Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Siap Tidak Bahagia


__ADS_3

“Huuh … Untung sepi. Bisa gila aku kalau ada yang lihat.” Bersandar pada dinding panas yang terpapar terik matahari, Yuki membiarkan lelehan peluh di pelipis mengalir bebas. Padahal ia tidak berlari, hanya sedikit berjalan cepat namun berpacu dengan keberuntungan dan nasib malang yang menghantui.


Memasang mata setajam elang dan radar melebihi kekuatan sinyal tower pemancar, Yuki mengamati kondisi sekitar. Benar-benar keberuntungan tidak ada yang berlalu-lalang di sekitar area toilet. Sedikit kelegaan meredakan debaran kencang di dada.


Mengulas senyum tipis, Keven reflek mengusapkan ibu jari kanannya di pelipis Yuki. Tidak disangka aksinya mengekori Yuki sampai ke toilet bisa semanis ini. Meski sejatinya tindakan itu adalah sebuah spontanitas dikala secercah kesempatan tercipta.


“Ck! Nyebelin!” Mendelik marah Yuki menepis usapan lembut Keven. Bibir mungil gadis itu manyun diiringi hembusan kasar dari lubang hidung.


Berbeda dengan Yuki yang merengut mendung, Keven malah terlihat sangat bahagia. Sudut bibir laki-laki itu semakin melengkung naik. Seakan ada kelinci kecil yang berlarian di hamparan bunga musim semi yang tumbuh bermekaran di dalam hati. Sangat menggemaskan dan menakjubkan.


Sayangnya Keven lupa atas alasan utama kelinci itu berlarian. Mungkin juga tidak peka jika kelinci itu kehilangan arah atau bahkan sedang berusaha melarikan diri.


Beralih pada kenyataan, sedikit banyak menjalar pula kehangatan dari sebagian anggota tubuh Keven. Berharap hal itu bisa menjadi kebahagiaan yang kekal. Pasalnya pergelangan tangan kiri Keven masih dalam genggaman Yuki. Tentu saja Yuki tidak menyadarinya. Gadis yang berlindung dari sengatan sang mentari itu bahkan tidak sadar jika Keven sengaja memasang tubuh kekarnya sebagai perisai.


‘Kenapa sih senyum mulu?’ Memalingkan wajahnya, Yuki bergumam dalam hati. Sikap Keven yang terang-terangan memperhatikan dirinya membuat Yuki mendadak salah tingkah.


“Ini gak seperti kamu.” Suara Keven memecah keheningan, menarik atensi Yuki yang sempat terdiam kehilangan kata-kata.


Sepasang suami-istri itu kini saling berpandangan, cukup singkat karena Yuki langsung menundukkan wajahnya. Niat hati ingin menghindari kontak mata, namun apa yang terlihat di bawah sana sontak membuat pupil mata Yuki membesar.


Siapapun yang melihat pasti akan mengira Yuki tidak ingin berjauhan dengan Keven. Seolah ingin memonopoli laki-laki dewasa di hadapannya ini lewat genggaman yang begitu posesif.


Spontan Yuki melepas genggaman erat tangannya, bersedekap sambil berdehem singkat mengurai rasa malu yang menumpuk. Bertingkah acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi daun telinga memerah disertai semu merebak di pipi serta tengkuk tidak bisa menutupi apa yang sebenarnya Yuki rasakan.


“Harusnya kamu lawan mereka … Kenapa tadi kamu tahan aku?”


“Kamu kaget?” Terkekeh Yuki menertawai ucapan Keven. Sepersekian detik kemudian didorongnya dada bidang Keven dengan jari telunjuknya seraya berkata, “buat apa? Kamu mau nambah masalah aku?”


Menghela nafas berat, Yuki menatap lekat Keven yang bergeming. “Lagian terima kasih karena seseorang aku jadi terkenal. Kapan lagi bisa viral dan diingat banyak orang, iya kan?” ucap Yuki remeh dengan sorot sinis dan bibir menyeringai. Intonasi datar Yuki memang terdengar santai, tapi nanar yang terpancar di balik sorot sinis sukses merubah telunjuk ringkih menjadi ujung tombak yang tajam bagi seorang Keven.


“Maaf ….” Lagi-lagi Keven hanya mampu merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Dulu yang dipikirkan Keven hanya cara tercepat agar Yuki tidak bisa mengelak darinya. Ia tidak peduli tindakan ceroboh kala itu menjadi boomerang, namun tidak pula memikirkan nasib Yuki yang akan menerima segala cemoohan. Sekarang semua sudah terlambat, boomerang itu benar-benar datang, tapi lebih buruk dari yang disangka-sangka.


“Udah kecanduan kata maaf ya? Basi tau. Gak guna maaf mu itu.” Mengibaskan tangan di depan wajah, Yuki benar-benar tidak peduli pada permintaan maaf Keven.


“Untuk apa kamu di sini?” lanjut Yuki berucap.


“Aku ….” Keven terbata. Entah bagaimana harus menjelaskan maksud kehadirannya. Kepercayaan diri yang dibalut keangkuhan tiba-tiba hilang karena rasa bersalah yang baru.


“Satu bulan,” lanjut Keven berucap mantap sambil menatap lekat wajah bingung Yuki. Jujur ia sedang tidak percaya diri. Kegelisahan yang bergejolak seakan sulit dikendalikan.


Mengernyit heran, Yuki tetap diam, menunggu penjelasan selanjutnya yang bisa ditebak sudah di ujung lidah Keven. Ia menaikkan kedua alisnya, praktis semakin menambah kerutan di dahi.


“Beri aku kesempatan 1 bulan untuk menjadi suami kamu. Kita hidup bersama. Hanya kita berdua. Setelah itu kamu bebas jika tetap ingin melanjutkan perceraian yang kamu mau. Aku akan menuruti kemauan kamu.”


“Bukan waktu yang lama, tapi bukan juga waktu yang singkat. Dari pada aku habiskan dengan main rumah-rumahan, lebih baik aku fokus selesaikan skripsi yang jelas untuk bekal masa depan. Permintaan kamu ditolak," cerocos Yuki panjang lebar diakhiri ekspresi muak yang tergambar jelas. Sengaja dipertunjukkan pada Keven agar secepatnya sadar bahwa apapun yang Keven lakukan akan tetap gagal.


Sedangkan Keven, tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kondisi laki-laki itu atas jawaban yang Yuki berikan. Namun bukannya menyerah, Keven kembali memutar otak. Akan tetapi Keven yang belum sempat menanggapi jawaban Yuki kembali terbungkam oleh kalimat yang Yuki lontarkan.


“Yuki … Aku-"


“Sstt! Aku masih mau bicara,” ucap Yuki cepat. Telunjuknya mengambang di depan bibir. Suara lirih yang lemah namun sangat tegas keluar dari bibir yang bergerak pelan.


“Aku sakit bukan karena hati kamu belum menerima aku. Tapi sakit karena kamu menggunakan pernikahan untuk tidak terikat dalam jalan pernikahan itu sendiri. Ngerti kan apa yang aku maksud?" Yuki menjeda kalimatnya, ia butuh pasokan oksigen yang melimpah. Sedetik kemudian Yuki kembali berkata, "hanya beruntungnya sejak kamu mengikat aku sebagai istri, di situ aku udah siap untuk tidak bahagia. Termasuk siap untuk menghadapi kondisi kita saat ini. Ya walaupun gak pernah aku bayangkan kamu akan bertindak sejauh ini, seolah benar-benar mencintai aku.”


Keven menurunkan suaranya, menatap nanar Yuki yang ingin dipeluknya. “Aku memang benar-benar mencintai kamu, Ki. Aku terlambat mengakui, bukan pura-pura,” tegas Keven menyangkal tuduhan pura-pura mencintai yang Yuki sematkan.


“Ya-ya, ya …,” sahut Yuki acuh sambil menggerakkan kepala pelan sesukanya. Yuki mulai jengah mendengar kalimat cinta yang Keven lontarkan. Pasalnya Yuki masih sulit untuk mempercayai kebenaran dalam pengakuan Keven yang tiada henti didengarnya itu. Terkadang diam-diam sudut hati Yuki tergelitik geli, namun tiba-tiba berdarah sakit.


“Tidak ada pilihan yang membuat kita berdua bahagia. Bersama atau berpisah selalu ada yang terluka,” ucap Keven dengan bibir bergetar. Lidahnya kelu untuk meloloskan kalimat selanjutnya. Ia tidak ingin, namun melihat sorot kecewa yang penuh luka meski terkesan masa bodoh dari Yuki membuat Keven rendah diri.


Bukan ini yang mulanya Keven inginkan. Bukan pula yang diharapkan menjadi nyata, tapi semoga menjadi pilihan dan kesempatan terbaik lewat pendekatan yang tidak terduga.

__ADS_1


“Mari kita jalani proses perpisahan ini dengan tetap menjadi teman ... Kenalkan, aku Keven, kamu?” Tangan Keven menggantung di udara, menanti Yuki sambut. Jujur saja jiwa Keven sudah menangis pilu, memberontak hebat ingin menerjang benteng kokoh yang memisahkan dirinya dan Yuki. Tapi Keven sadar, semakin gigih dan menggebu dirinya berusaha, maka Yuki semakin kuat menolak hadirnya.


Tanpa menyambut uluran tangan Keven, Yuki hanya mengulas senyum simpul. Gadis itu berbalik badan dan berlalu pergi tanpa kata. Tidak mempedulikan Keven yang memanggil namanya.


Di belakang bangunan megah Fakultas Kelautan, Keven menatap nanar punggung Yuki yang perlahan menghilang. Ia menghentikan langkah. Melepaskan Yuki pergi dengan beribu kepedihan yang terkoyak. Sangat sakit.


Senyuman Yuki bagai pintu yang ditutup rapat untuk hubungan mereka. Jabatan tangan yang tidak berbalas, menggantung kosong di udara bagai katup gembok yang resmi dikunci. Kini Keven harus mengais milyaran kunci yang berserakan untuk membuka pintu hati Yuki yang terkatup rapat.


Drrtt ... Drrtt ...


📩


Istri


Kita berteman saat kamu kooperatif di sidang cerai nanti. Buktikan. Dimulai dari mediasi seminggu lagi.


Sebuah pesan masuk atas nama 'Istri' tidak membuat raut kesedihan di wajah Keven sirna. Justru semakin bertambah parah. Laki-laki itu mendadak sesak dan nyeri menusuk di ulu hati.


Benar, Keven sudah merubah nama Yuki di daftar kontaknya. Dari yang semula hanya 'Yuki' saja menjadi 'Istri'. Semuanya berubah semenjak Keven menyadari bahwa perasaannya pada Yuki benar-benar sebuah rasa cinta.


Tapi kini Yuki seolah tidak tersentuh sama sekali oleh kesungguhan Keven. Keduanya seperti sedang bertukar peran, persis saat pertama kali Yuki mengakui cintanya pada Keven. Penolakan bertubi yang Keven berikan sudah berbalik menyerang dirinya sendiri, bahkan akan lebih parah lagi.


“Sebenci itu kamu sama aku, Ki? Baiklah ... Demi kebahagian kamu, aku akan mengalah. Semoga takdir kembali menyatukan kita," lirih Keven sendu. Masih ditatapnya layar ponsel yang menampilkan pesan singkat dari Yuki.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih untuk semuanya yang tidak mengalah menanti kisah Yuki😍


__ADS_2