Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Pembohong dan Manipulatif


__ADS_3

“Aku tau sebelum sama Nindy kamu sebenarnya udah suka kan sama aku?” Tanya Alia dengan suara sangat percaya diri.


“Aku tau, Kev. Saat itu aku gak mau merusak hubungan persahabatan kita. Aku juga bimbang karena Saka juga suka sama aku.” Lanjut Alia berucap, nadanya seolah menyiratkan sesal yang tidak bisa diperbaiki kembali.


“Kamu tau?” Tanya Keven dalam alunan intonasi meninggi. Terkejut pada penuturan Alia. Dapat dipastikan mata Keven sudah terbelalak, jantungnya berdebar tidak karuan karena sesuatu yang dianggapnya sebuah rahasia justru diketahui Alia.


“Iya, aku tau. Aku juga cinta sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu, Kev.” Ucap Alia dengan sorot mata memelas yang nyaris membuat Keven luluh. Namun selembar undangan yang Yuki lemparkan ke wajahnya di parkiran restoran menyadarkan Keven dari ungkapan manis Alia.


“Lalu maksud undangan ini apa?”


“Un-Undangan apa? Undangan apa yang kamu maksud?” Suara Alia terbata-bata, jelas sudah terlintas di benaknya sesuatu yang masih sangat dihindari.


“Ini!” Ucap Keven datar, bahkan terkesan dingin tidak ada keperdulian di dalam satu kata singkatnya itu.


“Dari mana kamu dapat undangan ini? Saka? Ak-Aku gak tau apa-apa, Kev.” Ucap Alia menolak bukti sebuah sample undangan yang sangat ia kenali.


“Ini mungkin kejutan yang Saka mau kasih ke aku. Aku gak tau apa-apa, Kev.” Imbuh Alia cepat dengan suara yang terdengar bergetar.


“Kamu jangan bertindak gila, Alia! Sebentar lagi kamu menikah dengan Saka dan kamu menyangkal ini?!”


Klip.


Rekaman suara itu Saka matikan. Tersenyum miris menertawakan kisah cintanya yang hancur, Saka menatap Keven yang membeku.


Terbelalak tidak percaya pada pendengarannya, Keven membalas tatapan Saka dengan pupil menyusut penuh tanya. Obrolan antara dirinya dan Alia sekitar lima bulan atau setengah tahun yang lalu benar-benar terekam dengan jelas. Meski tidak seluruhnya, namun itulah inti pembicaraan mereka.


“Da-..”


Belum sempat Keven menyelesaikan satu kata di awal ucapan yang ingin dilontarkan, sebuah rekaman suara baru kembali terputar. Keven yang masih terkejut hanya mampu semakin terpaku.


“Gak bisa, Al. Aku dan kamu hanya sebatas teman, gak lebih. Bukannya dulu aku udah minta kamu untuk bicara baik-baik dengan Saka kalau memang kamu gak siap dengan pernikahan kalian?” Tolak Keven tegas, terdengar sangat kesal, marah dan putus asa.

__ADS_1


“Kamu sekarang istri Saka. Baik dulu, sekarang ataupun nanti, hubungan kita gak akan lebih dari persahabatan.” Ucap Keven lagi dengan suara lebih meninggi.


“Aku gak mau, Kev! Walaupun aku nikah sama Saka, tapi cinta aku buat kamu!” Ucap Alia diselingi suara terisak, memohon dengan putus asa pada Keven yang tampaknya enggan memperdulikan dirinya.


“Lalu kenapa saat itu kamu gak mau putus dari Saka?” Tanya Keven jengah, urat di pelipisnya menonjol akibat menahan emosi memuncak.


“A-Aku..”


“Kamu hanya gak mau melepas kami berdua, Al. Aku memang sayang sama kamu, tapi kita gak bisa gini.” Sela Keven memotong ucapan tergagap Alia.


“Kita bisa tetap berhubungan di belakang Saka walaupun aku udah jadi istri dia. Lagi pula selama ini kita udah dekat, Saka pasti gak akan curiga. Jadi jangan jauhi aku, Kev.” Ucap Alia memaksa. Harga diri Alia lenyap di mata Keven saat itu juga.


“Kamu bisa gunakan kesempatan ini, anggap aja kamu balas perbuatan dia dengan begitu kalian impas.” Ucap Alia lagi memprovokasi Keven yang mengernyit keheranan.


“Maksud kamu apa?” Tanya Keven yang tidak mengerti maksud dari perkataan Alia.


“Nindy. Iya, Nindy mantan pacar kamu itu sebenarnya cuma disuruh Saka untuk dekati kamu. Kamu itu dipermainkan sama mereka. Kamu percaya kan sama aku?” Ucap Alia lantang dengan seulas senyum simpul yang terlukis di awal perkataannya.


“Coba kamu ingat-ingat lagi, setelah kamu putus dan tau Nindy suka sama Saka, kamu sering lihat mereka kedapatan berdua kan? Udah lama aku kasih tau kamu kalau Saka itu kurang perhatian sama aku, masih suka lirik perempuan lain, tapi aku belum berani bilang tentang Nindy dan Saka.”


“Semua itu hanya kebetulan.” Bantah Keven menyakinkan dirinya sendiri, meski ia sedikit terpengaruh dan terperanjat oleh ucapan Alia.


“Gak, Kev. Kamu harus percaya sama aku!”


“Al-..”


Brak.


Klip.


Suara benda jatuh mengakhiri rekaman suara yang terputar lama. Bunyi benturan itu pula memotong suara Keven yang hendak berucap dalam rekaman di ponsel yang kini Saka cengkeram erat.

__ADS_1


“Gue pengen banget nonjok elo. Tapi gue tahan mengingat selama ini kita berteman baik.” Ucap Saka dengan suara menggeram marah.


“Lo dapat dari mana rekaman itu?” Tanya Keven dengan aura dingin. Tangannya terkepal di sisi tubuh ingin merebut paksa ponsel Saka, namun Keven sadar dirinya tidak boleh bertindak kekanakan. Semua bisa dibicarakan tanpa perlu memancing keributan yang berakhir adu jotos.


“Gue gak tau sejak kapan persahabatan kita bertiga hancur. Selama ini Alia selalu bilang kalau elo yang dekati dia saat gue tanya. Dan perlu elo tau, gue bersumpah gak pernah menjerumuskan elo dalam permainan Nindy. Bahkan asal elo tau, gue baru tau kalau Nindy suka sama gue dari rekaman ini.” Ujar Saka panang lebar, mengabaikan pertanyaan Keven.


Sungguh sesak rasanya dada Saka harus mendengar pengakuan cinta dari wanita yang berstatus istrinya pada laki-laki lain. Bahkan laki-laki dalam rekaman suara itu adalah sang sahabat yang kini sedang Saka hadapi.


“Tentang Nindy dan gue yang beberapa kali lo lihat, memang semua itu kebetulan buat gue, gak tau kalau Nindy. Mungkin sejak saat itu Alia tau kalau Nindy suka sama gue. Buat gue mau Nindy, Ninda, Nindo, bahkan Nando sekalipun yang suka sama gue, gue gak perduli! Cinta gue hanya untuk Alia. Tapi rupanya bajingan kayak gue akhirnya dapat karma semanis ini.”


Menghela nafas frustasi, Saka menengadahkan wajahnya. Berusaha menghadang air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata yang memanas. Dirinya yang sering bergonta-ganti pasangan hanya untuk mengelabui perasaan sebenarnya pada Alia, menyakiti puluhan wanita selama berpacaran tanpa cinta. Saat ini Saka merasa sedang menerima balasan lewat Alia yang mempermainkan ketulusan cinta Saka dalam pernikahan mereka.


“Gak mungkin Alia bohong. Elo pasti mengada-ada kan? Gue kenal Alia jauh lebih lama dari elo!” Cerca Keven pada Saka yang hanya ditanggapi senyum miring dan sorot mata sendu.


Menggeleng lemah, Saka terkekeh pada Keven yang tampak seperti dirinya yang termakan semua doktrin kalimat Alia. “Sekarang gue tau kalau Alia itu memang pembohong dan manipulatif. Dia bukan Alia yang selama ini kita kenal. Apalagi Alia teman kecil lo dulu, dia udah berubah. Terserah elo mau percaya atau nggak sama omongan gue.”


Memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, Saka memutar tubuh berniat meninggalkan ruangan Keven. Kedatangannya yang ingin menghajar Keven seketika menguap saat kilasan kenangan perjuangan mereka membesarkan restoran bernama Lux Fantasy tergambar di setiap sudut ruang yang dulunya juga ia gunakan.


“Dari mana lo dapat rekaman itu?” Sekali lagi Keven bertanya, menghentikan langkah kaki Saka dengan tangan yang sudah menjangkau knop pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.


“Yuki.” Jawab Saka singkat sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari depan mata Keven.


...****************...


*


*


*


Ada yang gak menyangka tentang rekaman suara dari Yuki?😃

__ADS_1


Terima kasih udah menanti kisah Yuki di sini🥰


__ADS_2