Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Pantaskah


__ADS_3

Riuh deburan ombak menyapa ramah pendengaran dua insan yang berjalan beriringan. Tidak ada obrolan sepanjang 10 meter kaki melangkah. Keduanya terdiam setelah turun dari mobil. Memilih memanjakan mata dengan keindahan alami yang terawat.


“Suka?” Tanya Keven memecah keheningan. Menaikkan kacamata yang sedikit turun bertengger di tulang hidungnya. Diam-diam Keven menatap Yuki dari balik kacamata hitam yang ia kenakan. Ekor matanya jelas menangkap senyum simpul Yuki.


“Iya, suka sih, tapi di sini yang mau buat restoran?” Jawab Yuki cepat serta memberikan pertanyaan balasan. Pupil matanya sudah cukup memindai segala penjuru pantai yang masih terjangkau penglihatan. Sejauh mata Yuki memandang, tampak jelas tempat itu sudah memiliki cukup banyak restoran yang bisa menjamu seluruh wisatawan, baik lokal maupun asing.


“Bukan.” Ucap Keven singkat, melangkah lebar mendahului Yuki yang kesulitan mengekorinya. Alhasil butiran halus pasir putih pantai tidak terhindar menyelip di sela-sela jari kaki Yuki. Sandal berwarna krem yang mulanya terapit telunjuk dan ibu jari kaki kini sudah Yuki tenteng.


“Terus kita ngapain? Ini juga udah daerah resort, pasti restorannya udah ada banyak. Kalau tetap mau buat di luar wilayah ini bagus cari yang nggak jauh tapi gak dekat juga. Minimal kalau ada turis yang mau ke restoran kamu masih bisa dijangkau pakai jalan kaki.” Seloroh Yuki memberondong Keven dengan segala pemikirannya.


“Istilah rumput tetangga lebih terlihat hijau itu menurut aku juga berlaku di bisnis ini. Waktu dulu aku pernah diajak jalan-jalan sama Mama Papa juga lebih tertarik ke rumah makan di luar penginapan, kayak ada daya tarik yang beda. Padahal di penginapan itu udah ada restorannya juga. Cuma aku ngerasa bisa jadi masakannya lebih enak di luar, walaupun rupanya saat itu enak makanan di penginapan.” Lanjut Yuki berucap dan masih tidak ditanggapi oleh Keven yang setia menikmati keterdiamannya.


“Sayang, semua itu gak bisa diulang lagi.” Gumam Yuki lirih dengan sorot mata nanar. Meneruskan langkah dengan dada tercubit sakit sambil menunduk tanpa tau sosok yang berjalan di depannya sudah berbalik dan berhenti untuk menatap lekat binar bahagia yang berubah sendu.


Duk.


“Kok berhenti tiba-tiba sih!?” Gerutu Yuki sebal saat tubuh bagian depannya dan Keven saling membentur. Menyentak ke belakang kepala Yuki yang terlebih dahulu menabrak dada Keven. Tubuh yang oleng itu seketika berusaha untuk tidak terjatuh dengan mencengkeram sembarangan di lengan dan bahu Keven.


“Makanya perhatikan jalan mu!” Tukas Keven yang masih mendekap Yuki yang hampir terjatuh. Sebuah kenyamanan yang selalu ingin ia rengkuh semenjak pertama kali memeluk Yuki yang menangis tersedu-sedu.


Tidak perlu dipungkiri, melewati malam panjang menahan diri, hanya bermodal saling memunggungi dan menjauhkan pikiran kotor, Keven berhasil tidak menyentuh Yuki. Namun kini otaknya terkontaminasi kenangan hangat dan nyamannya sisa kedekatan mereka.


Desiran semu yang perlahan berbisik seolah mengatakan bahwa Keven ingin terus melindungi Yuki dalam dekapannya. Namun sebuah pertanyaan berhasil mengusik kebimbangan Keven, pantaskah keinginannya untuk melindungi Yuki saat hadirnya tidak kalah memberikan goresan luka baru di atas luka yang belum mengering.


Berbeda dengan gendongan yang pernah Keven berikan saat membawa Yuki yang tidak sadarkan diri karena dehidrasi ke rumah sakit. Tidak ada yang spesial selain rasa bersalah atas rapuhnya Yuki saat itu.


“Kheeeemm..!” Dehem Yuki kuat, melepaskan diri dan tersenyum kikuk karena nyatanya jantung Yuki masih menggetarkan debaran yang sama untuk Keven. Merutuki dirinya yang kembali membuka benih cinta yang terkubur padahal sengaja dibunuhnya, Yuki tersenyum miring sekilas dan singkat hingga tidak pernah Keven sadari.

__ADS_1


“Hati-hati.” Ucap Keven datar dengan langkah yang kembali meninggalkan Yuki. Dirinya sama berdebar nya dengan Yuki, namun menyangkal jika cinta sudah mulai hadir karena terbiasa.


Bagi Keven yang dirasakannya hanya efek terkejut dan gugup yang sangat manusiawi mendadak ia alami. Tanpa pernah pula Keven sadari jika ia mulai memberikan celah di hati untuk Yuki masuki.


“Jadi ini kita cuma survei versi lihat-lihat sambil main gitu?” Celetuk Yuki mencoba mengembalikan topik pembicaraan pada tujuan awal kepergian mereka.


“Hm.” Dehem Keven yang bak bergumam tidak jelas.


Menghela nafas frustasi, Yuki tidak tau lagi harus bagaimana untuk mendobrak kecanggungan. Percuma dirinya banyak berkicau hingga berbusa jika lawan bicaranya seirit Keven.


Seandainya boleh ditukar tambah, maka Yuki lebih memilih menghadapi sosok jelmaan gletser yang sedang bucin, siapa lagi kalau bukan pacar Ara. Setidaknya laki-laki yang lebih tua 4 tahun dari Keven itu akan to the point menyuruhnya diam dan menyingkir, bukan mengabaikan tanpa kata seperti yang sedang dilaluinya ini.



Menatap lamat-lamat punggung kokoh di depannya, Yuki sangat ingin memberikan tendangan bebas hingga si empunya jatuh terjungkal. Terkekeh hanya dengan membayangkan hal itu terjadi, Yuki membuang pandangannya ke segala arah agar khayalannya tidak membuat Keven curiga.


“Kayaknya seru.” Imbuh Yuki yang masih sangat lirih.


“Kamu mau?” Tanya Keven tanpa memutar tubuh atau sekedar menolehkan kepala melirik Yuki. Seolah ada mata di belakang kepala Keven, kini Yuki memicingkan matanya dengan imajinasi dunia fantasi jika Keven mungkin manusia jadi-jadian.


“Memang boleh kalau aku mau?” Celetuk Yuki yang terdengar seakan bertanya, nyatanya menyindir Keven yang pasti tidak akan mau kesusahan dengan membiarkan Yuki bertingkah kekanakan.


Tanpa kata Keven meninggalkan Yuki yang mendengus sebal hanya diberi harapan palsu. Terus-menerus selalu begitu. Menyesal Yuki menyetujui ajakan Keven agar menemani survei lokasi strategis untuk restoran barunya.


Menendang pasir pantai yang dipijak, Yuki berlari tergopoh-gopoh mengejar Keven. Tekstur pasir pantai yang tebal dan kering membuat setiap pijakannya menghasilkan longsoran kecil yang mengubur ujung jari-jemari kakinya.


“Tungguin kenapa?!” Pekik Yuki yang kesal karena kesusahan mengejar langkah lebar Keven yang jauh di depannya.

__ADS_1


“Ninggalin mulu dari tadi! Tau kok kalau kamu memang ahlinya bikin aku terabaikan, tapi gak gini juga..!! Udah minta tolong ditemani, malah buat orang kesel. Tau gitu aku tidur di rumah. Minimal bisa bebas mau jungkir balik sekalipun. Dari tadi jalan gak tentu arah, gak jelas banget!!” Gerutu Yuki kesal dengan bibir berkomat-kamit cepat. Yuki kembali menjadi seorang rapper kenamaan yang siap konser bersama deburan ombak sebagai musik pengiring.


Berlari mengejar Keven yang mengulum senyumannya, Yuki semakin dibuat berang. Spontan saja Yuki menyenggol kasar lengan Keven hingga tubuhnya terhuyung. Bukan tubuh Keven, melainkan tubuhnya yang kalah bobot justru mental.


“Kalau mau ketawa ya ketawa aja! Nahan-nahan apaan senyum-senyum gitu! Bibir mu itu berkedut kelihatan. Hiissh..!! Stress!!” Mendelik sebal, Yuki berkata dengan sewot disertai dengusan kasar. Seketika di mata Yuki sosok Keven berubah menjadi seonggok steik yang ingin dikoyak bar-bar dengan gigi taringnya.


“Udah puas?” Ucap Keven santai, melepas kacamata yang dikenakan dan menatap Yuki acuh.


“Apaan!!?” Tanya Yuki nyolot, kobaran amarah masih betah menyulut pusat emosi yang memblokir nalarnya.


“Marahnya.” Jawab Keven singkat sambil tersenyum miring.


“BELUM!!” Teriak Yuki dengan hentakan kaki dan sandal yang dihempas kasar.


“Hm.” Mengangguk seakan tidak perduli, Keven hanya menanggapi amukan tertahan Yuki dengan deheman kilat.


‘Astaga, Yuki.. Kenapa bisa jatuh cinta dan dinikahi makhluk kayak gitu sih? Dosa apa yang telah dikau perbuat??’ Membatin miris Yuki dalam hati ingin melemparkan diri dalam gulungan ombak.


...****************...


*


*


*


Sekali lagi untuk yang mau join di grup chat ku masukan kode izin berupa nama sahabat Yuki saat klik masuk grup chat ya🥰 Mohon maaf, jika tidak menyebutkan nama kedua sahabat Yuki maka tidak di acc🙏

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti kisah Yuki🥰


__ADS_2