Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Familiar yang Berbeda


__ADS_3

“Thanks, Ka. Nanti gue ganti, tapi sorry nggak bisa secepatnya.”


“Santai aja. Kalau kurang bilang.” Angguk Saka sambil menarik sebatang rokok. Menjepit tipis ujung busa yang terasa manis di sudut kiri bibir. Dengan lihai telapak tangan kirinya berubah menjadi tameng dari api yang keluar lewat pemantik transparan berisi cairan berwarna merah.


Mengepul asap putih keluar dari mulut Saka. Sekejap aroma tembakau terbakar pun menyeruak indera penciuman Keven. Reflek Keven mengibaskan tangan di depan wajahnya.


“Lo udah minta tolong Yogi?” tanya Saka sambil mengedikan dagu.


“Udah. Dia bilang urusannya bakal alot. Bukti yang ada justru memojokkan gue,” jawab Keven dengan lesu. Faktanya semua bukti justru memperlihatkan bahwa tidak ada pemaksaan dalam pemindahan aset yang terjadi. Bahkan tanpa Keven sadari ia seolah menyetujui semua permainan licik dalang di belakang mantan orang kepercayaannya itu.


“Kalau memang gak bisa lo ambil lagi, ikhlasin. Mungkin udah waktunya kita nyoba hal baru,” ucap Saka dengan entengnya.


“Gue bener-bener minta maaf soal LF.”


“It’s okay. Semua karyawan yang mereka buang butuh pesangon. Mau gak mau itu balik ke tanggung jawab lo. Banyak yang harus lo bayar selain kerugian dari penggelapan uang operasional, denda sama hutang gaib yang tiba-tiba membengkak. Lagi pula gue udah lama lepas tangan dari LF, jadi lo gak usah merasa bersalah kayak gitu ke gue.”


“Di situ juga ada kerja keras lo, gak mungkin bisa gue lupain gitu aja.”


“Iya, gue ngerti maksud lo, Kev. Tapi lain kali kalau butuh apa-apa jangan ragu bilang gue.”


Keven hanya mengangguk pada penuturan Saka. Ia seakan mengiyakan meski hatinya jelas menolak. Keven tentu lebih berharap bisa menghasilkan uang sendiri tanpa perlu meminjam lagi pada Saka.


Perlu diketahui jika seluruh cabang restoran milik Keven sudah berpindah tangan. Ia dikhianati dan tipu habis-habisan. Bahkan imbasnya Keven harus menjual Lux Fantasy, tentu sudah seizin Saka yang sebenarnya telah sejak lama melepas kepemilikan restoran itu pada Keven seorang.


...----------------...


Byurr …


“Tinggi banget airnya naik,” celetuk laki-laki yang berdiri di samping mobil bak terbuka. Matanya menjelajah mengamati kondisi car deck kapal dengan tangan sibuk memperbaiki ikatan tali pengaman muatan. Setelah itu ia secepatnya bergegas kembali ke deck atas. Sejenak mata tajam itu mengedar, mencari sosok gadis yang pergi bersamanya.


“Tidur?”


Mengernyit dengan sebelah mata mengintip, Yuki menggeleng lemah pada laki-laki yang baru saja mencolek lengannya. “Gak bisa tidur. Lautnya sensian banget sama aku. Setiap naik kapal selalu gelombang tinggi,” keluh Yuki sambil meringkuk di atas kursi penumpang kapal ro-ro. Menekuk lutut dalam posisi menyamping dengan mata terpejam yang berusaha menahan denyutan di pelipis.


“Lelenya mabuk laut nggak tuh terguncang-guncang terus?” tanya Yuki tiba-tiba sambil membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


“Tanyakan nanti sama si lele, dia mabuk laut atau nggak.”


“Idih, memang aku gila pakai nanya lele mabuk laut atau nggak?!” ketus Yuki dengan mata mendelik sinis yang hanya ditanggapi dengan kekehan pelan.


“Cari Kak Anna? Ke toilet,” ucap Yuki tanpa menunggu jawaban sosok yang celingukan di sebelah kanannya.


Beberapa saat kemudian Yuki merentangkan tangan lurus ke atas dengan bibir terkatup yang bergetar menahan mulut menguap lebar. Namun matanya yang berair sayu seketika berbinar kala mendengar jika sebentar lagi kapal akan sampai di Pelabuhan.


“Yes, bentar lagi si lele mendarat.” Mengepalkan tangan di depan dada dengan bersemangat, Yuki berdebar tidak sabaran.


Ini bukan pengiriman kedua ke Kota B, tapi sudah ketiga kalinya. Perlahan namun pasti hasil budidaya yang dilakukan Yuki dan rekan-rekannya bisa menembus pedagang lele dalam skala kecil hingga menengah. Bahkan sedang berjuang memasuki tengkulak di pasar besar dan pelaku usaha rumah makan. Tentu semua itu lagi-lagi tidak lepas karena bantuan Keven.


“Katanya sebentar lagi … udah bisa habis 10 nasi bungkus juga nggak sampai-sampai.”


“Mungkin gara-gara gelombang tinggi jadi susah bersandar," sahut Anna, perempuan yang kebetulan pergi menggunakan kapal yang sama dengan Yuki untuk tujuan ke Kota B.


Mengangguk mengiyakan, Yuki hanya mampu menghela nafas pasrah. Ia sudah siap dengan tas besar dan sekardus oleh-oleh yang dijinjing. Namun sayangnya kapal yang dinaiki masih terombang-ambing kesulitan mendekat ke pelantar.


Praktis Yuki enggan untuk ikut masuk ke dalam mobil yang bersiap keluar terlebih dahulu kala pintu rampa kapal ro-ro diturunkan. Suasana dingin dan agak lembab itu sangat menyesakkan di area car deck dengan deru kendaraan yang mulai bersautan. Kepulan asap transparan gas karbon monoksida dari knalpot menusuk organ pernafasan Yuki, bagai racun yang siap mencekik kapanpun.


...----------------...


“Berhenti-berhenti, Bang!” ucap Yuki sambil menepuk pahanya sendiri.


"Kenapa, Ki?" tanya laki-laki yang baru saja menepikan mobil, namun diabaikan Yuki yang sudah melompat keluar, kabur layaknya tupai ketahuan mencuri rambutan.


“Nggak mungkin … dijual?” Menggeleng kuat sambil menggigit bibir bawahnya, Yuki mengamati bangunan familiar di seberang jalan yang tampak sangat berbeda.


Sekejap Yuki memutar tubuhnya. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Memindai setiap sudut yang sangat dikenali meski sudah tidak dilewati lebih dari setengah tahun lamanya.


Yuki tidak mungkin lupa. Bangunan itu berdiri semakin megah. Namun bukan bernama Lux Fantasy. Apalagi tanaman di sisi kanan bangunan, tempat di mana Keven pernah mengompres kaki terkilir Yuki, semua berubah penuh beton.


Bergeming Yuki tatap kaca etalase transparan yang memamerkan berbagai jenis pakaian dengan aneka model. Ia menelan paksa air liur melewati kerongkongan yang tercekat. Sejenak dipegang pangkal dahinya yang memanas. Yuki tidak bisa mempercayai apa yang terpampang di depan mata.


Entah perasaan apa yang harus Yuki gambarkan, ia hanya kesal karena Keven tidak sedikitpun mengabarinya. Meskipun Yuki sadari ia bukan siapa-siapa lagi bagi Keven. Dirinya hanya sebatas mantan istri, seperti yang sering Yuki sebutkan pada Keven.

__ADS_1


Belum habis keterkejutan Yuki, tiba-tiba obrolan dari depan mobil mengusik pendengaran. Spontan otak Yuki langsung menyebut satu nama walaupun ia tidak melihat siapa yang berbicara. Pasalnya Yuki tengah berdiri tepat di belakang mobil.


“Tumben sendirian?”


“Sama Yu-”


“Sama aku, nggak sendiri,” ucap Yuki memotong lawan bicara Keven. Laki-laki dengan setelan kaos oblong dan celana selutut itu terlihat terperanjat sampai mundur selangkah.


“Kamu …,” ucap Keven menggantung disertai senyuman yang mengembang. Raut wajahnya yang lelah seketika berseri-seri.


“Kamu pulang? Ini serius kamu?” ucap Keven lagi sambil mendekati Yuki.


Jujur, Keven hanya tidak sengaja melihat mobil bak terbuka yang dikenali. Tidak pernah ia menyangka akan mendapati kepulangan Yuki. Pikirannya terlalu lelah sampai tidak menyadari gadis yang dicintai berdiri di belakang mobil.


Sedangkan Yuki sama sekali tidak tau jika Keven menepi sedikit berjarak di depan mobil. Ia terlalu fokus memasang raut wajah sejuta tanya sambil menatap lurus saksi bisu pertemuan kedua mereka.


Mencebik, Yuki memicing sinis pada Keven. “Bukan! Setan! Iya-iyalah ini aku.”


“Ternyata bener kamu.” Mengangguk, Keven menepuk pelan puncak kepala Yuki dengan sedikit usapan.


“Iya,” ketus Yuki singkat. Akan tetapi dalam sekejap lubang hidung Yuki reflek kembang-kempis seiring mata melotot tajam. “Tunggu … maksudnya kamu bilang aku bener setan, gitu?! Sumpah, kamu nyebelin banget! Jahat!”


Menggeleng pelan, Keven mengulas senyum tipis. Ia lantas kembali berbicara dengan laki-laki yang biasa ditemui dalam proses transaksi jual beli lele itu. Sejenak Yuki seakan terabaikan, namun ketahuilah Keven tetap sesekali melirik Yuki yang diam menyimak.


“Sejak kapan kamu pakai motor?” celetuk Yuki di hadapan Keven, terpisah sekat berupa badan motor yang melintang. Gadis itu tanpa sadar mengekori beberapa langkah Keven yang berbalik menghampiri sebuah motor.


Menoleh dengan pupil mata sedikit melebar, Keven lupa, Yuki tidak tau tentang bagaimana dirinya saat ini. Mobil itu sudah bukan miliknya lagi, dijual untuk menutupi kekurangan dari denda pemutusan kerjasama yang harus dibayarkan. Meskipun sejatinya bukan kesalahan yang sengaja ia perbuat.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih udah nungguin kelanjutan kisah Yuki😘


__ADS_2