Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Ghosting?!!


__ADS_3

"Halo, Pa ...."


"Mau apa?! Masih belum puas kamu datangi rumah saya?" hardik Papa Gibran sengit sambil mengangsurkan balita yang digendong pada sang istri.


"Papa!"


Hampir saja Papa Gibran kembali marah. Namun tubuh mungil di belakang Keven yang tidak disadari kehadirannya tiba-tiba menyembulkan kepala, memanggil lirih namun penuh penekanan. Sukses dalam sekejap amarah Papa Gibran langsung melambung tinggi meski bibirnya bungkam seribu bahasa. Alhasil ketiga manusia berlainan usia itu saling melempar pandang dengan aura berbeda.


“Jadi kamu pergi, marah-marah nggak jelas hanya untuk nemuin dia?!” tuduh Papa Gibran tidak suka.


Yuki yang tadinya hanya menyembulkan kepala praktis melangkah ke depan, berdiri di antara Papa Gibran dan Keven. Ia tatap kedua laki-laki berbeda usia itu silih berganti. Bukan menanggapi tanya penuh tuduhan Papa Gibran, melainkan untuk berkata, "Mas Keven pernah ke rumah Papa? Kapan? Kamu beneran mau jadi pebinor istri Papa, Mas? Wah keren. Tapi ... AKU DI GHOSTING?!!" Ibu jari yang sempat teracung takjub seketika layu seiring mata melotot tajam Yuki melebar.


"KURANG AJAR!!"


"Papa!!"


Tangan tua Papa Gibran menyambar kerah baju Keven, mencengkeram erat dalam serangan mendadak. Sontak Keven tercekik tanpa perlawanan. Ia diam bukan karena tidak sanggup melawan, hanya saja tidak ingin membahayakan posisinya di mata pujaan hati.


...----------------...


“Ssshh,” desis Keven pura-pura meringis kesakitan. Padahal ia sedang menahan geli karena hembusan pelan beraroma mentol di lehernya.


“Kamu sih sekarang suka tebar pesona. Udah kayak jamur kuping kering di sop, doyan meleyot.”


“Bukannya kamu harus minta maaf?”


“Buat apa?” Memicing, Yuki hentikan usapan ibu jarinya pada bagian leher Keven yang memerah, bekas jerat kerah baju yang ditarik Papa Gibran.


“Udah nuduh aku, tadi?" balas Keven sambil menekan kata ‘tadi’ seiring sebelah alis terangkat. Perlahan ditangkap jari Yuki agar kembali menempel di lehernya.


“Gak mau. Salah sendiri kode mau jadi pebinor,” tolak Yuki seiring tangannya ditarik kencang. Memilih bersedekap dan membuang pandangan.


“Makasih ya udah cemburu,” celetuk Keven tiba-tiba. Mengusap gemas kepala Yuki. Lekas ia bergegas menuju tong sampah terdekat, membuang bungkus permen yang tadi Yuki buru-buru makan sebelum meniup ruam merah di leher Keven. Tentu agar tidak berbau jigong, begitu pikir Yuki.


“Ap-apa? Cemburu!? Aku? Siang-siang gak usah menghayal, Mas!”


“Udah sore, Ki.”


“Sama aja!”


“Iya, sama,” sahut Keven mengalah. “Sekarang udah mau pulang?”


Mengangguk, Yuki mengulurkan tangannya. Reflek langsung Keven sambut dengan genggaman erat.


“Helm, Mas! Bukan mau nyebrang pakai gandengan segala.”

__ADS_1


“Oh, helm.” Menyengir malu, Keven mengendurkan genggamannya.


"Tapi kan aku yang bawa motornya ...," lanjut Keven berucap.


"Hish, kamu sih pakai acara naik taksi segala biar nggak ketahuan! Gak guna banget ujung-ujungnya nongol nyamperin aku." Cemberut dan mendengus sebal, Yuki lantas berjalan gontai di depan Keven. “Cepetan! Jok motornya kepanasan.”


Belum lama Keven dan Yuki keluar dari area minimarket, baru melaju beberapa menit ponsel Yuki bergetar dan bernyanyi riang. Lekas Yuki tepuk bahu kokoh Keven. Ia pinta menepi sebentar.


“Kamu ada masalah apa lagi sama Papa-Ku?” Selidik Yuki sambil menjambak poni frustasi. Baru kali ini Papa Gibran terobsesi meneror kabar tentangnya, meski hanya sekadar bertanya apakah ia masih bersama Keven.


Benar, baru saja Yuki selesai menerima panggilan telepon dari Papa Gibran. Bahkan belum terlalu lama, tepatnya setengah jam yang lalu sebelum berhenti di minimarket Yuki juga telah mengabari situasinya yang dibonceng Keven.


Menghela perlahan, Keven tatap lekat sepasang bola mata indah Yuki. “Kamu masih nggak percaya sama aku? Aku akui memang beberapa kali datang ke rumah Papa. Tapi aku berusaha meminta restu orang tua kamu. Walaupun belum tentu kamu mau kembali sama aku. Begitu juga Mama ….”


“Yakin bukan caper sama istri Papa?” ucap Yuki menyela.


“Benar-benar masih nggak percaya?”


Mengangguk kuat, Yuki menunduk lesu. “Susah.”


‘Aku nggak ingin kembali menjadi sebatas pion untuk perempuan lain,’ batin Yuki mengimbuhi sepatah kata yang terucap susah payah. Sekilas ia lirik sendu Keven yang tidak lepas memandanginya.


“It’s okay. Aku bakal berusaha lebih keras lagi supaya kamu percaya.”


Senyum Keven kecut. Mau tidak mau ia harus mengecap getirnya kepercayaan Yuki yang sulit diraih. Memang salahnya pernah membubuhkan luka, namun masih tidak disangka interaksi antara dirinya dan Nindy yang entah bagaimana Yuki lihat berhasil membuat Yuki kembali ragu atas cinta yang Keven perjuangkan. Meskipun Keven akui ada secercah kebahagiaan karena secara tidak langsung Yuki seakan menunjukkan kecemburuannya.


“Apa ini artinya kamu mau menerima aku?”


“Mungkin …,” ucap Yuki sengaja menggantung. Ia seakan sengaja menggoda Keven.


“Udah yuk pulang. Takut kemalaman sampai B," ucap Yuki lagi sambil menarik lengan Keven. “Langitnya juga udah berhenti nangis. Sekarang dia udah mulai bahagia. Semoga nggak ada awan hitam lagi.”


Keven lantas mendongak. Dahinya mengerut pada terik mentari yang bersinar terang. ‘Kapan hujan?’


“Jangan membatu. Buruan pakai helm. Jalan kita masih super jauh,” celetuk Yuki membuyarkan lamunan Keven.


Menurut, Keven kenakan helm yang dipegang. Duduk menegakkan motor seiring standar yang dinaikkan.


“Pegangan.”


“Udah."


“Bukan gitu ….” Tangan Keven bergerak ke belakang, berniat memindahkan tangan Yuki yang mencengkeram pakaiannya.


Namun tidak sesuai perkiraan, Yuki justru menepis kuat seraya berkata, "eits, no modus-modus club. Cukup jaket kamu aja pegangan aku.”

__ADS_1


“Sama aku gak mau, tapi dibonceng Dimas nempel-nempel,” gerutu Keven sebal dengan tangan terkepal di atas paha.


“Ngarang, fitnah banget. Kapan Dimas bonceng aku? Gak pernah lagi ya semenjak lulus kuliah," seru Yuki menyangkal gerutuan Keven.


...----------------...


Sementara itu di gerai milik Keven, namun tidak di dalam bangunannya terlihat Saka menatap jengah wanita yang dihadapi. Sosok yang mendorong stroller bayi itu jelas tersenyum remeh pada dirinya.


"Selera kamu jadi mirip Keven. Sangat disayangkan ... rendahan."


"Baguslah kalau kamu sadar," balas Saka santai tanpa melihat lawan bicaranya.


Sejenak pandangan Saka mengedar. Ia menoleh ke sisi kanan pada gerai Keven yang tidak terlalu ramai. Mengunci lirikan pada gadis yang terlihat asik menyeruput milkshake namun menghujam tatapan lurus ke arahnya, benar-benar tajam dan awas.


"Sering-sering aja ngaca. Ternyata kamu cukup sadar diri juga, Al ... rendahan."


Dalam sekejap senyum Alia luntur, berhasil dijatuhkan oleh seringai lebar Saka. Namun tidak menunjukkan sedikitpun aura kemarahan, Alia jelas tertawa hampa penuh makna.


"Wah ... di mana mulut manis yang suka merayu? Ternyata sangat buruk menjauh dariku. Bukannya lebih baik kita kembali bersama? Membangun sebuah keluarga dengan anak-anak yang lucu, itu kan harapan kamu?"


"Kamu lagi memohon ke aku?”


"Hahaha ... bukan aku, tapi kamu, Saka. Kamu yang butuh aku."


"Alia-Alia ... kamu nggak capek terus kayak gini? Berhentilah. Kamu hanya akan terluka. Lebih baik kita lupakan kalau dulu kita pernah berteman dan saling menyukai. Ya walaupun mungkin sebenarnya perasaan tulusku dulu nggak pernah kamu balas."


"Kenapa? Aku cuma mau lihat kehidupan kalian. Tanpa aku benar-benar kacau, kan?"


"Suka-suka kamu mau anggap hidup kami kayak gimana. Nyatanya semakin bahagia tanpa kamu. Udah, pergilah! Urus hidupmu sendiri dan bertanggungjawab tentang Rezvan."


"Aku hamil saat kita menikah," ucap Alia tiba-tiba menghentikan langkah Saka yang baru membalikkan badan.


"Cukup, Al! Kamu udah hamil bahkan sebelum kita nikah!”


"Ah, jadi kamu tau? Tapi tetap aja aku hamil saat kita nikah."


Kembali berbalik, Saka menatap Alia putus asa. "Kamu gila? Minta Ayahnya bertanggungjawab. Ngapain kamu ngerecokin hidup aku dan Keven terus?!"


"Karena kamu dan Keven Ayahnya. Untuk apa aku cari yang lain? Aku cuma punya kalian. Kamu tega biarin aku sendirian?"


"Bodo amat!”


“Kamu bisa baik sama anak pungut itu, tapi nggak dengan anakku?”


Seketika bunyi tamparan menggema. Mematik jeritan kemarahan. Mengejutkan bayi yang terlelap di dalam stroller dan seorang bayi lainnya dalam gendongan yang buru-buru ditangkup wajah mungilnya.

__ADS_1


"Maaf, Om, itu titipan Kak Yuki," sungut remaja perempuan dengan nafas tersengal emosi. Memandang sengit wanita yang ditenangkan orang-orang. Lantas ditunjukkan layar ponsel menyala dengan potongan pesan singkat dari nama 'Kak Yuki'.


__ADS_2