Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Floramaria, Bukan Inka


__ADS_3

Termenung dalam angannya yang tidak tentu arah, Yuki masih sibuk mencerna segala sesuatu yang mungkin telah terjadi. Otaknya sempat berpikir jika dirinya salah alamat, namun saat mengingat lebih jauh ke belakang maka Yuki yakin bangunan yang didatangi adalah rumah yang sama seperti 3 tahun lalu.


Ditambah lagi dengan keterkejutan atas sosok asing yang ada dihadapan Yuki. Salah satu hal yang membuat Yuki tidak mengambil kesimpulan jika wanita yang membukakan pintu merupakan asisten rumah tangga adalah penampilannya yang tampak seperti pekerja kantoran. Meski terlihat dia belum sempat berdandan, namun cukup dari pakaian yang dikenakan Yuki sudah bisa menebak jika wanita itu sedang mempersiapkan diri untuk bekerja.


“Ada perlu apa ya, Mbak?” Tanya sosok wanita itu pada Yuki yang diam terpaku, menyentak kesadaran Yuki yang sempat melayang bersama pikirannya yang kemana-mana.


Berdehem singkat, Yuki mengerjap dengan pupil yang bergerak gusar sambil menormalkan kecanggungan nya. “Maaf, Bu, ini benarkan tempat tinggal Pak Gibran?” Ucap Yuki sopan, membalas pertanyaan wanita itu dengan sorot penuh tanya.


“Oh, Pak Gibran udah lama pindah sama anak istrinya dari sini, Mbak.” Jawab wanita itu yang seketika membuat Yuki mengernyit heran.


‘Anak istri? Aku kan anak satu-satunya.’ Gumam Yuki dalam hati, kerutan di dahinya semakin dalam.


“Pak Gibran Abian kan, Bu?” Tanya Yuki sekali lagi untuk memastikan, bahkan bola matanya melebar.


“Iya, Pak Gibran Abian. Dulu kerjanya satu unit sama suami saya, tapi sekarang udah gak tinggal di kompleks rumah dinas ini lagi. Setau saya, Pak Gibran sekarang tinggal di rumahnya sendiri.” Kalimat yang cukup panjang dengan informasi yang termuat justru membuat Yuki semakin dipenuhi oleh tanda tanya.


Menghela nafas panjang, Yuki kembali melontarkan pertanyaan sambil meremas tali tas berisi beberapa helai pakaiannya itu. “Sekali lagi maaf, Bu. Udah berapa lama ya Pak Gibran pindah dari sini?”


“Sekita 2 tahun lebih udah gak tinggal di sini lagi. Kebetulan langsung digantikan sama saya dan suami, Mbak. Waktu pindahan juga istrinya lagi hamil besar.”


“Hamil?” Terbelalak dengan mulut terbuka lebar, Yuki yang terkejut tanpa sadar mengucapkan kata ‘hamil’ dengan suara meninggi.


‘Aku punya adik rahasia?’ Batin Yuki terpekik kencang, tidak terbayang selama ini Mama nya hamil lagi tapi ia tidak pernah diberitahu. Padahal Yuki sudah cukup bosan menjadi anak tunggal, apa lagi jika berkunjung ke rumah Ara memerhatikan berbagai keseruan Ara dan adik-adiknya.


“Iya, Mbak. Waktu itu Bu Inka udah hamil besar.” Ucap wanita itu membenarkan pertanyaan Yuki yang jelas terlihat sangat terkejut.

__ADS_1


“Ha? Bu Inka? Nama istrinya Bu Inka? Bukan Bu Maria?” Lagi-lagi Yuki bertambah terkejut yang berakhir dengan kekehan kecil.


“Wah kayaknya saya salah alamat, Bu. Orang yang saya cari kebetulan orang tua saya, pas banget nama Papa saya sama, Gibran Abian. Tapi Mama saya namanya Floramaria, bukan Inka. Maaf ya Bu kalau gitu.” Ucap Yuki lagi dengan perasaan bersalah dan tidak enak karena mengganggu waktu orang lain. Kini Yuki sangat yakin bahwa telah salah alamat.


Mengipasi tubuh bagian atasnya dengan gerakan mengibas kerah kaos yang ia kenakan, Yuki menatap langit cerah dan keramaian lalu lalang pengendara yang diburu tuntutan pekerjaan. Perbincangan singkat sebelum Yuki berpamitan dengan penghuni rumah dinas itu membuat Yuki tau bahwa sosok Gibran Abian yang bukan Papa nya tinggal di kompleks perumahan yang hanya berjarak 500 meter dari posisinya sekarang beristirahat.


“Mama sama Papa sibuk banget sih sampai telepon ku gak diangkat.” Gerutu Yuki yang sudah lebih dari setengah jam mencoba menghubungi kedua orang tuanya. Alih-alih mendapat respon dari Papa Gibran dan Mama Maria, Yuki justru merasakan ponselnya terus bergetar akibat rentetan pesan Keven dan Mama Agni yang baru saja berhasil mengisi notifikasi pesan masuk.


“Ini Mbak kembaliannya..” Ucap seseorang sambil menyodorkan pecahan uang seribuan kepada Yuki.


“Oh, iya.” Ucap Yuki sambil tersenyum ramah dan mengambil uluran uang sisa kembalian yang digunakan untuk membeli sebotol minuman dingin.


“Mau kemana, Mbak?” Tanya penjaga warung kecil dipinggir jalan yang Yuki singgahi. Letaknya hanya berseberangan dengan kompleks rumah dinas yang baru Yuki kunjungi.


“Saya juga bingung, Bu. Tadinya mau kasih kejutan sama orang tua saya, tapi sekarang saya yang terkejut gara-gara salah alamat.” Jawab Yuki sambil terkekeh miris. Niatnya kabur untuk bersenang-senang malah berakhir terlunta-lunta tanpa tujuan yang jelas.


Ingin sekali Yuki didekap sang Mama agar kesedihannya berkurang. Ingin juga Yuki berkeluh kesah pada sang Papa bagaimana sikap Keven agar hadiah bogeman bisa melayang di wajah rupawan suaminya. Namun saat ini yang benar-benar Yuki inginkan cukup segera bertemu kedua orang tuanya itu, lalu diberikan ruang untuk beristirahat karena lelah dan kantuk sudah menyerang bersamaan.


“Gak di telepon aja, Mbak?”


“Udah, Bu. Tapi gak dijawab, sibuk banget kayaknya.” Ucap Yuki lesu, jari telunjuk kanannya digunakan memutari tutup botol dengan serius.


“Memang dulu orang tua Mbak tinggal di kompleks depan?”


“Iya, Bu. Sekitar 3 tahun lalu saya pernah ke sini dan tinggal di sana. Udah saya datangi tadi rumah sama nomor rumah yang saya ingat, tapi salah. Ada juga tadi katanya nama Bapak yang pernah tinggal di sana sama kayak Papa saya, tapi bukan Papa saya, soalnya nama istrinya beda.” Ucap Yuki menjawab pertanyaan wanita paruh baya yang berjualan seorang diri di warung pinggir jalan.

__ADS_1


“Nama Bapaknya siapa, Mbak?”


“Pak Gibran, Gibran Abian.” Ucap Yuki sambil tersenyum, menyebutkan nama Papa nya dengan bangga dan penuh kerinduan.


“Oh, anak Pak Gibran toh. Setau saya yang namanya Gibran di kompleks depan itu cuma satu, Mbak. Rupanya ada Gibran yang lain juga.” Ujar wanita paruh baya itu sambil tertawa kecil.


“Pak Gibran yang saya kenal itu juga udah lama pindah sama istri barunya. Mungkin sekarang anaknya hampir umur 2 tahun. Kalau Mbak ini kan mau ketemu sama Mama, Papa nya langsung, pasti bukan Pak Gibran yang saya kenal. Soalnya Gibran yang saya kenal ini dulu sempat heboh waktu pisahan sama mantan istrinya.” Imbuh wanita paruh baya itu menjelaskan sesuatu yang tentunya tidak Yuki ketahui dan tidak perduli kan. Namun nyatanya sudah memicu materi perghibahan.


Tepat sasaran memancing Yuki yang masih merupakan anggota tim pantau gosip panas di kampus tercinta. “Kalau boleh tau heboh kenapa itu, Bu?” Ucap Yuki yang sudah terbakar jiwa kepo hakiki.


“Pisahnya gak baik-baik, Mbak. Pak Gibran ini selingkuh. Kasihan banget kalau saya ingat gimana kondisi Bu Maria, mantan istrinya itu.”


Deg.


Ucapan wanita paruh baya itu tampak penuh kekesalan bercampur rasa kasihan. Berbeda dengan Yuki yang hanya mendengar namun seolah nyawa nya dicabut paksa tangan tidak kasat mata. Layaknya organ yang terpukul hingga terlepas dari posisinya, Yuki dapat merasakan nafasnya tercekat dengan jantung terpompa kuat.


“Maksud Ibu, mantan istri Pak Gibran itu namanya Maria?” Tanya Yuki sambil meremas jemarinya dalam kepalan tangan, menguatkan hati dan menyangkal kuat pada dugaan mengerikan yang sukses memonopoli otaknya.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Apakah ini salah satu kunci dari misteri lancarnya pernikahan Yuki?🤔


Terima kasih sudah menanti😘


__ADS_2