Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Sandal yang Dicampakkan


__ADS_3

“Sandal, Dim?!” Ucap Ara sekali lagi meminta sandal Dimas, tangan kirinya menengadah di sisi tubuh, bergerak menyentak seolah menuntut segera dipenuhi keinginannya.


“Sandal mu aja kan bisa. Bikin malu jalan pakai sebelah sandal ilang!” Tolak Dimas dengan memprotes permintaan Ara. Melipat tangan dan hendak melengos menghajar seseorang, tangannya sudah cukup gatal. Namun Dimas lebih memilih mengintai, akan lebih baik jika dilakukan di luar mall.


“Ya udah lepas semuanya kasih aku!!” Ucap Ara lagi yang justru kini meminta kedua sandal Dimas.


Terbelalak, Dimas melongo pada kalimat yang Ara ucapkan. “Kamu suruh aku nyeker di mall??”


Percakapan receh dikala emosi membludak nyatanya mampu menurunkan kapasitas yang nyaris meluap. Keduanya hampir terlena pada pembahasan seputar sandal.


“Cepetan Dimas!!”


“Aku kasih, tapi jangan macam-macam. Kalau mau kamu hajar tunggu di luar, jangan di sini. Satu lagi, tunggu aku! Jangan gak bagi-bagi spot bogeman!” Cerocos Dimas memberi Ara peringatan. Bisa gawat jika Ara membuat kerusuhan di dalam mall. Menyesal Dimas meminta Nita pergi, Ara memang lebih pendiam, tapi jangan ditanya seberapa mengerikannya jika sudah mengamuk.


“Cepat!!” Ucap Ara dengan suara berat, mata melotot dan rahang mengeras. Benar-benar tampak mengerikan saat Ara berubah layaknya Kerberos. Makhluk mitologi yang merupakan hewan peliharaan Hades, berkepala tiga dan mampu menyemburkan api.


“I-iya, ini..” Mengalah, Dimas melepas sepasang sandalnya, berlari kencang menuruni eskalator sambil memindai keberadaan Yuki. Jika terlambat, Dimas yakin baik Yuki atau Ara tidak ada satupun yang bisa ia selamatkan.


Sedangkan Ara menunduk menatap sepasang sandal Dimas yang tumpang tindih di atas lantai. Bukan sekedar menunduk atau tanpa alasan, Ara mengikat kencang rambutnya. Membiarkan target incaran melewati posisinya berdiri.


Sungguh sangat menggelikan Ara mampu mendengar suara rengekan manja meminta makan malam bersama. Bahkan penolakan laki-laki itu seakan hanya basa-basi yang menyeruak indera pendengaran Ara.


Membalikkan badannya, Ara meraup udara sebanyak-banyaknya. “Dasar sialan! Bejat!!” Ucap Ara dengan suara meninggi, memancing perhatian beberapa orang di sekitarnya, termasuk sosok targetnya.


“Laknat!! Tukang selingkuh!!” Ucap Ara sambil meremas kasar sandal Dimas di genggamannya. Bisa dipastikan perhatian orang-orang yang teralihkan sudah berspekulasi bahwa Ara merupakan korban perselingkuhan sesungguhnya.


“Perempuan itu kenapa?” Gumam Alia bingung, menatap ngeri raut wajah Ara yang merah padam menahan amarah. Lebih membingungkan lagi langkah kaki Ara yang mengarah padanya. Memangkas jarak yang semakin menyusut membuat Alia memundurkan langkah berlindung di balik punggung kokoh.


Terpaku pada posisinya, kedua orang pemicu amarah Ara hanya bisa hening dalam perasaan bingung, penasaran dan merasa aneh. Namun di satu sisi ada perasaan familiar dari laki-laki yang bersirobok pandangan dengan mata nyalang Ara.


“Heeuuhh..” Menghela nafas panjang, Ara terus berjalan dengan langkah lebar. Sepersekian detik kemudian tangannya terangkat, mengayun kuat melemparkan salah satu sandal Dimas di tangan kanannya. Melambung tinggi dan mendarat tepat di kepala sang target.


Tidak hanya sampai begitu saja, Ara membabi-buta memukuli sosok yang pernah ditemuinya beberapa kali saat bersama Yuki. Mengetatkan gigi hingga rahang mengeras, Ara menulikan pendengarannya dari teriakan gaib bak suara burung pelikan yang mendobrak gendang telinganya.

__ADS_1


Bugh!!


Bugh!!


“HEI..!! Apa-apaan ini???!!!” Suara meninggi menggema tidak terima dengan serbuan telapak sandal berdebu menghitam yang terus menyerangnya.


“HEEIII..!!! PEREMPUAN GILA.. LEPASIN..!!” Tidak kalah panik dan histeris Alia berusaha menarik Ara yang kerasukan tong setan. Alia jelas kalah telak, tidak tau saja dia jika Ara pernah menang melawan beberapa laki-laki yang merundung nya, meski harus lewat cara brutal, ganas dan menjijikkan, benar-benar menodai telapak tangan suci milik Ara.


“Anda diam aja atau saya habisin juga kayak laki-laki bejat ini!!??” Tegas Ara dengan sorot mata bengis dan nafas naik-turun, serta bukan cuma hidungnya yang kembang kempis, tapi paru-parunya juga seolah ikut mengamuk. Jangan lupa pada tangan Ara yang sudah menarik penuh emosi rambut dari sosok yang sempat dipukulinya.


“Dek.. Lepasin ya..” Mencoba berucap lembut pada Ara yang jelas tampak lebih muda darinya, Alia berusaha mengurai cengkraman Ara meski ia mendapati kedipan untuk menjauh.


“Al, biar aku aja.” Ucapan laki-laki itu membakar semangat Ara. Namun bukan semakin menjadi-jadi, Ara justru memundurkan langkahnya. Menatap tajam kedua sosok di hadapannya silih berganti.


Tersenyum miring dan membanting sandal Dimas yang seakan dicampakkan setelah tidak dibutuhkan, Ara menahan air matanya. “Mbak kenapa jadi perempuan harus jahat sama perempuan lain?” Tanya Ara pilu, mendongak menatap nanar perempuan cantik yang lebih tinggi darinya.


“Maksudnya apa ya? Saya gak kenal ya sama kamu.” Ucap Alia dengan kilatan emosi yang mulai terpancing.


“Hahahaha.. ha-ha..” Tertawa hambar Ara pada pertunjukan di depan matanya. “Umur boleh tua, tapi otak dan hati gak lebih baik dari ayam kampung!”


“Sorry ya, gue udah coba sabar. Masalah lo sama gue apa sih!? Kenal juga gak. Datang-datang ngamuk bikin rusuh. Lo gak malu dilihat banyak orang!!?” Hardik Alia yang sudah muak dengan sikap Ara, orang asing yang tiba-tiba memberikan amukan.


“Udah Al. Aku kenal dia. Dia teman Yuki.”


“Astaga.. Jadi ini temennya. Pantesan tingkahnya labil.” Ucap Alia disertai sebuah senyum mencemooh.


“Please, Al.” Memohon dengan intonasi rendah, ada tatapan yang menuntut Alia agar membungkam bibirnya terlebih dahulu.


“Ara, kamu Ara kan? Maaf, tapi ini gak seperti yang kamu tuduhkan.”


Melirik sinis, Ara tidak perduli pada penjelasan itu. “Tolong sadari kesalahan kalian!” Tegas Ara dengan suara sedikit keras, membalikkan badan hendak berlalu pergi tanpa ingat ada sandal Dimas yang ikut Ara abaikan.


“Hei anak ingusan, bilang sama temen lo itu stop ngemis cinta laki-laki yang gak akan cinta sama dia!!” Teriak Alia kuat sambil tersenyum miring, melipat tangan dengan sikap angkuh.

__ADS_1


“ALIA!!”


“Kenapa kamu bentak aku?!” Ucap Alia tidak terima, kerutan di dahinya terbentuk semakin dalam saat menatap mata yang menyorotnya dengan tidak suka.


“Istri kamu itu harus sadar, dari dulu dia itu cuma pengganggu. Kenapa juga kamu harus nikah sama dia!!?” Imbuh Alia lagi tanpa menyadari seseorang yang sudah bertanduk, berasap layaknya lokomotif uap kembali mendekat ke arahnya.


Plak..!


“AAAAAAA…!!!”


Habis sudah kesabaran Ara. Ini adalah kedua kalinya Ara mengangkat dan melayangkan tangannya pada seorang perempuan. Memelintir tangan Alia dan menendang salah satu lutut belakang Alia hingga tersungkur berlutut.


“Aku udah bilang diam kalau gak mau aku hancurkan!!” Ucap Ara yang kini menduduki perut Alia, menampar dan menjambak rambut Alia secara brutal.


“Tooollooooong..!! AAARRGGHHH…!!!” Teriak Alia miris yang hanya disaksikan beberapa pasang mata yang cukup menikmati laga action tanpa sensor, sedangkan sisanya mencoba melerai meski cukup kesulitan.


...****************...


*


*


*


Gelutnya kurang realistis ya?🤔


Maaf, halu ku hanya sebatas itu kalau harus jadi Ara😂 Udah dibayangin seru banget, tapi waktu diketik ambyar tegangnya😌


By the way, part ini gak ada ya di novel Aara Bukan Lara. Jadi yang udah baca di sana pasti gak dapat spoiler duluan. Tapi.. (Gak jadi deh kasih tau lagi😋)


Satu lagi, yang baca beberapa cerpen fantasy ku pasti sekilas paham diriku ini cukup suka kisah berbau mitologi Yunani😊 Ayo mari melipir baca cerpen ku.. (semangat promosi 💪)


__ADS_1


__ADS_2