Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Sensasi Es Serut


__ADS_3

Brak.


Hempasan kuat pintu kamar mandi yang terbuka membentur dinding begitu saja. Menghadirkan suara kencang tanpa disengaja yang mengejutkan. Tersentak Keven pada kekuatan yang dikiranya pelan.


Kini kaki Keven melangkah mendekat pada jendela kaca lebar, menggosok rambut belakangnya yang basah. Pemandangan laut menjelang senja terlihat sangat cantik.


Sejurus kemudian Keven baru ingat jika dirinya tidak memberi tau dari awal pada Yuki jika mereka akan menginap, sengaja. Ia ingin membawa Yuki berlibur. Menikmati hari-hari bersama dan melupakan kisah sedih yang telah berlalu. Anggap saja penebus dosa atas rasa bersalah yang tidak bisa dijabarkan.


Keven terlalu gengsi hingga mengatakan jika mereka pergi untuk memantau lokasi calon restoran baru. Kenyataannya cabang salah satu restoran miliknya sudah berdiri kokoh di dalam resort yang mereka tempati. Tidak besar, namun memiliki tempat tersendiri diantara beberapa restoran dan cafe lain yang sudah lebih tersohor.


“Dia pasti butuh baju baru.” Gumam Keven sambil membayangkan bagaimana Yuki sebelum mereka berpisah. Tas tidak seberapa besar yang Yuki tenteng tentu hanya berisi baju yang mulanya Yuki pakai sebelum berganti dengan crop top wetsuit.


Keven juga yakin di dalam tas itu pasti terdapat tas kecil lainnya. Teringat jelas saat Keven meminta Yuki berganti baju yang lebih santai justru ikut mengganti tas selempang dan sandal sekaligus. Kata Yuki penampilannya harus serasi dan tidak boleh saling bertabrakan.


Jika Keven ingat-ingat lagi, Yuki memang selalu memperhatikan penampilannya. Meski hanya dengan barang-barang sederhana, Keven akui Yuki terlihat cantik.


“Heh..” Kekehan kecil Keven sedikit mengguncang bahunya. Tertawa tanpa suara pada sekilas pujian yang terlintas dibenaknya. “Ck! Cantik? Gila..” Gumam Keven sembari menggeleng tidak percaya. Sungguh dirinya sangat aneh beberapa hari ke belakang.


Duduk di tepi ranjang, Keven kembali mengulas senyum di wajah kakunya. Sudut bibirnya tanpa disadari tertarik ke atas. Tahukah jika bayangan Yuki tertawa sedang memenuhi otak Keven? Benar, tawa Yuki saat berhasil menjatuhkan dirinya hingga basah kuyup sukses membuat Keven tanpa sadar tersenyum bahagia.


Sebuah rasa asing bercampur lega menghadirkan sensasi siraman manisnya es serut di dadanya. Manis, menyegarkan, menggugah hasrat dan tentu layaknya candu meski terasa dingin menggigit. Entahlah Keven bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini.


Dulu Keven terpaksa memilih jalan rumit menikahi Yuki. Bisa saja ia mencoba menikahi perempuan lainnya, misalnya dengan membayar wanita malam untuk sebuah pernikahan singkat. Namun pilihan Keven jatuh pada Yuki. Wanita pilihan logikanya yang dipandang sebagai gadis baik-baik meski cerewet, keras pendirian serta agresif.


Bukan seperti yang pernah Keven sebutkan jika Yuki murahan dan pasti akan menerima pernikahan mereka. Bukan itu semua. Keven mengucapkan hal itu secara asal-asalan dalam keadaan sadar hanya agar Yuki tidak menaruh harapan pada pernikahan mereka. Seandainya yang Keven ucapkan adalah kebenaran menurut dirinya sendiri, tentu Keven tidak akan seputus asa itu hingga membuat kehebohan hanya untuk menikahi Yuki.


Keven yakin saat itu hatinya masih condong pada Alia. Tapi kini Keven seolah menyadari sesuatu yang salah dari kecemburuan yang ia rasakan. Cinta yang Keven yakini tidak tergambar dari sebesar apa rasa kehilangan atas bersatunya Alia dan Saka.

__ADS_1


Kehilangan yang Keven rasakan belum cukup untuk didefinisikan sebagai cinta yang kandas, malah jika waktu bisa diputar balik akan terlihat jauh di dasar hati Keven sangat bahagia. Sayangnya kabut tebal menggelap menyelimuti hati Keven saat itu.


“Harusnya tadi bawa dia beli baju dulu.” Ucap Keven sambil mengacak rambut setengah kering miliknya. Mematut di depan cermin merapikan penampilannya. Tersenyum bodoh tanpa sebab seolah berlatih menemui gebetan.


Baru saja knop pintu kamar itu Keven raih, sekilas raut kecewa Yuki mencuat dibenaknya. Jujur saja, Keven merasa bingung dan aneh. Bukankah harusnya Yuki senang memiliki kamar sendiri. Bukankah Yuki cukup jengah harus berbagi ranjang dengannya hampir setiap malam.


Harusnya Yuki bahagia tidak harus selalu melihat Keven di sekitarnya. Tampak dari beberapa waktu ke belakang sikap Yuki juga terlihat sangat menghindari dirinya jika bukan berkaitan hal-hal penting atau urusan menjalankan peran istri yang bertanggung-jawab.


“Haaaah..!!” Mendesah kasar, hembusan udara dari mulut mendorong bongkahan mengganjal bercampur luapan kegusaran.


Bagi Keven dirinya sudah melakukan sesuatu yang benar. Senyum yang terbayang akan terkembang di bibir Yuki justru menghilang. Sontak hal itu sempat membuat Keven mengernyit heran, hanya sekilas karena secepat kilat berganti raut datar untuk menetralkan keheranannya.


Tidak tau dari mana semuanya bermula. Satu hal yang Keven yakini, ia mulai nyaman atas kehadiran Yuki. Ia sangat terusik melihat kesedihan di mata Yuki. Meski jelas sebagian besar semua kesedihan itu berasal dari dirinya. Maka dari itu Keven berusaha memberikan kenangan baru yang sedikit menutup luka lama, karena tidak mungkin bisa menghapus luka yang pernah tertoreh.


Ingatkah jika Keven ingin menceraikan Yuki? Iya, tapi itu dulu sebelum fakta seberapa berantakannya keluarga Yuki ia ketahui. Mungkin hanya perasaan iba yang terbalut rasa bersalah, begitulah pembenaran di bibir Keven.


“Buka pintu!” Perintah Keven pada seseorang di seberang sambungan telepon. Tanpa basa-basi, hanya dua kata dan langsung mematikan panggilan itu. Super kurang ajar dan tidak sopan.


Ceklek.


“Kenapa gak ketuk?” Protes sosok dengan raut wajah cemberut yang baru saja membuka pintu, tentu saja itu Yuki.


Mengedikkan bahu acuh, Keven mengamati Yuki yang mengenakan pakaian berbeda dari yang dikenakan saat awal bepergian. Mengerutkan dahi, dari ambang pintu Keven melihat tas berukuran sedang yang tergeletak di atas kasur. Benar-benar ajaib Yuki bisa membawa banyak pakaian, padahal tidak pernah Keven sebutkan mereka akan menginap.


“Baju kamu-..?” Ucap Keven sembari menelisik Yuki dari atas ke bawah.


“Kenapa? Aneh? Gak mungkin deh.. Ini juga biasa aku pakai di rumah. Gak koyak, gak bolong, masih bagus. Heeemm.. Wangi juga.” Cerocos Yuki tidak bisa disela sedikitpun. Menciumi kerah kaos yang dikenakannya, benar-benar beraroma wangi bunga yang lembut.

__ADS_1


“Kamu bawa berapa baju?” Tanya Keven sangat penasaran. Jika dihitung, di hari yang belum menjelang malam itu dirinya sudah melihat Yuki mengenakan tiga setel pakaian berbeda.


“Banyak..” Jawab Yuki singkat sambil melipat tangan di depan dada. Kini Yuki kembali kesal pada sosok di hadapannya yang seenaknya mengatakan menginap tanpa pemberitahuan sejak awal. “Kita sampai kapan di sini? Kenapa gak bilang dari rumah kalau nginap?”


“Sampai lusa.” Ucap Keven menjawab pertanyaan Yuki. Sontak saja Yuki terbelalak dengan mulut terbuka, kaget. Seketika Yuki memegangi kepalanya yang tidak pusing, hanya sekedar tidak habis pikir dan sebal.


“Perlu beli baju?” Lanjut Keven berucap sambil melangkah lebih mendekat ke ambang pintu kamar yang ia sewa untuk Yuki tempati. Menyandarkan punggung di sisi kusen pintu sambil menatap lekat Yuki.


“Gak perlu sih, tapi kalau dibelanjain mau.” Ucap Yuki sambil menyentuh dagunya, menganggukkan kepala pelan seolah menimang-nimang keputusan yang telah diambil.


“Ayo!” Ucap Keven singkat, berjalan meninggalkan Yuki begitu saja. Melontarkan sepatah kata yang spontan membuat Yuki semakin melongo hingga rahang bawahnya nyaris terjatuh.


“Mau atau gak?” Berbalik menatap Yuki yang masih terpaku, Keven seakan sedang memberikan penawaran. Sorot matanya tetap sama bagi Yuki, sedingin air shower yang mengguyur tubuh Yuki karena lupa diatur mode pemanasnya.


"MAUUUU..!!" Pekik Yuki girang, menyambar tas selempang sembarangan yang sudah diisi ponsel dan uang ala kadarnya. Yuki bertekad akan menguras isi dompet Keven hingga mampu menjadi rumah para debu.


...****************...


*


*


*


Kali ini lebih banyak sudut pandang dari sisi Keven😄


Untuk yang mau join grup chat ku, sebutkan 2 nama sahabat Yuki di kotak izin masuk grup😊 Bukan di komen ini ya, tapi setelah klik grup chat ku😁

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki🥰


__ADS_2