Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Dunia Sendiri, Bukan Berdua


__ADS_3

“Njir, kok habis?” Dimas melotot pada piring kosong yang sempat ditinggalkan. Padahal tidak sampai lima menit ia menemui Nita, berpesan agar sang adik membantu pegawai yang baru dipekerjakan hari itu.


“Aku makan, punyamu, kan?” sahut Yuki cuek, masih sambil mengunyah gigitan terakhir bolu ketan hitam milik Dimas.


“Udah tau punya aku masih aja dihabisin.”


“Ya karena punyamu makanya aku makan.”


Sambil mendengus sebal, Dimas menahan tangannya yang hendak menoyor Yuki. Detik berikutnya terdengar hembusan kasar dari mulut Dimas bersamaan jemari terkepal dan tubuh yang didudukkan.


Baru saja Dimas duduk, tiba-tiba Yuki mendorong kursinya. Sekejap suara rengekan gadis itu mengalun manja. Tidak peduli pada banyak pasang mata yang tanpa sengaja menyaksikan.


“By, lama banget ke toiletnya. Kamu bertapa apa cuci mata? Hampir aku kira kamu diculik."


"Dikira toilet yang pakai cuma Bang Keven. Lagian mau cuci mata apaan batangan semua," celetuk Dimas asal sambil memutar malas bola matanya. Namun mendadak ia menyengir tanpa malu sambil berkata, “maaf, Pak. Mulutnya suka ngomong sesuai fakta. Lagian Ara udah gak polos ngapain ditutup telinganya. Terbukti udah tekdung gitu.”


“Itu namanya sayang, takut pujaan hati terkontaminasi racun dari mulut kotormu. Makanya cari cewek buat dibucinin biar nggak bego-bego banget,” ketus Yuki sekenanya. Ia senggol kuat lengan Dimas agar menyingkir, berpindah pada kursi lain tepat di hadapan Rava.


“Dasar bocah prik. Udah diam-diam nyolong bolu ketan, bergerak ternyata balikan sama mantan. Kayak gak punya gebetan lain, gak laku banget.”


Sontak Keven mendelik akan kalimat Dimas. Namun memang dasarnya Dimas yang masa bodoh, ia malah dengan santai berpindah tempat duduk sambil menatap sekilas pada Keven yang memicing sengit.


“Dari pada diam-diam kecolongan bergerak juga gak punya gebetan, wek!” balas Yuki sambil menjulurkan lidah, ia puas menembak tepat sasaran pada titik kejombloan Dimas.


“Asem!” umpat Dimas kesal.


“Sayang, udah,” tegur Keven singkat. Jelas bukan untuk melerai keributan, tapi ia cemburu pada keakraban Dimas dan Yuki.


Berulang kali pula Keven menghela nafas dalam-dalam guna menekan kecemburuan. Bertahan menimpali obrolan saat suaranya dibutuhkan meski ia lebih ingin menghabiskan waktu berdua bersama Yuki. Sesekali juga tanpa sengaja Keven beradu pandang dengan laki-laki di sudut seberang yang sibuk memainkan rambut dan mengusap perut besar sang istri.

__ADS_1


Akhirnya siang menjelang sore hari itu mereka habiskan dengan sedikit obrolan yang tetap didominasi suara berisik Yuki dan Dimas.


"Mau? Ambil aja."


Yuki Membeku. Ia menoleh dengan kaku lalu tiba-tiba menyeringai pongah. "I see it, I like it, I want it, I got it, yeah …." Sepenggal nyanyian sumbang dengan liukan bahu dan pinggul Yuki sukses membuat Ara terkekeh.


"Ambil, Ki, mumpung ada bandar," sela Dimas sambil mengamati dengan tidak minat jajaran tas perempuan.


"Mahal gila, jutaan. Ini aja 50 ribu," balas Yuki layaknya berbisik sambil menepuk tas selempang miliknya.


"Serius? Mana?" Seketika mulut Dimas melongo dengan mata membulat takjub. "Ini jelas bukan buat kaum mendang-mending kayak kita.”


"Kalau suka ambil aja. Aku ambil yang ini," ucap Ara sambil menggoyang tote bag jumbo berbahan kanvas yang ditenteng tinggi. "Buat bawa barang-barang lahiran nanti."


"Dia nyuruh aku ambil ini yang jutaan, tapi buat dia sendiri harganya gak sampai 200 ribu.” Yuki meremas tengkuknya tidak percaya. Memejamkan sebelah mata seolah merasai tekanan darah yang memuncak.


“Heh, Hama, udah ambil aja. Mumpung Nyonya lagi khilaf nawarin barang mahal,” celetuk Dimas.


“Sok nggak-nggak nanti diambil juga,” cibir Dimas.


“Berisik ya, Cuit. Kalau tau diem aja!” desis Yuki sambil melotot.


“Selagi bumil satu ini doyan ternak parasit, turuntin aja apa titahnya. Kurang duit ada Big Boss di belakang. Diborong satu tempat ini juga bisa.”


“Udah tau kita gampang nyaman malah dimanja, duo parasit sekali,” ucap Yuki membenarkan kalimat Dimas sembari tergelak. Namun urung mengambil tas yang sejatinya berhasil membuatnya jatuh hati, tentu Yuki masih tau diri.


Lagi pula dalam kamus Yuki jika bisa mendapatkan harga murah dengan kualitas terbaik, ia tidak perlu barang bermerek. Cukup nyaman dan sesuai kebutuhan saja. Karena itu ia akan memiliki lebih banyak alasan untuk menumpuk koleksi tas kesayangan dengan berbagai warna dan style sejalan isi dompet.


“Kayak mimpi lihat kalian akur,” ucap Ara tiba-tiba sambil mengulas senyum tipis. Ia tampak lega, namun entah karena apa.

__ADS_1


Sedangkan dua laki-laki dewasa berlainan usia yang tidak saling bertegur sapa memilih berdiri berjarak. Mereka bagai sosok ayah siaga yang sangat posesif mengawasi anak gadisnya. Diam mengekor di belakang dan bersiap mendepak Dimas jika pemuda itu berani bertingkah.


“Ssstt, Ra! Pak Rava masih sensian sama Mas Keven ya? Serem banget.” Yuki bergidik. Mata yang melirik diam-diam itu jelas melihat dengan jelas aura gelap di antara Rava dan Keven. Keduanya bagai dua sisi jurang terjal dengan tunggul dan batu tajam yang siap mengoyak siapa pun yang tergelincir ke dalamnya.


“Gak usah heran, Ki.” Bukan Ara, melainkan Dimas yang menjawab.


Sekali lihat saja Dimas bisa merasakan atmosfir mencekam yang tidak ingin didekatinya. Sangat berbeda jauh dengan energi cerah seakan penuh pelangi dan permen kapas yang sejak tadi menyelimuti dirinya, Yuki dan Ara.


“Iya memang nggak heran. Tapi kalau ditinggal pawang bisa-bisa Mas Keven dikunyah. Keliatan banget masih dendam gara-gara gelut yang dulu. Pak Rava bucin next level parah."


“Iri bilang, Bos!” seru Dimas, tiba-tiba menyempil di antara Yuki dan Ara yang berjalan beriringan.


"Ngapain sih bikin sempit aja?! Jalanan luas woy, minggir! Pengangguran banget doyan rusuh," gerutu Yuki sewot.


“Pengangguran teriak pengangguran.”


“Jomblo bisa diam?!” balas Yuki mencibir.


“Jomblo kok diam. Jomblo itu bebas bawel. Tau kenapa? Karena dunia punya dia sendiri, bukan berdua.”


“Gak jelas! Bilang aja lagi koar-koar nyari jodoh. Sok dunia punya sendiri. Bikin orang mules. Jomblo-jomblo …."


Padahal belum sampai 10 menit Ara menyebut keduanya akur. Namun saat ini sudah terlihat normal seperti sediakala bagai ular dan harimau julid.


“Argh! Huk!” Tubuh Dimas bak melayang. Terhempas ke belakang tidak begitu kasar. Beruntung tungkainya kuat menopang bobot tubuh yang terdorong. Namun mau tidak mau Dimas harus merasakan dahsyatnya tercekik kaos yang ditarik dan tersedak sekaligus.


Kini dua laki-laki yang tidak bersuara itu sama-sama menatapnya penuh intimidasi. Kompak merangkul pasangan masing-masing dengan aura membunuh ditujukan pada Dimas.


Spontan Dimas menunjuk dirinya sendiri sambil mengernyit. Sejurus kemudian membulatkan mata, menggeleng cepat seraya melambaikan tangan seakan membantah. Tidak tau apa yang sedang terjadi. Perbincangan bisu lewat sorot tajam saat itu benar-benar misterius.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih udah baca sampai sejauh ini😘


__ADS_2