Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Memancing Cinta


__ADS_3

📩


Mas Keven


Aku pergi. Jaga diri kamu di sini.


“Kenapa nggak keluar?”


Terperanjat, Yuki menempelkan ponsel dengan layar menyala itu di dada. Jantungnya berdegup kencang akibat suara menyeletuk dari sosok yang berdiri di sampingnya.


“Kakak nih ngagetin aja,” ucap Yuki dengan suara berbisik. Sesekali matanya melirik ke celah jendela kayu. Diam-diam mengamati punggung lesu Keven menjauh pergi di bawah gerimis yang tersorot lampu teras.


Sejujurnya Keven tau Yuki sedang berdiri diam di balik jendela. Namun ia tidak ingin memaksa gadis itu untuk keluar menemuinya. Cukup dengan mengetahui Yuki di sana sudah menjelaskan bahwa gadis itu masih memperhatikan dirinya.


“Maaf kalau lancang, sebenarnya hubungan kalian apa?”


“Hm?” Mengernyit, Yuki tidak hanya sekedar terperanjat, kini ia benar-benar syok. Pikirannya mulai menerka-nerka. Mata jernih itu membulat pada perempuan yang dipandangi saat ini.


“Kakak memang nggak pernah tanya ke kamu, tapi banyak omongan yang Kakak dengar kalau kamu janda. Kakak juga pernah dengar laki-laki itu bilang sendiri kalau dia suami kamu. Asal kamu tau, banyak yang diam-diam ngomongin kamu. Kita ini sama-sama pendatang, jadi harus banyak-banyak jaga sikap.”


“Aku memang janda. Dia mantan suami aku, Kak … maaf kalau seandainya masalah aku berimbas ke Kakak dan buat Kakak kepikiran.”


“Bukan … nggak gitu, Ki. Maaf juga udah lancang tanya ini ke kamu.” Menggeleng canggung, detik berikutnya ia mencoba bertanya lagi, “apa kalian masih saling cinta?”


Mengedikan bahunya, Yuki tersenyum masam. “Entahlah … aku ke kamar dulu ya, Kak,” jawab Yuki seiring deru mobil Keven yang akhirnya terdengar meninggalkan halaman rumah.


Dengan langkah kaku Yuki bergegas ke kamar. Melawan keinginan untuk membalikkan badan demi memastikan Keven telah benar-benar menghilang. Sedangkan sesampai di kamar, tepatnya berbaring di atas kasur berselimut sebatas perut, Yuki hanya ingin terlelap dengan tenang. Hari yang disangka akan sangat membosankan rupanya memiliki banyak cerita.


Namun sayang, malam itu sedetikpun Yuki tidak mampu mengetuk pintu mimpi. Mata itu terjaga, mengerjap menatap kosong langit-langit tanpa plafon. Badannya bolak-balik miring ke kanan kiri dengan gusar. Sesekali ia duduk menghembuskan nafas kasar lalu kembali berbaring dengan menghempaskan punggung.


Menoleh ke sisi kiri, Yuki meraih ponselnya. Mengetik dan menghapus setiap huruf yang terangkai berulang kali. Seolah banyak kata yang ingin disampaikan, namun tidak mampu dituliskan. Jarinya terlalu ragu. Otaknya terlalu beku untuk mencerna bisikan hati. Hingga fajar menyingsing, tanpa sengaja sebuah kalimat ‘hati-hati di jalan’ terkirim.


...----------------...


Tiga bulan Kemudian …

__ADS_1


Brak.


Brak.


Brak.


“Oke, siap!” teriak Yuki dengan senyum mengembang sembari memukul badan mobil bak terbuka. Panas yang menjalar di telapak tangan tidak terasa akibat ia teramat sangat senang. Belum lagi suasana malam gelap dan berangin lama-kelamaan menyusupkan hawa dingin yang meremangkan bulu kuduk.


“Berangkat-berangkat … kapal sejam lagi sandar,” teriak suara lainnya seakan menyahuti teriakan Yuki.


“Lele yang udah disortir buat pasar, besok jam 3 pagi antar ya, Pak. Udah dihubungi tadi pedagangnya,” celetuk suara laki-laki lainnya pada lelaki paruh baya, salah satu warga yang masih bertahan mengikuti program desa yang baru dirintis lagi sebagai pekerjaan sampingan.


“Yuki, pantau kolam bioflok-nya ya. Nanti ada orang dari kebun yang datang bantu cek sawi. Tanyakan semua hal yang kamu anggap penting. Gak usah malu-malu.”


“Siap, Bang. Aman itu. Semoga kali ini nggak ngambang lagi,” jawab Yuki dengan ibu jari mengacung mantap.


Kini mobil bak terbuka itu sudah mulai melaju menuju pelabuhan. Mengangkut sekitar 200 kilogram lele segar yang masih berenang dalam keterbatasan. Seribu ekor bibit ikan yang ditebar dalam masing-masing kolam seluas lima kali dua meter itu telah tumbuh besar dalam ukuran siap jual. Tentu tidak semuanya berhasil hidup.


Sedangkan lebih kurang 100 kilogram lainnya akan dijual di pasar. Selebihnya hendak dibagi-bagikan serta dimasak bersama sebagai ucapan syukur. Mereka cukup beruntung bisa mendapatkan tengkulak dalam perjalanan pembudidayaan yang terbilang singkat. Pasalnya pemasaran lele itu sendiri tidak kalah sulit dibandingkan mengajak dan menggerakkan warga untuk ikut serta terlibat.


Sejenak Yuki menghela nafas lega yang berubah gelisah. Ia merogoh ponsel dari saku celana. Layar yang sedetik kemudian menyala tampak bagai rumah kosong. Hening tidak ada cuitan notifikasi apapun selain promo bonus kuota internet dengan pengisian pulsa minimal. Itu pun terakhir kali diperoleh kemarin sore dan belum dibuka seluruh isi pesannya sampai detik ini.


Seminggu belakangan Keven teramat sulit dihubungi. Ia bagai ditelan Bumi. Bahkan laki-laki itu sudah jarang memborbardir Yuki dengan serangkaian pesan singkat yang terkadang menggelikan. Meski begitu, biasanya Keven tetap mengirimi Yuki sebuah ucapan selamat malam, namun belum untuk malam ini.


“Masa lagi main tarik ulur? Gak mungkin kan dia mendadak jual mahal buat memancing cinta?” tebak Yuki dengan dahi mengerut.


“Argh, apaan sih kepedean banget. Jelas dia udah bosan. Dasar lemah!” omel Yuki masih dengan suara bergumam. Ia berjalan sambil menghentak kesal.


“Yuki … bantu angkat pelet. Tadi lupa dibawa masuk.” Tiba-tiba suara melengking lolos dari perempuan yang sibuk menyusun ember-ember bekas penyortiran lele. Sontak Yuki memutar haluan, bergegas menuju tempat terakhir pakan ikan itu seingatnya diletakkan.


‘Kamu baik-baik aja, kan?’ Kalimat itu tanpa terduga terucap dalam batin Yuki. Menggema berulang diselingi beragam argumen. Berkemelut hingga paras yang dikhawatirkan seketika terbayang pada sekarung pakan ikan yang tinggal seperempat isinya.


“Jelek ngeselin,” ucap Yuki spontan sambil tersenyum miring. Sepertinya malam ini tidurnya akan terganggu lagi, begitulah tebakan Yuki.


...----------------...

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


“Yuki, udah siang!”


Panggilan lantang dan ketukan kuat menggema di balik pintu yang tertutup rapat. Mengusik Yuki yang tidur dengan mulut menganga. Membebaskan liur mengalir tipis lewat sudut bibir yang terkatup cepat karena tersentak kaget.


Rupanya Yuki salah. Tebakannya melesat. Tubuh lelah itu memilih terlelap. Tentunya tanpa mengarungi alam mimpi. Kini mata yang mengerjap lambat itu sudah harus menyambut pagi yang beranjak siang.


“What?! Kesiangan!! Aduh, orang kebun … ya ampun, ya ampun,” celoteh Yuki heboh sambil menggenggam ponsel yang baru saja menyala. Ia langsung berlari membuka pintu. Nyaris menabrak sosok yang hendak mengetuk sekali lagi.


“Jangan kesetanan. Tadi ada telepon, katanya orang dari kebun datang sore.”


“Serius, Kak? Syukurlah … pusing kepalaku berdiri mendadak,” ucap Yuki dengan kaki melemah. Ia sengaja meluruhkan diri, bersandar lemas bagai tidak bertulang. Sejurus kemudian menempelkan pipi pada dinding dingin. “Pengen tidur lagi. Capek banget ... nggak kerja?”


“Kamu sih pakai acara seluncuran di kolam lele. Lagi pula ini hari minggu, libur.”


“Hish, nggak loh, Kak. Kayaknya kolam itu angker. Dulu juga awal ke sini aku nyungsep di kolam itu. Pasti penunggunya ngerasa kalah cantik dari aku. Untung aku strong, tahan banting, jadi cuma pegal-pegal aja.”


“Pagi-pagi jangan ngomongin setan. Nanti malam Kakak nggak berani pipis sendirian.”


“Aduh Kakak ngomongin pipis jadi mules … panggilan alam nggak bisa ditunda,” celetuk Yuki sambil memaksa tubuh malasnya beranjak berdiri. Berlari kecil ke bagian belakang rumah. Tidak lupa diletakkan ponsel yang dibawa pada meja dapur sebelum meluncur ke kamar mandi untuk buang hajat.


Entah sudah berapa lama Yuki bertapa, tiba-tiba ia terbelalak. Daun telinganya melebar, menangkap suara ponsel yang menjerit nyaring dengan alunan melodi kesayangan.


“Mas Keven?” lirih Yuki sambil menggigit bibir bawahnya. Spontan melontarkan satu nama yang terlintas di benak.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih buat semua pembacaku tersayang yang ngikutin dari awal rilis ataupun yang baru marathons baca😍


__ADS_2