Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Cemburu


__ADS_3

“Selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa saya bantu?” Ucap Yuki ramah dengan senyum yang terus terlukis di bibirnya.


Meski di luar langit sudah menggelap, namun sinar sang rembulan masih seindah senyuman Yuki saat ini. Tidak tertutup awan atau kabut tebal, bahkan gemerlap kilau kecil di langit bertebaran dengan meriah seakan sedang mengadakan reuni akbar.


“Saya mau satu meja untuk tiga orang, tapi yang posisinya di ujung atau pinggir saja.” Ucap seorang wanita yang menjinjing sebuah tas dengan kilau manik yang mencolok.


“Baik, Bu. Mohon ikuti saya sebentar, akan saya tunjukan meja yang cocok untuk Ibu dan keluarga.” Ucap Yuki lagi sambil melakukan gestur tangan mempersilakan ketiga orang di belakangnya untuk mengikuti langkahnya.


“Silakan, Bu..” Ucap Yuki lagi sesampainya di sebuah meja yang terletak paling ujung, menghadap langsung ke arah jalanan yang ramai dengan tiga kursi kosong.


Tidak lupa Yuki juga mencatat pesanan ketiga orang yang baru saja ia layani. Cukup banyak coretan yang harus Yuki goreskan. Berbagai keinginan dari sebuah hidangan yang benar-benar nyaris membuat Yuki mendesah putus asa. Dari tingkat keasinan hingga pesanan dalam porsi kecil yang sejatinya tidak ada dalam buku menu.


“Rajin kamu Ki langsung menyambut konsumen.” Celetuk seseorang yang menarik perhatian Yuki.


“Bukannya memang gitu ya kerja di restoran? Aku udah semalaman bergadang belajar tata tertib, etika atau bahkan itu aturan remeh yang biasa ada di restoran. Udah aku catat juga.” Ucap Yuki panjang lebar, bibirnya sungguh sangat terlatih untuk melakukan nyanyian rap. Padahal Yuki baru saja berkata dengan sangat santai, tidak terbayang jika Yuki benar-benar melakukan nyanyian rap.


Merogoh saku di sisi kanan rok yang dikenakan, Yuki mengeluarkan sebuah buku kecil. “Nih semuanya, benar kan?” Tunjuk Yuki pada buku catatan kecil di tangan kanannya.


“Iya itu kalau di restoran kelas. Tempat kita kerja kan gak selevel mereka.” Seloroh sosok yang sama dengan sebelumnya.


“Justru karena belum selevel kita bisa kasih nuansa itu gak sih ke konsumen? Jadi berasa makan di tempat berkelas, padahal cuma restoran biasa yang nyaris kayak Kafe aja.” Ucap Yuki sembari menyampaikan argumennya.


“Kita lakukan atau nggak hal sepele yang barusan kamu lakukan itu juga gak berpengaruh sama kenaikan gaji. Jadi buat apa nambah repot dan menyusahkan diri sendiri?”


Beginilah pola pikir yang Yuki tidak suka. Kualitas diri yang ditunjukan bukan ditentukan dengan seberapa besar upah yang diberikan. Jika semua hanya mengandalkan besarnya nominal gaji dari sebuah imbalan tanpa memperbaiki kualitas diri, hal itu hampir sama dengan secara tidak langsung merendahkan potensi diri dan kemampuan yang dimiliki.


Berlalu meninggalkan sosok dengan pikiran pendeknya, Yuki kembali bekerja dengan menyambut kehadiran konsumen lainnya. Rasanya cukup senang bisa berada dalam bangunan yang sama dengan orang yang ia cintai. Benar, Yuki sudah mendeklarasikan bahwa laki-laki yang mendebarkan hati yang kini menjadi incarannya sudah berhasil mengangkut seluruh cinta Yuki.


“Kak Elza.. Sibuk?” Ucap Yuki tiba-tiba pada seorang perempuan.

__ADS_1


“Udah nggak, pelanggan udah mulai pulang dan sebentar lagi juga kosong ini. Kenapa?”


“Mau nanya sesuatu.” Ucap Yuki lirih yang lebih mirip dengan bisikan.


“Mau nanya apa sampai bisik-bisik gini?” Balas sosok yang bernama Elza itu pada Yuki.


Menengok ke kanan dan kiri layaknya pencuri yang mencurigakan, Yuki melangkah mendekat pada Elza. “Sebenarnya Bos di sini siapa sih Kak? Mas Keven atau Mas Saka?”


“Panggil Pak, Ki.” Tutur Elza mencoba mengingatkan Yuki pada penyebutan yang seharusnya Pak, bukan Mas.


“Gak mau dan gak ada yang dengar juga kok.” Ucap Yuki sambil mencebikkan bibirnya.


“Ada yang tau juga masa bodoh lah Kak. Lagi pula yang rewel juga Mas Keven aja. Mas Saka malah lebih suka kok dipanggil Mas dari pada Bapak.” Imbuh Yuki berucap dengan santai.


Sejenak Yuki mengingat penuturan Saka yang memang pernah mengatakan jika sebutan Bapak membuatnya tampak semakin lebih jelas terlihat tua. Padahal ingin dipanggil buyut sekalipun tidak mengurangi kadar ketampanan Saka yang jelas terpancar nyata.


“Parah kamu nih.. Sok tau..” Tuduh Elza pada Yuki.


“Iya-iya..” Ucap Elza yang akhirnya mengalah.


“Jadi siapa bos sebenarnya di sini Kak?” Ucap Yuki mengulangi pertanyaannya lagi dengan raut serius. Beberapa hari menjadi seorang pekerja yang serius nyatanya membuat Yuki justru berada dalam kebingungan.


Mulanya Yuki berpikir bahwa restoran itu milik Keven, namun seiring berjalannya waktu menjadi seorang pramusaji, Yuki justru simpang siur sempat mendengar restoran itu milik Saka.


“Ya Pak Keven sama Pak Saka bos alias pemilik restoran ini.” Ucap Elza tanpa menatap Yuki yang terbelalak tidak percaya.


“Maksudnya restoran ini hasil bentukan bersama gitu?”


“Kalau kata pekerja lama sih gitu, Ki. Katanya dulu restoran ini dibangun khusus untuk salah satu sahabat mereka. Kebetulan Chef Alia yang sempat handle kitchen setahun yang lalu di sini itu sahabat yang dimaksud.” Ucap Elza menjelaskan pada Yuki sembari menyambung ingatan dari omongan yang pernah ia dengar.

__ADS_1


Sedangkan Yuki yang mendengar penjelasan Elza sempat merasa iri dan cemburu di sudut hatinya pada sosok Alia yang belum pernah ia jumpai. Sebentar saja, kemudian berangsur menghilang dan terganti rasa takjub dan bangga pada persahabatan yang terlihat sangat menakjubkan. Diam-diam Yuki bertekad akan memiliki kisah persahabatan yang tidak kalah mengharukannya bersama Dimas dan Ara.


Khem..


Deheman keras tiba-tiba menginterupsi Yuki yang masih berada dalam angan-angan penuh bayangan persahabatannya dengan Dimas dan Ara. Menoleh kesal pada sumber suara yang mengganggunya, Yuki kini hanya mampu menunjukkan cengiran khas yang memelas.


“Ini jam kerja. Bukan jam gosip!” Ucap Keven ketus, menyorot tajam Yuki yang membalas tatapannya dan Elza yang menunduk salah tingkah atau mungkin lebih tepatnya takut pada Keven.


“Mas Keven jangan marah-marah. Aku itu gak sengaja di sini terus ketemu Kak Elza, basa-basi saling sapa kan bagus buat sesama pekerja Mas.” Bantah Yuki dengan berani yang mendapat gelengan samar oleh Elza. Namun memang Yuki nya saja yang sudah kelewat nekat, ia justru menganggap gelengan Elza sebagai bentuk dukungan.


“Basa-basi? Mau kamu aku kasih basa-basi surat pemecatan?” Menyeringai, Keven berucap santai sambil melipat tangannya di depan dada.


Menggelengkan kepalanya, Yuki menatap lekat Keven dengan bibir mengerucut. “Mas Keven gak lucu bercandanya. Untung ganteng, kalau gak.. Ckckck, gak lolos sensor candaannya.” Ucap Yuki sekenanya yang semakin membuat Elza ingin menenggelamkan diri ke dasar tumpukan bawang Bombay.


Rasanya Elza sudah siap jika sebentar lagi akan dilempar amplop berisi uang pesangon oleh Keven. Memilih pasrah dan menerima nasib, Elza dengan wajah pucat pias melirik sekilas pada Keven yang sedang tercengang pada jawaban asal Yuki.


...****************...


*


*


*


Rasanya kurang puas dengan bab kali ini. Kalau yang baca gimana nih?🤔


FYI, hari ini nyaris menyerah UP soalnya tadi sempat ngira gak bisa pulang dari luar Kota. Ada hujan besar yang bikin akses jalan terputus karena banjir.


Tadi juga kondisi gak bawa charger dan laptop sengaja ditinggal. Beruntungnya menjelang sore ada info jalan lain yang udah bisa dilewati, meski harus putar arah cukup jauh dan berakhir motor kembang kempis nyaris mogok berendam air banjir. Tapi syukurnya baru bener-bener mogok waktu udah sampai depan rumah, jadi gak ada sesi dorong mendorong di tengah hujan besar.😄

__ADS_1


Dan kenapa ini lebih dadakan dari tahu bulat, alasannya karena anak baru merangkak nulis ini jam 8 malam baru mulai menghalu dan ketik 2 bab ini 😂 Jadi mohon maaf kalau kurang 'wah'🤧


__ADS_2