Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Masa Lalu


__ADS_3

|MASIH FLASHBACK|


“Terima kasih ya, Kev.” Ucap Nindy tulus meski terlihat raut wajahnya menegang kaku, ia berdiri di pintu mobil Keven yang masih terbuka tepat di pelataran rumahnya.


“Iya, sama-sama. Untuk mobil kamu langsung hubungi nomor orang bengkel yang aku kasih tadi.” Ucap Keven datar, melirik sekilas pada Nindy dan kembali memusatkan pandangannya lurus ke depan. Muak, mungkin itu yang Keven rasakan saat ini.


“Maaf.” Ucap Nindy tiba-tiba, menundukkan kepala yang terasa berat hanya untuk sekedar diangkat menatap Keven. Butuh keberanian ekstra untuk mengucapkan sepatah kata ‘maaf’, apa lagi bagi Nindy dengan ego teramat sangat tinggi. Sudah cukup segala masalah yang menimpa dirinya, mungkin semua itu karma, begitulah pikir Nindy.


Mendongak dengan sedikit keraguan, tampak Keven sedang menatap heran ke arahnya. Nindy sadar, perpisahan mereka dulu tidak baik-baik saja. Lagi pula tidak ada perpisahan sepasang kekasih yang dapat disebut baik-baik saja.


Kala itu Nindy yang sudah merasa putus asa karena gagal mendekati Saka memilih berselingkuh dengan laki-laki lain yang dianggapnya bisa memberikan segalanya, termasuk kasih sayang yang tulus. Sejak awal bukan Keven yang Nindy sukai, hanya saja memang pertemuannya dengan Keven lah yang membuat Nindy mengenal Saka.


Kemudian semua itu berlanjut saat Keven menyatakan perasaan dan mengajak Nindy menjalin sebuah hubungan yang disebut pacaran. Baik Keven ataupun Nindy sama-sama bersalah dalam hubungan itu. Sebenarnya keduanya menyadari jalinan kasih yang mereka jalani tidak sehat, tidak ada cinta.


Hebatnya hubungan Keven dan Nindy yang hambar tetap berlanjut hingga pengkhianatan Nindy diketahui oleh Saka yang langsung menyuruh Nindy meninggalkan Keven. Jelas saja Saka marah sahabatnya sudah dipermainkan.


Memohon, memelas dan mengiba pada Saka agar tidak memberitahu Keven sudah Nindy lakukan, akan tetapi Saka justru langsung menghubungi Keven dan mengatakan kebenaran dari perselingkuhannya. Keven yang tidak ingin Saka terlibat terlalu jauh lantas meminta agar ditinggalkan berdua dengan Nindy saja.


Berdebat tidak berkesudahan hingga akhirnya sebuah kebenaran terungkap, Nindy yang merasa terpojok akhirnya menghardik Keven yang tidak pernah menganggap kehadirannya di hati Keven. Semua tentang perasaan diam-diam Keven terhadap Alia yang mulanya hanya dugaan semata Nindy ucapkan dengan lantang, sayangnya meski tidak dibenarkan tapi sorot mata Keven tidak menyangkal segala tuduhan Nindy. Sontak hal itu membuat Nindy semakin lancang menghardik Keven dengan berbagai macam tuduhan. Padahal saat itu posisi yang paling bersalah adalah dirinya.


Karma, mungkin benar itu yang Nindy dapatkan sekarang. Laki-laki yang dipilihnya pergi. Bahkan saat Nindy kembali menaruh hati pada seorang laki-laki yang kebetulan seorang Dokter muda bernama Dion di sebuah klinik tempat barunya bekerja, Dion jelas menunjukkan ketertarikannya pada seorang pasien yang tidak lain adalah Ara, sahabat baik Yuki.

__ADS_1


Mengambil langkah yang ternyata sekali lagi salah dengan berniat menghancurkan hidup gadis yang dicintai Dion, kini Nindy harus menerima kenyataan bahwa Dion telah menyingkirkan Nindy jauh dari jangkauannya. Satu hal lagi yang membuat Nindy tercengang adalah fakta bahwa Ara adalah kekasih saudara kandung Dion. Tampaknya ada kisah cinta rumit lainnya.


Menghela nafas panjang, Nindy menatap lekat Keven yang masih setia bungkam. Nindy tau dirinya salah, tapi bukan berarti Keven tidak bersalah. Nindy hanya ingin dicintai dan diberikan kasih sayang tanpa dicuri.


Ayahnya berhasil direbut pelakor hingga Ibunya menderita secara perlahan dan meninggal. Belum habis kesedihan yang Nindy rasakan, ia kembali terluka karena harus menerima kehadiran seorang adik perempuan dari hubungan di luar pernikahan Ayahnya.


“Maaf untuk semuanya di masa lalu.” Ucap Nindy dengan suara tercekat, seketika lidahnya kelu.


“Lupakan.” Ucap Keven singkat sambil mencengkeram erat setir kemudi mobilnya.


“Bisa tutup? Aku harus pulang.” Ucap Keven lagi, mengabaikan Nindy yang sudah berkaca-kaca.


Meraup udara sebanyak-banyaknya, Nindy menutup pintu mobil Keven. Menahan kelopak matanya tetap terbuka, ia takut jika mengerjap maka air mata yang tertampung akan luruh begitu saja.


Sedangkan Keven dengan suasana hati yang memburuk sesampai di rumah langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Mengacak kasar dengan pikiran yang kalut, cukup lama Keven bisa terlelap.


Seolah dipermainkan, saat mata yang sudah menahan kantuk tapi tidak bisa tertidur itu mulai memasuki alam mimpi, Keven harus terbangun secepatnya. Mentari sudah menyapa pagi yang begitu indah, namun tampak buruk di mata Keven. Beranjak membersihkan diri, Keven harus tetap mengawali harinya bersiap pergi ke restoran.


“Pagi Mas Keven..” Teriak Yuki nyaring kala Keven baru saja keluar dari mobilnya, bahkan telapak sepatu Keven baru saja menginjak paving parkiran restoran miliknya.


“Ck! Sial!” Gumam Keven kesal, memutar bola matanya malas Keven mengacuhkan Yuki. Melangkah melewati Yuki yang seolah transparan, Keven benar-benar menutup telinganya dari panggilan Yuki. Namun bukan Yuki namanya jika dia tidak nekat dan terus berusaha.

__ADS_1


Menghadang langkah Keven sambil merentangkan tangannya, Yuki tersenyum lebar. “Mas Keven, ini..” Ucap Yuki dengan senyum sumringah yang tidak ada bosannya, menyodorkan botol kaca mini berisi kopi susu buatannya sendiri.


Sederhana, tapi Yuki membuatnya dengan sepenuh hati. Sambil merebus air dan menakar komposisi yang dibutuhkan, Yuki selalu berdendang riang membayangkan Keven yang meminum dengan anggukan kecil dengan sangat menikmati. Jika terus membayangkan bisa-bisa jantung Yuki meletup akibat tidak mampu mengurung kebahagian yang membuncah.


Sedikit informasi sesuai perkataan Saka jika Keven menyukai warna biru, maka botol kaca yang Yuki gunakan saat ini memiliki tutup berwarna biru. Niat Yuki tidak ingin menggunakan botol itu, namun setelah cukup banyak toko, minimarket dan swalayan yang Yuki datangi tidak ada botol berwarna biru yang menampilkan ciri maskulin sesuai keinginannya, yang ada hanya biru cerah yang tampak manis. Apa lagi justru kebanyakan botol berwarna biru khas bergambar kartun anak-anak yang mendominasi.


“Minggir!” Bentak Keven tiba-tiba yang membuat Yuki tersentak. Jelas Yuki kaget dengan suara Keven yang meninggi tanpa aba-aba.


“Bikin kaget aja Mas Keven ini. Kalau aku jantungan kan bahaya, belum juga jadi pacar udah ditanam duluan. Amit-amit deh..” Cerocos Yuki dengan bibir yang tampak berkomat-kamit.


“Ini ambil, Mas. Aku tadi coba buat kopi susu yang katanya Mas Keven suka. Pagi ini kuliah ku kosong, jadi aku mampir ke sini dulu. Oh iya, aku nanti kuliah jam 10.” Ucap Yuki panjang lebar sampai menjelaskan alasan dirinya bisa datang pagi itu dan jadwal kuliah yang tentunya tidak Keven perduli kan sedikitpun.


Berusaha meraih tangan Keven, Yuki tetap menyodorkan botol minuman yang membuat telapak tangannya sedikit kepanasan. “Ayo, ambil.”


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2