
“Mahal banget, Nit. Itu 1 lembar apa segelondongan?” Terbelalak, Dimas mengurungkan niatnya, menarik kembali tangan yang sudah merogoh dompet miliknya.
“Selembar aja.” Ucap Nita memelas, melirik sekilas pada Ara dan Yuki dengan canggung. Ia melangkah mendekat dan berbisik di telinga Dimas. “Abang gak ada uang ya?”
“Ada. Ya udah siap-siap sana kita cari.” Putus Dimas, tidak ada uang juga pasti akan dirinya usahakan ada demi memenuhi semua kebutuhan adik-adiknya.
“Kalian mau di sini atau pulang terserah deh, puas-puasin aja. Aku mau antar bocil itu dulu.” Ucap Dimas pada Yuki dan Ara yang sedari tadi diam menyimak.
“Ikut aja deh, Dim. Mau kan Ki?” Ucap Ara disertai melontarkan pertanyaan kepada Yuki. Membiarkan Yuki kembali ke rumah sebelum melepas lelah di hati bukan pilihan yang tepat menurut Ara.
“Boleh lah, suntuk juga gak ada kelas niatnya kan kita mau ngumpul.” Jawab Yuki menyetujui ide Ara, dirinya bisa sekalian refreshing atau sekedar cuci mata jika ada cowok ganteng yang berlalu-lalang.
“Kamu gak mojok sama Pak Rava, Ra?” Tanya Dimas setengah mencibir. Waktu Ara benar-benar dimonopoli kekasihnya, apa lagi jika melihat kebersamaan Ara dengan Dimas, rasanya Dimas seperti disayat sinar laser dari mata yang menyorot tajam.
“Orangnya kerja, lagian ini waktu buat kita.” Perkataan Ara memang benar, ini masih waktu orang-orang sibuk berjibaku dengan pekerjaannya. Berbeda dengan mereka yang bisa dikategorikan pengangguran banyak acara musiman.
“Awas nanti dia cemburu lagi sama aku yang masih unyu-unyu ini.” Ujar Dimas sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangan ke pipi dengan raut wajah dibuat seimut mungkin, mata terpejam dan senyum mengembang.
“Dih, ngaca sana Dimas.” Ucap Ara sedikit keras.
“Ganteng kok. Lumayan-..”
“Abaaaang.. Ayo buruan..!!” Teriak Nita yang tiba-tiba sudah nangkring berpanas-panasan di atas motor Dimas. Entah sejak kapan motor yang terparkir di teras rumah itu berpindah tempat tanpa disadari oleh Dimas.
Melaju dengan kecepatan sedang, Dimas membonceng Nita sambil sesekali melirik ke kaca spion, memerhatikan Yuki dan Ara yang juga berboncengan dengan motor matic milik Ara. Tampak tawa dan canda tersungging sepanjang jalan, segala macam topik seru dibahas habis tanpa sisa.
“Gimana? Ada?” Pertanyaan Dimas tertuju untuk Nita yang sudah mengobrak-abrik keranjang berisi kertas karton.
“Gak ada Bang..”
“Kan udah aku bilang ke toko buku yang di mall itu aja.” Sela Yuki saat mendapati jawaban Nita.
“Tau nih Abang, tadi bilang ke sini aja yang dekat, lengkap terus pasti ada.” Omel Nita menyetujui ucapan Yuki.
__ADS_1
“Ya kan ada karton nya, itu buktinya di keranjang ada kan..” Ucap Dimas membela dirinya sendiri.
“Tapi yang Nita mau gak ada dudul.” Tukas Yuki dengan suara rendah dengan gigi terkatup rapat.
“Ya udah ke mall aja langsung. Nanti keburu sore gak ada waktu buat Nita ngerjain tugasnya.” Sela Ara sambil merangkul bahu Nita yang tingginya hampir sepantaran dengannya.
“Mall mana nih?” Tanya Dimas sambil mengenakan helm.
“Di sini mall mana lagi selain yang biasa kita datangin main timezone?!” Ucap Yuki sewot.
“Iya-iya, jangan nyolot gitu deh Ki.”
“Emosi aku lama-lama.”
Berlalu meninggalkan toko buku 2 lantai yang tidak menjual karton sesuai keinginan Nita, keempat orang itu kembali melaju menembus keramaian jalanan. Saling berbalas kericuhan klakson dengan tidak sabaran saat lampu berwarna kuning samar berubah menjadi hijau.
Menempuh perjalanan yang cukup menyita waktu karena sempat terjebak macet acara hajatan, kini mereka sudah bernafas lega saat udara pendingin ruangan menembus serat baju dan menyapa kulit.
“Yuk, Ra, naik aja dulu.” Ajak Dimas pada Ara tanpa menoleh, tatapannya sudah terpaku pada Nita yang berjalan cepat di depannya.
Sedangkan Ara masih memandang Yuki dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba merundung hatinya. Mengenyahkan segala firasat buruk yang mungkin terjadi, Ara sempat berpikir mungkin Yuki akan keseleo sedikit karena terlalu buru-buru.
Namun sayangnya bukan kaki Yuki yang akan tersakiti. Di sudut berbeda di lantai yang sama dengan Dimas, Ara dan Nita, sepasang laki-laki dan perempuan dewasa sedang sibuk bercengkrama memilih sebuah tas keluaran terbaru.
Terpasang cantik di etalase dan rak yang mengkilap, tampak mewah, elegan dan tentunya mahal karena barang asli, bukan imitasi seperti yang sering Yuki kenakan. Meski bukan seharga puluhan bahkan ratusan juta, namun tentu tidak bisa dibandingkan dengan tas yang bisa Yuki beli 100 ribuan dapat 3 plus bonus sebuah gantungan kunci.
“Kamu suka yang itu? Beneran?”
“Iya, ini bagus banget. Lucu, simple terus murah, cuma 900 ribu aja.”
“Ya udah, ambil ini aja sesuai pilihan kamu Al.”
“Sini biar aku aja yang bawa.” Meraih sebuah trapeze bag berwarna soft pink, Alia berjalan riang dengan mata berbinar menuju kasir. Desain sederhana dari tas berbentuk trapesium itu benar-benar memanjakan mata.
__ADS_1
“Habis ini kita jalan sebentar terus lanjut makan malam ya, kamu setuju kan?” Tanya Alia sambil menyelipkan rambut ke balik daun telinganya, merangkul tanpa canggung yang ditepis perlahan dengan lembut.
“Aku gak mau ada salah paham lagi sama suami kamu. Kita bertiga udah lama bersahabat, jangan karena hal ini hubungan kita tambah rusak.”
“Kamu udah gak sayang sama aku? Cuma habisin sedikit aja waktu kamu sama aku.” Tanya Alia dengan suara bergetar seolah menahan tangis.
“Lagi pula seharusnya kita gak gini Al, aku sadar orang-orang pasti salah paham dengan kedekatan kita.” Jawabnya putus asa, sangat frustasi menjalani sesuatu yang sudah diketahui sebagai kesalahan.
“Dimas, cepat turun cari Yuki. Cegah dia buat liat pemandangan mengerikan ini!!” Perintah Ara dengan sorot tajam, tangannya mengepal ingin menguliti pemilik jemari indah yang sibuk menggerayangi lengan suami milik perempuan lain.
“Ada apa Ra?” Tanya Dimas bingung, dirinya tidak menyadari pemandangan yang tertangkap sepasang mata Ara.
“Lepas sandal kamu sebelah, terus langsung cegah Yuki naik. Nita duluan aja ke toko buku ya Dek, nanti Kakak susul.” Ucap Ara dengan wajah datar tanpa mengalihkan pandangannya hingga membuat Dimas akhirnya tersadar pada sesuatu yang aneh.
Membulatkan matanya, Dimas siap menyerbu dengan amarah yang tiba-tiba memuncak. “ Sialan!!”
“Stop Dimas. Kamu tau aku gak bisa sembunyikan emosi yang udah meluap. Bantu aku urus Yuki, biar mereka urusan aku.”
“Kak, Bang, ini mau apa sih?” Celetuk Nita tiba-tiba dengan ekspresi penuh tanda tanya. Ia bingung melihat Dimas dan Ara yang tiba-tiba marah.
“Kamu duluan sana, sekarang!” Perintah Dimas setelah sempat menghembuskan nafasnya. Menciut tidak berani bertanya lagi, Nita sudah berjalan gontai seorang diri, bahkan berpapasan dengan objek yang membuat emosi Dimas dan Ara membludak.
*
*
*
Paham aja lah ya yang udah kenal Ara. Ayo kita sama-sama tersenyum menyambut atraksi Ara besok.☺
Yang belum tau tentang Ara, bisa mampir ke novel pertama “Aara Bukan Lara”.😘
__ADS_1