelas Yuki sambil melirik sekilas pada sang suami.

__ADS_1


“Gak romantis banget kamu Mas. Titisan siapa sih kok gak mirip Papa, bikin kesel!!”


“Kan Mama yang buat, kenapa nanya ke Mas?”


Mama Agni menghembuskan nafas kasar. Dulu anaknya tidak sedingin dan secuek itu, namun semua berubah saat putus cinta di tahun terakhir kuliahnya.


Pertemuan tidak sengaja dengan seorang gadis yang sempat menjadi kakak kelas di SMA berujung pada kisah asmara yang kandas. Mama Agni rasanya ingin bertapa pada kisah percintaan anak laki-laki sematawayangnya yang penuh liku dan berbatu, sering dimanfaatkan tanpa status yang jelas hingga baku hantam karena tergoda istri orang yang berakhir disebut pebinor. Bersyukur kini ada Yuki yang bersedia menjadi menantunya.


“Ma, Mas, Yuki berangkat dulu ya, udah mau telat.” Ucap Yuki menyambar punggung tangan Mama Agni dan mengecupnya, tidak lupa ia juga melakukan hal serupa pada suaminya untuk pertama kali setelah lebih dari sebulan pernikahan mereka.


Yuki memang mencoba berdamai dengan hatinya yang sempat terluka lagi. Hidup hanya sekali, jika gagal dirinya bisa berjuang di lain kisah. Memang kenyataannya tidak semudah ucapan asal dari bibirnya, tapi Yuki yakin dirinya mampu melewati itu semua meski dengan menyeret tubuhnya yang penuh luka batin.


...----------------...


“Suami mu gimana?”


“Baik.” Menoleh sejenak, Yuki mengulas senyum simpul, menjawab tanpa ragu. Pada kenyataan memang kondisi suami nya baik, segar bugar, hanya Yuki saja yang berubah sering melenyot mellow.


Yuki dan Ara adalah sumber tawa barunya, teman yang saling memahami tanpa memandang rendah harga diri Dimas. Bahkan rela bersusah payah membantu Dimas mengumpulkan uang demi biaya sekolah Nita. Semua kisah mereka tidak akan pernah bisa Dimas tukar dengan harga bernilai fantastis selain kepedulian.


“Ara mana?” Tanya Yuki pada Dimas.


“Lagi fotokopi modul buat praktikum, katanya sih gitu.” Ucap Dimas sambil mengusap layar ponselnya, membalas orderan frozen food yang baru ia pasarkan. Memang bukan diproduksi langsung olehnya, namun beruntungnya Dimas diamanahkan menjadi seller salah satu tim pengolahan pangan dari jurusan Teknologi Hasil Perikanan.


“Bukannya semalam dia bilang pagi ini mau titip ke tempat fotokopi terus siang ambil?” Mengernyit heran, Yuki menautkan kedua alisnya.


“Biasa, telat.”


“Kirain udah pacaran sama Pak Rava jadi berubah doyan kebutnya.” Desah Yuki pasrah pada kebiasaan buruk Ara. Selalu telat dan tiba di waktu genting, mepet dengan jadwal perkuliahan. Bahkan harus balapan dengan langkah Dosen pengajar jika tidak ingin didepak atau hadir tapi dianggap alfa.

__ADS_1


“Dia bangun cepat, tapi siap-siapnya lama. Padahal dandan juga pakai pelembab sama bedak aja, lipstick pakai di kelas biar gak nempel sama maskernya.” Keluh Dimas dengan heran, entah apa yang membuat Ara sering terlambat.


“Tau deh Dim. Anak itu kan disuruh dandan susah, katanya mukanya kayak disemen.” Gerutu Yuki tidak habis pikir pada alasan aneh Ara.


“Jadi ingat bibirnya monyong terus waktu kamu kasih lipstick merah cabe.”


“Iya habis itu jadi terpaksa aku hapus. Niatnya kan aku make over biar ketemu Pak Rava cetar membahana, tapi malah keliatan amit-amit.”


“Ketahuan ghibahin aku, ckckck..” Mendudukkan dirinya pada bangku kosong di antara Yuki dan Dimas, Ara sudah tau memang di situlah posisinya. Semoga kali ini tidak ada badai perdebatan remeh dan semburan memekakkan telinga yang harus Ara hadapi.


“Kamu sama Pak Rava kapan nyusul?” Perkataan Dimas ditujukan untuk Ara, meski tanpa menatap lawan bicaranya, jelas yang berhubungan dengan Rava adalah Ara.


“Gak usah cepat-cepat juga, nanti nyesal.” Bukan Ara yang menjawab, melainkan Yuki dengan suara lirih. Sorot matanya meredup bak lampu senter kehabisan sumber energinya.


“Kisah Ara bisa jadi gak semiris kisah mu.” Ucap Dimas tanpa basa-basi yang langsung dihadiahi kepalan tangan menghantam lengan kirinya.


“Dulu Mas Rava juga gak mudah dekati aku, kalian tau kan aku trauma yang dalam artian sakit, punya kepercayaan rendah sama orang lain dan takut dicampakkan lagi?” Ucap Ara dengan bersikap setenang mungkin. Menoleh ke sisi kirinya, Ara dapat melihat gestur Yuki yang gusar. Bisa Ara tebak jika Yuki sedang gundah, galau merana.


“Mungkin kisah setiap orang berbeda, tapi bisa jadi lebih manis meski perjuangannya lebih super duper menyakitkan. Jika pada akhirnya kamu menyesal dan menyerah pada satu kisah itu, bukan berarti kamu berhenti berjuang untuk kebahagiaan hidup kamu sendiri, iya kan?” Tutur Ara lembut, dirinya jelas tau arti menyerah yang salah dalam hidupnya. Bersyukur Ara selalu diberi banyak kesempatan lewat percobaan bunuh diri yang selalu gagal.


*


*


*


Menuju flashback udah Hana kasih gambaran sedikit nih tentang Mas Suami (laknat), semoga nanti di saat detik-detik kilas balik bisa langsung klik.😄


Buat yang menanti UP di novel Aara, malam ini izin gak UP dulu.

__ADS_1



__ADS_2