Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Cinta Kita Salah


__ADS_3

Di bawah langit biru dengan gumpalan awan putih yang tebal, seorang laki-laki paruh baya berulang kali menghembuskan nafas kasar. Ditatapnya kedua laki-laki dewasa yang tampak bagai bocah kemarin sore.


Sejenak Papa Leigh menggeleng samar. Melipat tangan di depan dada sambil berkata dengan suara rendah, “masih mau adu jotos lagi? Malu-maluin!”


“Pakai otak!! Kalian bukan anak kecil yang rebutan mainan sampai harus pukul-pukulan dulu. Asal main otot aja ... Sekarang muka udah bonyok, masalah selesai?!” Mata Papa Leigh menyorot tajam secara bergantian pada Saka dan Keven yang masih saling menampilkan raut permusuhan. Bahkan kedua pemuda itu tidak merenggangkan kepalan tangan masing-masing, layaknya bersiap untuk sesi pertempuran selanjutnya.


Mengusap dadanya perlahan, Papa Leigh berusaha sabar, meredakan amarah pada kedua laki-laki yang masih juga saling menatap sengit. “Ngapain kalian melotot-melotot gitu? Mau Papa colok itu mata kalian berdua?!” ketus Papa Leigh lagi.


Melangkah mendekat pada Saka, meletakkan sebelah tangan di bahu pemuda yang kaget atas sikapnya, Papa Leigh setulus hati mengutarakan kalimat yang sejak lama ditahannya. “Saka, sebelumnya Om mohon maaf atas sikap Keven ….”


“Pa!” tegur Keven menyela. Memasang ekspresi tidak terima atas permintaan maaf Papa Leigh kepada Saka.


“Diam! Jangan bikin runyam. Biar Papa yang bicara di sini!” tegas Papa Leigh. Ia melotot tajam pada Keven yang terpaksa bungkam. Jelas bukan karena takut.


“Om tau hubungan kalian bertiga sulit untuk kembali seperti dulu. Tapi kalian udah sama-sama dewasa. Udah bisa menilai dan mengambil sikap selayaknya orang dewasa, bukan saling bermusuhan. Nggak ada gunanya kalian bersitegang kayak gini. Kamu juga Keven … Buka mata kamu, Nak!”


Kembali helaan berat terbebas dari sepasang lubang hidung Papa Leigh. Lingkar mata yang didominasi oleh keriput itu memancarkan aura sendu dari sorot sayu yang menumpuk beban. “Banyak masalah selama ini belum cukup mengajarkan kamu? Nggak akan ada yang selesai kalau kamu masih suka mendahulukan otot dari pada otak.”


Membuang pandangan ke paving yang dipijak, Keven membenarkan kalimat Papa Leigh. Jujur saja ia terlanjur emosi kala melihat Saka hingga sulit mengontrol keinginannya untuk tidak melayangkan bogeman.


Dulu Keven berharap dengan menikahi Yuki maka keretakan hubungan Alia dan Saka dapat diselamatkan. Sayangnya langkah besar yang Keven pilih dengan mengorbankan perasaan Yuki itu salah. Pernikahan Saka dan Alia tetap akan kandas, bukan karena Keven, namun sesuatu yang tidak pernah Keven ketahui.


“Kalian bisa duduk bersama. Membicarakan masalah yang saling membuat kalian kecewa. Buang sedikit ego kalian masing-masing. Ingat dulu kalian sedekat apa. Rela semua kenangan baik itu hancur tanpa sedikitpun niat kalian untuk memperbaikinya?” Suara lemah namun penuh ketegasan Papa Leigh kembali menyela. Membuyarkan lamunan singkat Keven. Menohok Saka yang sejujurnya sedikitpun tidak berniat merusak persahabatan yang terlanjur runtuh.


“Satu lagi yang perlu kamu tau, Ka … Alia di rumah sakit ini. Tolong temui dia. Ada hal yang perlu kalian selesaikan berdua.” Menepuk pelan bahu Saka, Papa Leigh mengangguk pelan penuh permohonan. Laki-laki tua itu berlalu meninggalkan Saka dan Keven setelah kembali menegaskan agar keduanya tidak beradu jotos lagi.

__ADS_1


“Alia sakit?” gumam Saka spontan. Ia yang sempat termangu kini melebarkan kelopak matanya. Menuntut penjelasan dari Keven yang mendengus kesal.


“Alia hamil anak lo!” ucap Keven ketus diiringi sorot sinis yang siap mencabik Saka saat ini juga.


“Hamil?” Mengernyit heran Saka pada penuturan Keven. Sepersekian detik kemudian ia tertawa hambar, membuang pandangan ke langit yang meredup. Awan yang menutupi sinar mentari seolah menggambarkan perasaan Saka yang berubah menggelap. Entah harus dijabarkan bagaimana lagi hatinya yang seakan dipenuhi debu ledakkan. “Lo bercanda, kan?”


“Gue serius, Saka! Alia baru tau kalau dia hamil setelah lo pergi. Ke mana lo selama ini? Bahkan Yogi juga ikut nyari keberadaan lo! Gara-gara lo juga gue harus mengorbankan seseorang yang harusnya gue prioritaskan! Tapi kondisi Alia yang sendiri saat itu gak mungkin tega gue tinggalin!”


“Nggak … Gue gak percaya. Lo pasti bohong, kan!? Atau jangan-jangan Alia yang buat skenario gila ini?"


“Bajingan ya, lo!" teriak Keven sambil mengacungkan jarinya, menunjuk marah tepat di wajah Saka yang kebingungan. "Alia baru aja masuk rumah sakit gara-gara dia mau gugurin kandungannya. Dan lo bilang dia ... Sadar, Ka!! Yang Alia kandung itu anak lo!!"


"A-anak gue?" Terbata Saka kembali melontarkan tanya pada Keven. Ia masih belum bisa percaya pada fakta baru yang tiba-tiba ditangkap pendengarannya. Meski kerah baju sudah ditarik, dicengkeram kuat oleh Keven, namun Saka tetap bergeming dalam keterkejutan.


"Gue mau ketemu Alia," lanjut Saka berucap. Ditepisnya cengkeraman Keven yang hampir mencekik lehernya. Ia tidak berminat sedikitpun untuk membalas Keven. Pikiran Saka sudah dipenuhi oleh kabar kehamilan Alia yang membuatnya mendadak sakit kepala.


...----------------...


“Kamu yakin itu anak aku?” tukas Saka sinis. Tersenyum miring dengan tatapan merendahkan, sengaja menutupi kekalutan yang berhasil mengobrak-abrik kesabaran dan akal sehat.


"Bukannya tadi kamu udah membenarkan di depan semuanya kalau ini anak kamu?" Berbalik Alia bertanya pada Saka. Wanita yang semula terlihat kikuk dan menyedihkan itu memancarkan aura kemenangan. Menghadiahkan Saka dengan senyuman yang dulunya selalu berhasil membuat Saka bertekuk lutut terpesona, namun tidak untuk saat ini. Bagi Saka senyum lebar Alia justru terlihat menyebalkan.


“Kamu gila Alia," seloroh Saka yang menggeram rendah. Wanita yang kini terbaring santai di atas brankar benar-benar menjadi sosok yang tidak Saka kenali. Bukan Alia yang selama ini dikaguminya, bahkan sangat jauh dari sosok lemah lembut dan elegan yang selama ini Saka ketahui.


“Gila? Kamu ngatain aku? Hahahaha … Bukannya perempuan gila ini yang membuat kamu tergila-gila?” Tawa Alia pecah. Cibiran itu mengalun renyah, tanpa celah emosi yang setitik saja bisa Saka temukan. “Kamu masih cinta sama aku kan? Ayolah Saka, aku tau semarah apapun kamu, tapi kamu nggak mungkin membenci aku.”

__ADS_1


“Kamu benar ...."


Jawaban singkat Saka menghadirkan senyuman yang semakin mengembang di bibir Alia, bahkan wanita dengan kandungan yang baru memasuki trisemester kedua itu kembali tertawa mencemooh. Saka benar-benar tampak seperti budak cinta menyedihkan di mata Alia.


"Tapi itu dulu, sebelum aku sadar kalau cinta kita salah." Kalimat penyangkalan yang selanjutnya Saka ucapkan menghentikan tawa Alia. Wanita itu membeliakkan matanya, menatap sengit Saka dengan bibir masih menyeringai tidak percaya. Alia menggeleng samar, menolak bisikan kenyataan yang melambung di otaknya.


"Kayaknya aku salah lagi. Bukan cinta kita, tapi hanya cinta aku." Terkekeh Saka menutupi pilu yang menjalar. Tidak dipungkiri rasa itu masih ada, membekas dengan luka yang menyisakan goresan kekecewaan, penyesalan dan kilasan kenangan yang sulit dihapus.


"Berubah lah, Al. Jangan mengejar kebahagian dengan keegoisan, karena semua hanya akan terlepas satu per satu dari genggaman kamu. Kamu memang berhak bahagia. Kamu berhak mendapatkan semua cinta, tapi bukan dengan kadar dan makna yang sama dari semua orang. Bahkan, aku ragu jika kamu mengerti arti cinta sesungguhnya," ujar Saka panjang lebar dengan intonasi rendah yang bergetar. Sejenak ia mengesampingkan kesakitan yang harus dihadapi. Menganggap Alia sebagai seorang sahabat yang perlu dinasehati, bukan sebagai wanita yang pernah memberinya luka.


Raga tegap Saka kemudian berbalik, menghadap pintu kayu putih yang tertutup rapat, membelakangi Alia yang siap membantah. Diangkatnya satu tangan Saka ke udara dengan jari telunjuk mengacung. "Satu lagi ... Aku nggak perduli orang luar mengatai aku bajingan atau laki-laki gak bertanggung jawab. Tapi aku pastikan itu bukan anak aku!"


Spontan Alia berang pada perkataan Saka. Terlepas itu benar atau tidak, Alia tetap merasa kalah karena Saka secara tidak langsung memilih kembali meninggalkannya.


Sontak jeritan dan makian Alia mengejutkan semua orang. Baik Papa Leigh, Mama Agni dan Keven yang menanti gelisah di luar langsung menghambur masuk. Sedangkan Saka berjalan acuh mengabaikan hardikan Keven. Tampak jelas dari pintu kamar rawat inap Alia yang terbuka jika wanita itu berusaha melempar segala hal yang bisa diraihnya.


Saka tetap bergeming. Memandang hampa tingkah Alia yang sedikitpun tidak membuat Saka iba. Justru sesaat setelah menolehkan kepalanya, Saka berlari panik menghampiri Nita yang jauh dari jangkauannya. Gadis itu terpengkur dengan tubuh lemas di atas lantai. Pandangannya kosong meski seorang perawat berulang kali mengguncang bahunya.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki😘


__ADS_2