Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kalau Sudah Tiada Baru Terasa


__ADS_3

Sisi kanannya dingin dan kosong. Gundukan manusia terbalut selimut yang biasanya hangat kini menghilang. Tangan yang sudah cukup lama tidak pernah meraba sisi kasur lainnya pagi ini seakan merindukan hadirnya seseorang yang biasa mengisi sebagian ranjangnya. Mulanya tidak ingin berbagi, terpaksa tidur bersama, namun setelah tiada hampa terasa.


Sudah dua malam tidur Keven tidak tenang, mungkin ia harus rela malam nanti tidurnya terganggu lagi. Raganya sudah sekuat tenaga menyangkal, tidak terlalu perduli jika Yuki ingin kabur atau bahkan menghilang selamanya, namun sangat aneh Keven terus-menerus dilanda kegelisahan.


Mungkin hanya sisi kemanusiaan. Bisa jadi karena Mama Agni yang memusuhi atau Papa Leigh yang bersikap ketus padanya. Tapi hebatnya menyambut malam ketiga kepergian Yuki, Keven sadar bahwa ketidakhadiran Yuki cukup mengusik hatinya.


“Kenapa juga gue harus mikirin dia?!” Gumam Keven masih dengan mata terpejam dan kepalan tangan kanan yang sudah mendarat mulus di sisi kanan ranjangnya. Beberapa kali Keven meninju asal kasur empuk yang terasa kosong. Padahal Keven kini sudah tidur tepat di pertengahan, bukan di pinggir seperti beberapa waktu terakhir kala Yuki masih setia mondar-mandir di kamarnya.


“Argh!! Sialan!!” Umpat Keven dengan suara menggeram rendah, mengacak asal rambutnya dengan sedikit remasan. Ingin berteriak sepuasnya, namun Keven tidak ingin membangunkan macan garong yang semakin memupuk emosi negatif terhadap dirinya.


Kini Keven merutuki dirinya yang tidak berhasil mengejar Yuki di jalanan saat itu. Menyumpahi sikapnya yang bodoh justru termenung di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Harusnya ia pulang dan berbicara empat mata dengan Yuki, menyelesaikan masalah mereka meski berakhir dengan perkelahian.


Entahlah saat itu Keven benci dengan omongan Yuki yang menuduhnya selingkuh. Belum lagi sebelumnya Yuki meminta bercerai yang ajaibnya membuat Keven tidak rela. Apa lagi ditambah sahabat Yuki yang sempat membuatnya malu di hadapan banyak orang.


Keven hanya berniat membelikan hadiah sebagai permintaan maaf karena selalu membuat Yuki menangis dalam diam. Meski tidak terucap karena gengsi, tapi itulah alasan Keven sebenarnya. Pertemuannya dengan Alia bukan kesengajaan.


Pernikahan yang sudah memasuki bulan ke-3 itu tidak ada yang spesial. Membuka sepasang kelopak matanya menatap suasana kamar yang tamaram, Keven mencoba mengingat apa saja yang sudah ia lakukan selama lebih dari 70 hari menjadi suami Yuki. Sebuah pukulan telak memukul harga diri seorang Keven, karena jawabannya tidak ada yang ia lakukan untuk Yuki. Bahkan sekedar mengingat kebiasaan Yuki saja ia tidak mampu.


Di benak Keven, selain bangun pagi menyiapkan segala kebutuhan untuk dirinya dan malam hari saat akan tidur saling mendiamkan, Keven tidak bisa mengingat kenangan apapun tentang Yuki. Seolah menjalani pernikahan yang sia-sia, Keven sadar dirinya bersalah dan memanfaatkan rasa cinta Yuki yang sudah ia ketahui demi menutupi citra buruknya serta menjaga hubungan Alia dan Saka tetap utuh.


Yuki memang wanita pilihan Keven, namun sayang hati Keven tidak pernah untuk Yuki. Entah tidak ada atau belum ada, namun Keven selalu menyangkal dan tidak ingin membuka hatinya untuk terluka lagi.


Jika saja dahulu Saka tidak membuat keributan di rumah Keven sambil menuduh dirinya seorang pebinor, mungkin saat ini ikatan diantara Keven dan Yuki tidak akan pernah terbentuk. Bahkan mungkin Keven tidak ingin mengenal Yuki lagi. Sudah cukup rasanya Keven menyakiti Yuki, padahal dengan perempuan lain ia selalu lebih memilih bersikap acuh dibanding mengambil langkah menggores sisi yang rapuh.


Seandainya Keven ditanya menyesal, tentu Keven menyesal telah melibatkan Yuki. Berakhir dengan dirinya sendiri yang ikut tersiksa, jika waktu dapat diulang kembali, Keven tidak akan pernah menjebak Yuki.

__ADS_1


Sangat terekam dengan jelas bagaimana Keven memanfaatkan kesempatan atas kebaikan Yuki dengan seolah-olah menghabiskan malam bersama dan menyebarkan kegilaan itu di sosial media pribadi Yuki. Keven sukses melancarkan niatnya membuktikan adanya perempuan yang ia cintai pada Mama Agni, Saka dan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.


Tanpa Keven sadari dirinya membuat Yuki tenggelam dalam kubangan cacian dan cemoohan. Dan karena ini pula kedua pihak keluarga mendesak keduanya untuk menikah tanpa mau dibantah. Apa lagi Papa Gibran yang menuntut pertanggungjawaban Keven tanpa menggubris penjelasan Yuki.


Air mata Yuki memang jarang menetes selama bersama Keven, namun sakitnya bukan kepalang karena Yuki tidak bisa menumpahkan segalanya. Satu-satunya cara meluapkan sesak menghimpit dada, cakaran menggores hati dan bogeman menghancurkan akal sehat hanya air mata. Kini belum kering kesedihan, Yuki sudah diberikan bonus tambahan tamparan kenyataan kasat mata lewat kebenaran kisah keluarganya yang tidak kalah menyakitkan.


“Kamu kenapa gak pulang? Bisa-bisanya pergi gak izin dulu. Suami kamu barusan telepon Mama minta untuk kamu angkat panggilan dari dia.” Ucap Mama Maria ketus, mengomeli Yuki yang duduk manis mengaduk-aduk makan siang di piringnya. Kuah sayur sop yang tadinya masih bening berubah keruh akibat nasi yang perlahan tergerus. Padahal Mama Maria sengaja menggunakan jatah istirahat kerjanya untuk pulang menghabiskan waktu sejenak dengan anaknya.


Menghentikan gerakan tangannya, Yuki menatap wajah sang Mama seolah menuntut kebenaran. “Dia tau aku di sini, Ma?” Tanya Yuki pada Mama Maria dengan alis nyaris tertaut.


“Tau. Mama kasih tau.” Jawab Mama Maria sambil mengangkat gelas berisi es cincau.


“Argh..!!” Melepaskan sendok di tangannya dengan kasar, Yuki membenturkan punggung asal ke sandaran kursi.


“Kenapa? Kamu ada masalah sama suami kamu?” Tanya Mama Maria, menyelami ke dalam sorot mata Yuki yang dipenuhi kekesalan.


“Untuk apa kamu buat masalah kayak gini kalau pada akhirnya kamu pulang ke sana?” Tanya Mama Maria seakan frustasi menghadapi anak gadisnya yang tidak pernah tidak sewot selama hampir 3 hari ikut bersamanya. Lagi pula Mama Maria tidak akan rela Yuki harus tinggal bersama mantan suami dan istri barunya.


“Sebenarnya Mama ngusir anak Mama ini kan? Semuak itu Mama lihat aku ada di sini? Apa Mama juga sama kayak Papa yang udah punya anak lainnya?” Tanya Yuki dengan suara meninggi. Kecewa, marah, putus asa dan frustasi Yuki pendam sedalam-dalamnya, namun ia tetap manusia dengan gejolak emosi yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan dan diredam.


“YUKI!!” Bentak Mama Maria dengan mata melotot marah.


“Ck!” Berdecak kesal, Yuki mendorong mundur kursi yang ia gunakan. Menghentakkan kaki meluapkan amarah beranjak meninggalkan Mama Maria.


“Duduk di tempat mu!!” Tukas Mama Maria dengan intonasi suara tinggi sarat akan perintah.

__ADS_1


“Aku mau ke kamar, mau tidur. Kali aja semua ini hanya mimpi dan saat aku bangun rupanya besok masih harus pakai seragam putih biru.” Ucap Yuki yang sengaja menyindir ibu kandungnya. Masa putih biru adalah saat-saat terakhir Yuki merasakan rumah penuh dengan kehangatan.


Berdosa pun Yuki sadari. Jika tidak mengingat kasih sayang yang selama ini Yuki dapatkan, maka dapat dipastikan ia akan berontak marah sejadi-jadinya, bukan berdiam diri seharian dan selalu menanti kepastian.


Yuki bersikap kurang ajar juga bukan tanpa alasan. Sudah sejak kemarin baik Papa Gibran maupun Mama Maria selalu saling menyalahkan. Yuki yang masih terguncang semakin dibuat sakit kepala dengan sikap saling melempar tuduhan kedua orang tuanya. Memilih diam, Yuki berharap dapat dilahirkan kembali menjadi seonggok batu.


“Dengerin Mama dulu, Nak!” Ucap Mama Maria tiba-tiba melembut, menatap sendu punggung anaknya yang bergetar samar.


“Aku gak mau dengerin apapun lagi, Ma. Capek!” Jawab Yuki ketus. Nafasnya yang memburu dan suara parau mengisi ruang makan siang hari itu.


“Bisa gak sih kalian mikirin aku sebagai anak di sini? Gak Papa, gak Mama, semua saling menyalahkan. Please, Ma, Yuki pusing sekarang harus gimana..!!” Berjongkok membelakangi sang Mama sambil menutup wajahnya yang menelungkup, Yuki seakan ingin menyerah menghadapi hidup selanjutnya.


...****************...


*


*


*


🎶Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga🎶 (Eh?🧐 Malah dangdutan😆)


__ADS_1


Terima kasih semuanya yang sudah menanti🥰


Kebiasaan ku yang suka rebahan berakhir molor akhirnya ninggalin laptop bergadang sampai pagi tanpa ditemani ketikan manja🤭


__ADS_2