
Hufft..
Hembusan udara pendek dari mulut Saka terdengar putus asa. Mendongakkan kepala memijat pelipis yang tidak berdenyut sama sekali, bahkan kepala yang juga tidak sakit, Saka hanya merasa isi kepalanya terlalu penuh hingga membuat ia ingin menumpahkan segalanya.
“Kenapa? Nyesal?” Tanya Keven sambil menggeser segelas kopi susu untuk Saka. Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua semenjak kuliah yang doyan menikmati secangkir kopi susu di waktu luang.
“Pusing gue, Kev. Setau gue Yuki anaknya baik-baik aja. Selama ini juga dia gak pernah bikin ulah. Tapi gak lama setelah Alia datang, dia itu jadi biang masalah banget.” Keluh Saka sembari menutup sepasang matanya dengan lengan kiri.
“Gak sampai sebulan lagi bisa kita pecat kalau gak cocok. Dulu gue mau pecat dia lo larang, sekarang pusing kan elo?” Ucap Keven mencibir Saka, menarik sudut kiri bibirnya tersenyum miring.
Mendengus terhadap perkataan Keven, Saka mendelik sebal. “Alasan lo itu aneh. Cuma karena dia suka ngejar-ngejar lo, itu gak bisa dijadikan faktor pemecatan. Lagian dia gak pernah ganggu di waktu kerja. Gak professional banget kalau kita pecat hanya karena itu.” Ucap Saka sambil menegakkan punggungnya, tangan terulur meraih cangkir kecil berisi kopi susu yang masih panas mengepul.
“Bagi gue juga bagus itu anak ngejar elo. Hitung-hitung biar lo bisa move on dari mantan!” Imbuh Saka lagi dengan ketus.
“Terserah deh.” Jawab Keven yang malas memperpanjang pembahasan. Entah harus dikatakan apa lagi mengenai mantan yang sering Saka sebutkan. Keven tidak pernah sedikitpun memikirkan mantan yang lebih memilih laki-laki lain itu.
Lagi pula saat ini Keven sadar bahwa ucapan mantannya dulu benar bahwa dia hanya dijadikan pelampiasan oleh Keven yang sedang membohongi perasaan sebenarnya pada Alia. Mengingat hal itu cukup membuat Keven merasa bersalah. Belum lagi menatap Saka yang tampaknya biasa saja, tidak tau harus percaya atau tidak pada sebuah informasi yang baru-baru ini ia dengar.
Benarkah Saka sudah mengetahui bahwa putusnya jalinan kasih yang Keven alami bukan hanya karena perselingkuhan, namun juga karena si mantan yang nyatanya mencintai Saka? Sekelebat pertanyaan itu berputar di otak Keven.
“Oh iya, gue mau urus resto kita yang di luar Kota. Kayaknya gue bakal nginap deh di sana. Capek kalau bolak-balik, jadi kerjaan gue yang di sini sebagian biar gue bawa ke sana.” Celetuk Saka tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Keven.
“Gak masalah. Email aja nanti yang perlu gue lanjutin.” Ucap Keven membalas perkataan Saka. Ia beranjak menggeser kursi yang baru saja ia duduki kembali ke sisi meja kebesaran miliknya.
“Tadi gue udah hubungi manajer cabang pertama, besok dia atau utusannya bakal gantiin gue buat bantuin elo.”
__ADS_1
“Lo fokus aja sama perjalanan elo besok. Urusan di sini nanti biar gue handle. Pastikan orang-orang baru di cabang kita di sana gak curang.”
“Lo tenang aja, Kev. Salah satu tujuan gue mau gak bolak-balik juga biar bisa lebih gampang pantau mereka.” Ucap Saka sembari mengetukkan jari jemarinya ke atas meja kayu miliknya secara konstan. Di benak Saka sudah tersusun berbagai rancangan selama dirinya berada di luar Kota.
“Ayo, pulang. Udah tengah malam juga sekarang.” Ajak Keven pada Saka yang masih betah dalam duduknya.
Saat ini baik Keven maupun Saka memilih lembur di ruangan mereka, menyelesaikan beberapa berkas pengajuan kerjasama antar supplier dari beberapa restoran cabang yang belum lama itu dibuka di Kota B. Terhitung sudah ada 10 cabang atas nama mereka berdua dan beberapa restoran atas nama mereka pribadi.
Pekerjaan Keven dan Saka cukup sibuk, apa lagi Keven yang mulai melebarkan sayap pada bisnis ritel skala minimarket. Memutar otak menggeluti dunia baru, memanfaatkan pengetahuan semasa menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Meski baru, namun terbilang cukup sukses dan maju. Jelas semua itu tidak lepas dari tepatnya pemilihan lokasi yang strategis dan pelayanan yang baik bagi setiap konsumen.
Memutar setir kemudi menyusuri jalanan menuju rumahnya, lampu mobil Keven menyorot sosok yang tampak tidak asing berdiri di tepi jalan. Menggeleng pelan menghempaskan bayangan di benaknya, Keven merasa omongan Saka berhasil meresap hingga ke otak sampai Keven kembali terbayang pada satu-satunya mantan kekasih yang ia miliki.
“Sialan si Saka bikin terbayang aja!” Umpat Keven sambil memukul ringan setir kemudi mobilnya. Namun pandangan mata Keven tidak lepas dari sosok wanita yang tampak frustasi, terbukti dari prilakunya yang berulang kali menempelkan ponsel ke telinga.
Mematikan mesin mobil, bergerak turun dan melangkah santai, sedetik kemudian tubuh Keven mematung kala tatapannya bersirobok dengan seseorang yang benar-benar tidak ingin lagi ditemuinya.
“Keven?”
“Nindy?”
Ucap mereka bersamaan. Keduanya sama-sama terperanjat dipertemukan dalam situasi yang sangat mengejutkan. Tidak pernah terpikir dibenak Keven maupun Nindy akan saling menatap seperti saat ini, meski tatapan mata mereka jelas tidak akan sama seperti beberapa tahun lalu atau disaat terakhir kali mereka memutuskan berpisah dari status kekasih menjadi orang asing.
“Ka-..” Ucap Keven dan Nindy lagi serentak, atmosfir kecanggungan benar-benar terasa. Tentu saja posisi mereka masing-masing berada dalam kondisi yang sama, yaitu sama-sama bingung harus berbuat apa.
“Apa kabar?” Ucap keven akhirnya sekedar berbasa-basi agar kecanggungan itu memudar. Kembali melangkah mendekat, Keven menatap mobil Nindy yang sepertinya tidak bisa dinyalakan, namun sejurus kemudian Keven mulai mengerti jika bukan mesin mobil Nindy yang mungkin mati, tapi ban bocor yang membuat Nindy menghentikan laju mobilnya di jalanan sepi.
__ADS_1
“Bocor?” Tanya Keven singkat tanpa menatap Nindy, sang mantan kekasih yang baru-baru ini selalu Saka sebutkan.
“Oh, i-itu iya..” Jawab Nindy sedikit terbata-bata. Di hadapannya kini seseorang yang pernah ia sakiti. Bahkan bukan hanya sekedar dikhianati, tapi juga dimanfaatkan agar bisa lebih dekat dengan sahabat si laki-laki yang tidak lain adalah Saka.
Jika kata malu itu bisa tertulis nyata di dahi Nindy, mungkin tulisan itu akan memenuhi dahinya. Nindy benar-benar malu pada Keven. Sudah berkhianat dengan kejam, namun balasan yang Nindy dapatkan justru tidak kalah kejamnya.
Berharap semoga Keven tidak mengetahui fakta bahwa ia ditinggalkan selingkuhan yang sudah dipilihnya, bukan hanya dicampakkan karena alasan mencintai perempuan lain, namun kekasih pilihan Nindy itu juga meninggalkan dirinya menikahi perempuan lain yang disebut lebih baik segalanya dari Nindy. Bahkan dengan jahatnya laki-laki itu mencaci maki Nindy serta kondisi keluarganya yang berantakan.
Nindy Alexandria (Ryu Hwa Young)
...****************...
*
*
*
Siapa yang sudah gak asing lagi dengan nama Nindy?😄
Yups, benar.. Nindy dari novel Aara Bukan Lara dengan Nindy di sini adalah orang yang sama. Jadi, di novel Aara memang sengaja gak dijelaskan lebih rinci tentang Nindy, karena kapasitas kisahnya ada di sini😁
__ADS_1