Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Tuyul Siapa


__ADS_3

Kesepuluh jari-jemari lentiknya terlipat beruntun, namun tidak sampai mengepal. Sesekali terbuka menengadah bersamaan dengan pupil mata yang mendelik naik. Yuki kembali menatap layar mesin ATM yang menampilkan dua digit angka, berkepala persis seperti bentuk tikungan dalam salah satu tes pembuatan surat izin mengemudi. Sedangkan angka-angka di belakangnya tidak banyak berubah. Hanya mungkin terpangkas sepeser biaya admin dari Bank.


“Tuyul siapa yang nyasar setor uang?” gumam Yuki sambil menggigit bibir bawahnya. Kerutan halus di dahi gadis itu semakin lama semakin bertambah.


Alhasil jari Yuki bergerak lincah bukan untuk melakukan penarikan, melainkan mencetak mutasi rekening. Ada lima bukti riwayat transaksi terakhir. Tiga di antaranya tertera uang masuk yang masing-masing bernilai 10 juta.


Gegas Yuki menekan tombol cancel, mengeluarkan kartu tanpa melakukan penarikan uang. Ia melangkah cepat keluar dari ruang segi empat sempit itu. Berjalan dengan nafas memburu disertai dugaan-dugaan yang tidak mungkin salah. Sudah sejak lama Yuki tidak mendapatkan laporan keuangan dari Bank, tepat setelah ia mengganti nomor ponsel.


"Udah?" tanya Keven sambil menegakkan punggung. Tangan yang menyilang itu seketika terurai. Salah satunya merogoh kunci mobil dari saku celana jeans yang dikenakan.


Bugh.


"Please, jangan lakuin ini lagi!" ucap Yuki dalam intonasi rendah. Menekan kuat kertas resi mutasi rekening yang terjepit di antara telapak tangan yang mendorong dada Keven.


"Ini ... apa?" Mengernyit, Keven meraih kertas kecil berbentuk persegi yang hampir terjatuh. Detik berikutnya ia mulai memahami sumber kemurkaan Yuki.


"Aku kan udah bilang gak usah kirim-kirim uang buat aku lagi!! Udah bukan tanggung jawab kamu! Semua yang kamu kasih setelah kita cerai udah aku kembalikan, kenapa kamu kirim lagi?! Bahkan lebih ... 50 Juta itu nggak sedikit!"


"Tapi ...."


"Iya tau, aku jandanya kamu. Tapi ya udah, kita cerai tanpa ada lagi tanggungan kamu ke aku. Gak ada anak loh kita ... udah dong Mas jangan buat aku berutang sama kamu!" Mengusap kasar wajahnya, sejurus kemudian Yuki mendaratkan kepalan kesal ke lengan Keven.


"Kita bahas di dalam. Jangan di sini." Keven menarik lembut Yuki. Mendudukkan gadis yang cemberut itu dengan rasa senang. Aneh bukan? Tapi Keven memang merasa senang bisa melihat Yuki mengomel dan merengek. Berbeda dengan beberapa waktu lalu ketika dirinya nyaris gila karena kehilangan Yuki.


"Kita pindah tempat," ucap Keven dengan mata mengedar, mengamati kondisi sekitar yang ramai. Namun keberadaan mesin ATM satu-satunya di tengah pasar itu cukup menyulitkan Keven untuk melajukan mobilnya.


Sekejap Keven menoleh, memandang Yuki yang masih memanyunkan bibir.


"APA?!" ketus Yuki galak.


Menggeleng singkat, Keven mencondongkan badan mendekati Yuki. "Sebentar ...."


Plak.


“Ngapain kamu!?”


Selamat, salam lima jari itu berhasil mendarat. Membekas tepat di pipi kiri Keven. Sedangkan si pelaku penamparan tetap melotot tajam sambil sebelah tangannya menyilang di dada.

__ADS_1


“Seat-belt …,” jawab Keven agak terbata dalam keterkejutan. Tangannya secara perlahan tetep terulur meraih tali sabuk pengaman di sisi kiri Yuki.


“Eh?” Mengerutkan dahi dengan mata membulat, Yuki melirik ke bawah, tepat pada tangan kiri Keven yang melingkar di depan perutnya. Namun tentu bukan untuk memeluk Yuki.


“Ka-kamu alasan aja!! Udah sana minggir-minggir! Modus banget! Aku mau turun!” teriak Yuki histeris meski sempat kikuk karena terlalu malu. Ia benar-benar merutuki pikiran buruk kelewat liar yang terlintas di benaknya.


Ctak!


"Nyebelin!! Kenapa dikunci?!!" Bersungut Yuki menajamkan sorot kesal pada Keven.


"Apa perlu aku ikat? Kenapa suka kabur?" cerca Keven sambil menarik tali sabuk pengaman dalam cengkeraman. Tentu tanpa mengunci pada pengaitnya.


Kini tersisa jarak tiga jengkal yang perlahan semakin terkikis, sukses membuat Yuki menciut merinding. Bulu kuduknya meremang, ditatap intens oleh Keven yang seakan ingin melahap hidup-hidup.


Dugh!


“Argh …,” erang Yuki dan Keven serentak. Kedua manusia itu reflek menyentuh dahi dan dagu masing-masing. Sejenak pandangan keduanya bersirobok sebelum Yuki memalingkan wajah ke luar jendela.


“Sakit?” tanya Keven dengan gerakan cepat menangkup wajah Yuki. Terlihat dahi gadis yang sengaja menghantam dagunya itu bersemu merah.


“Apaan sih modus banget … jauh-jauh sana!” rengek Yuki dalam gerutuan sambil mendorong kepala Keven seenaknya. Sontak laki-laki itu mendongak kasar dengan lubang hidung mengembang yang menempel di telapak tangan Yuki.


"Nakal,” kata Keven sambil menghembuskan nafas pasrah.


Dalam gerakan cepat Keven memasang seatbelt untuk Yuki. Meliukkan badan menjangkau sesuatu di kursi belakang. Cukup singkat dan tanpa basa-basi, menyusupkan jari-jemarinya menggenggam tangan Yuki. Bahkan mengabaikan jeritan marah tidak terima gadis yang hampir menggigit punggung tangan Keven itu.


Kini Keven mulai menginjak pedal gas untuk melaju perlahan. Genggaman yang sesekali tersentak itu lama-kelamaan melemah. Berangsur tenang seiring ocehan yang menghilang.


Benar, Keven mengikat genggaman eratnya pada tangan Yuki menggunakan dasi kotor yang belum sempat di keluarkan dari mobil. Dasi yang mulanya dilempar begitu saja saat ia kegerahan, terlupakan hingga teronggok di kursi mobil beberapa hari ke belakang rupanya menjadi sangat berguna untuk saat ini.


"Menjaga keamanan penumpang banget ya ... super duper aman kalau ada yang nyalip bisa langsung ketemu tulisan selamat datang ke jurang, selamat menempuh hidup baru," sarkas Yuki dalam gerutuan panjang. Menyindir Keven yang sedari tadi menyetir dengan satu tangan saja.


"Lembab, basah, panas ... pas buat kukus singkong," ucap Yuki lagi dengan segala cuitan random. Namun sangat Keven ketahui apa makna sebenarnya.


"Dasar patung gajah duduk!" cibir Yuki dengan bibir mencebik dan mata memicing pada Keven.


"Kamu gak capek dari tadi ngomel?"

__ADS_1


"Nggak! Nggak akan capek. Malahan kalau bisa aku mau orasi, teriak dari siang, sore, malam dan sepanjang hari!"


“Ya udah, lanjutkan,” balas Keven santai, terlihat sangat tenang dan damai. Seulas senyum tipis bahkan tidak luntur sedetikpun menghiasi bibir Keven.


'Dosa apa sih aku sampai nasibku mengenaskan gini?' Membatin Yuki menghentakkan kaki bergantian. Deru nafasnya sudah naik turun tidak beraturan.


Beberapa saat kemudian keduanya sudah sampai di tepi pantai berbatu. Bahkan sudah berdiri di atas batu besar yang menghadap ke pantai. Diterpa angin kuat dan ditemani riuhnya deburan ombak. Tentu masih dengan genggaman tangan Keven yang sangat erat.


Tidak ada dasi yang mengikat, namun Yuki tetap tidak bisa ke mana-mana. Ia berdiri tidak berkutik. Menurut dengan pasrah mengikuti langkah kaki Keven. Walaupun sejatinya Keven berusaha mengimbangi kemampuan Yuki yang berjalan malas mengikutinya.


"Kamu tau ... aku berharap bisa seperti batu ini. Tetap di sini menanti ombak kembali datang. Seperti menunggu kamu yang suatu saat nanti kembali kepadaku."


Keven melepas tangan mungil dari genggamannya. Sejenak hampa menyeruak. Ia berbalik membelakangi deburan ombak yang memercik ke sembarang arah. Mengusap puncak kepala gadis yang diselimuti kebungkaman.


Terkejut? Jangan ditanya lagi, Yuki jelas tidak siap dengan inti perkataan Keven. Walaupun Yuki sendiri sudah menduga jika bersama Keven akan banyak pembicaraan seperti ini terjadi.


"Yuki ... kisah kita memang nggak semanis percintaan yang kamu harapkan. Tidak sebahagia akhir sinetron yang kamu dan Mama tonton setiap hari. Jalan yang kita ambil benar-benar rusak. Tapi aku sedang berusaha memperbaiki. Jadi, aku mohon, biarkan aku tetap bertanggung jawab atas kamu. Setidaknya sampai kamu benar-benar menemukan kebahagiaan lagi. Sampai kamu yakin ...."


Seketika tenggorokan Keven tercekat. Ketulusannya cacat. Kalimatnya belum diselesaikan. Karena pada kenyataannya Keven ingin kebahagiaan Yuki hanya berakhir bersama dirinya, bukan dengan laki-laki lain.


'Bersama aku dan keluarga kecil kita,' lanjut Keven dalam hati.


...****************...


Untuk pemenang giveaway masih ku tunggu yang belum klaim hadiah (06/04/2022)



Alvalest


Dede Wawa Gtg


Naypara Putra


Farida Wahyuni


Nurfi Susiana

__ADS_1



Terima kasih ya udah jadi yang paling pengertian buat aku, sabar banget menanti kisah Yuki😍


__ADS_2