
Jari-jari ramping Yuki menyapu tepian meja kayu ala mini bar. Terhenti sejenak sebelum membalikkan badan. Kembali ia bawa telapak tangannya mengusap sebuah meja dengan kursi saling berhadapan. Sedetik kemudian hembusan nafas pelan nan berat terlepas dari bibir Yuki yang terbuka tipis.
“Sejak kapan?” tanya Yuki sendu pada laki-laki yang baru saja meletakkan tas dan kardus besar miliknya.
Sekilas mata bulat Yuki mengedar, memasang raut wajah sedih pada penampakan yang bahkan tidak ada seperempat dari Lux Fantasy. Namun sekejap Yuki memaksa tersenyum pada dua wajah yang tidak terlihat asing, memberinya senyuman ramah dan anggukan kecil. Mereka adalah orang-orang yang pernah Yuki temui kala masih bekerja di restoran Keven.
“Belum lama, baru sebulan,” jawab Keven seolah paham arah pertanyaan yang Yuki ajukan. Bersikap tenang meski cukup miris pada kondisinya yang belum stabil, tapi telah Yuki ketahui.
Berlalu dari sisi Yuki, Keven memesan minuman dingin dan beberapa camilan pada pegawainya. Lalu bergegas secepatnya menarik mundur sebuah kursi dan mempersilakan Yuki duduk. Akan tetapi hal itu tidak membuat keduanya berakhir saling berhadapan. Yuki masih sibuk mengabsen setiap inci sudut gerai sederhana milik Keven, atau lebih tepatnya bangunan minimalis yang Keven sewa setelah hampir kehilangan segala hal yang dimiliki.
Lagi-lagi Yuki menghela nafas tertahan, ada sesak yang sulit didefinisikan. Bukan iba karena kesulitan yang Keven alami, namun sesuatu yang mendobrak tangis di pelupuk mata. Ia merasa tidak berguna dan hanya menjadi beban bagi Keven.
“Aku … nyusahin,” lirih Yuki, “kamu kenapa nggak pernah cerita? Apa karena aku yang jadi jahat?”
“Hei, kenapa?”
Ibu jari dingin Keven menempel pada kantung mata Yuki. Menyentuh garis mata yang ditumbuhi rambut tipis. Telapak tangannya yang tidak kalah dingin menangkup wajah mungil Yuki. Sontak wajah gadis itu mendongak. Namun benar saja, dalam satu kali kerjapan mata Yuki sudah berkaca-kaca.
Sukses pemandangan berkabut sendu itu memuncakkan dilema pada seorang pelayan yang ingin menyuguhkan pesanan Keven. Jika saja Keven hanya seorang pengunjung biasa, bukan bos tempatnya bekerja, mungkin ia masih memberanikan diri menyela suasana yang tercipta.
"ATM, hehehe," kekeh Yuki tiba-tiba sambil mendorong pelan telapak tangan Keven. Spontan Keven mengernyit bingung dengan kesadaran yang tersentak. Buru-buru ia menjauhkan tangan ke bawah meja, meletakkan di atas paha dalam gerakan canggung.
"Kamu mau ke ATM?" tanya Keven dengan polosnya.
__ADS_1
Mengibaskan tangan, Yuki menggeleng cepat. "A-T-M, ada tai mata, bukan mau ke ATM.”
“Nggak ada kok,” balas Keven sambil mengamati wajah Yuki lamat-lamat.
“Bukan aku, tapi kamu, dulu …,” ucap Yuki dengan seulas senyum tipis yang dipaksakan. Gadis itu menatap teduh Keven dibumbui perasaan campur aduk.
Berasap bagai air mendidih di teko, Keven mencengkeram kuat pahanya dengan sebelah tangan seiring semu merah memenuhi wajah. Kembali ia teringat celetukan Yuki tentang tai mata saat dirinya sudah berusaha tampil semenawan mungkin. Namun sekejap rasa malu itu berubah menjadi kekehan kecil di antara Yuki dan Keven yang bersirobok pandang.
“Kamu udah nggak perlu ke sana lagi? Atau hanya pulang ke sini sebentar?” tanya Keven tiba-tiba, tentu bukan untuk mengalihkan topik pembicaraan, melainkan benar-benar ingin mengetahui berapa lama Yuki akan tinggal di Kota B. Ia akan berusaha memaksimalkan waktu untuk bisa bersama Yuki.
“Tadinya tiga sampai seminggu menginap di rumah Tante Liz. Kalau di rumah Ara bisa mati kena virus bucin, tapi … huft! Aku mungkin memang gak tau diri, bahkan dari dulu memang gak tau malu, kan? Jadi sekalian aja aku nyusahin gak masalah kali ya. Hmm … boleh aku tinggal lebih lama dan ikut di semua kegiatan kamu?” Sorot mata tegas yang tersirat sedikit keraguan itu menatap lurus tepat pada sepasang bola mata Keven. Tidak bergetar meski tangannya saling meremas gusar.
Jujur saja Yuki merasa bertanggung jawab atas kesulitan yang menimpa Keven. Bahkan alih-alih meringankan, ia justru terkesan membebani laki-laki itu dengan target-target impiannya. Mungkin tekad yang mendadak muncul untuk campur tangan bukan pilihan terbaik, tapi Yuki berharap bisa sedikit saja membantu Keven.
“Atau gini aja, biarkan aku yang belajar handle pembeli lele. Jadi kamu fokus di kerjaan kamu sekarang, gimana? Bisa, kan?”
“Tapi nggak ada keuntungan sedikitpun yang kamu dapat, Mas!” ucap Yuki dengan suara rendah dan berat. Sekilas terdengar mirip rengekan dari gadis yang memasang ekspresi cemberut.
Sejenak Yuki membuang pandangan. Tanpa sengaja saling menatap dengan seorang pelayan yang menyengir kikuk karena terpergok mengintip interaksi Yuki dan Keven. Sontak gelagapan karena tersadar lupa mengantar pesanan Keven. Bahkan bongkahan es batu dalam minuman dingin itu sudah banyak yang mencair.
“Kayaknya aku udah terlalu lama ganggu waktu kamu. Maaf ya udah ngerepotin gara-gara minta ikut.” Menggeser kursi dan berdiri, Yuki berjalan menghampiri tas besar yang berada di meja lain.
“Ke mana lagi kamu mau pergi?”
__ADS_1
“Ke rumah orang tua Ara. Aku udah izin untuk nginap di sana, mungkin sampai tiga hari aja. Setelah itu, entahlah … aku harus cari tempat kos sementara.”
“Pu-”
“Sebentar ya, aku harus telepon Nita dulu. Dia pasti dari tadi nungguin kabar dari aku,” ucap Yuki memotong perkataan Keven.
Dalam sekejap Yuki sudah berhasil mencari nomor kontak Nita dari ponsel pemberian Keven. Segera ia sentuh ikon pemanggil yang tanpa menunggu lama sudah menghasilkan dering bersahutan. Sejenak ia menunggu agar sambungan itu terjawab di seberang sana.
“Nita? Adik Dimas?” tanya Keven memastikan seraya bergerak ke sisi kiri Yuki yang berdiri bersedekap.
“Iya. Kebetulan motorku dipakai Nita, jadi bisa aku minta selama aku di sini.” Angguk Yuki singkat sambil melirik Keven sekilas.
“Jangan hubungi dia. Ada aku … pakai punyaku. Nggak perlu minta motor kamu lagi,” cegah Keven sembari menurunkan ponsel yang menempel di telinga Yuki. Menggenggam pergelangan tangan gadis itu sambil menjalarkan harapan agar Yuki menurut lewat sorot lemah yang teduh.
Entah mengapa Keven merasa bahwa bukan Nita yang akan datang, melainkan pemuda yang sempat memberinya ultimatum bila tidak bisa membahagiakan Yuki. Praktis kecemburuan Keven merebak pada ketulusan berbalut persahabatan yang Dimas sembunyikan. Karena pada dasarnya sebagai sesama laki-laki, Keven sadar arti sebenarnya dari perhatian Dimas.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih udah menanti kisah Yuki😍
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443H/2022M untuk semua umat muslim yang merayakan🥰