Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Menantu Express


__ADS_3

Kompleks perumahan itu sepi. Sebagian penghuninya mungkin masih sibuk bekerja meskipun akhir pekan, selebihnya bisa dipastikan mengurung diri. Wajar, terik matahari siang ini lebih cocok digunakan untuk menjemur cumi-cumi kering. Persis seperti yang Yuki lakukan di halaman belakang rumah Mama Agni.


“Bawa ke dapur dulu, bisa?”


“Nanggung, By,” sahut Yuki pada suara tegas Keven. Ia bergerak cepat meraup sebagian cumi dari nampan bundar yang dirasa cukup kering untuk didinginkan dalam suhu ruang sebelum disimpan.


“Bandel. Kamu itu belum sembuh.”


“Masa iya? Udah kok, dikit. Sekarang juga ada kamu yang payungin. Tenang aja,” balas Yuki santai dengan dengung suara sumbang. Parau karena pilek yang baru saja mendera. Namun sifatnya yang ceria hampir mampu menyamarkan sayu di bawah kantong mata.


Sedetik kemudian Yuki mendongak, menyengir tanpa dosa pada Keven yang dibuatnya gemas. Laki-laki itu mengusak lembut puncak kepala Yuki. Meraih ember kecil berisi cumi kering. Mendorong pelan bahu Yuki dengan punggung tangan yang memegangi gagang payung.


“Buruan masuk. Kita harus siapin makan siang buat semuanya.”


“Kamu mau minta aku pencitraan udah bantu masak padahal cuma jadi tukang icip-icip?”


“Itu tugas penting,” sahut Keven singkat dengan seulas senyum tipis. Membiarkan payung terbuka di ambang pintu. Ia melesat masuk meletakkan seember cumi kering dan bergegas kembali keluar melipat payung.


Sedangkan Yuki sudah berlalu ke ruang tengah, tempat para orang tua berkumpul. Masih pula dengan tangan beraroma amis menyengat dari cumi-cumi kering yang diobrak-abrik sesuka hati.


Kini, hal yang dikira mimpi itu nyatanya sebuah kenyataan. Bahkan jauh lebih baik dari sekadar perkiraan Yuki. Angannya jelas mengatakan jika Papa Gibran akan kembali melontarkan penolakan. Namun yang ada hingga saat ini adalah Papa Gibran yang justru banyak diam. Memang terkesan acuh tidak setuju, tapi juga tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya menjurus penolakan.


Pembicaraan serius penuh makna diakhiri makan siang itu benar-benar di luar dugaan. Tidak hanya bagi Yuki dan Keven, namun semua orang. Sungguh sangat menyenangkan bisa menyaksikan senyum, tawa dan canda menyelingi obrolan yang terkadang serius juga banyak basa-basi. Mungkin terkecuali untuk Papa Gibran yang entah harus disebut seperti apa suasana hatinya saat ini.


“Aku titip Yuki ya, Mbak. Maaf loh kalau udah terlalu banyak ngerepotin,” ucap Mama Maria disela pelukannya bersama Mama Agni.


“Malah seneng Dek Mar kalau Yuki bisa main ke rumah tiap hari. Tapi anak dua itu sibuk terus sekarang. Coba Yuki udah tinggal di sini lagi,” balas Mama Agni tulus.

__ADS_1


“Mau gimana lagi kan masih sibuk-sibuknya mereka. Biar sama-sama belajar cari rejeki bareng. Kita orang tua ngalah dulu,” imbuh Papa Leigh menimpali perkataan Mama Agni yang tersirat sedikit sesal.


"Iya, Mas. Sebenernya aku lebih tenang nitip Yuki sama kalian di sini. Tapi ya mereka ini kan agak beda, takutnya jadi omongan tetangga. Gak enak pula."


"Namanya bertetangga. Gak selamanya rukun," ujar Mama Agni membenarkan.


"Mbak Maria, ayo," ajak Bunda Inka sambil menggendong sang buah hati yang terlelap.


"Pamit dulu ya, Pak, Bu," ucap Bunda Inka lagi sembari menatap Mama Agni dan Papa Leigh secara bergantian. Spontan diikuti oleh Mama Maria dan Papa Gibran.


"Gak sabar besanan lagi," gumam Mama Agni lirih sambil membalas anggukan dan senyum ramah dua sosok perempuan di dalam mobil.


Bukan rahasia lagi jika sejak awal Mama Agni sudah jatuh cinta oleh pesona polos Yuki. Jauh sebelum gadis itu menjadi menantunya. Sorot teduh yang selalu mengekor bahkan tidak Keven sadari tertangkap nyata oleh sepasang indera penglihatan Mama Agni. Poin demi poin yang tertulis semu menambah daftar keinginan untuk menjadikan Yuki anaknya, tentu lewat jalur menantu express.


“Ma, Pa, hati-hati … Bunda, Dedek juga,” ucap Yuki dengan kepala menyembul masuk ke jendela mobil yang masih terbuka lebar. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan keluarganya.


“Gib!” tegur Mama Maria dengan suara rendah. Memang setelah berpisah wanita itu lebih memilih memanggil sang mantan suami dengan panggilan santai, bahkan kini menjadi lebih galak. Semua bermula dari kekurangajaran yang keterusan.


“Emang kalau aku bilang nikahnya berubah besok bukan beberapa bulan lagi Papa mau?” ucap Yuki dengan senyum menantang. Hampir saja ia meledak sewot. “Kayaknya Papa udah gak sabar pengen nimang cucu. Sabar, Pa, tenang. Nanti aku sama Mas Keven bikinin kesebelasan sampai tim flash mop sekalian biar Papa puas menimang cucu setiap tahun.”


Tanpa Yuki sadari ucapannya membuat wajah Keven memerah. Tersipu dengan pikiran kotor yang mendadak mendobrak akal sehat. Sementara itu Mama Agni bersorak girang, mendukung sepenuh jiwa raga menanti kehadiran deretan malaikat-malaikat kecil duplikat Keven dan Yuki.


...----------------...


Beberapa hari setelah pertemuan ajaib namun nyata, semua berjalan seperti biasa. Yuki dan Keven semakin sibuk bekerja. Namun libur di minggu yang akan datang mereka telah berjanji untuk berkencan. Tidak jauh-jauh, hanya ingin menikmati waktu dari fajar menyingsing sampai senja menyapa di tepi pantai.


“By ….” Loncatan dan lambaian kecil menyambut Keven dari kejauhan.

__ADS_1


Gadis yang siap berkarang dikala pantai surut sore itu tampak lucu dengan sepatu boots plastik merah muda. Mungkin untuk sebagian orang terlihat berlebihan, namun Yuki hanya terbiasa menerapkan standar sesuai SOP penelitian. Teringat pula seorang teman yang menginjak ikan batu saat dengan percaya diri menjelajahi keindahan bebatuan karang sambil memanen kerang milik alam tanpa alas kaki.


“Sok mesra tapi ba-bi ba-bi.”


“Berisik ya setan!” ketus Yuki sewot. Agak kesal bisa bertemu Dimas yang kini berdiri di belakangnya.


“Halah, bener kan ba-bi?”


“Baby!! B-A-B-Y, BABY!” eja Yuki lantang dengan mata melotot garang.


“Nah kan bener. Asek, aku menang.”


“Gak jelas.”


“Nih lihat ... hubby honey bee konon. Bener aku, baby. Otak kecilmu emang paling gampang ditebak. Menang taruhan, hahaha ….”


Merampas ponsel yang Dimas sodorkan, Yuki terbelalak pada isi percakapan Ara dan Dimas. Tapi terbaca jelas jika taruhan yang Dimas gaungkan hanya perjanjian sepihak. Terlihat dari balasan Ara yang kebanyakan hanya sebatas emotikon malas berupa ekspresi mata dan bibir datar.


“Minggir,” perintah Keven penuh penekanan. Bibir yang melengkung naik sirna saat mendapati kehadiran Dimas. Padahal tidak ada 10 menit Keven meninggalkan Yuki yang asik sendiri untuk membeli es campur dan bakso dari pedagang keliling. Tapi dalam sekejap ada saja serangga yang siap menempeli sang pujaan hati.


“Bang Keven sangar gini dipanggil baby.”


Sekali lagi Dimas tertawa kencang. Ia menjelma sebagai pengganggu sejati. Mengobati patah hati yang sedang menggerogoti lewat sepasang manusia yang mendengus kesal padanya.


...****************...


Terima kasih udah baca kisah Yuki sampai sejauh ini ❤ Jangan bosan dan lari ke lain hati tanpa intip-intip si Yuki😆

__ADS_1


__ADS_2