Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kacamata Sakral


__ADS_3

Duduk di sini Yuki bebas memandang, namun tidak bebas dipandang. Dari sisi luar hanya tampak kaca hitam yang memantulkan bayangan. Namun tidak menutup kemungkinan Yuki juga tidak bisa memandang sebebas ini bila tirai diturunkan.


Baru Yuki ketahui ada tempat seperti ini di restoran Keven. Wajar, mungkin karena dulu bukan tugasnya sehingga ia tidak bisa menjangkau ruang VIP. Bahkan untuk sekedar mengintip saja tidak pernah dilakukan. Tepatnya tidak pernah terpikirkan. Mata Yuki kala itu selalu terikat pada bayang-bayang Keven.


“Rambut kamu … masih basah.” Perkataan sederhana namun kikuk itu terucap bersamaan dengan sebuah handuk kecil yang disodorkan.


Sejenak Yuki bergeming, tangannya perlahan terkepal. Kepalanya berat untuk mendongak. Ia serba salah atas ujaran kasar yang mengatai Keven bagai lalat.


“Perih?”


Menepis tangan Keven, Yuki memalingkan wajahnya yang penuh luka cakaran. “Udah. Gak usah.”


“Mana kantong untuk bajuku?” ucap Yuki lagi, datar tanpa emosi. Menyembunyikan ringisan dari sudut bibir yang koyak. Terpaku pada kemeja kebesaran dan jaket milik Keven yang ia kenakan, serta gumpalan pakaian kotor yang sengaja digenggam erat.


Jika ditanya bagaimana Yuki bisa berada di sini, jelas semua karena Keven yang memaksa. Ia digendong mesra melewati kerumunan dan pelototan Alia.


Benar-benar Keven abaikan perhatian yang bisa memicu gosip baru. Baginya tidak masalah jika hanya berisi bagaimana dirinya begitu bertekuk lutut pada Yuki.


“Ini ….”


Meraih cepat kantong yang Keven sodorkan, Yuki buru-buru memasukan pakaiannya. “Makasih.”


“Kamu nggak perlu ke kantor lagi, kan? Aku antar pulang, ya? Ayo …,” ucap Keven sambil mengulurkan tangan. Gugup, khawatir dan entahlah harus disebutkan seperti apa debaran lain yang sedang membuncah itu.


“Aku …,” ucap Yuki terjeda dengan helaan nafas tipis. Sejenak dengan ragu-ragu ia kembali melanjutkan bicara, “udah ada yang jemput aku. Mungkin dia udah di depan.”


“Dia?” lirih Keven sendu. Tanpa dijelaskan secara detail Keven bisa menebak siapa ‘dia’ yang Yuki maksud. Tentu sosok laki-laki yang beberapa waktu lalu pernah adu jotos dengannya.


“Kalau gitu biarin aku antar kamu ke depan,” lanjut Keven getir.


“Kamu gak marah sama aku?” celetuk Yuki.


“Marah kenapa?” tanya Keven pura-pura tidak tau.

__ADS_1


“Tadi aku jahat, kan?”


“Hati-hati!” ujar Keven seiring punggung tangan membentur pintu ruang VIP. Ia melindungi dahi Yuki yang hampir saja menabrak pintu akibat berjalan dengan kepala tertunduk.


“Ah, maaf …,” ucap Yuki seraya meletakkan kantong pakaiannya. Reflek meneliti punggung tangan Keven dan meniup perlahan.


Tidak terhindar desiran hangat yang mengharukan itu merekah di dada Keven. Ia tersenyum simpul tidak bisa menyembunyikan kebahagian yang sangat dirindukan. Sejenak Keven berpikir untuk terluka lebih dari ini agar Yuki memperhatikannya.


“A-a-aku ng-nggak sengaja.” Terbata Yuki menghempaskan tangan Keven dengan canggung.


Gegas Yuki membuka pintu ruang VIP, berlalu terburu-buru dengan wajah memerah menahan malu. Dirapatkan jaket yang membungkus tubuh dengan perasaan was-was. Ia bahkan lupa membawa serta kantong pakaian kotornya. Alhasil kini Keven yang menenteng kantong itu keluar dengan langkah lebar, mengejar Yuki yang sudah celingukan di luar.


Melotot sambil melihat tangan miliknya sendiri dan kantong yang Keven bawa, Yuki mendesah kesal dalam hati. Sontak Yuki berdecak pelan sambil melangkahkan kaki menghampiri Keven.


“Biar aku bawa,” tolak Keven kala Yuki mencoba mengambil kantong itu. Setidaknya Keven ingin berusaha menjadi berguna untuk Yuki.


“Ini punyaku. Kasih aku!” tegas Yuki sembari mencengkeram erat dengan sedikit tarikan. Dalam sekejap ia lupa pada rasa malu yang sempat dirasa. Lebih khawatir jika sampai Keven mengetahui apa saja isi di dalam kantong yang Yuki minta.


Tertegun salah tingkah, Keven menelan susah payah air liurnya. Mengalihkan pandangan dengan wajah merona setelah sempat melongo terkejut.


Sejurus kemudian tubuh Keven bergidik meremang saat melirik Yuki memicing sinis. Gadis yang baru saja memasukkan penutup aset penting itu mengeraskan rahang dengan hidung kembang-kempis sambil melayangkan ayunan lengan.


Bugh.


Bugh.


“Argh!! Bikin malu!!” keluh Yuki sambil memukul Keven secara asal-asalan.


“Ka-kamu gak pakai?” bisik Keven sambil menahan kedua pergelangan tangan Yuki. Pupil mata yang bergetar itu melebar, meneliti jawaban dari raut wajah memerah Yuki.


Sreeett ...


“Peluk kantong ini di depan. Jangan buka resleting jaketku. Jangan pulang sama orang lain. Aku nggak izinin kamu!” tegas Keven sambil menggenggam lembut pergelangan tangan Yuki. Mengunci posesif dengan pikiran liar yang berkelana.

__ADS_1


‘Aaaargh!!’ jerit batin Keven.


“Hei!! Lepasin! Mau kamu seret ke mana aku?! Argh … Ngeselin!” gerutu Yuki sepanjang jalan. Terus berlanjut hingga ia didudukkan secara paksa di samping kursi kemudi.


“Buka pintunya!!” perintah Yuki nyaring dengan mata melotot tajam.


“Diam!” tukas Keven dingin seraya memasang sabuk pengaman. Tanpa berani Keven memandang Yuki, ia sekuat tenaga bertekad hanya akan fokus ke jalanan lurus di depan.


“Gak mau!! Salah kamu juga kasih kemeja cerah! Buka pintunya atau aku lompat dari jendela?!” bantah Yuki sambil mengancam.


“Loh, kok gak bisa?” ucap Yuki lagi dengan nada merengek sambil berusaha menurunkan kaca jendela mobil.


Sedangkan tidak berselang lama saat Yuki dan Keven masih berdebat di dalam mobil, pemuda yang terburu-buru menjemput Yuki itu menghentikan laju motor di pinggir jalan, tepat di depan bangunan restoran Keven. Ternyata tebakan Keven meleset, bukan Dion yang datang menjemput Yuki.


“Gara-gara nabrak ibu-ibu judes jadi telat. Ini bocah ke mana, sih?!"


Ponsel di saku sudah dirogoh, layarnya digulir cepat guna menghubungi Yuki. Namun belum sempat Dimas mengirim pesan, sekelebat bayangan penumpang adu mulut di mobil yang melewatinya sukses membuat Dimas mematung.


"Ckck … Jangan bilang lagi CLBK. Hah … Malang banget nasibmu. Kenapa juga naksir temen labil kayak gitu?!” celoteh Dimas dengan senyum lebar di bawah mata sendu, menyorot hingga mobil Keven menghilang di persimpangan jalan.


Menggeleng-gelengkan kepala, Dimas tersenyum kecut. “Yuki-Yuki … Sekuat apapun aku bantu kamu menjauh, tetap aja kalian bisa ketemu.”


“Padahal sekarang mereka bisa bahagia kalau udah saling nerima ... Aku pikir karena dia dulu kamu gak bahagia, ternyata gak sama dia juga kamu gak bahagia-bahagia banget. Apa harus aku bantu?” gumam Dimas sambil mengusap dagunya. “Tapi nanti jadi nggak seru perjuangannya. Lagian buat apa aku bunuh diri sama rasa cemburu sendiri."


...****************...


*


*


*


Terima kasih udah menanti kisah Yuki🥰

__ADS_1


__ADS_2