
Dua sosok wanita berbeda umur sama-sama saling terpaku, mengamati satu sama lainnya. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sudah cukup lama keduanya tidak memiliki kesempatan untuk dipertemukan. Mungkin semenjak kehebohan yang membuat wajah salah satu wanita yang lebih tua seakan dilumuri kotoran.
"Tante? Mari ... Silakan masuk, Te," ucap Alia memecah keheningan. Dengan canggung Alia melebarkan daun pintu, mempersilakan masuk pada sosok tamu yang tidak lain adalah Mama Agni.
"Gimana kandungan kamu?" tanya Mama Agni seraya mengarahkan tangannya pada perut Alia. Tidak terlihat membesar, namun tangan renta itu berhasil merasakan perut yang membulat kecil.
Mengangguk kikuk, Alia tersenyum canggung. "Ba-baik, Tante."
"Jaga kesehatan kamu. Jangan suka maksa diet-diet lagi ... Udah berapa bulan?"
"Udah 13 minggu, Tante," lirih Alia. Jujur saja ada rasa haru saat Mama Agni mendatangi dirinya tanpa sorot ketidaksukaan sedikitpun.
"Orang tua kamu belum pulang juga?"
Menggeleng lemah Alia menjawab singkat pertanyaan Mama Agni, "mereka sibuk."
"Selalu aja mereka itu. Entah apa yang dikejar sampai setua ini masih sibuk kerja-kerja dan kerja berlebihan gitu," gerutu Mama Agni kesal.
Tidak dipungkiri sebagai seorang ibu dirinya geram pada mantan tetangganya yang selalu menomorsekiankan Alia. Lebih mengutamakan mengejar materi dan menyerahkan segala tentang anak satu-satunya pada Bibi pengasuh.
"Mereka tau kamu hamil?"
Mengangguk Alia mengiyakan pertanyaan Mama Agni. "Udah dikasih tau Bibik."
"Sekarang Bibik ke mana?"
"Tadi Alia minta salad buah, jadi mungkin Bibik ke swalayan belanja ... Alia ambilin minum dulu ya, Tante mau yang dingin atau hangat?"
"Gak usah, Al. Kamu di sini aja. Tante belum haus kok ... Oh iya, ini Tante ada bawain camilan yang bagus untuk ibu hamil. Kalau kamu gak ada selera makan nasi, coba makan biskuit atau oatmeal ini dulu. Tapi tetap dipaksa makan nasi ya, jangan sampai nggak. Bayi kamu perlu nutrisi."
"Makasih ya Tante tetap perhatian sama aku."
"Kamu itu udah Tante anggap anak sendiri. Dari kamu kecil juga Tante udah kenal." Sendu Mama Agni menatap Alia yang terlihat semakin kurus.
"Tante harap hubungan kamu sama Keven tetap baik. Meski sekarang hubungan kalian gak bisa sama seperti dulu, setidaknya kamu masih bisa menganggap Keven saudara kamu sendiri ... Saat ini Keven udah bahagia dengan keluarga kecilnya. Semoga nanti kamu juga bisa seperti Keven," ucap Mama Agni lagi, mengimbuhi kalimatnya sekaligus memperjelas batasan antara Alia dan Keven.
Diam-diam Alia mengepalkan tangan geram meski bibirnya tersenyum patuh pada perkataan Mama Agni. Ia tidak rela jika Keven harus berbahagia dengan Yuki, anak kecil yang sempat menarik perhatian Saka dan Keven bersamaan. Terlebih lagi justru Yuki berhasil menjadi istri Keven.
Berbahagia? Tidak. Ia sudah kehilangan Saka, maka Alia tidak ingin ditinggalkan Keven juga. Cukup dirinya merutuki keputusan menerima lamaran Saka. Padahal ia hanya ingin selalu diperhatikan oleh kedua laki-laki itu. Sama seperti saat mereka masih di bangku pendidikan dan sebelum muncul kehadiran Yuki.
"Apa Saka udah tau tentang kehamilan kamu?" tanya Mama Agni lembut, takut melukai perasaan Alia. Ia juga tau bahwa tidak mudah menghadapi kehamilan seorang diri. Apa lagi dengan status pernikahan yang sudah usai terlebih dahulu sebelum kehamilan itu diketahui.
'Lebih baik dia gak tau dan jangan sampai tau!' membatin Alia sambil menggigit bibir bagian dalamnya.
"Alia?" panggil Mama Agni seraya menjatuhkan usapannya pada tangan Alia yang bertumpu di atas paha. Pasalnya wanita hamil muda itu gusar, terlihat dari pupil matanya yang bergetar. Alia justru terdiam tanpa menanggapi pertanyaan Mama Agni.
__ADS_1
"I-iya, Tante ...." Mengerjap cepat, Alia tersentak dari lamunan singkatnya.
"Keven udah cerita ke Tante tentang kalian. Jika suatu saat Saka tau, Tante yakin dia tetap akan senang. Selama ini Saka kelihatan penyayang dan suka anak kecil. Jadi kamu jangan khawatir berlebihan saat ini. Fokus sama kehamilan kamu aja. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi Tante, karena Tante jelas lebih paham tentang ibu hamil dibanding Keven. Apa lagi anak itu sekarang sibuk banget."
Mengusap salah satu punggung tangan Alia yang digenggamnya, Mama Agni memang sengaja datang khusus untuk membatasi hubungan Alia dan Keven. Berharap Alia cukup paham dengan makna tersirat dari setiap ucapannya. Karena mendadak Mama Agni tidak tega bila harus menegaskan secara langsung mengingat kondisi Alia yang juga membutuhkan perhatian. Tentu itulah alasan utama Mama Agni selain untuk melihat kondisi Alia saat ini.
"Kamu harus bisa belajar menerima Saka jika suatu saat nanti dia mau bertanggungjawab atas anak kalian ... Sebenarnya Tante cukup kecewa dengan kalian bertiga yang sama-sama terlalu gegabah. Tapi semoga ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua."
"Iya," jawab Alia singkat, terkesan enggan dan malas. Tentu sangat kentara di mata Mama Agni yang memilih bersikap seolah tidak menyadarinya.
Kebahagiaan Keven yang tersembunyi dari senyuman tipis bersama Yuki yang tanpa sengaja dilihatnya membuat Mama Agni mantap mengambil langkah ikut campur. Salah satunya dengan mendatangi Alia. Mungkin saja kedepannya akan lebih sering dan gencar lagi agar peluang kesempatan Keven bertemu Alia semakin menipis.
Sedangkan anak dan menantu yang sedang Mama Agni jaga keutuhan rumah tangganya sibuk bersitegang. Seperti sudah habis manis-manisnya.
Berawal dari pembicaraan singkat tanpa persetujuan bersama di restoran hingga berlanjut di kamar mereka.
Brak.
Bunyi benda keras membentur tepi ranjang memantul ke segala penjuru kamar.
"Kamu gak bisa ambil keputusan ini sendiri! Aku gak izinin kamu untuk keluar dari kamar ini, apa lagi keluar dari rumah ini!" ucap Keven lantang. Gema suaranya samar-samar terdengar hingga ke lantai dasar.
"Aku kasih kamu kesempatan bukan untuk mengekang aku!" balas Yuki tidak kalah sengit. Matanya berkilat marah karena koper kesayangan dihempas kasar oleh Keven.
"Tapi harusnya kamu hargai aku sebagai suami kamu, Ki!" sungut Keven dengan suara mendesis marah.
"Ya anggap aja kita LDR!!" Melipat tangan di depan dada acuh, sedetik kemudian Yuki menarik kopernya. Meneliti setiap sisi yang mungkin saja tergores.
Sejenak Yuki terdiam dengan mata membulat. Hidung gadis itu kembang-kempis, mengalahkan banteng mengamuk kala mendapati bekas goresan sepanjang setengah senti di sudut kopernya.
Bugh!
"Argh ... Sssh ...," desis Keven seketika, meringis saat betisnya dihantam kasar oleh koper berbahan plastik. Tidak ketinggalan kepalan kuat mendarat di paha kokoh Keven. Terhuyung ke belakang Keven yang terperanjat pada serangan tiba-tiba Yuki.
"Apa-apaan sih kamu??!" bentak Keven meninggi. Marah pada sikap Yuki yang kasar dan semena-mena.
"Lecet ini!! Anggap aja itu ganti rugi!!" Dengus Yuki kesal. Sedikitpun ia tidak merasa bersalah.
"Kamu bahkan baru aja pergi lebih dari 40 hari, Ki," protes Keven yang masih tidak terima dengan keputusan Yuki. Tidak akan pernah Keven setujui permintaan Yuki untuk keluar dari rumah orang tua Keven. Atau lebih tepatnya untuk tinggal seorang diri di sebuah kontrakan.
"Itu juga tugas kuliah ku, bukan kemauan aku sendiri."
"Please, Ki ... Kamu jangan egois! Kita baru aja setuju untuk mulai semuanya dari awal. Kamu sendiri yang kasih aku kesempatan!"
"Aku butuh ruang untuk aku sendiri."
__ADS_1
"Ruang? Ruang apa lagi? Di sini kamu tetap bisa ngerjain skripsi kamu!! Aku janji gak akan ganggu kamu. Jadi gak usah cari-cari alasan untuk keluar dari rumah ini!!"
"Aku gak pergi sekarang. Saat semester 7 di mulai, aku baru akan pergi. Aku mau fokus untuk urusan aku sendiri. Aku bahkan udah dapat tempat kos yang bisa aku pakai," jelas Yuki sambil mengisi kopernya dengan beberapa helai pakaian yang biasa dikenakannya untuk kuliah.
"Berani kamu ambil keputusan itu tanpa diskusi dengan aku? AKU INI SUAMI KAMU, YUKI!!"
Memejamkan matanya, Yuki menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memprediksi jika Keven pasti akan menolak keputusan yang diambilnya. Namun Yuki tetap akan pergi. Tekadnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
Jujur Yuki sadar jika saat ini dirinya memang egois. Tapi biarlah keegoisan ini yang membuat Keven semakin yakin untuk memperjuangkannya atau akan melepaskannya begitu saja. Bahkan kini Yuki cukup berdebar mengingat pengajuan gugatan cerainya yang pasti sedang diproses.
"Aku kasih kamu kesempatan, bukan kekangan!"
"Terus dengan sikap kamu yang kayak gini, di mana kesempatan itu? Kasih tau aku sekarang, di mana kesempatan yang kamu kasih itu!!??" Menjambak dan meremas kuat rambutnya, Keven putus asa, kecewa dan jelas frustasi dalam menghadapi Yuki.
"Saat ini aku juga lagi kasih kamu kesempatan untuk membuat aku kembali nyaman."
"Maksud kamu?" tanya Keven dengan rahang mengeras. Kepalan tangannya menahan seluruh amarah yang meluap.
"Bukannya udah jelas kalau aku sekarang gak nyaman sama kamu?"
Deg!
Dalam sekejap ekspresi marah Keven berubah menjadi sorot nanar. Ia terluka, namun juga diliputi penyesalan. Raut wajah datar Yuki membuatnya ketakutan. Cinta yang selalu Yuki bisikan padanya seakan sudah terkikis.
Wajah mungil nan cantik itu tidak menatapnya dengan cinta yang sama lagi. Keven sadar, namun ia ingin menolaknya.
'Nggak! Nggak! Kamu gak boleh pergi!' tolak Keven dalam hati. Lidahnya kelu untuk merangkai kalimat yang sejujurnya ingin diteriakkannya itu.
...****************...
*
*
*
Ada yang penasaran tentang Saka?š¤
Oiya, aku lagi sibuk meninggalkan hobi doyan rebahan, jadi menghambat proses halu. Sedang berjuang mengumpulkan cuan untuk beli kuota biar tetap bisa updateš¤
Dulu aku sempat dilema di antara 2 pilihan, antara lanjut sekolah atau kerja, tapi akhirnya aku gagal keduanya ... Jadi, semoga kali ini aku gak jadi korban PHP lagiš (Lah jadi curhatš¤£)
Maaf juga belum bisa balas semua komen, nanti ada waktunya untuk bertapa melototin komenš
Terima kasih untuk semuanya yang udah mendukung kisah Yukiš
__ADS_1